Write with Me

tumblr_lxtn7tZ4lA1qksf48o1_1280

I love to write. especially fiction.

Kadang ada saatnya aku bisa menghabiskan waktu untuk duduk seharian di depan komputer menulis sesuatu; melanjutkan novel, ff yang masih series atau hanya menuangkan apa yang ada di dalam kepala di dalam blog ini. Hal yang selalu jauh lebih menarik dibandingkan menggarap si ‘kitab’ yang satu itu. *don’t ask*

Aku pernah mendengar, atau membaca ya, sebuah penelitian yang mengatakan bahwa bila seorang anak telah terbiasa menulis sejak kecil, maka kognisi otaknya akan jauh lebih berkembang dibandingkan mereka yang tidak terbiasa menulis, anak tersebut akan cenderung lebih cerdas dan tidak mudah tertekan karena menulis dapat membantu mereka menyalurkan dan melampiaskan seluruh kepenatan dan segala hal yang terpendam di dalam kepala, menuangkannya dalam deretan kata sebagai bentuk pengekspresian diri. Jadi karena itulah, anak-anak di Amerika *sejauh ini negara ini yang paling aku ikuti perkembangannya* sudah dibiasakan untuk menulis jurnal harian dan bahkan tugas-tugas essay sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Orang yang bisa menulis biasanya memiliki pemikiran yang lebih luas dan lebih mudah untuk mengutarakan pendapat dan juga pemikirannya dalam perkembangan keterbiasaan mereka.

So I have to thank my mom for this, bertahun-tahun yang lalu, bila beliau tidak memberikan sebuah buku diary sebagai hadiah ulang tahun ke-lima mungkin aku tidak akan menjadi siapa diriku sekarang dengan segala ketertarikan dan keliaran imajinasi yang tersimpan di dalam kepala, hehehe..

And that’s it. Begitu saja terpikir di dalam kepala untuk melakukan sesuatu yang berguna selama aku berada di dalam dunia online ini. Kusadari sepenuhnya bahwa aku bukanlah seorang penulis yang handal dan sempurna, tetapi di dalam hatiku ada sebuah ketulusan untuk mencoba berbagi ilmu. Mengutip kalimat yang dilontarkan oleh dokter Page Altman di serial Grey’s Anatomy yang sampai saat ini terus terpatri di dalam kepalaku, aku ingin mengatakan pada seluruh penulis – terutama yang masih baru – di luar sana,

if you want to learn, I want to teach …

Di page ini aku akan membuka sebuah kelas pribadi. Yang perlu kamu lakukan hanyalah bertanya; segala hal yang berhubungan dengan kepenulisan – mencari ide, bagaimana meluangkan waktu untuk menulis, tips menulis – bahkan bila kamu punya pertanyaan seputar bahasa Inggris dan Korea *dua bahasa dulu ya* bisa kamu tanyakan, dan aku akan menjawab semua pertanyaan kamu sesuai dengan batasan pengetahuan yang aku kuasai.

Hanya ada satu peraturan yang perlu kamu patuhi: jangan panggil aku ‘eonni’, maka semua pertanyaan akan dijawab.😀

Kuharap page ini akan menjadi sarana yang bermanfaat bagi kalian semua yang hobi menulis dan membutuhkan teman untuk berdiskusi, aku akan terbuka untuk segala macam pertanyaan, aku akan berusaha menjadi teman diskusi yang terbaik untuk kalian. Jadi, mari kita menulis!😀

p.s.

sebelum bertanya ada baiknya kalau kalian baca tanya-jawab di kotak komentar dulu, siapa tau pertanyaan yang akan kamu tanyakan sudah ada jawabannya🙂

.

~xoxo

214 comments

  1. ah, dee.
    Aku bnar bnar susah dlm mnentukan kosa kata yng ccok, ntah krna faktor lingkungan hdupku atau knpha. D snhi bnar bnar jarang mnggunakn bhasa indonesia, skali qta pkai, qta akn mnggunakan bhasa pdha umumnya ><
    D snhi akk jg hmpir tdk prnh ktmu dngn orang" yng ukha mnulis, tu mnybbkan susah sharing, dan akk hnya bisa sharing dr para author maya nd blajar mlalui karya" author yng mnurutku sngat bgus nd juga novel.

    1. biasanya segala hal yang berhubungan dengan kosa kata – gimana mencari kata yang pas agar bisa diapakai dalam sebuah kalimat atau menambah kekayaan stok kata-kata itu bisa diakali dengan banyak membaca, mau itu novel, artikel, atau hanya sekedar tulisan-tulisan biasa akan membantu penguasaan kita terhadap kata-kata. apalagi kalau kamu tinggal di lingkungan yang jarang bicara pakai bahasa Indonesia, jadi membaca banyak literatur dalam bahasa Indonesia akan sangat berguna mengatasi masalah semacam ini. Selain baca buku, menonton film juga bisa jadi tambahan materi yang oke, apalagi kalau yang kamu tonton film saduran karya” novel yang berbahasa baku, itu masukan yang sangat berharga. Kalau koleksi kata-kata yang ada di dalam kepala kita bertambah, maka secara otomatis akan semakin mudah juga untuk kita mencari kosa kata yang cocok untuk digunakan dalam narasi ataupun kalimat yang hendak kita tuliskan,,

      gitu sih menurut pengalaman, hehehehehehe..

      1. iya, mmang bnar. Ini jg pngalamanku, dan jujur, ini sangat mmbantuku apalagi dlm proser belajar. Hahah tman” mlah mngatakan kosa kataku mningkat pesat, pdhal yng kukerjakan slama ini hnya mmbaca, mnguasai kosa kata dan menulis. Dan mungkin aku udha trbiasa dngn bhasa formal, itu mmbuatku sdikit susah dlm mmbuat novel indonesia, akk sring dingomeli tmanku krna bhasaku trlalu formal untuk mmbuat novel indonesia >< hwaa, serba salah

      2. sebenarnya nggak ada masalah kalau kamu memakai bahasa formal untuk novel Indonesia, karena banyak novel yang memakai bahasa formal saat ini. seperti kalau kamu membaca bukunya Tere Liye atau Dee.
        aku juga cenderung baca novel yang memakai bahasa formal dibanding bahasa gaul atau semacamnya😄

  2. permisi kak^^ *kalau panggilnya dista dee, serasa dosa karena saya lebih muda._.*
    mau tanya.. gimana cara nyalurin ide-ide yang ada di otak? sebenernya aku banyak ide.. tapi sayangnya aku susah untuk mengungkapkannya kedalam tulisan.. jadi kadang-kadang ketika mau membuat sebuah cerpen suka stuck di tengah jalan.. padahal udah tau alurnya kemana.. tapi susah diungkapkan.. bagaimana caranya agar dapat mengungkapkannya? terimakasih atas jawabannya kak dee^^

    1. mengungkapkan sesuatu yang ada di kepala itu caranya ada dua; ditulis, atau dibicarakan.
      kalau memang susah nulisnya, coba cari temen yang sepaham dan coba obrolkan ide cerita kamu sama dia. biasanya selama ide cerita itu sudah terungkapkan entah dalam obrolan verbal atau tulisan akan lebih mudah bagi kita untuk merangkainya karena ide yang mau kita tulis sudah tergambar di dalam kepala. Selanjutnya tinggal saatnya kamu menjabarkannya dalam narasi, deskripsi maupun dialog fiksi yang mau kamu tuliskan.😀

  3. Kak, gimana caranya menuangkan pikiran ke tulisan dengan kata ataupun kalimat yang menarik?
    Karna sejauh ini aku udah mikirin banyak ide yang bakal dituangkan ke tulisan, tp pas ditulis malah gak sama dengan ide yg di kepala karna aku ngerasa tulisannya gak semenarik ide yg udah kesusun di kepala, jadi malah buat stuck dan mulai gak mood buat nulis lagi..
    Tolong kasih sarannya ya kak :))

  4. Author-nim, saya mau tanya. Apa aja langkah langkah untuk membuat cerita? Kadang saya suka stuck di tengah jalan trus nggak ada ide malah jadinya nggak dilanjutin. Itu obatnya apaan ya? –“

    1. untuk menghindari kasus “stuck di tengah jalan” semacam ini, biasanya aku kalau bikin cerita (terutama series) selalu sudah memutuskan endingnya mau seperti apa sejak kisah itu diawali, jalan ceritanya mau seperti apa dengan seenggaknya bayangan beberapa adegan yang bakal jadi pengisi plot cerita ini.

      kalau misalnya kamu suka lupa, lebih baik tulis kerangka ceritanya di note, atau satu lembar word sebelum ceritanya diketik, dari awal sampe akhir. sebenernya nggak harus jadi di awal juga sih, sambil jalan juga bisa. Kerangka ini berfungsi supaya kita sudah tahu cerita itu mau dibawa ke mana, dan biar ceritanya nggak terlalu keluar dari maksud/tujuan awal plotnya ketika pertama kali kamu bikin. Dan meskipun bila kamu tetap stuck (karena writer’s block misalnya) kamu masih punya acuan untuk melanjutkan tulisanmu.

      seperti itu deh🙂

  5. hai kak.😀
    aku juga mau belajar nulis. mau tanya.
    entah kenapa aku kesulitan membuat narasi. menurut pengamatanku, tulisan2ku *terutama fiksi* lebih condong ke percakapan. mungkin saat ini agak lebih mending dari pas waktu SMP/SMA tapi aku masih sedikit frustasi karena tidak bisa membuat sebuah deskripsi atau narasi. padahal sebuah cerita akan lebih ‘ngena’ jika deskripsi dan narasinya baik.
    menurut kak dista gimana?

    1. iya nev, narasi dan deskripsi itu SANGAT penting dalam sebuah cerita karena dari sini kita bisa tahu lebih banyak hal yang nggak bisa dijabarkan dalam dialog, seperti gimana ekspresi sang karakter sangat mengucapkan kata-kata, gimana perasaan karakter di dalam hatinya yang nggak terungkapkan di dalam dialog, detil situasi, dan juga perkembangan plotnya secara lebih lengkap.

      mungkin yang kamu perlukan hanyalah mencari lebih banyak referensi atau contoh bentuk narasi dan juga deskripsi, banyak baca novel atau artikel dan coba kenali karakter tiap tokoh dan juga plotmu lebih dalam lagi. dengan begitu secara sendirinya, narasi itu nanti pasti akan mengalir dengan mudah, dan nggak perlu waktu lama buat kamu bisa menuliskannya. Gituuuuuu😀

      kalau masih kurang jelas bisa ditanyakan lagi, silakan. hehehe

  6. Hallo kak dee, mumpung ada page kyk begini jadinya aku pengen nanya-nanya + sharing😀 Jadi gini kak,
    Aku selalu ingin ceritaku itu punya pesan moral + ada ilmu dan gak sekedar cerita begitu aja.
    Kadang juga pengen ngadain riset buat ceritaku semakin berisi. Tapi pas udah riset malah jadi gak pede dan takut terkesan sok tau😦 jadi ujung-ujungnya cerita itu stuck di tengah jalan dan gak tentu arah… saran dong kak, gimana biar cerita sarat ilmu itu sukses dan gak stuck ditengah jalan gegara gak pede sama hasil risetnya. makasih ^^

    1. soal biar nggak stuck di tengah jalan udah di jawab di atas ya, kalo sial hasil riset:

      yang paling penting ketika kamu hendak menjelaskan sesuatu adalah, kamu benar-benar tahu apa yang sedang kamu bicarakan, terutama lagi kalau ilmu itu bukan bidangmu atau sesuatu yang belum pernah kamu pelajari sebelumnya. Riset itu memang diperlukan untuk penunjang fiksi kita supaya bisa lebih logis, akurat, ilmiah atau segala macam istilahnya dan bila ini merupakan bidang baru untuk kita ya kita harus bener” dalam risetnya, nggak perlu harus jadi ekspert sih yang penting adalah bila ada orang yang nggak ngerti apa maksutnya, dan kemudian materi itu ditanyakan, kamu bisa menjelaskan sama dia apa yang kamu maksud di sana. *typo ataupun kesalahan istilah dan kesalahan pemahaman itu mungkin bisa terjadi, bila memang ada orang yang lebih ekspert membacanya, dia pasti akan memberikan klarifikasi .. itu akan jadi ajang diskusi tersendiri*

      nah, kalau kamu sudah risetnya bener” dan mendalam, kamu sudah tau apa yang mau kamu bagikan ke para pembaca, sendirinya nanti juga kamu bakal pede menuliskannya. Supaya nggak terkesan sok tau atau menggurui, yang harus dicatat adalah jangan copas materi yang kamu baca langsung ke dalam narasi. Olah materi itu, dan parafrasekan menjadi sebuah inti materi yang baru sesuai dengan gaya ceritamu, lalu sempilkan ke dalam narasi. Jangan terlalu general, berikan detil supaya lebih jelas, tapi juga jangan terlalu berlebihan seperti memasukkan hal-hal yang sebenernya nggak perlu. Pas porsi aja, .. setelah itu kamu baca lagi hasil tulisanmu, kalau kamu nggak ngerasa seperti sedang baca textbook materi kuliah, berarti kamu sudah berhasil berbagi ilmu🙂

      1. Oke, kak… makasih banget buat masukannya. Oh, ya aku pengen nanya sama kakak, ada “pendoman” khusus gak buat author-author yang kepengen ngangkat genre lain yang aslinya sih bukan spesialisasi dia? Misalnya gini, aku ini author yang lebih suka ngangkat romance, tapi belakangan ini aku ngerasa kok rada bosen dengan apa yg kugarap. Jadi aku pengen bereksperimen sama genre lain, seperti fantasy, thriller, action, gore (yang jelas-jelas itu diluar dari penguasaan aku). Nah, itu gimana ya kak?

        Kakak punya referensi gak buat nulis fiksi thriller, action, atau gore? entah buku atau film?

        Sebelumnya makasih kak🙂

      2. hummm, kalau referensi tertentu nggak ada, biasanya inspirasi itu datang kapan saja tanpa harus membaca buku atau menonton film. Dan referensi orang itu tergantung selera ya, referensi aku belum tentu jadi selera yang akan bisa kamu nikmati atau sebaliknya .. jadiiii.. coba googling aja,, hehehe.. dan perbanyak riset itu juga bisa memperluas genre😀

  7. wah ada page ginian😄

    aku jg pengen denger pengalamanmu nih. pernah gak sih, kamu berhenti nulis utk beberapa lama dan jadi begitu kaku utk mulai lagi, bahkan ketika kamu mulai nulis, tulisan itu rasanya tiba-tiba kayak bukan gayamu banget?

    aku sedang ngalamin kasus seperti itu sekarang.😛

    1. kalau jadi kaku seingetku sih nggak pernah ya, cuma memang aku pernah membandingkan tulisanku jaman dulu, atau bahkan ff pertama yang pernah kutulis itu bukan gayaku banget seperti yang sekarang hehehehe.. kurasa ini terjadi karena sepanjang masa hiatus itu kita punya input bacaan atau pemikiran yang baru dengan gaya yang berbeda, karena itulah kalau kamu sempat membaca ffku yang judulnya Catch Me if You Can akan terasa berbeda ‘feel’nya antara chapter 1-2 sama yang ke-3 karena memang mereka dibikin dengan jarak yang cukup lama. Semacam itulah😀

    2. Aku baru tau ada page ini dan setuju banget sama Mbak Diyan, baru2 ini aku mengalaminya. Pas ikutan project EXO Oneshot Series ini lo… :p

    3. sedang blogwalking dan mampir ke sini dari mangkuk salad, lalu baca ini. nah, perasaan langsung sehati waktu baca pertanyaan ini. hiks, rasanya sedih karena nggak bisa melakukan apa ‘yang dulu’ bisa dilakukan. saat mulai menulis lagi rasanya seperti ada banyak banget pikiran melintas dan banyak banget masukan (karena apa yg dikatakan dee: lebih banyak referensi sudah terkonsumsi) jadi malah stuck harus bagaimana menuangkannya dalam tulisan.

      lalu ada juga faktor ‘ingin lebih bertanggung jawab atas konten tulisan’ seperti yang dirasakan dee saat ini. akhirnya tulisan malah berhenti di tengah jalan karena ingin menulis ini dan itu tapi takut duluan, khawatir ceritanya kembali mengalir ke jalur yang kurang terkontrol.

      kalau dee bagaimana? cara mengatasi ganjelan-ganjelan kayak gini? kalau aku mengibaratkan seperti “ingin memasak ini-itu tapi kepentok karena nggak boleh pakai bahan ini/itu yang masuk kategori haram”.

      pada sebagian kasus ini menyurutkan semangat menulisku sampai tinggal 15% aja. yang ada putus asa. akhirnya bangun, ninggalin meja, leptop ditutup aja daripada pusing.

      1. dear bee,

        2 tahun berlalu sejak pertanyaan di atas ditanyakan, dan dari yang kamu tulis, nggak ada perumpamaan yang lebih tepat dari yang sudah disebutkan. Pengen masak, tapi ragu karena takut bahan” yang digunakan nggak halal, tapi yang lebih parah, kita sendiri nggak tahu bahan-bahan yang dipakai itu halal atau nggak.

        Sejak memutuskan untuk menarik semua tulisan yang kurasa kurang mendidik, selama setahun belakangan ini rasanya memang sangat nggak produktif. Sebenarnya pengen banget nulis sesuatu, tapi ya itu, takutnya apa yang ditulis itu nggak baik, jadinya semua ide yang ada hanya teronggok nggak berguna di dalam kepala.

        Aku nggak bisa menyikapi sebenarnya, tapi alhamdulillah, di sekelilingku ada orang-orang yang selalu kasih aku semangat untuk menulis lagi. Dari ibu, suami dan teman-teman, mereka banyak kasih masukan positif yang bikin aku sedikit-sedikit lebih bersemangat. Nggak menulis itu nggak asik, karena aku yakin, ini salah satu dan mungkin satu hal terbesar yang paling kita nikmati dalam hidup.

        Perubahan itu nggak bisa langsung drastis, ada step yang kita lalui satu persatu, dan seenggaknya dengan adanya perasaan ‘ingin lebih bertanggungjawab dengan apa yang kita tulis’ itu sudah jadi langkah awal yang baik sekali. Dibutuhkan nggak hanya niat semata untuk berubah, hidayah harus dijemput, hehehehe… jadi, meski nggak langsung secara radikal, kita bisa berusaha untuk nulis dari yang simpel aja, tapi yang valuable. Sesuatu yang punya makna untuk seseorang, yang bisa diambil manfaatnya, syukur” kalau bisa jadi inspirasi bagi beberapa orang tertentu. In my most humble opinion, kurasa nggak ada yang lebih berharga dari seorang penulis yang bisa jadi inspirasi para pembacanya.

        So, don’t push yourself too much into perfection, let’s take the baby steps… Insya Allah berkah segalanya. Mudah-mudahan bisa membantu jawabannya ^^

  8. haloo kak, aku mau tanya sesuatu
    kadang aku pernah merasa bahwa paragraph yg baru saja aku tulis terasa membosankan.
    seperti ini.
    Taeyeon memandang sekelilingnya dengan pandangan sebal dan pasrah. Kalau tau Tiffany akan membawanya ke sini, ia pasti akan menolak mentah-mentah, meski Tiffany menangis darah di depannya.
    Siang ini cuaca sangat panas. Taeyeon mengipas-ngipasi tubuhnya dengan buku kosong yang ia bawa. Taeyeon curiga, ada dua matahari yang menerangi bumi hari ini. Karena panasnya melebihi di hari musim panas.
    Taeyeon menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ia selalu benci dengan keramaian. Ia merasa tak aman berada disekitar orang banyak. Karena itu, ia hanya punya Tiffany sebagai sahabat. Ia tak bisa akrab dengan orang asing. Lagipula orang-orang bisanya menghindari untuk bicara ataupun bertemu dengannya.
    **********************
    saya bener-bener ngerasa bahwa paragraph itu boring banget. Bahkan dari kalimat pertama pun udah bikin ngantuk. Nah masalahnya disini adalah, bagaimana caranya menulis bagian-bagian cerita, agar pen-deskripsian kita itu jelas tapi juga ga ngebosenin.
    Yang kedua adalah, di paragraph diatas kan banyak bgt nama Taeyeon, dan itu bikin boring buat saya. Sebenernya saya pengen banget pake kata dia, ia, gadis itu, dan sebagainya. Tapi saya takut reader ga paham dengan maksud saya.
    Bagaimana kak solusinya ?

    1. dari semalam sebenarnya aku berpikir keras bagaimana cara menjawab pertanyaan ini, karena biasanya hal” semacam ini menjadi topik sebuah diskusi verbal, hehehehe… tapi mari, aku akan mencoba untuk menjelaskannya,

      untuk membuat sebuah paragraf tidak terasa membosankan yang perlu kamu lakukan hanyalah pendalaman terhadap karakter yang kamu ciptakan. Seorang penulis akan bisa membawa para pembacanya untuk tenggelam dalam tiap narasi yang dia tuliskan bila sang penulis ini mengerahkan seluruh ‘jiwa’nya saat mengekspresikan idenya.
      yang perlu kamu lakukan hanyalah menjadi Taeyeon di paragraf di atas, kenapa dia bisa merasa kesal, kenapa dia tidak suka dengan keadaan sekelilingnya, dalami perasaannya, dan pahami keinginannya. Seperti Taeyeon (kamu/penulis) yang sedang curhat pada temannya (para pembaca), kamu sampaikan apa yang sebenarnya di dalam hatimu, sejauh apa yang kamu ingin orang tahu, apa kamu akan membiarkan kami semua – para pembaca – mengerti seluruhnya apa yang kamu rasakan, atau kamu sengaja menyembunyikan sesuatu untuk membuat kami semakin penasaran. Variasikan kata agar tidak terlihat repetitif, kamu bisa gunakan kata ganti (jangan takut pembaca nggak ngerti, kalau kamu menggunakan kata ganti ini di tempat yang tepat maka orang pasti tahu siapa yang kamu maksud di sana :D)

      aku nggak begitu paham paragraf di atas mau dibawa ke mana, tapi coba kita bandingkan dengan begini:

      Taeyeon memandang sekelilingnya dengan sebal dan pasrah, andai saja dia tahu Tiffany akan membawanya ke tempat semacam ini, ia pasti akan menolak mentah-mentah meski temannya itu menangis darah di depannya. Siang ini cuaca sangat panas, Taeyeon mengipas-ngipasi bagian atas tubuhnya dengan buku kosong yang ia bawa. Di dalam kepalanya ada sebuah kecurigaan yang muncul, bahwa ada dua matahari yang menerangi bumi ini karena panasnya terasa melebihi hari-hari di musim panas.
      Taeyeon menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ia tidak pernah menyukai keramaian, sebagaimana dia selalu merasa tak aman berada di sekitar orang banyal. Karena itulah bagaimanapun juga dia merasa beruntung memiliki Tiffany sebagai sahabat, karena Taeyeon tidak bisa cepat akrab dengan orang asing. Lagipula orang-orang biasanya pun menghindar untuk bicara atau bertemu dengannya.

      Gimana? kalau kamu menyatukan beberapa kalimat menjadi kalimat majemuk, kurasa ‘feel’nya akan lebih dapat. Kalimat-kalimat yang pendek kadang suka berkesan angkuh dan dingin, dan itu menjadi kendala pembaca untuk bisa masuk lebih dalam pada situasi yang sedang kamu coba untuk sampaikan.
      Kurasa itu semuanya, bila ada yang belum jelas bisa ditanyakan kembali🙂

      1. saya baru sadar kalau kalimat yang saya tulis ternyata pendek-pendek. Hehehe ^ ^ Tadi saya mencoba untuk menulis dengan menyatukan beberapa kalimat. Masih terdengar ganjil sih. Tapi kalau seperti ini apakah lebih baik dari yang pertama ?
        *******************************
        Paras Taeyeon sedikit pucat. “Sepertinya hari ini dia lebih marah dari kemarin”, sahutnya khawatir. Tangannya masih menggenggam dua buah bakpaw yang baru saja mereka ambil dari toko Bibi Ming di dekat pasar kecil ujung desa. Disebut pasar sebenarnya juga tak terlalu tepat. Itu hanya sebuah kawasan yang berisi kedai-kedai kecil yang saling berdempetan berusaha mengambil tempat seluas mungkin dari kedai sebelahnya. Kalau saja tak ada bau busuk dari air kedelai yang sudah basi atau aroma-aroma babi panggang yang menusuk, mungkin tempat itu akan terlihat lebih baik.
        ********************
        Bagaimana kak ?

  9. Hai kak Dee ^^
    Beruntung banget aku nemu page beginian ^^
    Well, aku mau minta saran dari kak Dee, aku kalo nulis cerita fiksi selalu bingung mau Dialog dulu atau narasi dulu. Itu yang bikin aku sedikit bingung.
    dan yang kedua, aku udah memikirkan jalan ceritanya tapi waktu udah mau ngetik ; bubar semua yang ada di pikiran “mau nulis apa aku tadi?” yaah bukannya aku cenderung pelupa tapi imaginasi yang aku pikirkan itu habis alias ilang gitu aja… Jadi gimana sarannya buat aku Kak Dee?
    Makasih ^^

    1. mau dialog atau narasi dulu itu tergantung situasi dan insting, menurut kamu nyamannya gimana langsung tulis aja, nggak perlu ragu.😀
      aku sudah menjawab pertanyaan kedua di atas, bisa scroll-up, tapi kalau masalahnya bukan lupa .. cona berhenti sejenak, bayangkan apa yang kamu inginkan dan setelah kamu dapatkan situasi dan ‘feel’nya baru mulailah menulis.

      Aku sering sekali mengatakan satu hal ini sama teman-temanku yang ingin menjadi penulis, bahwa yang namanya menulis itu harus enjoy. Jangan terburu-buru waktu karena dikejar deadline, atau terpaksa karena readers sudah banyak yang ribut minta lanjutan chapter. Kamu yang menulis, kamu yang menciptakan sebuah kehidupan untuk para karaktermu, dan tiap detik perkembangan plot akan menjadi saat-saat yang sangat berharga untuk mereka. Jadi gunakan waktumu dengan bijaksana, kalau memang nggak mood, biarkan aja .. nggak perlu dipaksakan yang akhirnya bikin kamu jadi nggak puas sama tulisanmu sendiri.
      Gitu, semoga menjawab pertanyaan kamu ^^

      1. oh jadi menulis karya yang bagus itu harus dengan mood yang bagus gitu kak? Oh ngerti deh ^^~
        Makasih banyak~~ kapan kapan aku tanya lagi ya ^^

  10. kak dee…
    aku boleh nggak nge-fans sama kakak?
    seriusan, setelah membaca tulisan kakak diatas dan beberapa ff karya kakak, aku merasakan hal yang berbeda, semacam semangat kayaknya~
    kak, tulisan kakak bener-bener pencerahan buat aku..
    aku juga suka menulis dari kecil kak, efeknya sama persis kayak apa yang kak dee paparkan, walau aku nggak cerdas-cerdas amat seenggaknya aku nggak bodoh juga😀
    yang aku rasakan karena aku menulis sejak kecil adalah aku merasa pikiranku semakin tua dan nggek seimbang dengan umurku,
    dan ternyata pemikiranku itu disetujui oleh teman-teman dekatku ><
    entah apalagi yang pengen aku sampaikan, tapi sungguh, sejak kenal kak dee pemikiranku jadi makin luas hahaha ^o^/

  11. Ini pengarang loubotion catalyst ya? Soalnya aku sering dengar nama “Dista.dee”
    Aku mau nanya, kalau ide sudah dapat, aku sering bingung mau mulai dari mana ceritanya… Waktu itu aku pernah membuat cerita dan cerita itu sudah kususun kerangkanya…
    Kok dari awal malah lebih terkesan membosankan, pemlihan kata katanya juga kurang pas..
    Ada saran?

    1. yes, it’s me🙂

      umm, kalau soal gimana cara memulainya itu soal teknis ya,
      yang kamu perlukan cuma insting dan feeling. Sebuah cerita yang bagus selalu punya ‘hook’ atau pancingan yang mampu menarik pembaca untuk terus membaca seluruh ceritanya sampai selesai. Jadi, kusarankan dari kerangka yang sudah kamu buat itu, kamu putuskan adegan apa yang kira” akan menarik untuk menjadi sebuah pembuka. Adegan paling fenomenal di dalam cerita itu misalnya, atau kalimat” yang akan membuat orang bertanya” apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sebagainya.

      semoga sarannya membantu^^

      1. Makasih.. boleh minta email? Aku mau nanya tentang bahasa korea?🙂
        Kalau di sini nanti kepanjangan..

      2. Baiklah.
        Biasanya kalau seseorang sudah dekat sama orang lainnya, nama orang tersebut akan ditambah dengan imbuhan -ah, itu ditulis italic ya? cara penulisannya bagaimana?
        Dan, untuk eyd, ketentuan kata imbuhan di- dipisah atau tidak itu seperti apa?
        Mohon dijelaskan^^

      3. imbuhan -ah atau -ya itu memang dipakai di belakang nama seseorang yang sudah dikenal dekat atau lebih muda untuk menunjukkan keakraban. Pada intinya sih sebenernya kalau itu bahasa asing memang lebih baik di-italic, dan untuk satu contoh kasus ini, penulisannya seperti >>> “Saejin ah” “Baekyeon ah” atau “Suho ya

        untuk kata imbuhan di-, dipisah bila menyatakan “keterangan tempat” ataupun “keterangan waktu”.
        ex.
        “di balik kesunyian malam.”
        “di antara dua pilihan,”
        “di waktu yang sama seseorang meminta orangtuanya …..”

        imbuhan di- harus disambung untuk pemakaian di luar ‘keterangan’ (sebagai kata kerja pasif misalnya),
        ex.
        “acara itu dihadiri oleh para presiden ..”
        “kegiatan di malam hari jarang disukai oleh beberapa orang,”

        begitu, semoga bisa dimengerti.🙂

      4. Aaaahhh… Makasih banyak. Aku manggilnya Kak Dee boleh? Hehe.. Kapan kapan aku nanya lagi ya~^^

  12. dee unnie ._. bisa aku tanya something? ’bout writer’s block
    kan akhir akhir ini, 5 bulan lebih aku sibuk sama urusan kerjaan aku. nah ide ff kutinggal nih di kepala sama catatan. pas mau ngelanjutin, ide udah dibaca, gatau tiba tiba semangat yang dulu besar ilang gitu aja. kadang suka mandang kosong layar putih. ini gimana unn? sama rangkaian kata yang menurut aku amsih perlu diasah tapi bingung buat mendalaminya. diharap unnie dee bisa bantu^^ thanks beforee

    1. aku ngga bisa bantu kalau soal writer’s block, soal membangun kembali semangat itu cuma kamu yang bisa mencari celahnya .. tapi kalau aku yang berada di dalam posisi itu, biasanya aku akan duduk di depan komputer dengan word menyala, aku baca lagi semua yang sudah kutulis dari awal sambil kasih backsound yang mendukung .. lalu semuanya muncul begitu aja.

      kalau soal rangkaian kata yang perlu diasah, berarti kamu harus lebih banyak membaca, dengan gitu kamu akan menemukan banyak kosakata baru. gitu ya🙂

      oh satu lagi, seperti yang sudah aku tulis di atas, tolong jangan panggil aku unnie.

  13. hallo, kak distaa. rasanya lama ngga berkunjung ke sini ‘-‘
    you probably forget me or felt disappointed bcs i’m not really a type person who’s like to spend many times for blog walking ><v hihi. jadilah saya baru tau ada page inii.
    seems it's been run for 'a long time' while i'm busy with my exam. kkk.

    nah, saya masih bisa bertanya kan? hehe.
    maybe pertanyaan saya agak kurang mengenakkan buat kak dista, but, i think this's what usuALWAYS (that's probably mean: usually and always, kkk) experienced by a 'great' writer, like you.

    pernah menemui haters atau seseorang yg tidak menyukai karya kita karena dianggap 'ide pasaran' atau 'gaya bahasa ga enak'? nah, gimana mengatasi yg satu itu kak? karena menurut saya, haters di dunia maya rasanya more 'creepy' daripada yg di dunia nyata ._.

    1. jujur aja, sampai saat ini aku sama sekali belum pernah menemui orang macam itu, haters atau segala macamnya..

      kritik memang selalu ada, yang mengoreksi beberapa kesalahan tulis atau pemahaman materi yang aku sampaikan, tapi belum pernah nemu sampai yang mencela dengan kalimat yang nggak enak dan segala macamnya. *readerku manis-manis kok hehehe*

      tapi kalau melihat kasus para penulis lain yang sering aku jumpai, kalau aku ada di posisi mereka ya cara mengatasinya aku akan introspeksi dari diriku sendiri. Reader sentimen itu pasti selalu punya alasan ketika dia mencela karya kita, mungkin sikapku terlalu arogan atau sok yang membuat dia jengkel, dan itu yang harus kuubah .. *yang mana semoga saja aku nggak akan begitu :D*

      terus kalau sudah introspeksi dan mencoba memperbaiki sikap dan masih tetap dicela, berarti aku harus memperbaiki karyaku yang nggak disukai itu, apa yang salah, mana yang nggak enak. Dan bila semuanya sudah dilakukan tapi masih tetap dicela,,

      <<< HATERS TO THE LEFT.

      selesai. hehehehe.

  14. DEE!!!
    Akhirnya online di PC setelah menjanjikan diri akan berdedikasi di sini errr.. beberpa minggu yg lalu? *plak*
    And thank u for ur P.S di atas..
    Itu bener-bener menggoda untuk dibaca dari awal sampai akhir..
    Semakin melebar lah ini otak *semoga tak terkontaminasi akibat banyaknya virus-virus lain, terlebih jumlah kapasitas brain yg trbatas -_- tidak penting, maaf..
    Dee, masalahku adalah…
    ending!!!
    It’s always be such a big problem!!
    Dari sekian banyak tulisan yang pernah dibaca, hanya segelintir kecil yang berhasil membuat aku puas di bagian ending..
    Dalam kasus “aku menulis”, itu selalu jd momok yang, bisa dikatakan membahayakan dan jadi beban pikiranku. Bagaimana endingnya? Cukupkah begini? Puaskah mereka? Dan lainnya *lebih sering terjadi ketika menulis puisi dibandingkan cerita*
    Lebih sulit lagi ketika aku sendiri sebenarnya tak puas dengan endingnya -yang memang sangat jarang terpuaskan terhadap sebuah ending (That’s why i love u. Entah bagaimana, aku selalu terpuaskan dengan semua tulisanmu).
    Dan tak sadar sudah sepanjang ini😀 Sorry, Dee *kibar bendera* Dan entah apa yang ingin kutanyakan, yang jelas itulah masalahku. I hope you know what i mean.
    Tolong saranmu, Dee…

    Ah,,
    dan kalo boleh sedikit.. apa ya..menambahkan?
    di- ketika digunakan di depan keterangan tempat atau waktu bukan lagi sebuah imbuhan, tapi kata depan.
    itu aja!!!
    Maaf ganggu, Deeeeeeeeee😀

    1. indah, fiksi itu sebenarnya kan sebuah dunia paralel yang terbentuk sebagai refleksi kejadian di dunia nyata. Untuk membuat sebuah ending yang pas, kalau aku biasanya kukembalikan lagi pada para karakter itu sendiri.

      aku selalu menganggap para karakter yang kuceritakan di fiksi itu adalah orang-orang yang memang menjalani kehidupan real mereka, mereka pun punya pilihan, mereka punya masa depan dan mereka berhak untuk mendapatkan yang terbaik. Anggap aja kamu sebagai sutradara kehidupan mereka, kamu bertanggungjawab atas kebahagiaan akan segala keputusan yang kamu buatkan untuk mereka, dan dengan memikirkan beberapa unsur itu aku yakin kamu akan mendapatkan ending yang terbaik – terbaik bukan untuk kamu, bukan untuk kesenangan pembaca, tapi terbaik bagi para karakter tersebut.

      kadang memang ada saatnya kamu nggak puas dengan ending yang kamu buat, ending yang nggak sesuai dengan prinsip kamu, tapi kalau ternyata memang itu yang terbaik untuk para karakter ini, kenapa nggak? nggak usah memikirkan apakah pembaca akan puas atau nggak, kecuali kamu dibayar sama mereka buat menentukan ending tertentu LOL
      tapi kurasa gitu, hal” yang ada dikepalaku tiap kali menentukan ending.😀

      p.s.
      ya kata depan, aku juga menemukan istilah itu setelah menjawab pertanyaan di atas.
      but you know, I am not that good at grammar terms😄

  15. bru mampir lg ke blog kakak nih. hehe

    kak. kan buat menambah perbendaharaan kata, kita hrs punya byk referensi buku. saat mencoba buat nulis, ya harapan aku sih buat liat perkembangan akunya. tp pas aku berulang kali baca, kok rasanya monoton ya? pdhl aku brharap pas perbendaharaan kata-nya menambah, aku bisa menemukan ke-khas-an dan gaya sndiri dr tulisan aku (misalnya), tp jthnya monoton trs tulisannya malah jd kpengaruhin gaya bhasanya. kira kira knp ya?

    1. kalau ditanya kenapa aku nggak tau jawabannya, terpengaruh gaya tulisan/gaya bahasa buku-buku yang kita baca itu hal yang normal. Tapi untuk menemukan gaya kita sendiri itu sebenarnya nggak sulit, menulis fiksi itu nggak berbeda seperti menulis diary atau jurnal pribadi, hanya saja kali ini dengan memasukkan tokoh-tokoh fiktif yang kamu ciptakan sebagai bumbu” cerita.

      kamu harus tahu penulisan macam apa yang kamu inginkan, mencari buku yang tepat itu juga memperngaruhi kepuasan kamu dalam menulis🙂

      1. saat aku berani membiarkan orang-orang membaca karyaku, itu berarti aku sudah puas (atau setidaknya aku sudah cukup pede) dengan apa yang aku tulis.🙂

  16. Kak Dee!!
    Hehe, aku mau nanya lagi.
    Karena aku dengar dari Kak Dee, tepatnya semua penulis yang pernah kutemui. Membaca merupakan hal yang utama jika ingin menulis. Waktu baca fic, aku jadi bingung kata mana yang benar. Mungkin yang kutanyakan ini sepeleh, tapi aku pensaran yang mana yang benar.
    Yang benar itu eonni atau unni? Noona atau Nuna?
    Untuk penulisan tempat, jika itu bukan di Indonesia. Apa harus di-italic? Seperti Grand Canyon atau Meteora. Dan untuk eyd, seperti
    “Kau, yang bernama Kyuhyun! Tolong ke sini,” ucap salah satu pegawai di bandara itu.
    “Kau, yang bernama Kyuhyun! Tolong ke sini.” Ucap salah satu pegawai di bandara itu.
    Di antara dua itu yang mana yang benar?
    Terima kasih sebelumnya~^^

    1. eonni/unni dua”nya benar, noona/nuna dua”nya juga benar. itu hanya masalah perbedaan ejaan internasional.
      untuk penulisan tempat kalau itu kata asing biasanya memang di-italic, tapi kalau nggak juga nggak masalah.

      “Kau, yang bernama Kyuhyun! Tolong ke sini.” ucap salah satu pegawai di bandara itu. <<< yang benar.

      1. Oh…
        Kalau membuat cerita itu harus melakukan riset data dulu ya?
        Aku lihat LC yang prolog ada mall (aku lupa namanya) sampe rinci dibuat penjelasannya tentang mall itu. Hehe. Aku mau minta pendapat juga,
        “Cerita yang feelnya dapat/terasa”
        Atau “Cerita yang mengandung amanat”
        Terima kasih~^^

      2. riset, itu sebenarnya dilakukan sebagai penguat agar sebuah cerita itu lebih lebih akurat. Dengan riset, kamu akan lebih pede dan tahu benar apa yang kamu tulis dalam ceritamu. Dengan riset, ceritamu jadi nggak ngasal dan ngawur.
        soal mall ‘SHINSEGAE’ yang aku tulis di LC itu sengaja tak tulis secara detail untuk tujuan agar pembaca bisa lebih mendalami narasi yang dituliskan, harapannya sih supaya yang baca bisa berasa ada di sana juga dan ikut berjalan-jalan bersama para karakternya. Itu gunanya riset, dan juga detail deskripsi dalam narasi🙂

        “Cerita yang feelnya dapat/terasa” atau “Cerita yang mengandung amanat” <<< dua-duanya penting. Maksudku, kalau kamu tanya aku, aku lebih suka membaca cerita yang punya feel dan sarat pesan moral.

      3. Oh, begitu..
        Mencari riset data biasanya Kak Dee cari di internet atau yang lainnya?
        Oh ya, mau nanya lagi tentang eyd.
        Yang benar itu, “tau” atau “tahu”
        “nasihat” atau “nasehat”
        “hakikat” atau “hakekat”
        “robek” atau “sobek”
        Maaf, aku terlalu banyak bertanya ^^

      4. riset biasanya dari internet juga buku” penunjang lainnya.
        soal EYD coba kamu cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau googling aja ya, soalnya aku sendiri juga nggak ekspert soal itu.

        tapi soal “tahu” << ini yang benar.

  17. waaahh,,kbetulan banget aq nemu blog ini,,aq memang pnya sdikit unek2 kak,,
    gini blm lama ini aq iseng2 mnjelajahi blog gtu cuma pngen tau isi y n nambah2 referensi gtu niat y,,alhsil aq ktemu 2blog yg isi y bner2 keren,,menurut aq cara pnulisan dlm cerita mereka itu menarik,,poko y inti y baguslah,,
    dan aq malah pya pmikiran kya gini,,
    kpan aq bisa kaya mereka??
    tapi gimana kalo sebelum aku mencapai titik dimana bisa setara dengan mereka, aku malah jenuh atau mendapat sesuatu yang bikin aku nggak bisa nulis lagi? Atau gimana kalo justru pembaca yang jenuh sama tulisanku karena cuma gitu-gitu aja?
    trus tntang feel,, gimana caranya satu paragraf narasi bisa bikin pembaca ikut hanyut di dalamnya? menurutku percuma aja diki bagus dan EYD tanpa cela tapi malah bikin pembaca nggak ngerti dan harus buka KBBI buat cari artinya.
    maaf kak banyak nanya,,aq harap kk mo jwab,,hehe
    terimakasih sblum y..:-D

  18. masalahku satu, kak.. males ngetik.. kadang susunan kata udah nyangkut di kepala, tp gak langsung buru2 dituangin dalam ketikan atau tulisan.. ujung2nya teronggok gtu aja, begitu ada niat untuk ngetik, malah jadi kabur semua kata2 yang sempet kepikiran sebelumnya..😕
    btw, aku mau tanya nih, soal tanda elipsis.. menurut peraturannya, dalam kalimat langsung tanda itu ditulis “…,” kalau masih ada lanjutannya dan jadi “….” kalau ada di akhir kalimat.. nah, tapi dari novel2 yang aku baca, sebagian besar novel terjemahan sih ato novel luar yang masih pakai penulisan inggris.. di sana gak tertulis seperti itu, kak.. mau kalimat langsung atau kalimat berita, mau masih ada lanjutan atau akhir kalimat, cuma ditulis “…” tanpa ada penambahan tanda koma dan titik lagi.. jadi bingung, kak.. mungkin bisa kasih tau aku mana yang bener atau gimana pendapat kakak dan dari cara kakak nulis?
    big thanks😉

    1. tata penulisan tanda baca memang berbeda antara standar EYD Indonesia sama internasional. Tadinya aku juga nggak terlalu memperhatikannya, tapi pas banget kamu tanyanya karena beberapa hari yang lalu, aku baru membahas tentang ini sama editor novelku dan juga fellow author di saladbowl.

      jadi, untuk penulisan tanda baca dalam kutipan,
      misalnya:
      “Aku mengerti,” ujarnya. << ada koma sebelum tanda kutip penutup. Itu kalau kalimat ini diikuti diikuti dengan kata 'ujar', 'imbuh', 'kata', 'ucap', dst. Tapi kalau misalnya:
      "Aku mengerti." Phil berbalik, kemudian pergi. << ini baru baru memakai tanda titik.

      terus kalau misalnya:
      "Aku mengerti," kata Phil menegaskan, kemudian menambahkan, "dan aku tidak akan memaksamu." << kalimat langsung pertama ditutup pakai koma, lalu tanda kutip kalimat langsung kedua dimulai dengan huruf kecil.

      "Aku mengerti." Phil berbalik, kemudian pergi. "Jangan mencariku lagi." << Kalau yang kalimat pertama diakhiri dengan tanda titik baru tanda kutip kedua dimulai dengan huruf kapital.

      lalu sebagai tambahan, untuk penjelas kalimat langsung adanya cuma 'kata' (termasuknya ujar, lontar dkk) terus 'tanya', dan juga
      jawab'. Jadi jerit, gumam, seru itu gak ada,, karena nada bicara seseorang (apakah dia bicara dengan nada rendah atau tinggi itu bisa dijelaskan setelahnya).

      gitu aja, semoga bisa dimengerti penjelasannya. Nanti kalau ada pertanyaan lagi bisa ditanyakan kembali, terima kasih🙂

      1. ha? bukan soal itu kak.. aku nanya soal tanda elipsis kak.. itu tanda berupa 3 titik (…) yang menandakan kalimat belum selesai..😕 hmm, pertanyaanku kurang jelaskah?

        kakak, tau kan kalau ada kalimat yang diputus ditengah, kita pakai tanda 3 titik yang disebut elipsis.. contoh:

        “Aku tidak tahu… mengenai hal itu,” ucapnya.

        nah, kalau dipisah kalimat langsungnya, jadi:

        “Aku tidak tahu…,” ucapnya, “… mengenai hal itu.”

        menurut EYD, habis tanda elipsis kalau dipisah oleh kata lain tapi masih mau disambungin harus pke koma.. tp di novel yang aku baca gak pernah pke koma.. aku udah nyoba nyari2 jawabannya tp gak nemu..

        selain masalah koma itu, kalau kalimatnya ngegantung dan gak ada lanjutannya, katanya habis tanda elipsis juga ada tanda titik akhir kalimat jadi titiknya ada 4.. soal ini juga sama, aku gak nemu pemakaian langsungnya di novel.. menurut kakak mana yang bener? ngikutin aturan EYD yang tertulis, atau contoh dari novel2 yang udah beredar?

      2. jadi pke EYD aja ya kak? aku selama ini tau soal EYD itu tp gak pernah ngikutin soalnya di novel gak begitu.. jadi bimbang sendiri kak.. ngikutin yg mana🙄
        berarti emang segala2nya harus balik ke EYD ya? duh, padahal aku tipe males belajarin EYD😆
        wokeh deh, makasih kak dee..😉

      3. kalau soal kalimat langsung yang kak dee jelasin, aku udah cukup ngerti, kak.. tp klo soal kata jerit, gumam, seru, dll itu, aku emang gak nemuin kata itu di novel2 terjemahan yang aku baca.. tp gak tau klo soal novel indo, karena jarang baca juga kecuali minjem dan gak sempet perhatiin penulisannya..😆 cuma kalau bikin fiction online, emang sering dipakai dan aku sih ikut2an aja😆 habis emang bisa dipakai biar gak monoton sih, tp mungkin akan aku perbaiki nantinya kalau emang itu gak termasuk “kata” yang diharuskan untuk digunakan bagi kalimat langsung..😉

  19. Hai kak distaa. Masih inget aku kan? Kalo nggak inget, yaudah search aja di google dengan kata kunci IU

    ehm oke langsung aja deh ya. Tadi cuma basa-basi sih –v Bril lagi bikin twoshots yang judulnya The Choosen. Itu fantasy genred dan part 1 nya baru aja di post di blog Bril.
    Fic tentang anak yang punya kemampuan khusus ngelihat ‘Flying Death’ atau semacamnya.
    Entahlah, Bril ngerasa ada yang kurang, sehingga membuat fic itu ga begitu spesial. Padahal ending juga udah bril buat. Help me, Kak Dista x_x

    1. wah, kalau soal apa yang kurang itu cuma kamu yang tahu, Bril, coba kamu baca lagi tulisan kamu, apakah kamu sudah memasukkan semua elemen yang perlu para pembaca ketahui, apakah kamu sudah memberikan detil keseluruhan plot dengan baik, apakah cerita kamu punya ciri khas yang membedakan dengan cerita fantasi lainnya atau tidak, etc

      memang fantasy itu genre yang cenderung lebih sulit karena dibutuhkan tenaga ekstra untuk bisa memahami lebih dalam dunia fantasi yang kamu ciptakan. Kenali dan pahami, itu aja, ntar juga ketemu sendiri apa yang kurang :S

      1. Makasih ya kak sarannya, ini mau Bril review lagi biar nggak galau kayak gini -__- Makasiiih badai lho kak hehe ^^ Dan doain Bril bisa nemuin something yang ngganjel itu ya u.u

  20. hola kak!!
    setelah ngikut saran kak dista untuk ngereview ulang, akhirnya bril nemuin juga apa yang ngeganjel > setting tempat.
    bril belum tau lokasi sekolahnya di mana, terus daerahnya kayak gimana…
    berdasar fics kak dista, kak dista selalu terperinci kalau soal setting tempat. bisa berbagi nggak, cara apa aja yang ditempuh kak dista untuk ‘survei’ tempat? hehe thanks🙂

  21. kak dee hari ini saya mau tanya lagi hehehe😀
    Saya suka baca ff atau cerita yg awalnya udah menarik atau enak dibaca. Tapi kak saya sendiri sering merasa kesulitan kalau bikin pembuka cerita atau awal cerita. Dan pada akhirnya banyak rancangan cerita saya yg berhenti di tengah jalan.
    Gimana kak solusinya ?

  22. kak dee, i’m here again.. mwahahaha..😆
    masih seputar elipsis, semoga kakak gak bosen.. aku udah nyari2 dan akhirnya sedikit lebih paham.. ternyata emang beda aturannya di luar sama di sini mengenai pengunaan tanda koma dan tanda titik keempat setelah tanda elipsis.. itu khusus di indo aja.. karena novel yang kubaca banyakan buku luar, makanya gak pernah ada embel2 koma dan titik di belakang tanda elipsis.. yeah, thats clear! berarti aku harus mulai mengikuti aturan yang benar di indo.. *semua tulisanku sebelumnya salah berarti*
    sekarang bingungnya lagi adalah… katanya tanda elipsis itu sebelum dan sesudahnya pakai spasi, itu aturan yang aku dapet dr EYD.. sayangnya, novel2 banyak yang gak pakai spasi lagi.. termasuk novel indo.. kakak kan udah bikin novel nih, waktu kakak bikin novel itu, editornya suru pakai spasi gak untuk mengapit tanda elipsis? atau seperti novel yang telah banyak beredar yaitu tetep tanpa spasi? big thanks.. maaf ya kak, nanya soal ini mulu.. abis gemes banget sama elipsis ini.. kayaknya ini tanda baca yang paling ribet.. -_-

    1. hehehe, sebenernya nggak ribet sih, kamu aja yang mempersulit dirimu sendiri😄

      sampai saat ini editorku masih belum ngebahas soal EYD sih, kebanyakan yang kami bahas tentang diksi dan struktur kalimat aja. Tapi tiap penerbit dan editor kan biasanya beda-beda, ada masalah banget sama EYD ada yang nggak selama basicnya nggak terlalu berantakan, jadi, nggak, kami nggak pernah ngebahas soal elipsis.

      Tapi untuk menjawab pertanyaanmu, sebenernya kamu nggak perlu terlalu memusingkan diri banget mengenai hal ini. Kalau mau ikut aturan, maka patuhilah EYD, soal perbedaan di novel jaman sekarang – mau terjemahan atau bukan – itu kan masalah teknis. Perbedaan antara masing” editor itu biasa, dan kamu sebagai penulis hanya perlu menulis sesuai dengan tata aturan yang kamu ketahui, kalau memang nanti editormu nggak sependapat, itu bisa dibicarakan belakangan. Like seriously, bukannya aku meremehkan EYD, tapi sedikit sekali orang-orang sekarang yang peduli masalah elipsis, para pembaca itu membaca perkembangan plot cerita, bukan elipsis. EYD dipakai sebagai patokan penulisan standar di Indonesia.😀

      Sekali lagi, go with EYD. (y)

      1. yeap, bener sih ujung2nya plot dan cerita yang akan diutamakan sebagai daya tarik.. aku juga dulunya masa bodo sama EYD, tp entah kenapa belakangan ini jadi tertarik, bahkan pake banget sama EYD.. diksi2 juga sih, sampe2 aku bacain kamus bahasa indo..😆 biarpun ujung2nya klo nemu kosa-kata baru banyakan akhirnya lupa karena saking banyaknya kata2 baru yang saling numpuk di kepala dan cuma sedikit yang sempet terserap😆
        aku bukan anak bahasa atau sastra, tp baru sadar ternyata hal beginian itu menarik banget untuk dipelajari.. hehehehe.. jadi terpaksa deh untuk memenuhi rasa tertarik dan penasaranku, aku ngubek2 sendiri dan akhirnya jadi ribet karena sumber yang kudapet juga seadanya dari internet😕
        btw, makasih kak untuk jawabannya😉

      2. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku membaca KBBI, yang entah sekarang sudah revisi ke-berapa dan kapan terakhir kali diperbarui. Kalau untuk aku, sumber dari internet bukan hanya seadanya lagi malah sangat berguna banget karena lebih informasinya lebih dinamis, variatif dan banyak source jadi penguatan dan perdebatannya (bila ada) pun semakin panas kalau diulik lebih dalam. cuma sekarang pinter”nya kamu aja pake keyword dan milih source untuk bahan acuan, hehehe..

        selamat belajar kalau begitu, semoga bermanfaat.🙂

      3. internet berguna, tp membingungkan karena kadang masing2 sumber berlainan ngomongnya😆 itu maksudku seadanya, bukan karena minim informasi.. seadanya karena gak tau mana yang bisa dipercaya, jadi percaya aja yang kayaknya bisa dipercaya..😆
        yeap, selama masih niat, aku bakal banyak belajar.. siapa tahu aja ke depannya malah bisa jadi menyelami lebih dalem lagi bidang ini.. hehehe.. :p

  23. ahhh satu lagi…. aku bahagia banget menemukan page ini kak. Aku scroll dari atas sampe ke bawah, akhirnya aku punya semangat lagi buat lanjutin fiction aku yg judulnya 8th Street dan Last Island. Awalnya sempet ngerasa ga yakin sama ff itu. Soalnya genre fantasy-mistery gitu jarang peminatnya, apalagi cast nya engga begitu dikenal. Karena biasanya aku pake cast anak SM, dan ini tiba2 aku pake cast C-Clown.

    Jadi ngerasa engga pede bakal ngeluarin fic itu krn cast yg ga dikenal dan aku takut itu ff malah ga laku. Karena menurut pengalamanku, ff ku lebih laku yg sad-romance-mariaged life drpd yg mistery-action gini. Padahal aku lebih suka bikin yg action -_-

    Tapi well aku jadi sadar sesuatu, kalo aku berhasil bikin ff yg bagus dan buat readersku jadi suka, otomatis mereka bakal curios sama yg namanya c-clown dan akhirnya c-clown terkenal deh /plak/ /dibunuh kangjun dan kawan-kawan/

    Jadi intinya, aku stuck dan males ngelanjutin ff itu karena ketakutan akan kehilangan readers (?) /ini alay/

    makasih banyak kak!🙂 skrg otakku penuh dengan ide walaupun ini udah jam 11 malem -_-

    1. Kak dee aku mau tanya dingg yah pertanyaannya sama sih macam jiell dan pertanyaan lainnya diatas. Tapi aku masih kurang ngeh -_-
      Yah aku perlu saran gimana caranya aku mengembangkan bahasaku? *ribet
      Gini loh.. misal di imajinasi ku udah ada “Nanti Ray ini bakal masuk ke dalam menara, terus di dalam menara itu dia ga nemu apa-apa. Dia hanya terpesona sama interior bangunannya yg mewah. Terus dia bakal keluar dan ketemu kakek2 lusuh.”
      Nah itu aku bingung gimana ‘penjabaran’ dan pemilihan kata2nya biar kerasa lebih ‘ngeh’ lebih ‘greget’ gitcuhh
      Atau mungkin aku harus membaca KBBI ? -.-

      1. seperti yang sudah aku jelaskan di atas, tulislah apa yang ada di dalam kepalamu dengan penuh perasaan. Tuangkan semua kata yang terbersit untuk memperkaya bentuk fisik sebuah interior dan segala suasana yang tercipta di sana.

        Intinya sih menulis itu harus sepenuh hati dan nggak asal-asalan kalau memang pengen dapet gregetnya, hehehe .. soal KBBI, silakan kalau kamu memang berminat .. tapi aku menyarankan kamu lebih banyak baca novel aja untuk menambah pembendaharaan kata ^^

      2. hmm… seperti ini kah,

        Ruangan ini mirip seperti gereja katredal dengan bangku-bangku panjang yang berderet dan meja-meja yang berisi lilin ditambah beberapa makanan sesaji. Warna merah dan emas banyak mendominasi ruangan cantik ini.

        Ray berjalan menelusuri karpet merah yang digelar di sepanjang jalan masuk sampai di tempat persembahyangan. Jemarinya bergerak menelusuri setiap sudut bangku yang dilewatinya. Merasakan debu-debu yang melekat lama disana.

        Ray memandang meja persembahan dengan tatapan heran. Ruangan ini sepi dan tampak tak terurus-walaupun interiornya bagus. Tetapi lilin-lilin persembahan itu masih tetap hidup. Apinya yang berwarna merah bergerak-gerak liar dengan sedikit cahaya biru di pangkalnya.
        ——–
        Maaf komenku menuh2in page ini kak (_ _)v
        ah novel ya akhir2 ini udah mulai jarang baca novel hehehe
        yg sulit itu mencari kata2 selain ”ujarnya, ucapnya, katanya, imbuhnya, tegasnya, dll’

        Maka dari itu aku kalo bikin ff, pasti banyakan narasi dan kalo ada dialog, pasti aku akhiri dengan tanda titik, dan aku jelaskan siapa itu yg ngomong di paragraf setelahnya🙂

      3. baca novel itu bagus untuk menambah kosakata dan juga memperluas pandangan kamu terhadap apa yang terjadi di luar sana, variasi plot dan juga untuk inspirasi. Tapi ya, kamu harus pinter” cari novel juga sih, hehehe..

        narasi di atas sudah bagus kok, cuma di beberapa tempat sebenarnya masih bisa kamu tambahin lagi beberapa deskripsi karena rasanya masih agak ‘dingin’. tambahkan gimana perasaan si karakter saat berada di dalam ruangan itu; misal gimana pencahayaannya, apa tempat itu menakutkan atau semacamnya.
        dan perhatikan pemutusan kalimat, jangan keseringan mengakhiri kalimat dengan titik kalau memang belum selesai kamu jabarkan karena kesannya akan nanggung banget.🙂

      4. ah makasih masukannya kak🙂 aku ga kepikiran buat nambahin perasaan karakter itu hihi
        yaps aku bakal perhatikan pemutusan kalimat hehehe
        thanks banget kak dee :3

  24. hallo mba!
    mau minta saran nih,
    pertama, aku selalu ga PD dengan semua tulisantulisanku, bahkan ini aku comment aja nunggu hampir 15 menit buat yakinin nulis kata ‘hallo’ diatas,
    takut jelek, takut tulisan aku nyinggung orang, takut ga sesuai dengan apa yang orangorang mau, ga PD ngeliat karya oranglain bagusbagus,
    jadi berani nulisnya cuma disemacam buku harian gitu, aku awalnya ngebela diri dengan usiaku yang masih muda, tapi skarang dgn angka 17, itu ngeganggu,
    maap bgt malah curhat..
    segitu aja dulu, makasih sebelumnya mba,

    1. soal nggak pede itu masalah yang hanya kamu yang bisa nyembuhin.
      yang kamu perlu lalukan hanya menyaring kata-kata yang kamu tulis, jangan pakai kata kasar atau sindiran kalau takut menyinggung perasaan orang.
      bila soal nggak sesuai apa yang orang-orang mau itu sih masalah pembaca. Tiap orang punya selera dan cara yang berbeda dalam menanggapi sebuah tulisan, kalau kamu pusing harus mengikuti ekspektasi semuanya, nggak akan bisa jadi.

      Tulislah apa yang mau kamu tulis, nggak usah mikirin pembaca. Aku juga gitu kok, hehehe.. yang penting aku puas dengan tulisanku, kalau orang suka itu ya baguuus, kalau nggak juga nggak masalah.😀

      1. iyaiya, pede itu gimana kitanya ya,
        makasih masukannya mba,
        nanya lagi ya,
        kedua, gimana caranya biar cast yang aku buat itu punya jiwanya sendiri, seringnya, ngga, selalu tokoh yang buat itu karakternya sesuai dengan karakter aku pribadi, kalo yang cast wanita itu ga terlalu masalah, cuma aneh aja kalo semua cast sama, lah yang lakilaki kan ga cocok ya?
        makasih..

      2. kamu harus eksplor lebih banyak kepribadian lagi berarti. Kamu dalami tokoh dalam fiksimu, bagaimana karakter dia, bayangkan apa aja yang akan mereka lakukan tiap kali dihadapkan dengan sebuah situasi. Dua karakter pasti akan punya penyelesaian yang berbeda. Sesederhana itu aja sih.
        Akan lebih baik lagi kalau kamu bisa keluar dari zona nyaman karaktermu sendiri untuk tiap penokohannya, jangan terlalu saklek semua harus mengikuti nilai” yang kamu percayai, karena sekali lagi … tiap orang di dunia ini kan punya karakter yang berbeda, maka lakukan yang hal sama juga untuk mereka😀

  25. Dee, mau nanya tentang sesuatu hehe Aku pernah menonton drama mengenai masalah ini dan aku sendiri pernah mengalaminya. Aku pernah menuliskan sebuah cerita 30 halaman, aku menuliskan ini dengan enjoy dan tanpa memikirkan karya orang lain. Setelah selesai, aku mulai membacanya ulang dan aku sadar kalo tulisanku mirip dengan gabungan beberapa karya orang lain walaupun pada saat pembuatan cerita itu, aku sama sekali tidak memikirkan karya orang lain.

    Gimana sih cara mengatasinya? Mungkin karena karya itu menjadi karya favoritku, makanya tulisanku (secara tidak sadar) memiliki bagian cerita yang sama. Sebenarnya, alurnya sih berbeda. Tapi kan aku tidak mau kalo reader menganggap bahwa ceritaku plagiat.
    Mohon dijawab yaa😀 Thanks, Dee

    1. hei,
      setahu aku ya, yang namanya plagiat itu bila karya seseorang punya plot yang sama persis termasuk kata-kata di dalamnya yang banyak sama.

      Ide cerita yang sama itu banyak terjadi, yang bikin beda adalah bagaimana cara kamu menceritakannya, termasuk juga ciri khas kamu yang tertuang di dalam cerita itu. Jadi cara mengatasinya ya tuliskan ceritamu sesuai dengan keinginanmu. Kamu nggak akan dituduh plagiat kalau tulisanmu nggak sama persis sama yang sudah ada.

  26. intinya aku harus lebih berani sama ngebuka diri ya, sipsip.
    semoga bisa.
    *tolong jangan ditutup ya page ini, bermanfaat sekali sih. 🙂

  27. kak deeee, aku reader sekaligus penggemar terselubung barumu!!
    Kak, ini post beneran membantu banget.. Ditengah kemumetan saya ngadepin yang namanya tes tulis PTN. *moga keterima, amiin* masih sempat2nya ngubek2 blog orang kkkk~ ^^
    Kak, selama ini aku sering nulis ff tapi, aku pikir kayaknya engga pernah berkembang deh, maksud aku gini selama ini aku cuman nulis ff yang ficlet, songfict, atau kalo engga drable yang notabennya kurang dari 1000 ms word.. Nah masalah aku tuh suka tiba tiba aja cling ide besar dan luar biasa dateng dan sejurus kemudian menghilang tanpa bekas. Atau kaloo engga undah nulliisss panjang lebar sana sini, pas dibaca ulang ko hilang feelnya gitu. Padahal kan ini cuman one shoot.. Jadi intinya gimana sih kak caranya mempertahankan si ide itu supaya tidak meluber kemana mana saat kita mulai bermain sama kata kata dalam ff, kan contohnya suka banyak tuh ff yang capt 1 bagusnya kebagetan eh ujung ujungnya ga tau gimana jadinya berantakan. Ga tau hilang feel atau gimana.
    Mohon bantuannya ya kak deee ^^ ~~

  28. kak, saya mau tanya nih
    saya juga suka nulis meski masih jadi anak bawang. Kesulitan saya sekarang adalah, saya sulit untuk nulis FF chaptered. Tiap kali saya bikin pasti hasilnya ga sebagus kalau saya bikin FF Oneshoot. Gimana kak ?

  29. Entah kenapa, aku langsung tertarik dengan tulisan kakak di salah satu karya kakak. Aku kira itu novel terjemahan, ternyata bukan. Kakak dengan sempurna menyihirku untuk terus menikmati kata-kata yang terangkai, menerangkan setiap sudut yang ada dalam cerita kakak secara detail. Aku memang suka menulis kak, tapi terkadang selalu timbul kontraversi dalam pikiranku bagaimana aku menulis klimaks hingga akhir ceritanya. Mungkin aku memang orang yang nggak sabaran kak. Ajari aku setenang dirimu kak dalam menuangkan idemu.🙂

    1. that’s it. Untuk bisa tenang, kamu harus sabar saat menulis. Jangan grusa-grusu, jangan serampangan.

      Bernapas, menimbang-nimbang, kemudian baru memutuskan (apapun yang akan kamu tulis) itu langkah yang bisa kamu ambil supaya bisa lebih tenang dalam menuangkan ide🙂

  30. Hai kak dee ‘-‘)/ aku pengen nanya caranya cari judul yg cocok buat fiction. Kalo cuma sebatas ‘She is my girl’ , ‘I love you’ , ‘Love and you will death’ menurutku gak greget –‘ setahuku, kalo judul itu harus mencangkup keseluruhan isi cerita, kan? trs kalo ceritanya tentang pelarian kemudian diteror musik musik aneh dan berakhir dengan pemujaan setan, aku harus cari judul kaya gimana –a

    oh satu lagi deh, kalo menunjukkan barang kepunyaan seperti Apartementku, Hyungku, Oppaku, haruskah dipakai tanda garis? Misalnya hyung-ku ._.

    1. judul itu memang harus mencakup keseluruhan cerita, dalam artian kira” apa frase atau rangakaian kata paling tepat yang menggambarkan fiksi kamu itu. Untuk cari judul yang menarik, selain yang sudah disebutkan tadi, biasanya aku selalu cari highlight yang paling menarik di sana. Seperti misalnya aku ambil dari materi yang sudah disiapkan, atau topik utama yang paling dominan, atau memberikan efek paling besar terhadap cerita itu. Kalau untuk ceritamu bisa kamu liat dulu musik aneh yang didengar itu seperti apa; rhapsody, ataukah sonata atau serenade? Lalu pemujaan setannya itu dilakukan sendiri atau bersama klan kepercayaan tertentu? Itu bisa kamu jadikan patokan buat memilih judul..

      Lalu yang kedua, nggak usah diberi tanda hypen (-), kamu hanya perlu italic kata yang asing lalu ditambahkan ‘ku’, atau lebih mudah lagi, tulis saja semua dalam bahasa Indonesia. Hyung, unnie, appa dan segala macamnya bisa kamu tuliskan sebagai kata sapa dalam dialog, itu lebih lazim digunakan.

      Semoga jawabannya membantu, terima kasih sudah mampir🙂

  31. aku ikutan ya ><

    aku baca ini:

    tata penulisan tanda baca memang berbeda antara standar EYD Indonesia sama internasional. Tadinya aku juga nggak terlalu memperhatikannya, tapi pas banget kamu tanyanya karena beberapa hari yang lalu, aku baru membahas tentang ini sama editor novelku dan juga fellow author di saladbowl.

    jadi, untuk penulisan tanda baca dalam kutipan,
    misalnya:
    “Aku mengerti,” ujarnya. << ada koma sebelum tanda kutip penutup. Itu kalau kalimat ini diikuti diikuti dengan kata 'ujar', 'imbuh', 'kata', 'ucap', dst. Tapi kalau misalnya:
    "Aku mengerti." Phil berbalik, kemudian pergi. << ini baru baru memakai tanda titik.

    terus kalau misalnya:
    "Aku mengerti," kata Phil menegaskan, kemudian menambahkan, "dan aku tidak akan memaksamu." << kalimat langsung pertama ditutup pakai koma, lalu tanda kutip kalimat langsung kedua dimulai dengan huruf kecil.

    "Aku mengerti." Phil berbalik, kemudian pergi. "Jangan mencariku lagi." << Kalau yang kalimat pertama diakhiri dengan tanda titik baru tanda kutip kedua dimulai dengan huruf kapital.

    lalu sebagai tambahan, untuk penjelas kalimat langsung adanya cuma 'kata' (termasuknya ujar, lontar dkk) terus 'tanya', dan juga
    jawab'. Jadi jerit, gumam, seru itu gak ada,, karena nada bicara seseorang (apakah dia bicara dengan nada rendah atau tinggi itu bisa dijelaskan setelahnya).

    ya Tuhan Dista ini adalah yang aku cari *nangis* momok terbesarku adalah bikin adegan percakapan wkwkwwk aku lebih nyaman dengan narasi even sepanjang apapun hahahaha *kebalikan dari kiki*

    dan membaca ini membuatku ingin menghapus semua FF yang udah di publish *gagal* wkwkwkwwk gpp thx udah sharing ntar dikedepannya aku pakai sebagai acuan😀

  32. halo kak dee salam kenal😀
    sonya disini… sonya suka nulis dan pengen jadi penulis, tapi sonya tahu banyaaaaaaak sekali kekurang yang sonya punya, apalagi sonya mulai menulis baru 2 tahun yang lalu itupun gak teratur….hehehe tapi sonya ingin belajar,,, oh iya kak dee suka nulis itu jadi bikin lemot ngitung gak sih? soalnya ya dulu waktu tergila-gila ma matematik nilai sastra pasti pas-pas.an sekarang malah kebalikannya…
    oh iya mau nanya juga, gimana caranya buat cerita berasa feelnya… sudah puluhan cerita ynag sonya buat feelnya tetep kosong kaya bungkus tanpa isi…
    oke deh segitu aja dulu ka dee, salam kenal … aku suka tulisanmu😀

    1. dear sonya,

      LOL, itung”anku baik-baik saja, nggak ada yang terganggu, hehehe… maaf, ya Sonya, tapi pertanyaan kamu sudah dibahas sebelumnya, silakan kamu scroll dari atas untuk melihat jawabannya^^

      terima kasih sudah berkunjung🙂

  33. halo mbak dista🙂 salam kenal dari aya~

    mbak, minta sarannya dong? dulu wktu smp aku sering nulis cerita berseri. masalahnya klasik, kadang stuck d tengah jalan. terus aku pernah dbuat trauma gara2 tulisanku dbuat hancur sama ortu. ortu gk pernah setuju sm hpbiku ini. motivasiku hilang saat itu.

    skrg aku mau nulis lagi, tp sementara nulis flashfic supaya ide g kabur gtu aja. tp, berlebihan g sih kalo aku membatasi dlm bntuk drabble yg cm 100/200kata? gmna caranya ya mbak supaya drabble itu ttp jelas & menarik dbaca biarpun singkat?

    1. kurasa nggak ada batasan tentang sebanyak atau sedikit apa kau ingin menulis.

      Drabble itu memang tantangan ya, soalnya kamu harus bercerita tentang satu hal dengan batasan 100an kata. Tapi tipsnya, yang perlu kamu tulis itu intinya aja. Ide apa yang ingin kamu sampaikan, apakah setelah akhirnya kamu tulis, pesan yang ingin kamu sampaikan ke pembaca itu tepat sasaran atau nggak?

      Intinya sih seperti itu🙂

      1. makasih mbak dista buat tipsnya🙂
        nah mbak, tepat sasaran atau gaknya itu aku yg masih belum menguasai. harus lebih banyak latihan ni. lain kali aku boleh kirim drabbleku k mbak buat dkoreksi? saran mbak sangat membantu…

  34. Ah, Aku reader baru disini, Salam Kenal ^0^
    boleh minta saran, kah?
    Bisa dibilang kalau aku ini termasuk author amatiran yang belum lama terjun ke dunia tulis menulis dan salah satu masalah ku adalah tidak bisa lepas dari kata tersebut-ini-itu.
    maksudnya, setiap kali membuat suatu karya, entah FF, Puisi, atau hal lain, tiga kata keramat itu selalu jadi pilihan yang bisa dibilang seperti kata pamungkas.
    tapi, setelah dipikir – pikir penggunaan ketiganya terlalu sering membuat aku gak nyaman lama kelamaan. Setiap membuat satu kalimat pasti akhir katanya kalau gak tersebut, ini, atau gak itu. karya buatanku serasa tidak memiliki nyawa.
    Dimohon solusinya terima kasih🙂

    p.s : aku gak sengaja nyasar kesini gara – gara Salad Bowl😉 hehehe

  35. dee, aku ini sedang dalam masa percobaan menjadi author dalam sebuah ff berchapter, tapi setelah beberapa kali membaca dan mengubah isi, entah mengapa aku merasa bosan dan akhirnya berhenti untuk melanjutkan cerita absurd tersebut. menurutmu bagaimana? apa kira-kira aku biarkan saja itu pada chapter yg aku bisa atau melanjutkan menulisnya tetapi dengan jangka waktu yang lebih lama?

  36. Kak dee… aku mau buat cerpen untuk tugas sekolah, terus aku udah buatin kerangka ceritanya sampai akhir cerita.Tapi, pas aku baca kembali ide itu, ada ide baru lagi muncul dan membuat ide lama aku berantakan dan aku bingung banget bagaimana cara lanjutin ceritanya. Menurut kak dee gimana?

    1. coba bikin jadi dua cerita yang berbeda.
      Terus kalo sudah jadi keduanya dan mau kamu gabungin, kamu tinggal jadi selah yang bisa dimasukin. Tapi kalo jadinya bagus jadi dua cerita ya biarkan aja gitu🙂

  37. Umm udah banyak juga sih jawaban dengan permasalahan yang aku masalahin.. tapi emang bener, kadang kita especially aku bingung nyalin sesuatu dari otak ke ms.word sedangkan tuh imajinasi udah lari kemana-mana termasuk ending. Mungkin salahku juga kali ya karena gak tahu disengaja atau enggak, aku udah langsung lari ke inti cerita dan ending, jadi aku memperhatikan ‘awal’ .__.

    Terus juga aku lagi buat karya chapter, itu berhenti di tengah jalan karena gak mau nulis apa #duh tapi storyline udah nyangkut sampe ending. itu gimana coba? -_-

    Kapan-kapan boleh ya minta review hasil karya aku, soalnya kadang gak pede walaupun temen aku itu suruh aku cepet minta lanjutin dan sebagainya😄 HAHA THX KAK!

  38. e-eh, hai ‘-‘ (aku bingung mau manggil apa)
    aku lagi nyoba buat nge-remake film sama urband urband legend yang berkeliaran bebas di google, tapi dengan modifikasi sendiri dari aku. seperti penambahan adegan dan mengganti castnya’-‘
    kamu kan lebih berpengalaman, kira kira tindakan aku itu termasuk bentuk plagiat ga sih?
    kalau iya, it’s mean, aku harus berenti buat nge remake urband urband legend sama film itu dong?

    mohon di jawab ya^^

    1. remake itu berarti kan membuat kembali. Kalau kamu bikin film dengan mencomot film” yg sudah ada dan dikomersilkan, kamu perlu ijin dari perusahaan yg bersangkutan.
      Tapi kalau bikin sendiri dengan cast original, dengan proses pengambilan gambar manual, itu namanya jadi adaptasi. Film dokumenter or whatever genre yg kamu garap bisa dilabeli ‘based on true story’.
      insight notes: make sure risetnya akurat🙂

      1. maaf aku kurang memperjelas. maksud aku bukan di remake kayak bentuk film gitu’-‘ tapi dalam bentuk ff dan tulisan ‘-‘)a itu boleh gak? apa harus minta ijin sama yang meng-komersilkan film itu?

      2. Ah gitu yaa ‘-‘ harus nge-hapus ff dari draft berarti-_-

        makasih yaaaa, aku bingung mau manggil kamu apa ‘-‘

  39. Hai ka dista

    Ehm oke ga penting sih tapi kita sama gak suka dipanggil unni

    Aku tau blog kaka dari cerita menggebu-gebu seorang teman yang mengatakan, “ta, kamu harus blognya dista.dee, sumpah itu keren banget.” Dan berakhirlah aku di sini, tersesat dan lupa jalan tuk pulang #alah.

    Kaka aku mau bertanya, aku punya kebiasaan entah itu baik atau enggak, tapi yang jelas kadang ini sungguh amat sangat menyulitkan, seperti saat aku menulis cerita bersambung, entah kenapa setiap ditengah2 aku selalu ngalamin pengembangan cerita yang kadang malah gak penting, bikin tambah banyak word, dan berakhir dengan tidak selesainya cerita.

    Nah aku mau tanya, gimana cara kaka mengawali penulisan cerita bersambung…
    Apa dr awal kaka udah buat semacam storyboard per chapternya, atau kerangka, atau apapun, yang jelas apa yang kaka lakukan agar akhir dr cerita bersambung kaka berakhir dengan baik,
    Pokoknya berikan aku tips kaakkk…

    Aku ngefans sama tulisanmu, sampai kadang membuatku sakit karena tulisanku gak kerennn #nangis dipelukan yuchun…~~~

    Terima kasih kaaa~~

    Oh yah happy wedding… Sukses karir and keluarga, dan bisa jadi role model yang ok buat anak2 kaka kelak…

    With love
    Dintaririn

    1. dear Dinta,

      terima kasih banyak buat doanya, hehehe… Pertanyaan kamu sudah beberapa kali ditanyakan, sebaiknya kamu scroll up aja ya sekalian baca share teman” yg lain. Siapa tau bisa jadi masukan juga🙂

      have a good day!

  40. Halo kak, aku mau tanya boleh yaa…
    Namaku Marsya, sejak kecil cita-citaku memang jadi penulis, tapi kenapa belakangan ini aku jadi kekurangan ide ya? ._.
    Aku itu kalau bikin FF pasti writerbock terus, lalu bikin baru lagi dan writerblock lagi ._.
    Dan disaat ada ide aku nggak punya waktu buat nulis, tapi disaat aku punya waktu buat nulis aku nggak punya ide ._.
    Dan akhirnya cerita-cerita tersebut terpaksa tamat dengan ending yang gantung >__< Aku juga udah nonton banyak drama & film ._.
    Oh iya kak, satu lagi. Aku itu susah menentukkan judul, soalnya menurutku nggak ada judul yang cocok ._.
    Apa itu berarti aku memang nggak berbakat? Atau itu memang nasib/?
    Sorry ya kak karena aku cuman nyampah disini :3
    Mohon bantuannya ya kak😀
    Thx before atas saran dan jawabannya ^^

    1. dear Marsya,

      untuk mengatasi writer block coba deh kamu bikin framework/garis besar cerita yg akan kamu tulis supaya ada pegangan untuk mengakhiri ceritamu. Bakat itu bisa dipupuk kalau kamu memiliki keinginan yang kuat. Yang kamu perlukan hanya banyak berlatih.

      Untuk keterangan lebih lanjut mengenai framework kamu bisa scroll-up ke komen” di atas. Selamat menulis!

  41. Kak Dista, kenapa ya setiap kali aku nulis selalu aja berenti ditengah-tengah? Padahal ide itu selalu seliweran di otak, tapi susah banget kalo mau dituangin kedalem tulisan. Gimana ya caranya biar nulis itu jadi lancar? Apa pengaruh jam terbang juga?

  42. kak distaaa, gimana caranya buat cerita yg bikin orang nangis mehek-mehek kayak ff kakak yg enchanted itu ?
    yaah jujur sih kak, aku telat baca ff kakak yg gilaaa abis itu, masih chapter 1 @_@ tp ini on going bacanya… chapter 1-nya aja udah nge-feel bangeettt T^T
    what should i do kak ?😦

  43. Halo, Kak Dista🙂
    ini pertama kalinya aku mau ikutan konsultasi sama kakak nih.. sebenernya udah dari lama aku berkunjung ngeliat page konsultasi kakak mengenai tulis-menulis disini, tapi waktu itu aku sempet bingung mau konsultasi gimana.. masalahnya aku menyadari masih banyak kekurangan yg ada di tulisan aku, cuma aku bingung mau konsultasi yg mana.. hohoho
    berhubung itu juga aku memutuskan untuk membaca-baca beberapa konsultasi yg udah Kak Dista jawab diatas, terus akhirnya aku nemu deh pertanyaan apa yg pengen aku konsultasiin ke kakak😀

    Kak, aku seneng deh nulis angst.. pokoknya yang sedih-sedihan gitu
    cuma sampe sekarang aku masih harap-harap cemas deh, gimana caranya bikin pembaca bisa menghayati dan paham sama tulisan aku secara penuh ya?
    soalnya aku pengen pembacaku jadi ikut terbawa gitu sama perasaan yg aku tuangkan di cerita..
    bisa bantu aku kasih masukan, Kak?
    karena jujur aku percaya banget kakak bisa ngebantu aku🙂 hohoho

    oke, kak Dista. sekian konsultasi pertamaku🙂

    1. hello there,

      beberapa kali aku menulis cerita yang lumayan gelap dan teary, aku selalu memakai metode yang sama. Memang agak susah ya menulis kisah-kisah yang sedih dan muram kalau kita nggak tahu benar gimana situasinya, jadi yang perlu kamu lakukan adalah memahami bagaimana keadaan para karakter di saat tragedi menimpa mereka.

      tiap penulis harus mengerti benar watak dan sifat para karakternya. Gimana saat mereka sedang senang, mereka bakal ngapain aja, bagaimana cara mereka mengekspresikannya, dan begitu juga sebaliknya ketika mereka sedang sedih. Menyelami suasana hati para karakter di kala kesedihan menimpa mereka, itu akan memudahkan kita untuk membangun suasana pendukung kemuraman situasinya.

      Jabarkan dengan narasi yang deskriptif. Gambarkan kesedihan mereka. MIsalnya kasusnya seorang karakter kamu baru ditinggal pergi sama orang yang paling dia sayang, katakanlah ibunya. Jadi gambarkan bagaimana perasaannya saat itu. Sebutkan beberapa cerita-cerita masa lalu yang menunjang kesedihannya, beberapa cerita yang mengingatkan karakter ini akan masa” bahagia dia dengan sang ibu, dan itu bikin dia semakin kangen sama ibunya. Ceritakan juga saat mereka berselisih paham, dan membuat si karakter ini sangat menyesal, kenapa dulu nggak ngikutin aja apa kata ibunya, dan itu bikin dia jadi merasa seperti anak yang nggak patuh.

      Yang paling penting kamu harus tulus saat menceritakannya. Nggak perlu meggunakan kalimat-kalimat yang berlebihan dalam mengisahkan hubungan dua karakter itu karena itu akan bikin kesannya jadi fake. Kalau perlu kamu gunakan diri sendiri sebagai refleksi. Kira” apa bagian diri kamu yang sama dengan karakter ini, dan apa yang akan kamu lakukan kalau kamu mengalami hal yang sama dengan karaktermu ini. Dukung narasi itu dengan dialog bersama karakter pembantu kalau memang diperlukan, dan buat segalanya berjalan natural.

      Kurasa cara sederhana ini bisa membantu.🙂

      1. oh.. oke, oke.. aku ngerti gimana tipsnya sekarang😀

        oh iya kak, aku mau nanya lagi..
        terkadang aku suka bingung deh kak kalo menceritakan keadaan si tokoh pas lagi sedih gitu, lagi merana.. aku jarang bisa pake dialog, aku lebih banyak bercerita lewat narasi..
        nah aku takutnya pembaca bosan kak kalo baca narasi aku yg panjang itu ._.

        terus juga untuk menuangkan perasaan, mennggambarkan kesedihan yg mendalam si tokoh itu.. terkadang buat membayangkan atau meraba-raba perasaan dr si tokoh itu sedikit susah, khususnya buat tokoh cowok..
        selama ini aku ngetik lebih menekankan sama penderitaannya si cewek .-.

        buat mendeskripsikan perasaan si cowok gimana ya kak? karena pengungkapan kesedihan antara cewek dan cowok kan pasti beda tuh..
        what should I do?😦

      2. adanya dialog bila memang diperlukan, tapi seringkali dialog itu penting sebagai pendukung narasi. Dan untuk membuat narasi yang nggak membosankan, seperti yang udah disebutkan di atas. Jabarkan situasinya dengan baik, tapi jangan terlalu bertele-tele dan berlebihan. Apa yang penting kamu tulis, apa yang pembaca nggak perlu tahu kamu lewatkan aja. Jangan sampai terkesan menggurui, apalagi terlihat seperti curhatan hati kamu sebagai penulis, bukannya sanga karakter.

        untuk alh gender kamu bisa coba mempelajari para pria di sekitar kamu sebelum menulis. karena bagaimana laki-laki dan perempuan saat berekspresi itu memang berbeda, dan supaya lebih akurat, pemahaman kamu terhadap sosok maskulin itu perlu kamu jajaki terlebih dulu.

      3. oh, sip sip sip..

        btw kak, aku boleh minta pendapat kakak gak soal narasi aku?
        karena seperti yg kakak bilang diatas tadi, aku takutnya narasi yg kubuat itu lebih terkesan kayak curahan hati aku kalo membayangkan ada di posisi si tokoh ._.

        help me, please, kak?🙂

      4. oh sip, kak.. ntar aku kirim deh contoh narasi aku ke email-nya kakak.. narasinya ngga banyak kok kak, cuma sampel apakah aku nulis narasinya nyaman dibaca atau engga ._. hohoho

        makasih atas bantuannya ya, Kak Dista🙂

  44. Hallo kak,
    Aku juga boleh ikut konsultasi gak?
    Kak aku pengen nanya sama kakak tentang latar tempat.
    Aku juga pernah menanyakan hal yang sama, sama beberapa penulis lain lewat e-mail, cuma jawaban mereka beda-beda, dan itu justru buat aku bingung.
    Dan semoga aja kakak bisa bantu.
    Aku mau nanya kalau latar tempat itu harus benar-benar mirip secara mendetail sesuai ada yang di TKP, atau sesuai yang ada didalam imajinasi kita, atau di campur antara fakta, sama yang ada di imajinasi kita.
    Soalnya aku juga sering baca beberapa novel, yang disitu mendiskripsikan tempatnya secara mendetail, misalnya jalan toko ini berada didekat sebuah teman, dan ditoko itu ada spanduknya dan blablabla. Pokoknya benar-benar kayak memang begitu.
    Dan waktu itu kebetulan aku berkesmpatan kesana, jalannya sih benar, ada tamannya juga. Tapi tokonya gak ada, padahal aku udah muter-muter dijalan itu, tapi gak ketemu. Apa itu berarti sang penulis udah menipu?
    Atau memang gak apa-apa kalau gak sesuai fakta? Tapi ada yang bilang harus sesuai seperti apa yang ada. Aku juga pernah baca di blognya kak Ken Terate katanya Gramedia sering banget nolak naskah novel karena naskah novel itu gak cukup kuat kebenarannya, padahal cerita naskah itu udah bagus
    Plis kak jawab, aku benar-benar udah mentok.
    Makasih kak sebelumnya

    1. setting tempat bisa akurat, imajinatif dan ahkan gabungan keduanya, tergantung cerita macam apa yang sedang kamu bikin.

      Kalau kamu seang bikin cerita tentang sebuah lingkungan yang real, akan lebih baik kalau settingnya juga akurat sesuai dengan yang ada. Tetapi nggak jarang pula para penulis juga menyempilkan tempat-tempat fiktif, yang sesuai dengan kebutuhan ceritanya masing-masing. Dan itu bukan berarti penulis menipu, ini dikarenakan karena kadang nggak semua lingkungan memiliki tempat yang ideal seperti yang kita perlukan untuk cerita. Pemakaian setting tertentu yang benar-benar ada kadang dipilih karena tempat itu yang paling pas untuk menggambarkan imej setting lokasi beberapa adegan dalam tulisan mereka.

      Setting yang imajinatif biasanya banyak dipakai ketika seseorang menulis cerita fantasi, atau ketika mereka membuat AU (biasanya dia nggak ngasih tau misalnya para karakternya tinggal di negara apa. Kalo ngeliat deskripsinya macam Jakarta, tapi nggak benar-benar Jakarta karena nggak nyebut jalan, atau ada beberapa tempat yang disebut tapi nggak ada di sana) dan itu sah-sah aja selama nggak mengganggu jalannya perkembangan cerita.

      Terus tentang novel yang nggak cukup kuat kebenarannya itu biasanya berhubungan dengan fakta sebuah topik yang diangkat dalam naskah novel tertentu. Seorang penulis harus melakukan riset (hingga kadang sangat mendalam) kalau topik yang dia bahas cukup besar dan sensitif bagi masyarakat tertentu. Riset yang nggak akurat membuat cerita yang dibaca bakal terasa ngawur, dan itu disebabkan karena penulis novel kurang dalam melakukan risetnya, atau malah nggak riset sama sekali.

      Contohnya gini: dalam sebuah novel seorang penulis bercerita tentang kisah kehidupan seorang dokter bedah. Kalau penulis bukan orang yang mengalami sendiri kehidupan seorang dokter bedah ini, maka sudah wajib buat dia untuk mencari tahu apa yang dia perlukan. Seperti dia dokter beda spesialis apa, lalu apa aja jadwalnya sehari-hari, bagaimana sifatnya dalam menghadapi pasiennya, kasus-kasus macam apa aja yang dia hadapi, dan bagaimana kondisi rumah sakit tempat dia bekerja.

      Ketika penulis sudah melakukan riset dengan benar, maka akan terlihat keakuratannya. Bahwa, misalnya, dokter bedah (cardio katakanlah spesialisasinya) hampir nggak pernah ninggalin rumah sakit saking banyaknya pasien yang dia rawat. Lalu sekali operasi bisa menghabiskan 8-9jam di dalam RO dan selama itu dia harus tetap terjaga, bahwa dia harus punya tangan yang kuat dan steady, dan segala macamnya.

      Nggak mungkin seorang dokter bedah akan punya banyak waktu luang untuk kehidupan pribadi, dan lebih sering keliatan main di luar RS. Hal semacam ini yang kadang bila nggak ada riset lebih dulu sering menimbulkan kelalaian. Jadi karakter yang sebenarnya bisa dibangun malah dirusak dengan keakuratan yang minim.
      Naskah-naskah yang ditolak sering punya kasus semacam ini. Terutama untuk penerbit mainstream yang lebih mementingkan kualitas cerita, mereka nggak pernah main-main terhadap detil fakta. Jadi meski plot ceritanya bagus, tapi fakta pendukungnya amburadul, tetap aja nggak ada yang mau terima.

      Semoga jawabannya bisa membantu.🙂

      1. Makasih kak dista dee sebelumnya, ini udah membantu kok.
        Kalau boleh tahu, dari ketiga tipe latar tempat itu kakak gunain yang mana.
        yang sesuai fakta? imajinatif? atau dicampur?
        aku lihat dicerita kakak, latar tempatnya detail apa itu kakak ambil benar-benar sesuai apa yang ada?

        Dan, apa harus dideskripsikan secara mendetail? aku sering banget baca novel, yang penulis itu mendiskripsikan latar tempat benar-benar detail. Tapi karena itu justru secara gak langsung aku malah fokus untuk ngebayangin tempat itu, dan malah ngelupain jalan cerita yang ada.

        Jadi kadang-kadang aku suka ngelewati beberapa paragraf, kalau penulisnya itu udah mendiskripsikannya udah benar-benar detail, dan buat pusing. Dan aku disitu jadi mikir, kalau aku yang suka banget baca novel aja begitu, apa lagi yang gak begitu suka? mungkin mereka udah boring duluan

        Dan, karena penasaran aku coba tanya ketemen-temen aku, dan ternyata mereka juga sama kayak aku, yang justru otak mereka malah sibuk ngebayangin apa yang dideskripsikan sama sipenulis, dan jadi gak fokus sama jalan cerita. Malah kadang, katanya mereka gak begitu peduli sama pendiskripsiannya. Mereka baca, tapi mereka lewat gitu aja, padahal kasihankan penulis udah ngadain riset yang mendalam, tapi justru pembacanya gak peduli sama hasil risetnya itu. Padahal yang aku tanyain juga keteman-teman aku yang juga suka banget baca novel.

        Jadi sebagai penulis, kita harus mendiskripsikannya gimana?
        Dan aku mau tanya satu lagi kak, kalau misalnya kita buat cerita itu di Yogyakarta. Nah kita mediskripsikan cerita itu di keraton misalnya, nah di cerita kita itu ada scane dimana sang tokoh makan diwarung padang, tapi di kraton sendiri gak ada warung padang. Apa boleh kita karang sendiri warung padang itu?

        Maaf yang kak kalau pertanyaan aku kepanjangan, dan keribetan. Soalnya aku benar-benar bingung di masalah latar tempat ini. Kalau penyakit penulis yang lain, aku masih bisa ngatasin sendiri. Oh iya kak, kalau ada waktu bisa gak kakak ngreview pendiskripsian latar lempatku, apa yang kurang. Tapi itu kalau kaka gak sibuk aja. Makasih kak buat bantuannya, page ini bener-bener bagus. Soalnya biasanya aku nanya sama penulis lain lewat e-mail, dan itu kadang-kadang suka lama responnya.

      2. aku selalu pakai yang campuran.

        sebenarnya kamu nggak perlu terlalu memusingkan apakah detil suatu tempat yang kamu baca, atau yang ingin kamu tulis itu sangat detil sesuai dengan realita yang ada, karena sekali lagi, ini tentang proporsi kebutuhan detil plot fiksi. Deskripsi sebuah setting adalah penunjang cerita, semakin detil penempatannya akan membuat para pembaca semakin tenggelam dalam penafsiran dan penggambaran sebuah tempat yang penulis berikan pada para pembacanya. Apakah tempat itu benar-benar ada di suatu daerah yang real, itu tergantung dengan proporsi yang dibutuhkan penulis dalam penempatan lokasi adegannya.

        dan tipe pembaca itu sangat beragam. Ada yang seperti yang sudah kamu sebutkan, yang gampang bosan dengan detil narasi dan ada juga yang nggak. Penulis biasanya nggak terlalu peduli sih sama tipe pembaca yang nggak memedulikan pendeskripsian atau hasil riset yang sudah digarap, karena selain tipe pembaca seperti ini masih banyak pembaca lain yang sebaliknya dan masih tetap membaca karya dia dari awal sampai akhir tanpa dilewatkan. Banyak penulis yang menuliskan ceritanya tanpa terlalu banyak berpikir apakah pembaca akan membaca semua narasinya atau nggak, akan suka atau nggak, karena itu subjektif. Mereka menuliskan ceritanya dan detilnya karena mereka ingin, dan itu perlu. Dan itu cukup. Jadi yaaa… selain kamu atau teman-temanmu, masih banyak ikan di lautan kok hehehe.

        Soal warung nasi padang di keraton. Kurasa untuk hal ini kita harus melihatnya dari beberapa sudut :
        1. Apa kepentingan dia makan di warung padang ini.
        2. Kenapa harus di warung padang? memangnya di sana apa yang lebih istimewa dari menu warung lain?
        3. Apa tempatnya harus di warung padang? apakah bisa diganti dengan warung lain?
        4. daerah keraton terkenal dengan nasi Gudegnya, terus kenapa penulis malah melenceng dari keawaman lokasi dan malah cari warung padang?

        inilah yang sebenarnya dibilang dengan keakuratan sebuah topik. Dalam menentukan setting pun penulis juga harus mempertimbangkan kewajaran atau tidaknya sebuah tempat dan alasannya para karakternya berada di sana, nggak bisa asal taruh aja karena penulis ‘ingin’ mengadakannya di sana. Kalau empat dari banyak pertanyaan di atas bisa dijawab (memang ada alasannya warung padang itu perlu diadakan), maka boleh aja dibikin warung padang fiktif di daerah keraton.

      3. Iya sih,
        Kalau gitu aku juga kayak kakak deh, pake latar campuran.
        benar juga kata kak Dista Dee tentang pembaca.
        Aduh aku seneng bgt deh bisa nanya sama kakak,
        saran kakak membantu banget.
        Maksih yak kak.

  45. Halo kak Dista Dee ^^

    sebelumnya salam kenal~ namaku Thea–nama panggilan–aku 00 line.

    Bolehkah aku berkonsultasi dengan kakak?

    Biasanyakan disetiap cerita fiksi maupun novel sejenisnya, ada suatu alur dimana hal itu dinamakan ‘kiimaks’ iya bukan? Nah.. aku sedikit gak ngehnya disini. Walaupun sebenarnya aku tau tentang hal itu, tetapi aku lebih ingin mengetahui lagi bagaimana artian klimaks dalam cerita.
    Aku suka buat cerita tema horor. Tapi apakah itu puncak kengeriannya atau keseramannya. Hal itu yang sedikit aku bingung. Boleh gak sih kak kalau misalnya konflik kita tulis di pembukaan cerita? biasanya aku suka seperti itu.

    Sebelum cerita itu keseluruhan dimulai, jadi ada satu kisah dimana semua kejadian/isi cerita itu akan mulai dari pembukaan tersebut.

    Dan aku juga mau nanya sama kakak satu lagi. Aku suka ngeliat cerita-cerita fiksi baik yang rating G maupun PG-13 dan seterusnya itu temanya detektif atau kepolisian. Biasanya referensinya itu lihat dimana ya? kayak cerita kakak yang enchanted itu, semua tentang tarian dan tempat-tempat dimana menjadi tema serta alur cerita tersebut.

    Maaf ya kak kalau ngerepotin ._. mohon bantuannya.. terimakasih😀

  46. hai kak, aku mau menanyakan sesuatu nih mungkin kaka pernah mengalami ini juga.
    Apa karya kakak kalau di plagiat mempengaruhi mood kakak dalam menulis? Soalnya aku seperti itu kak. Ada yg plagiat dan itu mempengaruhi aku buat menulis bawaannya jadi kesel sendiri dan males lanjut gitu kak:( aku emang orangnya moody sih kak
    Waktu kakak nemu kasus plagiat ff kakak , apa yg kakak lakukan supaya ga kesel lagi gitu kak? terimakasih ya kak atas page ini aku jadi terbantu^^

    1. aku nggak pernah langsung keselya ketika ngeliat ada yang plagiat, yang bikin kesel itu kalau yg bersangkutan diajak ngomong baik-baik dan ngelak, pakai ngotot lagi.
      kebanyakan dari mereka biasanya langsung melakukan apa yang aku minta, menghapus tulisannya yang sudah diupload di blog manapun, dan gitu urusan selesai aku nggak ngurus lagi.

      selama ini urusan plagiat itu nggak pernah bikin moodku down atau semacamnya. Aku selalu berusaha untuk nggak membuat hal-hal semacam itu mempengaruhi keinginanku untuk menulis. dan kurasa lebih baik kalau kamu juga gitu …🙂

  47. hay kak dista,
    maaf aku mau tanya hal yang melenceng dari fanfiction, aku mau tanya tentang acuan membuat resensi buku yang baik.

    Aku suka baca buku, tapi nggak mau cuma sekedar lewat aja, pengen banged belajar bikin resensi dari setiap buku yang aku baca.

    boleh minta sarannya ??

    makasih kak ^^

  48. haloo kak..
    baca-baca komen dan pertanyaan diatas banyak yang nulis tapi stuk di tengah-tengah, kalo aku sebaliknya, aku susahhhhh banget nyari kata-kata atau kalimat untuk mulai nulis padahal ide cerita, gambaran konflik dari awal sampe akhir udah kebayang. Gimana orang mau baca kalo awal cerita yang gak menarik dan boring. Minta sarannya ya kakk.. Makasih sebelumnya

  49. halo kak. perkenalkan, aku kryzelnut, bisa dipanggil kryzel atau gaby saja hehehe. aku adalah author baru, mungkin baru sekitar 3 bulan bekerja di KFI. omong-omong, aku terlalu sering writer’s block. kurang-lebih, sudah ada 5 ide yang nancep di otak, hanya saja aku kebingungan untuk menggambarkannya. beberapa paragraf, bahkan halaman sudah aku ketik dengan susah payah, tetapi sampai di titik tertentu, otakku macet dan endingnya, dokumen tersebut menjadi putih bersih kembali. bisa minta saran, bagaimana cara menggambarkan ide yang sudah ada dengan lancar? terimakasih kak dista.

    ps: tolong mampir ke blogku ya:) icedhazelnut.wordpress.com

  50. Hai kak, aku mau tanya pendapat kakak soal membangun karakter tokoh di karya fiksi. Aku bukan penulis sih, lebih ke pembaca sebenarnya hehe. Nah jadi yang pengen aku tanya, kenapa ya sekarang banyak author yang lebih suka tokoh dengan karakter kelewat sempurna dibanding karakter yang masuk di akal? Maksudnya, aku sering ngeliat fanfic-fanfic berplot bagus, tapi karakter tokohnya terlalu berlebihan. Misalnya kyuhyun yang selalu digambarkan seperti pria kaya raya yang tampan, berkarisma, punya segalanya, dan kesannya dia ga punya kekurangan gitu. Padahal aku suka sama jalan ceritanya, tp gara2 sifat tokohnya yang terlalu sempurna dan tanpa celah, ceritanya jadi terasa unrealistic gitu-_- menurut kakak itu gimana?

    1. Tokoh karakter dalam fiksi sebuah penulis sebenarnya kan refleksi dari idealisme penulis itu sendiri. Kadang mereka memakai patokan standar, atau harapan, yang dia lihat dari seseorang (yang bisa jadi nggak dia temukan dalam kehidupan aslinya, dan kebanyakan seperti itu) lalu menuangkannya dalam bentuk karakter di tokoh yang dia ciptakan, untuk menyempurnakan dunia yang ideal menurutnya masing-masing.

      Kalau ditanya kenapa, jawabannya kurasa karena untuk saat ini yang kaya, tampan, pintar dan punya semuanya adalah standar kesempurnaan menurut ideal penulis itu. Bisa jadi karena ada trigger dari tren (ff, novel atau sinetron/drama asia) atau memang begitulah preferensi pribadinya. Penulis-penulis ini biasanya tipe yang melihat hal klise menjadi sesuatu yang biasa, atau malah dipuja, yang lebih suka mempertahankan idealisme angannya daripada rasio pembentuk sebuah realita… sebuah fenomena yang awam terjadi di kalangan para penulis baru, atau penulis” yang banyak dicekoki dengan fantasi budaya pop.

      Menurutku begitu, hehehe… sah-sah aja sih, tapi sebagai penulis aku paling menghindari kesempurnaan yang terlalu dibuat-buat ini. Karena ya itu, sebaik apapun manusia, pasti ada cacatnya.😀

  51. Kak Dee, aku adalah penggemar kau. Salam kenal!!

    Kak, aku juga seorang penulis pemula. Aku suka cerita buatan kakak sebab diksinya bagus banget.

    Jujur, aku sebagai penulis pemula memiliki banyak kekurangan, salah satunya adalah menggambarkan setting di dalam cerita. Yang aku mau tanya, gimana kak caranya supaya setting yang kita gambarkan dalam cerita bisa tergambarkan dengan jelas?

  52. Kak aku juga ingin tanya sesuatu hehe…
    Kali ini yang aku tanyakan ada penggunaan tanda baca kak…
    Ini dia kak pertanyaannya :
    1.Kata tanda sambung itu langsung disambung atau di pisah contohnya : cepat-cepat atau cepat – cepat ?
    2.Tanda titik tiga (…) menggunakan spasi contoh : Kurasa… dia… berubah atau tidak?

    aku bingung banget sama yang ini menurutku kata sambung itu harus dispasi tapi kata temanku itu harus dipisah jadi yang mana yang benar kk?🙂
    Makasih sebelumnya kak🙂

    1. 1. Cepat-cepat
      2. Titik tiga nggak pakai spasi.

      Kalau kamu ingin penjelasan lebih jelas ttg pertanyaan-pertanyaan kamu, sebenarnya kamu bisa coba google aja. Cari yg pembahasannya sesuai dengan EYD, di luar sana banyak banget yg ngebahas ttg penggunaan tanda baca yg benar.🙂

  53. Halo kak dee, aku pertama kali nih komentar di sini dan pengin nanya

    Jadi aku udah buat fanfiction oneshoot dan panjang bangett dan rencananya mau aku bagi dua jadi twoshoot. Cerita ini udah muter di kepala aku lama banget dan udah selesai sebenernya, tapi pas aku mau mempublikasikannya aku ngerasa ragu nih. Aku udah baca cerita yg aku buat ini lebih dari lima kali, aku nge-feel sama ceritanya tapi masih ngerasa kurang yakin.

    Kak ini kan hari libur, kalo aku ngirim ff aku ke e-mail kakak buat minta review boleh gak? Aku rencana mau post akhir tahun ini._.

    Thankyou yaaaa^^

  54. Eonni~
    Menurut Eonni, ‘idealnya’ satu bab dalam novel itu berapa kata ya?
    Dan untuk satu novel, umumnya berapa bab?
    (Tapi jangan setipis novel Teenlit Indo ya, tipis-tipis banget)

    Aku lagi progres menulis (iseng buat isi waktu sama kesenangan pribadi hehe) tapi ‘merasa’ kayaknya kalo dijadiin buku ini bakal tipis gitu. Buat acuan aja, Eonni, soalnya aku gak pernah ngitungin kata pas baca suatu novel .-. #dordordor

    Mohon dijawab🙂 terima kasih.

    1. Patokan 1 bab itu bukan kata, tapi 1 topik bahasan. Kamu bisa ganti bab kalau topik bahasan di novel kamu sudah selesai diceritakan, bisa diambil dari patokan waktu, adegan atau inti bahasan.
      Terus kalo 1 novel babnya juga variatif, tergantung perkembangan topik itu tadi. Rata” 1 novel berkisar antara 30.000-50.000 kata atau 150-200an halaman.

  55. Hai, Kak! Aduh, aku seneng banget nemu page yg banyak membantu aku dalam menulis. Dan aku berasa makin semangat utk berkarya stlh baca komentar2 yg ada. Terus sebagian besar jg udh menjawab pertanyaan besar yg nongkong di otakku. Terima kasih banyan, Kak!😄

    Ah, aku juga mau tanya, dong. Menurut Kakak, unsur-unsur yg paling penting dalam menulis sebuah cerita itu apa? Apakah setting tempat harus diceritakan sedetail mungkin? Sebenernya mendeskripsikan setting tempat itu bener2 kelemahanku, Kak. Aku nyadar banget kalau tulisanku lebih sering menceritakan perasaan tokoh2 yg aku ceritakan. Terus aku juga sering banget menggunakan perbandingan yg terlalu heboh. Apakah itu sebuah masalah, Kak? Karena lama2 aku kok jadi merasa takut dan nggak PD dengan reaksi pembaca. Mungkin lama-lama mereka bisa merasa jenuh. Huhuhu. Adakah saran untukku, Kak? Terima kasih banyak! T.T

    1. hei you🙂
      sebenernya itu tergantung tema cerita juga. Detil suatu setting itu penting untuk memberikan gambaran yang kuat tentang apa yang terjadi di sekitar para tokoh di dalam cerita, semakin kuat akan semakin baik karena bisa jadi inner thinking seorang karakter bisa muncul dari cara dia nantinya menyikapi fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya itu. Sebuah cerita kalo hanya menceritakan perasaan tokohnya aja ntar jadinya malah abstrak, seolah-olah yang kita baca hanya curhatan semata tanpa ketajaman insting akan kanan kirinya.
      rata” pembaca sekarang udah mulai jeli dengan deskripsi setting dan fungsi-fungsinya, jadi kusaranin kamu banyak berlatih untuk memperkuat narasi deskripsimu kalau memang merasa kurang di sana.
      Jangan langsung judge diri sendiri sesuatu itu jadi kelemahanmu, kamu hanya belum terbiasa, dan yang perlu kamu lakukan hanyalah membiasakan diri.

      Terus yang kedua tentang perbandingan yang heboh. Itu juga tergantung situasinya, sik. Kalau memang analoginya pas dengan suasana sesuai dengan tujuan konflik, nggak masalah kalau dibuat heboh. Tapi kalo terus”an apa-apa dibuat heboh ya repot juga. Buat aja yang natural, dari generalisasi premis, reaksi antar karakter atau jalan kesimpulan. Yang terlalu heboh hanya bikin tulisan kamu terkesan hiperbolis dan nggak sesuai dengan tempatnya, jadinya mubazir. Coba deh kamu cari beta reader dari beberapa orang, jangan cuma satu supaya komentarnya bervariasi dan nggak subjektif. Dari beberapa masukan beta reader kamu nanti bisa diambil kesimpulan mana yang perlu kamu perbaiki, mana yang perlu ditambah atau dikurangi.
      Gitu yaa… semoga menjawab pertanyaan kamu.

  56. Halo, Kak Dista. Salam kenal.
    Terima kasih sudah membuat page ini. Sangat bermanfaat buatku yang baru saja mendalami dunia tulis-menulis ^-^

    Ketika aku menulis sebuah fiksi, aku selalu ingin menyelipkan sebuah pesan di dalamnya. Tapi kan nggak boleh menggurui. Aku belum paham “yang menggurui” itu seperti apa?

    Kak Dista udah menanggapi pertanyaan tentang karakter. Aku biasanya merasa kesulitan membangun karakter yang kubuat sendiri. Aku kurang bisa mendalami karakter yang kubuat, akibatnya aku juga merasa kesulitan menjabarkan apa yang harus karakter lakukan saat mengalami situasi tertentu. Ceritaku jadi kurang hidup dan karakternya jadi kurang kuat. Kira-kira bagaimana solusinya?

    Apa Kak Dista masih bisa menerima cerita untuk direview? Nggak masalah kapan Kak Dista bisa membalas emailku nanti, aku berharap bisa dapat review dari Kakak biar aku bisa tahu kekurangan dari tulisanku.

    Terima kasih, Kak ^-^

    1. “yang menggurui” itu ketika dibaca jadi terkesan menceramahi, atau beda tipis sama artikel wikipedia atau teks buku materi sekokahan. Ketika menyisipkan informasi, bikin senatural mungkin ketika kamu lagi cerita sama temenmu tentang topik tertentu, sesederhana itu😉

      Ttg karakter, satu”nya hal hanya dengan berusaha lebih mengenal karakter ceritamu. Kalo kamu sendiri nggak bisa mendalami katakter yg kamu ciptakan, gimana kamu bisa berharap pembacamu bisa melakukannya?

      Review naskah kamu bisa kirim ke emailku, yp maaf banget ya kalo lama. I’m on maternal leave, udah nggak bisa intens mantengin leptop lama” hehe…

  57. hai kak, boleh nyampah gak*maksudnya nanya* ?, langsung aja, begini kalau aku buat cerita dalam 1 chapter ada beberapa adegan, nah tapi alurnya kecepetan jadi kesannya gak nyambung, terus gimana cara nyambungin tiap adegan?

    Terimakasih.

  58. Hai, Kak Distaaa! Aku kembali lagi! Ini udah kedua kalinya, tapi kayaknya aku belum memperkenalkan diri. Hehehe. Jadi, aku Olga, Kak, tapi bukan yang lagi ke Singapura dan nggak jelas kabarnya😄 Hm, dan jangan pernah bosan kalau nanti aku mampir lagi~

    Aku mau tanya tentang flashback, Kak. Hehehe. Di banyak cerita yang aku baca, flashback selalu ada tempat sendiri. Jadi flashback itu diceritakan secara terpisah dari cerita inti. Tapi, gimana kalau flashback itu diceritakan secara mendadak oleh penulis? Maksudku, waktu si penulis menceritakan kejadian saat itu, tiba-tiba saja penulis menceritakan kejadian lampau, tapi ceritanya itu kayak nulis diari gitu, Kak. Hm, gimana ya, aku bingung menjelaskannya, tapi semoga Kak Dista bisa menangkap apa yang aku maksud -___-v

    Terus, terus, kalau begitu, meski nulis flashback-nya kayak nulis diari, apa perlu dicetak miring? Eh, atau sebetulnya flashback itu dicetak miring, Kak? Atau diketik biasa aja? Terus, terus, terus, pemikiran tokoh yang diceritakan itu juga dicetak miring (kalau memakai sudut pandang orang ketiga) kah, Kak?

    Itu aja, Kak, untuk saat ini. Hehehe. Terima kasih atas bantuannya, Kak❤

    1. jangan tiba-tiba langsung flashback juga sih, yang ada ntar pembaca jadi disorientasi sama kronologi ceritanya. Kalau mau langsung diselipkan dalam cerita bisa kamu kasih preface dulu tentang kisah yang sudah lampau ini, mau berupa paragraf, sebuah kalimat atau bahkan hanya satu kata “dulu…” gitu aja cukup kok.

      kalau bentuknya diary gitu dicetak miring juga nggak papa, yang penting bisa dibedakan patokan tensesnya, apa lagi present atau past hehehe. Biar lebih gampangnya coba deh sini kasih liat ke aku, sebenernya aku juga bingung sama pertanyaan kamu.

      1. Sudah, kok, Kak Dista. Pertanyaanku udah dijawab seluruhnya sama Kak Dista. Aduh, maafkan kalau pertanyaannya agak membingungkan. Hehe. Tapi, nanti sekali-sekali mau, dong, Kak Dista me-riview karyaku /.\

        Terima kasih, Kak😄

  59. Dee, saat ini aku belum memiliki pertanyaan untukmu tapi aku punya saran sedikit yaitu, mungkin jawaban dari banyak pertanyaan teman2 bisa dijadikan beberapa Postingan ^^ Ya supaya yang lain juga ikut membaca jawaban Dista walau mereka gak bertanya.
    Thanks ^^

    1. umm, yeah, … itu ide bagus, dan sebenernya ada niatan buat gitu sih. Cuma sekarang masalahnya satu aja, berhubungan dengan faktor ‘W’ hehehe…. nanti deh, kalo memang waktunya lagi selo banget akan kucoba bikin postingannya, soalnya yang dibahas banyak banget, dan sangat bervariasi. >.<

  60. astaga aku seneng ada page tentang sharing penulisan kyak gini ><// aku rasa aku nggak bisa nyatuin kedua itu dalam satu cerita. karna setiap aku baca lagi kayaknya bertabrakan. ada saran bagaimana aku harus menyatuakan(?) keduanya?
    kedua, kenapa ya kak gaya penulisanku itu sampai sekarang seperti belum menemukan jati diriku hehe maksudnya gaya penulisanku kadang rada berbeda setiap waktu. karna sebelum menulis terkadang aku mencari inspirasi dengan membaca apaun dan saat menulis gaya bahasaku kadang mengikuti gaya terkahir cerita yg kubaca. that annoying for me. sangat sering cerita yg sudah aku buat aku ganti lagi sejak awal -_-
    ketiga, about mood.. kak kadang aku benci dgn mood ku yg sering sekali up and down. padahal aku sudah dengan keras mencoba menulis saat moodku saat sangat tak ada. dan hasilnya tak baik.
    aku berharap masukan kakak tentang diatas. jujur aku nggak tau sharing pada siapa lagi hahaha thanks ^^

    1. menyatukan kedua apa sih? O_O
      .
      tentang orisinalitas gaya penulisan, correct me if I’m wrong, tapi kurasa kamu adalah penulis baru, dan dari pengalaman juga pengamatan yang pernah ada, hal semacam ini wajar aja. Mencari ciri khas yang orisinil kekamuan itu memang butuh proses dan nggak bisa instan. Gaya penulisan yang berubah-ubah itu wajar terjadi karena kamu sedang dalam proses belajar dan ingin selalu memperbaiki apa yang kurang dari kemampuanmu, jadinya secara otomatis kamu mulai terbawa dengan gaya penulisan yang idealnya sangat baik dalam penilaianmu. Yang perlu kamu lakukan hanya banyak berlatih dan terus menulis. Dengan biasa dan bikin berbagai variasi gaya tulis, nantinya kamu pasti bakal menemukan jiwamu dalam gaya tulismu itu.

      yang ketiga, kalau udah berurusan sama mood itu cuma kamu yang bisa memperbaikinya. Jangan manja. Jangan mau diperbudak mood. Kalau memang mau nulis ya nulis aja, nggak perlu cari alasan gara-gara mood atau lagi bad mood, atau nggak mood, dan teman-temannya. Kalahkan mood dengan passion, kamu nggak akan menghasilkan apapun kalau hanya bisa ngeluh. You can do it!

  61. hai, kak dista. akhirnya aku bisa sharing tentang tulis menulis dengan seseorang yang mengerti dan sudah berpengalaman seperti kak dista. kak, aku suka bikin fanfic. tapi, fanfic nya itu genre nya yang sedih sedih terus. aku baru sadar ternyata selama ini aku bikin fanfic genre sad, romance gitu. endingnya kebanyakan gantung dan sad ending gitu. sampe aku lupa gimana caranya bikin fanfic yang manis dan happy apalagi dg happy ending. ternyata selama ini aku nulis fanfic sad, romance itu berdasarkan kehidupan nyata yang entah kebawa atau malah jd inspirasi sekaligus curhat ke readers gitu kak. dan kalo bikin fanfic series kadang aku suka kebawa sama keinginan readers trus jadi bingung trus akhirnya ceritanya gak sebagus openingnya.
    tolong kasih saran kak, butuh banget saran dari seseorang seperti kak dista.
    makasih~

    1. halo🙂
      maaf baru balas ya, telat banget yak hehe.. aku cuma bisa bilang, kalau menulis jangan ngikutin apa kata pembaca sih. Seperti yang—kalau kamu baca jawaban”ku di atas—selalu kubilang, yang menulis itu kamu, yang bercerita juga kamu, jadi berceritalah seperti apa yang kamu ingin. Mau itu yang sedih atau yang senang, tuangkan aja semuanya. Komentar pembaca bisa kamu jadikan masukan, tapi nggak dengan ngikutin apa kata mereka. Kamu harus pintar memilah-milah.
      Bikin timeline atau framework bisa dicoba buat bikin patokan awal-akhir cerita yang kamu tulis, jadi seenggaknya kamu udah punya gambaran gimana ceritamu akan berakhir di kala kamu mulai menulis sebuah cerita, then stick with it til the end.
      Jangan terlalu banyak nonton sinetron, hehehe, banyak baca buku untuk memperluas tema tulisan kamu. Dan coba jalani keseharian kamu dengan lebih santai, karena mungkin tema tulisanmu dipengaruhi oleh mood kamu saat itu. Jangan sampai kalah dengan mood, kebalikannya, mood yang harus ngikutin plot ceritamu.

      Selamat menulis!🙂

  62. Hai kak. Aku mau minta tips dari kakak nih.
    Aku pengen banget bisa bikin sebuah cerita, aku udah punya banyak banget ide dan bahan-bahan yang sering berkeliaran di otak, sampai aku tulis di catatan supaya pas aku udah mulai ngetik aku bisa tau jalan ceritanya. Tapi, hal yang selalu menghambat itu aku paling nggak bisa banget merangkai kalimat. Kalimatnya jadi absurd. Aku kebanyakan ngetik kata “dia”, “yang”, “-nya”, dan nyebut nama cast. Selain itu aku juga kesulitan untuk mengurangi kebiasaan memakai kalimat yang kurang efektif, banyak kata yang sering kuulang. Mungkin kakak pun bisa lihat kekuranganku dari kalimat yang aku pakai di komentar ini. Mohon tips dan triknya ya kak🙂

  63. Permisi kak Dista, numpang lewat hehe. Aku ketemu sama blog ini sebenarnya niatnya mau baca ff kakak yg Forsaken. Tapi karena udah dihapus sama kakak, aku jadi memutuskan untuk jelajah blog ini😀 Dan mataku juga langsung mengkilat😄 waktu ada page beginian. Aku mau minta tips sedikit, nih🙂
    Aku udah punya banyak ide2 cemerlang di otak. Bahkan banyak banget fanfic yang pengen aku curahkan ke Ms Word dan aku juga udah bikin kerangka nya sedetil mungkin.. Tapi kak, kadang aku bingung mau mulai dari mana. Kadang aku diam aja gitu waktu ada di depan Ms Word. Aku juga takut kalo cerita aku ini ngga akan di sukai para readers dan tentunya itu bikin aku rendah diri… Kadang suka deg-degan sendiri pas lagi ngirim fanfic. Entah itu takut jelek atau gimana.
    Kira2 ada solusi nya ngga kak?? Rasanya bener2 ngga pede waktu nulis…

    1. Kalau ada masalah semacam ini, solusinya cuma satu : Be confident.

      Tanpa kepercayaan diri, meski itu cuma setitik aja, you’ll be going nowhere, doing nothing.
      Naskah ditolak, atau nggak disukai itu biasa terjadi di dunia ini. Jadikan ini sebagai pengalaman dan guru yang terus membuat kamu memperbaiki teknis menulis dan memperluas ide-ide ceritamu.
      Jangan sampai pikiran selalu ingin disukai dan diterima ,malah jadi ending rasa takut kamu, yang ada rendah diri itu malah akan berubah jadi tinggi hati nantinya.

      Jadi, percaya sama diri kamu bahwa yang kamu tulis itu akan bermanfaat bagi yang membaca.🙂

  64. Kak Dis, aku mau tanya deh. Yang dimaksud sama beta itu apa ya? Aku sering liat orang-orang nulis “padahal udah di beta berkali-kali…”. Aku engga tau beta itu apa dan apa itu penting banget?

    1. beta itu proof reader, orang yang baca naskah kita sebelum diterbitkan. Penting enggaknya itu tergantung si penulis, tugasnya beta reader itu biasanya kan untuk merevisi naskah, bisa dari segi plot sampai teknis menulisnya. Jadi kalau penulis udah yakin benar tulisannya sudah cukup baik, beta reader nggak penting” amat.

      1. oh gitu. Kak Dis bersedia ngeluangin waktunya buat baca naskah aku sebelom aku posting ga? Jadi biar aku dapet saran&kritik. Soalnya selama ini kalo aku nunjukin hasil naskah ke temen, mereka cuma bilang “bagus”, “bagus ceritanya”, gitu doang. Padahal aku ngarep banget sama saran&kritik. Gimana Kak Dis?

      2. Boleh sih say, tapi maaf banget aku nggak bisa janji bisa reply cepat. Masih ada beberapa naskah yg belum sempat aku review sejak dia kirim tahun lalu >_< biasanya naskah masuk selalu kubaca, tapi ya itu, sampai sekarang belum ada waktu buat bisa duduk lamaan di depan laptop ngerevisi apa yang udah dibaca.

        Kalau mau dapat respon cepat, lebih baik kamu langsung sampaikan aja kesulitannya secara teknis di bagian mana, sebisa mungkin insyaa Allah aku akan bantu.

        Happy writing! ^^

  65. Hai kak Dee.
    Aku mau nanya, ide kakak tuh kok bisa selalu ‘ngalir’ dan gitu, kata-katanya bagus banget. Gimana sih caranya biar ide bisa ngalir, dan kita bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata yang tepat?
    Oh ya, sekalian aku mau nanya juga. Gimana sih kak, biar pembaca bisa ngerasain feelnya tanpa bingung dengan kata kata kita?
    Makasih kak, *deepbow*

    1. aku udah pernah ngebahas ini sebelumnya, hehehe, tapi karena mungkin udah di atas banget jadi mari kita ulangi.

      Menjawab pertanyaan yang pertama, supaya bisa dapet kata” yang pas kurasa cara yang paling jitu itu dengan banyak membaca. Karena ketika kita banyak baca buku, terutama fiksi, pembendaharaan kata kita otomatis juga bertambah jadi kita bisa lebih mudah untuk menempatkan kata yang tepat untuk deskripsi tertentu.

      Lalu saat lagi nulis, selama ini aku selalu mencoba untuk nulis apa adanya. Jadi nggak dilebih-lebihkan supaya terkesan lebih ini itu, pokoknya sederhana aja, yang penting detil dan sejelas mungkin. Jadi ketika orang baca, seolah dia bisa merasakan/melihat apa yang karakter kita lihat/rasakan, nggak abstrak. Ditulisnya secara runtut, nggak acak, jadi lebih mudah dimengerti juga^^

  66. Hai kak dista. entah kenapa aku seneng banget nemu blog ini wkwk.
    kak, aku mau tanya. kalo bikin fanfict, biar pembaca dapet feel sama apa yg kita tulis itu gimana ya caranya? terus aku kadang suka susah buat numpahin ide ke bentuk kata-kata, cara ngatasinnya gimana ya kak?
    makasihh~

      1. oh oke kak’-‘
        terus ada yang namanya writing prompts sama prompts. itu apa sih kak? terus beda apa sama? maaf banyak nanya hehe’-‘

  67. halo kak dista!
    aku mau minta saran nih kak,,, kak, aku kalau lagi diem atau melamun biasanya banyak tuh ide sama kata-kata yang mengalir dipikiran aku. tapi kak, setiap aku mau nulis apa yang ada dipikiran aku, aku suka lupa dan merasa kesulitan, jadi kak, aku harus gimana untuk mengatasi kesulitannya?

  68. assalamualaikum kak dista.. aku lg blogwalking nih dan entah ngapa sampe di page ini hehe, gini kak aku mau tanya, aku kan idah jadi author ff setahun lebih nih.. tapi dr bbrpa tulisanku, aku masih aja blm ada yg bnr2 puas sm karyaku sndri.. entah ngapa kayaknya hasilnya blm maksimal banget.. apa ini perasaan yg wajar kak??
    terus, dan utk suatu fiksi yg baik, diawal2 fiksi kita bisa tulis plotnya langsung atau kata2 yg lain kak? (kakak ngerti maksudku, kan?) 😅
    aku tunggu jawabannya yah kak..

    1. Halo, biasa sih kalau ada rasa nggak puas sama karya sendiri, itu berarti kamu ingin lebih baik. Wajar aja, rata” penulis selalu gitu hehe…

      Buat pertanyaan ke2 aku nggak paham 😅😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s