diary

Nikmatnya Sang Ibunda.

Aisha lagi jalan 8 bulan, dan alhamdulillah sekarang lagi senang berguling-guling dan merayap nyari tempat dingin (baca: lantai). Kata orang kalau bayi sudah di atas 6 bulan kerjaan ibu lebih santai, atau nggak terlalu capek karena nggak perlu bangun malam-malam nyusuin bayi. Tapi yang kurasakan sama aja sih, dulu sama sekarang kerjaan tetap banyak meski beda tipenya, hehehehe….

Beberapa ibu juga bilang, bahwa masa terindah seorang wanita yang menjadi ibu itu ketika melahirkan anaknya. Detik-detik setelah bayi keluar dari perut, lalu ditaruh di atas dada dan ibu melihat bayinya pertama kali—rasanya nggak ada yang ngalahin, katanya. Aku melihatnya dengan berbeda, dan kurasa yang diceritakan itu belum apa-apa. Kebahagiaan itu bertahap; dari ketika bayi lahir, lalu ketika ibu menyaksikan bayinya bisa ngoceh untuk pertama kali, ketika bayi bisa terlungkup untuk pertama kali, merangkak, berdiri, ketika bayi mulai kenal ibu sebagai ibunya, sampai nanti ketika dia bisa ini itu yang lain. Kebahagiaan itu nggak akan ada habisnya.

Jadi ibu itu capek, semua orang tahu. Aku nggak akan mengeluh, karena bukannya ini sebuah kodrat atau tugas, aku melihat lelahnya itu sebagai sebuah kenikmatan. Selama 8 bulan ini aku hidup jauh sama suami, hanya ketemu 2 hari dalam seminggu, kadang 2 minggu sekali, dan lebih kenal dia dari layar kaca aja dari pada aslinya. Dan selama 8 bulan ini, jauhnya kami mengajariku banyak sekali hal dalam berhadapan sama Aisha.

Terbiasa ngurus segalanya sendiri bikin aku lebih mandiri. Mungkin karena aku anak pertama, dan terbiasa sejak sebelum menikah pun apa-apa kuurus sendiri, jadi nggak terlalu bergantung ketika nggak ada orang lain. Dan meski selama 8 bulan ini kami (aku dan Aisha) tinggal di rumah orangtuaku, sebisa mungkin aku selalu ngurus seluruh kebutuhan Aisha tanpa merepotkan mereka. Dari mandiin Aisha sejak dia lahir, nyuapin makan, gantiin pampers, sampai beres-beres, ibuku juga membiarkan aku melakukannya sendiri—kecuali kalau memang lagi repot banget.

Aku nggak bermaksud untuk pamer, atau berharap-harap pujian dari yang kutulis ini. Pengalaman yang kuceritakan ini semata-mata kubagikan karena aku yakin aku bukan satu-satunya ibu yang capek ngurusin bayinya. Ada yang jauh lebih repot dari aku tapi masih bisa ngurusin seluruh kebutuhan bayinya dari A sampai Z, dan masih lagi ngurusin kebutuhan rumah sebagai ibu rumah tangga. Dan apa yang kulakukan sejak Aisha kecil itu, pun juga karena ada triggernya.

Pasti sering sekali dengar orang berkomentar, “Wuah cucu pertama, eyangnya pasti bakal repot banget tuh nanti.” ketika ada ibu muda sedang hamil tua, menunggu detik-detik kelahiran. Iya, adaaaaa…. pasti. Ini sering banget terdengar kalau kami ketemu sama teman-teman ibu, atau lagi periksa ke dokter. Ditambah lagi, bersamaan dengan kehamilanku, adik perempuanku juga sama-sama hamil tua, yang berarti insya Allah akan ada 2 bayi di rumah dengan jarak umur yang nggak terlampau jauh. Macam anak kembar.

Komentar makin menjadi, “Lho ini cucunya langsung dua, ya kasian ibu nanti ngurusin bayi kembar.”

Seolah-olah ibu yang mengandung ini cuma numpang lewat.

Entah bagaimana stereotype ibu muda punya anak cuma bakal ngerepotin orang tua ini mulai mencuat, aku nggak ingin membahas tapi dari komentar ini aku bersumpah, bahwa anak-anakku akan tumbuh dengan tanganku dan dalam gendonganku.

Aku dulu manja, bangeeet, karena sejak kecil memang orangtuaku amat sangat memanjakan anak-anaknya. Nurutin semua apa yang kami ingin dan kami minta, sampai ke titik bahkan saat kuliah ayah masih suka jemput aku di kampus. Trigger itu juga pada akhirnya yang selalu ngingetin aku untuk harus selalu kuat, nggak bawa-bawa manja lagi yang ada sejak kecil. Punya anak sendiri bikin seorang ibu mau nggak mau belajar bertanggungjawab, karena sedikit aja salah asuh, rusaknya anak sampai dia mati. Dan yang paling penting, menahan mulut untuk nggak ngeluh.

Tahu kenapa?

Karena Allah menjanjikan surga dan seisinya bagi seorang ibu. Perjuangan itu nggak mudah sejak sejak awal, dan capeknya 24 jam 7 hari seminggu. Jangan sampai gunung-gunung pahala itu gugur hanya dengan sebuah kalimat, “Ibu capek nak ngurusin kamu”. Naudzubillah….

Dan aku tahu perjalananku masih panjang. Delapan bulan itu belum apa-apa buat ibu yang sudah besarin anaknya selama setahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Tapi biarkan tulisan ini menjadi saksi, dan perjanjian tertulisku dengan aku besok, lusa, dan seterusnya, bahwa ini adalah salah satu jalanku menuju apa yang Allah janjikan untuk kita para wanita di akhir dunia.

Perjanjianku dengan kamu, para ibunda, untuk nggak manja dan cengeng. Siti Hajar, ibunda nabi Ismail rela berlari hampir 3kilo jauhnya untuk cari air buat anaknya. Siti Maryam, ibunda nabi Isa nggak pernah mengeluh membesarkan bayinya di tengah pengasingan, seorang diri. Jangan sampai kita, ibu-ibu yang hidup di jaman serba mudah, mengeluh capek sedikit hanya karena anak nggak mau makan, atau gantiin popok 3 jam sekali karena poopnya lagi sering.

Ini anugerah kita, para ibu, untuk menikmati indahnya menerpa lelah, mengalahkan penat, dan menahan mulut dari kata-kata yang nggak bijak. Banyak beristighfar pada Sang Pemberi Kehidupan, semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dan menjadikan ibadah ini sebagai pemberat timbangan amal kita di hari kebangkitan. Aamiin.

.

.

.

16 November 2015,

Dista Wryn.

Dulu Aku Pun Begitu.

Bismillahirrahmanirrahim,

Dear guys,

Hari ini aku nulis untuk berbagi sebuah cerita pribadi yang pernah aku alami, semoga cerita ini bisa menjadi renungan, atau sesuatu yang kamu terima secara positif karena ini adalah tugas kita sebagai sesama muslimah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Aku berdoa, semoga Allah meluruskan niatku bahwa ini kubagikan hanya sebagai nilai ibadah, tidak ada unsur riya’, memamerkan diri atau bahkan merasa diri lebih baik dari yang lain. Semoga Allah memberi dan membukakan pintu hidayah bagi seluruh muslimah yang membaca cerita ini, juga di seluruh dunia, bagi mereka yang ingin berpegang teguh pada perintah-Nya, dan sunnah Rasul-Nya. Aamiin.

Tulisan ini dimulai dari kabar seorang teman baik yang beberapa waktu lalu memberitahu; bahwa dia ingin belajar pakai jilbab panjang, dan pakaian yang syar’i. Alhamdulillah sekali, saat itu nggak bisa kugambarkan senangnya. Kurasa terakhir kali aku senang semacam itu ketika akhirnya thesis kelar dan nggak perlu nunda wisuda sampai berbulan-bulan, hehehe… Iya, rasanya lega, entah karena apa. Yang jelas mendengar kabar itu seperti mendengar kabar yang luar biasa menggembirakan, because she’s one of few friends I value the most.

Berita ini akhirnya membawa aku kembali ke tahun-tahun yang lalu, di kala aku pernah menjadi orang yang ‘begitu’. Januari 2014, adalah pertama kalinya aku memutuskan untuk berhijrah. Bulan itu, aku memutuskan untuk membuang celana-celana panjang yang seringkali aku pakai keluar rumah, membakar beberapa celana jeans, dan menggantinya dengan rok panjang, baju gamis, dan jilbab yang panjang.

Di bulan yang sama, ketika seorang sahabat yang sangat baik meninggal dunia di saat yang nggak terduga. Semoga Allah memuliakan dia di sisi-Nya, gadis berhati mutiara, insya Allah sang bidadari surga—seseorang yang menjadi inspirasi aku untuk berubah. Benar-benar berubah.

Berjilbab panjang dan berpakaian syar’i bukanlah tentang panasnya hawa, keribetan pakaian atau manhaj apa yang kita ikuti dan yakini, tapi ini adalah tentang aqidah dan kewajiban yang kita jalani sebagai seorang muslimah.

Dulu aku begitu; berjilbab tapi berpakaian ketat. Berjilbab, tapi lekuk tubuhku tetap terlihat. Berjilbab tapi aku bermaksiat. Aku pernah berada di jaman itu. Yang tenggelam dalam kesenangan duniawi, memuja para kafir yang sebenarnya haram diminati, dan melakukan juga mengajarkan hal-hal yang nggak bermanfaat. Kesombongan manusia, yang diperalat iblis-iblis durhaka, aku terpesona dan lupa seolah hidup ini untuk selamanya. Semoga Allah mengampuni dosa aku dan semua orang yang kusesatkan karena ini.

Dan Januari 2014, aku ingat hari akhir. Ketika melihat seorang sahabat baik terbungkus kafan, disholati, dan ditangisi, aku yang bodoh dan sombong ini mulai berpikir bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua. Sahabat ini, berkali-kali kusebutkan, dia orang yang baik. Dia nggak pernah menyakiti orang lain, tutur katanya lembut, saaaaaangat lembut. Dan dia pergi dengan cepat, di usia yang masih sangat muda… lalu aku punya apa?

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mempercepatnya.”(Surah Al-A’raf ayat 34)

Aku nggak tahu kapan mati akan mendatangiku. Dan di tiap detik di hari pemakamannya, yang ada di kepalaku, akan jadi apa aku di akhirat kalau aku mati dalam keadaan masih bermaksiat?

Ketika umur ini sudah semakin dewasa, apalagi sih yang kita cari dan yang kita tuju selain mendekatkan diri pada yang Ilahi? Seseorang yang baik belum tentu punya waktu yang banyak untuk beribadah dan mencari surga, lalu aku punya apa?

Akhlak seseorang akan mengikuti ketika seseorang berjilbab; yang nantinya lebih sabar, yang nantinya lebih menahan bicara, juga yang lain. Perlahan tapi pasti. Seseorang yang ingin berubah nggak bisa jalannya langsung 180 derajat berbeda. Seseorang yang berhijrah itu seperti bayi yang sedang melalui fase dari yang tadinya Cuma bisa terlentang, dia belajar terlungkup, lalu merangkak, duduk, dan berdiri. Nggak ada proses instan dalam belajar, dan yang pastinya, nggak ada kata terlambat.

Hidayah bukan banjir bandang yang tiba-tiba datang. Aku selalu diberitahu bahwa hidayah hanya akan diberikan pada orang yang berusaha untuk mencarinya, menjemputnya, dan menerimanya dengan lapang. Aku ingin menerima syariat itu dengan apa adanya, menikmatinya, hingga mati dengannya. Aku Cuma takut jadi orang yang sombong. Aku Cuma takut jadi orang yang nggak ingat mati, padahal ajalku hanya seujung jari.

Sahabat baik yang sudah pergi, dan teman baik yang ingin lebih syar’i selalu mengingatkan aku untuk selalu bersyukur, bahwa nggak semua orang dimudahkan menjadi orang yang seperti ini. Perlu perjuangan berat pagi sebagian orang agar bisa diterima di lingkungannya, dicemooh bahkan diasingkan ketika dia memilih untuk berjalan di kehidupan syar’i. Tapi aku hidup di keluarga yang mendukungku penuh dalam belajar, nabung buat ngumpulin jilbab panjang dan gamis satu persatu, hingga akhirnya pakaian ini seolah bagian dari tubuh ini.

Dan yang terakhir, jadi ibu pun sepertinya mulai mengubah cara pikirku yang dulu sekuler. Semua ibu pasti ingin jadi panutan untuk anak-anaknya. Madrasah pertama, pencetak moral-moral generasi muda. Mau belajar apa anak-anakku kalau aku adalah yang dulu? Idealisme anak yang shalih dan berbakti hanya akan berhenti di ujung angan kalau aku tetap begitu. Prinsip dan filosofi hanya mendapatkan dunia aja ketika aku nggak mengajarkan apa yang akan terjadi di akhir kehidupan.

Dari sebuah kajian, aku pernah mendengar bahwa, “Dunia ini adalah pernjara bagi umat mukmin, dan surga bagi yang kafir.” (HR Muslim). Allah dalam Quran sama sekali nggak pernah memuji kehidupan dunia, dan ini yang mengingatkan aku untuk selalu mawas dan menjaga diri dari nafsu-nafsu yang berlebihan.

Ibu yang pintar, bukan ibu lulusan sarjana atau bahkan seorang profesor. Ibu yang pintar adalah beliau yang mengajarkan anaknya membaca dan menghafal Al-Quran, dan mengamalkan isinya. Dan aku ingin jadi ibu seperti itu.

Karena aku dulu pun begitu, kuharap hari ini kamu nggak seperti itu.

Dista Wryn.

November 2015.

 

Gimana Cara Belajar Kamu di Kelas?

Semester ini aku mulai ngajar mahasiswa lagi di kelas bahasa Inggris. Sebenarnya, ngajar mahasiswa bukan pengalaman baru sih, cuma yang beda adalah kali ini anaknya banyak dan ngajarnya di kampus, hehehehe….

Di post ini aku sebenernya ingin bertanya sama para pembaca, karena pastinya ada di antara kamu yang sudah pernah jadi mahasiswa atau saat ini statusnya pelajar universitas. Mata kuliah ini, bagi mahasiswa yang jurusannya nggak linear dengan bahasa dan sastra Inggris, biasanya jadi mata kuliah dasar yang akan diterima di tahun pertama. Jadi tolong bantuin jawab ya.

  1. Ada bedanya nggak pelajaran bahasa Inggris kamu saat SMP atau SMA sama di kuliah?
  2. Apa kamu suka pelajaran bahasa Inggris di kelas? (bisa SMP, SMA, atau kuliah) beri alasan suka atau nggaknya kenapa.
  3. Menurutmu, supaya seorang siswa bisa suka belajar bahasa Inggris, gimana cara belajar yang asik?
  4. Aktifitas macam apa yang kamu harap bakal ada/diterapkan di dalam kelas?
  5. Kalau kamu biasa/ingin main game dalam kelas bahasa Inggris? game macam apa yang biasa/ingin kamu mainkan sama teman-teman di dalam kelas?

 

 

———————————————————————————————————–

Hal pertama yang kutanyakan sama anak-anak saat masuk ke dalam kelas itu: selama 6-12 tahun sekolah, apa aja yang mereka pelajari di kelas? Sudah bisa apa aja?

Aku paham, dan ngerti banget bahwa kita nggak bisa menyama ratakan semua mahasiswa atau berharap mereka seperti apa yang kita inginkan. Di dalam kelas pasti ada yang aktif, dan ada yang nggak. Cuma kadang yang bikin sedih kalo yang mayoritas ini yang nggak aktif, dan itu akhirnya nular ke semuanya, akibatnya mood di dalam kelas jadi nggak asik buat belajar. Di sinilah peran dosen yang harus aktif dan kreatif buat bikin kelasnya jadi rame lagi. …. Yeah, I know, pertanyaannya: gimana caranya?

Itu pun masih jadi misteri jawabannya.

Aku sendiri juga masih kesulitan untuk menghadapi anak-anak yang pasif seperti ini. Mahasiswa gitu tipikal banget kok, tiap tahun, dari jaman buyutku masih muda sampai sekarang kurasa nggak ada perubahan. Di dalam kelas, pasti ada tipe mbak-mbak atau mas-mas yang nggak pedean, takut salah, kalo disuruh angkat tangan nggak ada yang berani, kalo ditanya cengar-cengir dan tengok kanan-kiri, atau kalo jawab suaranya kecil banget. Kenapa mereka bersikap seperti ini, yang kalo jawab salah itu seolah dunia akan berakhir dalam hitungan jari, aku juga nggak ngerti kenapa terus ada. Padahal di kelas sudah kuterapkan, bahwa salah satu peraturan kelas kami, adalah “no mocking” aka nggak ada yang boleh ngeledek temannya kalo ada yang jawab salah. Kupikir tadinya itu bisa jadi penyemangat, ternyata aku nggak sepenuhnya benar.

Biar kelas nggak bosan, aku cenderung menerapkan kelas dengan banyak game dan diskusi kelompok. Yaa… soalnya gitu, jangankan mahasiswa, aku juga gampang bosan. Jadinya kupilih lah istilahnya model-model pembelajaran yang bikin aku sendiri nggak bosan. Kuharap nantinya anak-anak juga nggak bosan belajarnya hehehe…

Nah, karena itu lah, sebagai mantan, status atau calon mahasiswa, bantuin bu guru kasih masukan ya biar nanti di kelas belajarnya asik kayak kelas ESL yang gurunya bule-bule gitu. Ting! *kedip*

Once and for all, thanks a lot!

Regards,

Dista Wryn.

 

 

Semacam Dillema

Assalamualaikum, saudara-saudaraku yang kusayang ^^

Tiap kali nulis sesuatu yang baru pasti akan dimulai dengan kalimat, “maap yak udah lama banget nggak update, blog ini berasa semacam gudang bersarang laba-laba saking nggak pernah dikunjungi lagi” hehehehe… Ya begitulah.

Nggak akan membela diri dengan berbagai macam alasan yang mengambinghitamkan Aisha, karena dia nggak berhak disalahkan. Akunya yang males, jadi ya, no excuse, so sorry my bad, ehe…

Ini ceritanya mumpung lagi nggak males, sedang ingin membuka-buka jadinya sekalian aja update buat menulis sesuatu.

Maaf yang kedua aku tujukan sama teman-teman yang mengirimkan naskahnya ke missdistadee@gmail, aduh maaaaaaf banget ya sampai sekarang belum membalas email kamu. Semua naskah sudah kubaca, cuma belum sempat aku review seluruhnya (kalau ini bukan excuse). Review itu butuh waktu yang lebih lama dan fokus, sementara bisa duduk sedikit agak lama depan komputer cuma pas malam hari, itu pun sudah ngantuk-ngantuk… jadi baru review dikit, udah close aja, bubuk. Aku akan berusaha untuk mereview dan membalas email kamu satu persatu, tapi kalau dirasa udah telat ya maap yak, hehehe…

.

.

—————–

Jadi ini ceritanya, kenapa aku tiba-tiba update blog malam-malam begini adalah…

Sebenarnya sudah agak lama ingin mengklarifikasi, aduh aku mah apa sok artis bener, hehehe… eniwei, atau apalah ini istilahnya. Beberapa bulan ini sering dapet pesan dan email yang menanyakan tentang ke mana aja serial fanfiction yang pernah aku unggah di blog saladbowl, atau apakah masih bisa dibaca yang sudah pada dihapus itu.

Maaf banget karena jawabannya adalah tidak ya, temans, yang sudah dihapus nggak akan diunggah lagi atau dibaca lagi oleh khalayak maupun personal. See, kalian mungkin bertanya-tanya kenapa aku menghapus semua fanfictionku dulu—iya, mungkin—dan di posting pengumuman sebelumnya aku bilang suatu saat nanti aku akan kasih tahu alasannya. Maka kurasa sudah waktunya kuberi tahu, jadiii… mari kita tarik napas dulu, dan mengheningkan cipta sebentar.

.

Ada beberapa alasan yang membuatku memutuskan menarik hampir semua tulisanku dari peredaran.

Yang pertama, dan yang paling utama adalah beban moral. Jujur aja, dan sekali lagi, aku ingin meminta maaf pada semua pembaca yang pernah membaca tulisanku sejak karya pertamaku dulu. Dari lubuk hati yang terdalam, dan penyesalan yang besar (dan ini bukan sesuatu yang hiperbolis) karena tulisanku menyesatkan kalian. Semakin lama, aku sempat merasa semakin memiliki beban moral karena secara nggak langsung ngajarin yang enggak-enggak di dalam tulisanku itu. Fanfiction yang kebanyakan temanya romansa, dengan bumbu-bumbu yang, maaf, berbau maksiat dan bikin penyakit hati dan pikiran bagi yang membaca.

Di saat aku banyak menulis artikel dan himbauan untuk menyaring gaya bahasa dalam tulisan dan mengampanyekan fiksi yang cerdas dan mendidik, rasanya ironis kalau aku–yang berkoar-koar–malah menyuguhkan cerita yang merusak akhlak anak-anak muda. Jadi, lagi-lagi, aku minta maaf bagi semua pembaca yang pernah membaca tulisanku, karena telah membiarkan kalian berzina pikiran dengan imajinasi liar yang kusajikan, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua.

Kalau ditanya apakah aku nggak kangen sama fanfiction-fanfictionku dulu, tentu saja jawabannya kangen banget. Aku kangen Han Jo, Choi Hyunji,  Han Soojung dan seluruh karakterku, juga cerita-cerita yang pernah mengisi hari-hariku dulu sama kamu semua. Nggak jarang, bahkan seringkali, ketika salah satu di antara kamu minta aku buat republish lagi fanfictionku dulu, atau mengirimkan file pdf untuk konsumsi pribadi, aku tergoda buat upload atau kirim. Tapi kalau aku lakuin itu, dan nurutin kalian, you’ll be happy, but  I’ll be mati sendiri. You suka, I yang dosa.

Bukan berarti aku nggak akan nulis lagi sih, masya Allah, aku kangen banget ingin nulis lagi. Tapi percayalah, lama banget nggak nulis bikin otakku tumpul. Aku merasa sangat bodoh sekarang, jadi tolong kasih aku waktu buat belajar lagi dan berlatih lagi. Insya Allah aku akan nulis dan memberi kalian sebuah bacaan yang jauh lebih bermanfaat. Sebuah bacaan yang kuharap bisa lebih mencerdaskan bangsa, hihi…

Yang kedua dan lainnya macam remah-remah masalah nggak penting tapi nyebelin gitu deh. Aku risih dimention dan dikejar anak-anak yang minta password, padahal belum umurnya. Yang begini juga malah jadi dosa, karena secara nggak langsung aku bikin beberapa oknum berbohong, memalsukan umur biar bisa baca yang seharusnya nggak mereka baca. Bull to the s**t deh kalau penyaringan umur bisa jadi meminimalisir kebobrokan moral di dunia fiksi online. Anak-anak jaman sekarang itu pintar memintari, cuma sayangnya, kepintaran mereka tidak berbanding lurus dalam menyikapi perkembangan teknologi yang modern.

Yang terakhir, intinya, kita semua pernah berada dalam masa jahil. Tapi dalam proses kehidupan, tiap orang ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mari kita sama-sama menghargai proses itu, dan semoga Allah merahmati keikhlasan hijrah kita ini.

Selanjutnya, kalau ada yang mau ngobrol soal tulis-menulis, silakan line aku di *distadee*. Aku bukan orang yang smiley sweety, jadi jangan tersinggung kalo obrolan kita nggak pake banyak stiker Moon sama Cony dan Brown (apalagi Syahrini). Jadi ya maap, bukannya nggak ramah atau sombong, tapi aku memang begitu… ehe…

Terus, kalo ada kekecewaan yang mau disampaikan bisa langsung line aku juga, nggak perlu kirim hate message anon di ask.fm. Kita mah fair aja, kritik biasa ada disampaikan, selama itu berada dalam konteks tulis menulis.

You don’t know who I am, you never even met me like we’re hanging out as friends, so you have no right to judge me or anyone like a God. Fair game.

Yip! Yip! 🙂

Goodbye, McDreamy…

Bagi penggemar serial Grey’s Anatomy, pasti udah nggak asing lagi sama sebutan ini. Yaah… pasti sedikit banyak juga jadi salah satu alasan yang bikin kita setia nungguin episode terbaru selama 10 tahun ini sampe 11 seasonnya. So, dari judulnya aja udah spoiler banget ini postnya, jadi bagi yang belum nonton, kukasih tau dari awal aja kalau post ini bakal mengandung spoiler gila-gilaan hahahaha… (ya gitu deh pokoknya).

lama nggak update, nggak enak juga tiba-tiba datang bawa cerita sedih. tapi ya mau gimana lagi, hati ini sedang nggak bisa dibendung, pengennya curhat mulu… tapi kalo curhat sama suami, dia juga nggak bakal ngerti… bleh. Siapa tau pembaca di sini ada yang ngikutin GA aja, dan kebetulan adalah pecinta si papa keren bermata teduh ini, mari kita bermehek-mehek bersama.

Tarik napas dulu deh…

IYAAAAA….. AKU SEDIH DEREK MATIIIII… IH SEBEL.

Dari liat ending di episode 20 sebenernya perasaan udah nggak enak aja, tapi antara yakin nggak yakin soalnya kan Derek itu main cast, jadi nggak mungkin ‘dibunuh’ begitu aja sama Shonda.

Ternyata aku salah….

Pertama kali baca spoiler dari artikel di fesbuk langsung jeglek ngeliat keputusannya. I mean, OMG it’s Derek, yang dari episode 1 nggak pernah absen selama 11 season. Rasanya gedeg plus plus, antara nggak terima dan ngenes banget. Ternyata setelah ditelusuri, alasan kenapa Derek ini harus mati adalah gara-gara tim GA udah mulai males sama Patrick Dempsey yang play diva selama syuting. Dan selama ini kalo ngeliat track recordnya, Shonda emang nggak main-main sama para castnya, kalo udah nggak cocok dia nggak segan aja buat ‘mecat’ mereka. Izzy pernah hampir mati juga, sampe akhirnya dia out alive. Burke pun gitu… Sepertinya signifikansi keberadaan Derek memang terlalu gede hanya untuk diusir aja, jadi mau nggak mau dia harus out dead. Hiks….

Why… Oom Dempsey, why you so iyes banget jadi aktor femes nan mahal… Penggemar kan yang terluka… T______T

Sudah berniat menahan emosi sebenernya pas nonton episode 21 itu, sudah sempat bebal juga. Tapi emang resek, tetiba lagu Chasing Cars diputer, ambyar lah sudah perasaan ini. Mana diputer dua kali di episode 22 juga,  mewek lah jadinya… After effectnya itu kerasa dalem banget buat yang ditinggalkan. Dari ngeliat Callie Torres nangis pas keingetan Derek, terus Amelia yang sok tegar sampai akhirnya ambruk juga di bagian akhir, ditambah lagi Meredith yang emotionless. Ngenesnya itu karena seluruh perasaan Meredith yang nggak tertumpahkan digantikan sama kejadian dan scene demi scene yang sama persis pernah terjadi sama ibunya. Kalimat-kalimat Ellis, beberapa hal yang dia lakuin menjadi substitusi kekosongan emosi yang nggak diperlihatkan sama Meredith, dan itu rasanya jauuuuuh lebih menyedihkan lagi…. #ambyarbagian2

Nggak ngerti deh gimana jadinya GA ini ntar. Nggak ada Cristina Yang aja rasanya udah kayak banyak yang hilang, apalagi nggak ada Derek. Meski di akhir episode 22 (yang durasinya 2x dari episode biasanya) ini Meredith seolah membuat perjanjian sama dirinya sendiri kalau dia akan berusaha move on, aku bener-bener nggak tau bakal mau dibuat kayak apa kehidupan barunya nanti.

Dem! She moves on her life as a widow with two growing kids and a newborn baby girl…. #ambyarbagian3

Yaudah deh, apa mau dikata… Lengkap suda lah. Dari Lexi, Mark, Cristina, terus sekarang Derek. Byebye satu persatu my fave cast, you’ll always be missed. >.<

“Derek, It’s okay. You go. We’ll be fine.”

derek4

Being A Mother.

DSC06981p

Kamu yang masih remaja. Kamu yang masih awal 20-an dan belum menikah. Ketika mendengar kata ‘ibu’, yang ada di kepalamu mungkin sebatas seorang wanita yang melahirkan kamu, seorang teman, kakak, teman curhat, yang bahkan sampai merangkap sebagai musuh bebuyutan nomor satu. Tapi ibu tetap ibu, seseorang yang paling akrab dan yang akan kamu ingat pertama kali tiap kali kamu sedih atau senang. Ya, itu.

Dulu, nggak jauh-jauh, 5 tahun yang lalu, ibu hanyalah sebatas kata dan sapa dengan dengan sejuta keintiman dari seorang anak—at least itulah dia untukku. Hingga akhirnya aku jadi seorang ibu, kata itu sekarang bukan hanya sekedar nama. Sekarang aku ngerti kenapa orang bilang, menjadi seorang ibu adalah anugerah.

Nggak semua orang bisa menjadi seorang ibu. Ya, Allah sayang banget sama aku, dan mungkin di saat yang sama inilah caranya untuk kembali menguji keimananku—dengan memberi aku seorang anak yang harus kubesarkan, kuasuh dan kudidik, supaya kelak dia menjadi muslimah yang baik. Allah sayang sama aku, karena begitu aku menikah, aku nggak perlu menunggu lama untuk melihat dua garis merah menyala terang di alat tes kehamilan.

Kalau kembali lagi dua tahun yang lalu, aku sama sekali nggak berpikir untuk menikah begitu cepat. Kepikiran pengen punya bayi emang terbersit beberapa kali, tapi boro-boro suami, calon aja nggak ada, kepikiran nikah juga enggak. Lalu di bulan yang sama setahun kemudian, aku lagi ngitungin jumlah undangan. Setahun kemudian, di hari dan bulan yang sama, saat ini, aku nulis post ini setelah bayiku tidur nyenyak.

Ya, nggak semua orang bisa menjadi seorang ibu. Banyak wanita di luar sana yang sedang berjuang untuk bisa hamil, tapi Allah masih belum mengijinkan rahimnya untuk terisikan calon janin yang kelak akan dilahirkannya. Banyak dari mereka yang menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dalam penantian, dan aku termasuk salah satu yang beruntung, karena kesempatan itu datang di kala aku memintanya.

Sejak pertama kali dinyatakan positif hamil sama dokter, sampai akhirnya bayiku lahir, aku nggak bisa berhenti mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Segalanya dimudahkan, sungguh. Dari yang hamil muda, alhamdulillah aku nggak merasakan mual, morning sick, ngidam, atau keluhan-keluhan yang biasa dirasakan oleh ibu-ibu yang hamil muda. Selama hamil, alhamdulillah aku diberi kesehatan untuk menjaga bayi yang ada di perutku. Sampai pada hari kehamilan, alhamdulillah wa syukurillah, prosesnya berjalan cepat.

Kebetulan di saat yang sama dengan kehamilanku, adikku juga mengandung anak pertamanya. Kami hamil bareng gitu loh, hehe… Enggak, nggak janjian, alhamdulillah Allah memang memberi rejeki kami di saat yang sama 😀

Keponakanku, Itaf, lahir tanggal 16 Februari lewat operasi caesar karena posisinya sunsang. Saat itu umur kehamilanku masih 36 minggu-an, dan makin hari sambil ikut ngemong Itaf, aku makin penasaran gimana bentuk bayiku kalau lahir nanti. Masih inget gimana penantianku nungguin hari lahir, antara penasaran, excited, cemas, dan gugup; semuanya bercampur jadi satu. Yang kata dokter kemungkinan lahir bisa maju 2-3 minggu dari HPL, ternyata meleset.

Bayiku lahir H-1 HPL.

Tanggal 5 Maret. Kontraksi mulai terasa sejak pagi, tapi masih hilang timbul. Tekanan di belakang punggung, terasa ke tulang ekor dan itu rasanya pegel beneer… Saking pegelnya, aku akhirnya tidur hampir sepanjang hari. Malamnya, ba’da isya, kontraksi mulai terasa lebih intens. Yang tadinya setengah jam sekali, aku mulai stopwatch sampai 5 menit sekali.

Malam itu sampai nggak bisa tidur, rasanya sakit, pegel, nyeri campur lagi jadi satu. Aku message suamiku supaya siap-siap pulang besoknya (meski sebenernya nggak begitu yakin bakal lahiran dalam waktu dekat), sambil baca-baca artikel tentang tanda-tanda akan melahirkan, hehehehe…. Maklum, harus ada pengalihan dari nyeri-nyeri dan bolak-balik ke kamar mandi buat pipis. Dari artikel-artikel yang aku baca itu, ditambah juga dengan penjelasan dokter yang kudengar seminggu sebelumnya, tanda-tandanya memang mulai aku rasain malam itu. Ya dari nyeri punggung, dorongan yang rasanya sampai ke tulang ekor, sering pipis, keluar lendir sampai akhirnya bercak darah yang keluar sebelum subuh.

6 Maret. Waktunya ke rumah sakit.

Awalnya mau berangkat ba’da subuh. Tapi setelah bertanya jawab sama ayah-ibu, kami sepakat buat nunggu agak siangan sekalian ayah berangkat ngantor. Lagipula buat jagain pembukaan masih kecil, daripada disuruh pulang (saat itu mikirnya gitu) mending di rumah aja dulu. Jadilah aku tiduran lagi sambil ngompres punggung bawah, makan bubur ayam dan telpon suami buat segera pulang. Tapi apalah daya ya, ketika dipikir segalanya berjalan normal, sekitar jam setengah 8 berangkat ke RS ditemani ayah-ibu, di jalan rasanya perut kenceng banget. Lalu tepat sampai depan IGD, terasa kayak ada ‘klik’ gitu di bagian bawah.

Awalnya nggak paham juga itu apa, kupikir lendirnya keluar lagi agak banyak. Saat anamnesa itu aku baru paham kalau ketubanku pecah, deras. Dan setelah di-VT (vaginal toucher)—aduh ini sakit banget sumpah, jangan tanya gimana caranya—ternyata baru pembukaan 1.

Aku sudah diwanti-wanti sama dokter, kalau kelahiran anak pertama, biasanya prosesnya akan lama. Aku masih inget banget dokterku bilang gini, “Biasanya kalau anak pertama, memang agak lama ya. Pembukaan satu itu bisa jalan sehari, terus ntar ke pembukaan dua bisa besoknya lagi.” Kalau dipikir-pikir lagi ngeri banget ya rasanya, apalagi saat itu sudah mulai terasa gimana sakitnya. Cuma sepertinya saat itu aku kayaknya udah nggak mikir apa-apa lagi, segala macam pikiran sudah diambil alih sama sakitnya kontraksi. Jangankan ngeluh, mau istighfar aja nggak keluar suaranya. Hari itu aku cuma bisa diam nahan nyeri, sambil ngatur napas dan menyebut nama Allah dalam hati. Cuma itu. Karena hanya itu yang ibu ajarkan dan selalu ingatkan.

Dan Allah memang sayang banget sama aku. Dia tahu aku nggak tahan sakit, maka Dia memudahkan segalanya dalam proses penantian itu. Alhamdulillah…

Jam setengah 8 pembukaan 1, ketuban pecah. Jam setengah 1 siang, pembukaan 8. Sakitnya luar biasa, jangan tanya. Tapi segalanya terbayarkan ketika makhluk kecil itu keluar dari jalan lahir, lalu menangis keras, lalu mereka menaruhnya di dadaku. Aku melihatnya untuk pertama kali, kuucapkan salam, lalu aku doakan dia.

“inni u’idzuhaa bika wa dhuryatahaa minassyaitanirrojiim…” 

Rasanya luar biasa. Dia yang selama berbulan-bulan mendekam di perutku, yang nendang-nendang tiap malam, yang malu-malu bergerak ketika disentuh ayahnya, yang tumitnya terasa lancip, yang bokongnya besar, hehehe… saat itu dia berbaring di atasku, mengendus-endus, berusaha bernapas, dan jari-jari mungilnya bergerak-gerak menyentuh kulitku. Makhluk kecil itu anakku! Masya Allah…

Alhamdulillah, bayiku lahir ba’da sholat Jumat. Lahir normal, aku yang pintar ini bikin kepalanya lonjong gara-gara beberapa kali kehabisan napas saat mengejan … (sekarang udah nggak sih, sekarang mulai bulat bentuknya ehe)

DSC07120

Aisha kuambil dari nama istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar As Siddiq. Si ‘pipi merah’ yang cerdas, yang kuharap nantinya dia bisa meniru sifat-sifat baiknya. Adhwa dalam bahasa Arab berarti cahaya yang megah. Zahabiya, yang dalam bahasa Urdu berarti emas yang tak ternilai. Semoga Aisha menjadi gadis shalihah panutan para muslimah, pemberi cahaya hidayah dan kesejukan hati bagi orang-orang di sekitarnya, harta yang tak ternilai bagi orangtuanya juga seluruh umat muslim di dunia. Aamiin…

.

Aku cuma mau bilang ke kalian, para wanita yang kelak akan menjadi seorang ibu. Cintailah ibumu, bukan karena dia sudah berjuang melawan kematian untuk melahirkan kamu, tapi karena cintanya yang nggak akan pernah pudar. Dia yang akan selalu tetap mendukungmu saat kamu memunggunginya, yang akan selalu tetap mendoakanmu saat kamu menzaliminya. Sekarang kamu nggak berpikir sampai ke sana, tapi suatu saat nanti ketika kamu menjadi ibu, seperti aku saat ini, kita akhirnya tahu bahwa ibu bukanlah hanya seorang ibu.

Dia adalah alasan kamu bisa hidup hingga saat ini. Karena ridha Allah yang mengeluarkanmu dari tubuhnya. Tidak perlu berterimakasih, dia nggak perlu itu. Cukup, cintai dia. Sayangi, dengarkan kata-katanya, dan jangan sakiti hatinya.

Suatu saat nanti kamu akan mengerti.

.

.

.

.

Regards,

Dista Dee

5996p5830638512588 22970