내 생각에..

Dear Neverdancedbefore.

Hi, guys.

Assalamualaykum…

Malam ini aku ingin menulis surat terbuka untuk para penulis blog neverdancedbefore, karena sepertinya surat semacam ini lagi tren ya, let’s say following one won’t hurt, hehehe…

Jadi, dimulai dengan kata, halo. *melambai cantik*

Aku Dista, dari saladbowldetrois.

Malam ini nggak sengaja terlantar di blog kalian, lalu membaca beberapa tulisan kalian, then I was… wowed. Kalian sangat berbakat. Tulisan kalian begitu menginspirasi, dan sejujurnya, kalian adalah generasi muda yang meyakinkan aku bahwa fiksi Indonesia masih punya harapan cerah. Yeah, seriously.

Aku sebenarnya pengen komen, atau meninggalkan jejak barang satu atau dua di blog kalian. Tapi kok tiba-tiba awkward gitu kalau aku komen banyak, padahal kenal juga enggak, hehehe… jadi untuk saat ini, post ini mungkin adalah apresiasi terbesarku untuk kalian. Insyaa Allah nantinya akan sering berkunjung ke blog kalian, karena yakin nantinya bakal ketagihan juga kalau perlu bacaan yang bagus dan berisi.

Kuharap kalian akan terus menulis yang bagus-bagus, yang baik-baik, jadi agen penyelamat moral bangsa dari tulisan kalian yang bermakna. Terus rendah hati, dan terus menginspirasi.

Aku tunggu terus fiksi terbaru kalian di saladbowl. ^^

.

Much love,

Dista Dee.

.

bagi yang ingin berkunjung dan menikmati fiksi-fiksi cantik dari 8 author muda berbakat,

klik

neverdancedbefore

they’re awesome.

Goodbye, McDreamy…

Bagi penggemar serial Grey’s Anatomy, pasti udah nggak asing lagi sama sebutan ini. Yaah… pasti sedikit banyak juga jadi salah satu alasan yang bikin kita setia nungguin episode terbaru selama 10 tahun ini sampe 11 seasonnya. So, dari judulnya aja udah spoiler banget ini postnya, jadi bagi yang belum nonton, kukasih tau dari awal aja kalau post ini bakal mengandung spoiler gila-gilaan hahahaha… (ya gitu deh pokoknya).

lama nggak update, nggak enak juga tiba-tiba datang bawa cerita sedih. tapi ya mau gimana lagi, hati ini sedang nggak bisa dibendung, pengennya curhat mulu… tapi kalo curhat sama suami, dia juga nggak bakal ngerti… bleh. Siapa tau pembaca di sini ada yang ngikutin GA aja, dan kebetulan adalah pecinta si papa keren bermata teduh ini, mari kita bermehek-mehek bersama.

Tarik napas dulu deh…

IYAAAAA….. AKU SEDIH DEREK MATIIIII… IH SEBEL.

Dari liat ending di episode 20 sebenernya perasaan udah nggak enak aja, tapi antara yakin nggak yakin soalnya kan Derek itu main cast, jadi nggak mungkin ‘dibunuh’ begitu aja sama Shonda.

Ternyata aku salah….

Pertama kali baca spoiler dari artikel di fesbuk langsung jeglek ngeliat keputusannya. I mean, OMG it’s Derek, yang dari episode 1 nggak pernah absen selama 11 season. Rasanya gedeg plus plus, antara nggak terima dan ngenes banget. Ternyata setelah ditelusuri, alasan kenapa Derek ini harus mati adalah gara-gara tim GA udah mulai males sama Patrick Dempsey yang play diva selama syuting. Dan selama ini kalo ngeliat track recordnya, Shonda emang nggak main-main sama para castnya, kalo udah nggak cocok dia nggak segan aja buat ‘mecat’ mereka. Izzy pernah hampir mati juga, sampe akhirnya dia out alive. Burke pun gitu… Sepertinya signifikansi keberadaan Derek memang terlalu gede hanya untuk diusir aja, jadi mau nggak mau dia harus out dead. Hiks….

Why… Oom Dempsey, why you so iyes banget jadi aktor femes nan mahal… Penggemar kan yang terluka… T______T

Sudah berniat menahan emosi sebenernya pas nonton episode 21 itu, sudah sempat bebal juga. Tapi emang resek, tetiba lagu Chasing Cars diputer, ambyar lah sudah perasaan ini. Mana diputer dua kali di episode 22 juga,  mewek lah jadinya… After effectnya itu kerasa dalem banget buat yang ditinggalkan. Dari ngeliat Callie Torres nangis pas keingetan Derek, terus Amelia yang sok tegar sampai akhirnya ambruk juga di bagian akhir, ditambah lagi Meredith yang emotionless. Ngenesnya itu karena seluruh perasaan Meredith yang nggak tertumpahkan digantikan sama kejadian dan scene demi scene yang sama persis pernah terjadi sama ibunya. Kalimat-kalimat Ellis, beberapa hal yang dia lakuin menjadi substitusi kekosongan emosi yang nggak diperlihatkan sama Meredith, dan itu rasanya jauuuuuh lebih menyedihkan lagi…. #ambyarbagian2

Nggak ngerti deh gimana jadinya GA ini ntar. Nggak ada Cristina Yang aja rasanya udah kayak banyak yang hilang, apalagi nggak ada Derek. Meski di akhir episode 22 (yang durasinya 2x dari episode biasanya) ini Meredith seolah membuat perjanjian sama dirinya sendiri kalau dia akan berusaha move on, aku bener-bener nggak tau bakal mau dibuat kayak apa kehidupan barunya nanti.

Dem! She moves on her life as a widow with two growing kids and a newborn baby girl…. #ambyarbagian3

Yaudah deh, apa mau dikata… Lengkap suda lah. Dari Lexi, Mark, Cristina, terus sekarang Derek. Byebye satu persatu my fave cast, you’ll always be missed. >.<

“Derek, It’s okay. You go. We’ll be fine.”

derek4

My Five Best TV Series List!

 series

So, to make long story short, aku mau berbagi daftar lima TV series terbaik yang hingga detik ini pernah aku tonton dan yang masih aku ikutin.. Memang masih banyak series yg oke, tapi menurutku lima judul ini yang paling top buat daftarku. Here we go! 😀 (more…)

Idealisme Calon Orangtua dalam Budaya Membaca

Setelah menikah, suami baru tahu bahwa aku hobi menulis.

Dia pernah bilang nggak terlalu tertarik untuk menggali kehidupan aku ketika kami belum menikah, katanya sih pengennya surprise. Dan surprise lah yang dia dapat ketika aku tunjukin apa aja yang sudah kulakukan dengan hobi ini, hehehehe.  (more…)

Reading and Reviewing a Fiction

Aku baru aja matiin laptop ketika ide ini muncul, terus kunyalain lagi hanya untuk kumatikan karena udah terlalu ngantuk buat ngetik. Ada beberapa hal yang ingin kubagikan pada para pembaca, sebagai seorang pembaca penikmat fiksi yang kadang lebih banyak menghabiskan waktu membaca online daripada buku sendiri. (more…)

Teman Menulis.

a1d2f4ecca1d11e3965c0002c954d680_8

 

Ada kalanya saat aku dirundung kemalasan akut, (orang-orang sih biasanya nyebut itu writer’s block, tapi aku nggak percaya sama istilah ini hehehe) rasanya mau ngapa-ngapain maleeeees aja bawaannya. Apalagi kalau urusannya sama nulis.

Ide udah di kepala, visualisasi udah terus terbayang di kepala sampai gak ada habisnya. Lalu tinggal tantangan berikunya: menuliskannya ke dalam kata-kata. Kalau sedang bersemangat, sekali duduk bisa langsung jadi satu chapter sepanjang 9-10 halaman. Cuma kalau lagi males… nulis separagraf aja susahnya bukan main.

Apa sih tipsnya biar semangat nulis? (more…)