Author: Dista Dee

|DARKee's Maknae| author of Louboutin's Catalyst | ignorant graduate student | cynical blogger| a-never-ending-idiocy | I.should.Stop.this | follow my tweets on: @kimchidee

Nikmatnya Sang Ibunda.

Aisha lagi jalan 8 bulan, dan alhamdulillah sekarang lagi senang berguling-guling dan merayap nyari tempat dingin (baca: lantai). Kata orang kalau bayi sudah di atas 6 bulan kerjaan ibu lebih santai, atau nggak terlalu capek karena nggak perlu bangun malam-malam nyusuin bayi. Tapi yang kurasakan sama aja sih, dulu sama sekarang kerjaan tetap banyak meski beda tipenya, hehehehe….

Beberapa ibu juga bilang, bahwa masa terindah seorang wanita yang menjadi ibu itu ketika melahirkan anaknya. Detik-detik setelah bayi keluar dari perut, lalu ditaruh di atas dada dan ibu melihat bayinya pertama kali—rasanya nggak ada yang ngalahin, katanya. Aku melihatnya dengan berbeda, dan kurasa yang diceritakan itu belum apa-apa. Kebahagiaan itu bertahap; dari ketika bayi lahir, lalu ketika ibu menyaksikan bayinya bisa ngoceh untuk pertama kali, ketika bayi bisa terlungkup untuk pertama kali, merangkak, berdiri, ketika bayi mulai kenal ibu sebagai ibunya, sampai nanti ketika dia bisa ini itu yang lain. Kebahagiaan itu nggak akan ada habisnya.

Jadi ibu itu capek, semua orang tahu. Aku nggak akan mengeluh, karena bukannya ini sebuah kodrat atau tugas, aku melihat lelahnya itu sebagai sebuah kenikmatan. Selama 8 bulan ini aku hidup jauh sama suami, hanya ketemu 2 hari dalam seminggu, kadang 2 minggu sekali, dan lebih kenal dia dari layar kaca aja dari pada aslinya. Dan selama 8 bulan ini, jauhnya kami mengajariku banyak sekali hal dalam berhadapan sama Aisha.

Terbiasa ngurus segalanya sendiri bikin aku lebih mandiri. Mungkin karena aku anak pertama, dan terbiasa sejak sebelum menikah pun apa-apa kuurus sendiri, jadi nggak terlalu bergantung ketika nggak ada orang lain. Dan meski selama 8 bulan ini kami (aku dan Aisha) tinggal di rumah orangtuaku, sebisa mungkin aku selalu ngurus seluruh kebutuhan Aisha tanpa merepotkan mereka. Dari mandiin Aisha sejak dia lahir, nyuapin makan, gantiin pampers, sampai beres-beres, ibuku juga membiarkan aku melakukannya sendiri—kecuali kalau memang lagi repot banget.

Aku nggak bermaksud untuk pamer, atau berharap-harap pujian dari yang kutulis ini. Pengalaman yang kuceritakan ini semata-mata kubagikan karena aku yakin aku bukan satu-satunya ibu yang capek ngurusin bayinya. Ada yang jauh lebih repot dari aku tapi masih bisa ngurusin seluruh kebutuhan bayinya dari A sampai Z, dan masih lagi ngurusin kebutuhan rumah sebagai ibu rumah tangga. Dan apa yang kulakukan sejak Aisha kecil itu, pun juga karena ada triggernya.

Pasti sering sekali dengar orang berkomentar, “Wuah cucu pertama, eyangnya pasti bakal repot banget tuh nanti.” ketika ada ibu muda sedang hamil tua, menunggu detik-detik kelahiran. Iya, adaaaaa…. pasti. Ini sering banget terdengar kalau kami ketemu sama teman-teman ibu, atau lagi periksa ke dokter. Ditambah lagi, bersamaan dengan kehamilanku, adik perempuanku juga sama-sama hamil tua, yang berarti insya Allah akan ada 2 bayi di rumah dengan jarak umur yang nggak terlampau jauh. Macam anak kembar.

Komentar makin menjadi, “Lho ini cucunya langsung dua, ya kasian ibu nanti ngurusin bayi kembar.”

Seolah-olah ibu yang mengandung ini cuma numpang lewat.

Entah bagaimana stereotype ibu muda punya anak cuma bakal ngerepotin orang tua ini mulai mencuat, aku nggak ingin membahas tapi dari komentar ini aku bersumpah, bahwa anak-anakku akan tumbuh dengan tanganku dan dalam gendonganku.

Aku dulu manja, bangeeet, karena sejak kecil memang orangtuaku amat sangat memanjakan anak-anaknya. Nurutin semua apa yang kami ingin dan kami minta, sampai ke titik bahkan saat kuliah ayah masih suka jemput aku di kampus. Trigger itu juga pada akhirnya yang selalu ngingetin aku untuk harus selalu kuat, nggak bawa-bawa manja lagi yang ada sejak kecil. Punya anak sendiri bikin seorang ibu mau nggak mau belajar bertanggungjawab, karena sedikit aja salah asuh, rusaknya anak sampai dia mati. Dan yang paling penting, menahan mulut untuk nggak ngeluh.

Tahu kenapa?

Karena Allah menjanjikan surga dan seisinya bagi seorang ibu. Perjuangan itu nggak mudah sejak sejak awal, dan capeknya 24 jam 7 hari seminggu. Jangan sampai gunung-gunung pahala itu gugur hanya dengan sebuah kalimat, “Ibu capek nak ngurusin kamu”. Naudzubillah….

Dan aku tahu perjalananku masih panjang. Delapan bulan itu belum apa-apa buat ibu yang sudah besarin anaknya selama setahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Tapi biarkan tulisan ini menjadi saksi, dan perjanjian tertulisku dengan aku besok, lusa, dan seterusnya, bahwa ini adalah salah satu jalanku menuju apa yang Allah janjikan untuk kita para wanita di akhir dunia.

Perjanjianku dengan kamu, para ibunda, untuk nggak manja dan cengeng. Siti Hajar, ibunda nabi Ismail rela berlari hampir 3kilo jauhnya untuk cari air buat anaknya. Siti Maryam, ibunda nabi Isa nggak pernah mengeluh membesarkan bayinya di tengah pengasingan, seorang diri. Jangan sampai kita, ibu-ibu yang hidup di jaman serba mudah, mengeluh capek sedikit hanya karena anak nggak mau makan, atau gantiin popok 3 jam sekali karena poopnya lagi sering.

Ini anugerah kita, para ibu, untuk menikmati indahnya menerpa lelah, mengalahkan penat, dan menahan mulut dari kata-kata yang nggak bijak. Banyak beristighfar pada Sang Pemberi Kehidupan, semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dan menjadikan ibadah ini sebagai pemberat timbangan amal kita di hari kebangkitan. Aamiin.

.

.

.

16 November 2015,

Dista Wryn.

Dulu Aku Pun Begitu.

Bismillahirrahmanirrahim,

Dear guys,

Hari ini aku nulis untuk berbagi sebuah cerita pribadi yang pernah aku alami, semoga cerita ini bisa menjadi renungan, atau sesuatu yang kamu terima secara positif karena ini adalah tugas kita sebagai sesama muslimah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Aku berdoa, semoga Allah meluruskan niatku bahwa ini kubagikan hanya sebagai nilai ibadah, tidak ada unsur riya’, memamerkan diri atau bahkan merasa diri lebih baik dari yang lain. Semoga Allah memberi dan membukakan pintu hidayah bagi seluruh muslimah yang membaca cerita ini, juga di seluruh dunia, bagi mereka yang ingin berpegang teguh pada perintah-Nya, dan sunnah Rasul-Nya. Aamiin.

Tulisan ini dimulai dari kabar seorang teman baik yang beberapa waktu lalu memberitahu; bahwa dia ingin belajar pakai jilbab panjang, dan pakaian yang syar’i. Alhamdulillah sekali, saat itu nggak bisa kugambarkan senangnya. Kurasa terakhir kali aku senang semacam itu ketika akhirnya thesis kelar dan nggak perlu nunda wisuda sampai berbulan-bulan, hehehe… Iya, rasanya lega, entah karena apa. Yang jelas mendengar kabar itu seperti mendengar kabar yang luar biasa menggembirakan, because she’s one of few friends I value the most.

Berita ini akhirnya membawa aku kembali ke tahun-tahun yang lalu, di kala aku pernah menjadi orang yang ‘begitu’. Januari 2014, adalah pertama kalinya aku memutuskan untuk berhijrah. Bulan itu, aku memutuskan untuk membuang celana-celana panjang yang seringkali aku pakai keluar rumah, membakar beberapa celana jeans, dan menggantinya dengan rok panjang, baju gamis, dan jilbab yang panjang.

Di bulan yang sama, ketika seorang sahabat yang sangat baik meninggal dunia di saat yang nggak terduga. Semoga Allah memuliakan dia di sisi-Nya, gadis berhati mutiara, insya Allah sang bidadari surga—seseorang yang menjadi inspirasi aku untuk berubah. Benar-benar berubah.

Berjilbab panjang dan berpakaian syar’i bukanlah tentang panasnya hawa, keribetan pakaian atau manhaj apa yang kita ikuti dan yakini, tapi ini adalah tentang aqidah dan kewajiban yang kita jalani sebagai seorang muslimah.

Dulu aku begitu; berjilbab tapi berpakaian ketat. Berjilbab, tapi lekuk tubuhku tetap terlihat. Berjilbab tapi aku bermaksiat. Aku pernah berada di jaman itu. Yang tenggelam dalam kesenangan duniawi, memuja para kafir yang sebenarnya haram diminati, dan melakukan juga mengajarkan hal-hal yang nggak bermanfaat. Kesombongan manusia, yang diperalat iblis-iblis durhaka, aku terpesona dan lupa seolah hidup ini untuk selamanya. Semoga Allah mengampuni dosa aku dan semua orang yang kusesatkan karena ini.

Dan Januari 2014, aku ingat hari akhir. Ketika melihat seorang sahabat baik terbungkus kafan, disholati, dan ditangisi, aku yang bodoh dan sombong ini mulai berpikir bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua. Sahabat ini, berkali-kali kusebutkan, dia orang yang baik. Dia nggak pernah menyakiti orang lain, tutur katanya lembut, saaaaaangat lembut. Dan dia pergi dengan cepat, di usia yang masih sangat muda… lalu aku punya apa?

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mempercepatnya.”(Surah Al-A’raf ayat 34)

Aku nggak tahu kapan mati akan mendatangiku. Dan di tiap detik di hari pemakamannya, yang ada di kepalaku, akan jadi apa aku di akhirat kalau aku mati dalam keadaan masih bermaksiat?

Ketika umur ini sudah semakin dewasa, apalagi sih yang kita cari dan yang kita tuju selain mendekatkan diri pada yang Ilahi? Seseorang yang baik belum tentu punya waktu yang banyak untuk beribadah dan mencari surga, lalu aku punya apa?

Akhlak seseorang akan mengikuti ketika seseorang berjilbab; yang nantinya lebih sabar, yang nantinya lebih menahan bicara, juga yang lain. Perlahan tapi pasti. Seseorang yang ingin berubah nggak bisa jalannya langsung 180 derajat berbeda. Seseorang yang berhijrah itu seperti bayi yang sedang melalui fase dari yang tadinya Cuma bisa terlentang, dia belajar terlungkup, lalu merangkak, duduk, dan berdiri. Nggak ada proses instan dalam belajar, dan yang pastinya, nggak ada kata terlambat.

Hidayah bukan banjir bandang yang tiba-tiba datang. Aku selalu diberitahu bahwa hidayah hanya akan diberikan pada orang yang berusaha untuk mencarinya, menjemputnya, dan menerimanya dengan lapang. Aku ingin menerima syariat itu dengan apa adanya, menikmatinya, hingga mati dengannya. Aku Cuma takut jadi orang yang sombong. Aku Cuma takut jadi orang yang nggak ingat mati, padahal ajalku hanya seujung jari.

Sahabat baik yang sudah pergi, dan teman baik yang ingin lebih syar’i selalu mengingatkan aku untuk selalu bersyukur, bahwa nggak semua orang dimudahkan menjadi orang yang seperti ini. Perlu perjuangan berat pagi sebagian orang agar bisa diterima di lingkungannya, dicemooh bahkan diasingkan ketika dia memilih untuk berjalan di kehidupan syar’i. Tapi aku hidup di keluarga yang mendukungku penuh dalam belajar, nabung buat ngumpulin jilbab panjang dan gamis satu persatu, hingga akhirnya pakaian ini seolah bagian dari tubuh ini.

Dan yang terakhir, jadi ibu pun sepertinya mulai mengubah cara pikirku yang dulu sekuler. Semua ibu pasti ingin jadi panutan untuk anak-anaknya. Madrasah pertama, pencetak moral-moral generasi muda. Mau belajar apa anak-anakku kalau aku adalah yang dulu? Idealisme anak yang shalih dan berbakti hanya akan berhenti di ujung angan kalau aku tetap begitu. Prinsip dan filosofi hanya mendapatkan dunia aja ketika aku nggak mengajarkan apa yang akan terjadi di akhir kehidupan.

Dari sebuah kajian, aku pernah mendengar bahwa, “Dunia ini adalah pernjara bagi umat mukmin, dan surga bagi yang kafir.” (HR Muslim). Allah dalam Quran sama sekali nggak pernah memuji kehidupan dunia, dan ini yang mengingatkan aku untuk selalu mawas dan menjaga diri dari nafsu-nafsu yang berlebihan.

Ibu yang pintar, bukan ibu lulusan sarjana atau bahkan seorang profesor. Ibu yang pintar adalah beliau yang mengajarkan anaknya membaca dan menghafal Al-Quran, dan mengamalkan isinya. Dan aku ingin jadi ibu seperti itu.

Karena aku dulu pun begitu, kuharap hari ini kamu nggak seperti itu.

Dista Wryn.

November 2015.

 

Gimana Cara Belajar Kamu di Kelas?

Semester ini aku mulai ngajar mahasiswa lagi di kelas bahasa Inggris. Sebenarnya, ngajar mahasiswa bukan pengalaman baru sih, cuma yang beda adalah kali ini anaknya banyak dan ngajarnya di kampus, hehehehe….

Di post ini aku sebenernya ingin bertanya sama para pembaca, karena pastinya ada di antara kamu yang sudah pernah jadi mahasiswa atau saat ini statusnya pelajar universitas. Mata kuliah ini, bagi mahasiswa yang jurusannya nggak linear dengan bahasa dan sastra Inggris, biasanya jadi mata kuliah dasar yang akan diterima di tahun pertama. Jadi tolong bantuin jawab ya.

  1. Ada bedanya nggak pelajaran bahasa Inggris kamu saat SMP atau SMA sama di kuliah?
  2. Apa kamu suka pelajaran bahasa Inggris di kelas? (bisa SMP, SMA, atau kuliah) beri alasan suka atau nggaknya kenapa.
  3. Menurutmu, supaya seorang siswa bisa suka belajar bahasa Inggris, gimana cara belajar yang asik?
  4. Aktifitas macam apa yang kamu harap bakal ada/diterapkan di dalam kelas?
  5. Kalau kamu biasa/ingin main game dalam kelas bahasa Inggris? game macam apa yang biasa/ingin kamu mainkan sama teman-teman di dalam kelas?

 

 

———————————————————————————————————–

Hal pertama yang kutanyakan sama anak-anak saat masuk ke dalam kelas itu: selama 6-12 tahun sekolah, apa aja yang mereka pelajari di kelas? Sudah bisa apa aja?

Aku paham, dan ngerti banget bahwa kita nggak bisa menyama ratakan semua mahasiswa atau berharap mereka seperti apa yang kita inginkan. Di dalam kelas pasti ada yang aktif, dan ada yang nggak. Cuma kadang yang bikin sedih kalo yang mayoritas ini yang nggak aktif, dan itu akhirnya nular ke semuanya, akibatnya mood di dalam kelas jadi nggak asik buat belajar. Di sinilah peran dosen yang harus aktif dan kreatif buat bikin kelasnya jadi rame lagi. …. Yeah, I know, pertanyaannya: gimana caranya?

Itu pun masih jadi misteri jawabannya.

Aku sendiri juga masih kesulitan untuk menghadapi anak-anak yang pasif seperti ini. Mahasiswa gitu tipikal banget kok, tiap tahun, dari jaman buyutku masih muda sampai sekarang kurasa nggak ada perubahan. Di dalam kelas, pasti ada tipe mbak-mbak atau mas-mas yang nggak pedean, takut salah, kalo disuruh angkat tangan nggak ada yang berani, kalo ditanya cengar-cengir dan tengok kanan-kiri, atau kalo jawab suaranya kecil banget. Kenapa mereka bersikap seperti ini, yang kalo jawab salah itu seolah dunia akan berakhir dalam hitungan jari, aku juga nggak ngerti kenapa terus ada. Padahal di kelas sudah kuterapkan, bahwa salah satu peraturan kelas kami, adalah “no mocking” aka nggak ada yang boleh ngeledek temannya kalo ada yang jawab salah. Kupikir tadinya itu bisa jadi penyemangat, ternyata aku nggak sepenuhnya benar.

Biar kelas nggak bosan, aku cenderung menerapkan kelas dengan banyak game dan diskusi kelompok. Yaa… soalnya gitu, jangankan mahasiswa, aku juga gampang bosan. Jadinya kupilih lah istilahnya model-model pembelajaran yang bikin aku sendiri nggak bosan. Kuharap nantinya anak-anak juga nggak bosan belajarnya hehehe…

Nah, karena itu lah, sebagai mantan, status atau calon mahasiswa, bantuin bu guru kasih masukan ya biar nanti di kelas belajarnya asik kayak kelas ESL yang gurunya bule-bule gitu. Ting! *kedip*

Once and for all, thanks a lot!

Regards,

Dista Wryn.

 

 

[ONESHOT] Ketika

great fiction for a great nighttime after the great day. Enjoy 🙂

saladbowldetrois

landscape-photography-tumblr-nature-favim-com-853565

by: xianara

~ Kematian dan kehilangan bermula dari ‘ketika’ ~

.

Zane menelurkan kuap dengan kondisi mulut selebar mulut kuda nil. Matanya yang sayu membayangi temaram lilin yang menemani. Dingin merayapi permukaan perut sampai ke lutut, pada marmer yang dijadikan alas olehnya. Api pada lilin yang tinggal setengah itu bergoyang, tertiup angin. Aliansi nyamuk dengan gamblang mendengungkan soneta, ikut mengisi daftar presensi pada malam kali ini.

Kepada jarum jam yang berdetak secara konstan, hal itu seolah menyadarkan tentang masa yang dipinjam secara cuma-cuma dari Tuhan. Makhluk hidup memiliki persamaan dengan makanan kaleng di supermarket ataupun aspirin yang dijual di warung; sama-sama memiliki masa kadaluwarsa.

Zane mengecek masa aktifnya di dunia pada sebuah notes kecil yang selalu dikantongi. Di sana pun tertulis;

Masa aktifmu berlaku sampai waktu yang cukup panjang. Tenang saja.

View original post 2,064 more words

Semacam Dillema

Assalamualaikum, saudara-saudaraku yang kusayang ^^

Tiap kali nulis sesuatu yang baru pasti akan dimulai dengan kalimat, “maap yak udah lama banget nggak update, blog ini berasa semacam gudang bersarang laba-laba saking nggak pernah dikunjungi lagi” hehehehe… Ya begitulah.

Nggak akan membela diri dengan berbagai macam alasan yang mengambinghitamkan Aisha, karena dia nggak berhak disalahkan. Akunya yang males, jadi ya, no excuse, so sorry my bad, ehe…

Ini ceritanya mumpung lagi nggak males, sedang ingin membuka-buka jadinya sekalian aja update buat menulis sesuatu.

Maaf yang kedua aku tujukan sama teman-teman yang mengirimkan naskahnya ke missdistadee@gmail, aduh maaaaaaf banget ya sampai sekarang belum membalas email kamu. Semua naskah sudah kubaca, cuma belum sempat aku review seluruhnya (kalau ini bukan excuse). Review itu butuh waktu yang lebih lama dan fokus, sementara bisa duduk sedikit agak lama depan komputer cuma pas malam hari, itu pun sudah ngantuk-ngantuk… jadi baru review dikit, udah close aja, bubuk. Aku akan berusaha untuk mereview dan membalas email kamu satu persatu, tapi kalau dirasa udah telat ya maap yak, hehehe…

.

.

—————–

Jadi ini ceritanya, kenapa aku tiba-tiba update blog malam-malam begini adalah…

Sebenarnya sudah agak lama ingin mengklarifikasi, aduh aku mah apa sok artis bener, hehehe… eniwei, atau apalah ini istilahnya. Beberapa bulan ini sering dapet pesan dan email yang menanyakan tentang ke mana aja serial fanfiction yang pernah aku unggah di blog saladbowl, atau apakah masih bisa dibaca yang sudah pada dihapus itu.

Maaf banget karena jawabannya adalah tidak ya, temans, yang sudah dihapus nggak akan diunggah lagi atau dibaca lagi oleh khalayak maupun personal. See, kalian mungkin bertanya-tanya kenapa aku menghapus semua fanfictionku dulu—iya, mungkin—dan di posting pengumuman sebelumnya aku bilang suatu saat nanti aku akan kasih tahu alasannya. Maka kurasa sudah waktunya kuberi tahu, jadiii… mari kita tarik napas dulu, dan mengheningkan cipta sebentar.

.

Ada beberapa alasan yang membuatku memutuskan menarik hampir semua tulisanku dari peredaran.

Yang pertama, dan yang paling utama adalah beban moral. Jujur aja, dan sekali lagi, aku ingin meminta maaf pada semua pembaca yang pernah membaca tulisanku sejak karya pertamaku dulu. Dari lubuk hati yang terdalam, dan penyesalan yang besar (dan ini bukan sesuatu yang hiperbolis) karena tulisanku menyesatkan kalian. Semakin lama, aku sempat merasa semakin memiliki beban moral karena secara nggak langsung ngajarin yang enggak-enggak di dalam tulisanku itu. Fanfiction yang kebanyakan temanya romansa, dengan bumbu-bumbu yang, maaf, berbau maksiat dan bikin penyakit hati dan pikiran bagi yang membaca.

Di saat aku banyak menulis artikel dan himbauan untuk menyaring gaya bahasa dalam tulisan dan mengampanyekan fiksi yang cerdas dan mendidik, rasanya ironis kalau aku–yang berkoar-koar–malah menyuguhkan cerita yang merusak akhlak anak-anak muda. Jadi, lagi-lagi, aku minta maaf bagi semua pembaca yang pernah membaca tulisanku, karena telah membiarkan kalian berzina pikiran dengan imajinasi liar yang kusajikan, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua.

Kalau ditanya apakah aku nggak kangen sama fanfiction-fanfictionku dulu, tentu saja jawabannya kangen banget. Aku kangen Han Jo, Choi Hyunji,  Han Soojung dan seluruh karakterku, juga cerita-cerita yang pernah mengisi hari-hariku dulu sama kamu semua. Nggak jarang, bahkan seringkali, ketika salah satu di antara kamu minta aku buat republish lagi fanfictionku dulu, atau mengirimkan file pdf untuk konsumsi pribadi, aku tergoda buat upload atau kirim. Tapi kalau aku lakuin itu, dan nurutin kalian, you’ll be happy, but  I’ll be mati sendiri. You suka, I yang dosa.

Bukan berarti aku nggak akan nulis lagi sih, masya Allah, aku kangen banget ingin nulis lagi. Tapi percayalah, lama banget nggak nulis bikin otakku tumpul. Aku merasa sangat bodoh sekarang, jadi tolong kasih aku waktu buat belajar lagi dan berlatih lagi. Insya Allah aku akan nulis dan memberi kalian sebuah bacaan yang jauh lebih bermanfaat. Sebuah bacaan yang kuharap bisa lebih mencerdaskan bangsa, hihi…

Yang kedua dan lainnya macam remah-remah masalah nggak penting tapi nyebelin gitu deh. Aku risih dimention dan dikejar anak-anak yang minta password, padahal belum umurnya. Yang begini juga malah jadi dosa, karena secara nggak langsung aku bikin beberapa oknum berbohong, memalsukan umur biar bisa baca yang seharusnya nggak mereka baca. Bull to the s**t deh kalau penyaringan umur bisa jadi meminimalisir kebobrokan moral di dunia fiksi online. Anak-anak jaman sekarang itu pintar memintari, cuma sayangnya, kepintaran mereka tidak berbanding lurus dalam menyikapi perkembangan teknologi yang modern.

Yang terakhir, intinya, kita semua pernah berada dalam masa jahil. Tapi dalam proses kehidupan, tiap orang ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mari kita sama-sama menghargai proses itu, dan semoga Allah merahmati keikhlasan hijrah kita ini.

Selanjutnya, kalau ada yang mau ngobrol soal tulis-menulis, silakan line aku di *distadee*. Aku bukan orang yang smiley sweety, jadi jangan tersinggung kalo obrolan kita nggak pake banyak stiker Moon sama Cony dan Brown (apalagi Syahrini). Jadi ya maap, bukannya nggak ramah atau sombong, tapi aku memang begitu… ehe…

Terus, kalo ada kekecewaan yang mau disampaikan bisa langsung line aku juga, nggak perlu kirim hate message anon di ask.fm. Kita mah fair aja, kritik biasa ada disampaikan, selama itu berada dalam konteks tulis menulis.

You don’t know who I am, you never even met me like we’re hanging out as friends, so you have no right to judge me or anyone like a God. Fair game.

Yip! Yip! 🙂