Nikmatnya Sang Ibunda.

Aisha lagi jalan 8 bulan, dan alhamdulillah sekarang lagi senang berguling-guling dan merayap nyari tempat dingin (baca: lantai). Kata orang kalau bayi sudah di atas 6 bulan kerjaan ibu lebih santai, atau nggak terlalu capek karena nggak perlu bangun malam-malam nyusuin bayi. Tapi yang kurasakan sama aja sih, dulu sama sekarang kerjaan tetap banyak meski beda tipenya, hehehehe….

Beberapa ibu juga bilang, bahwa masa terindah seorang wanita yang menjadi ibu itu ketika melahirkan anaknya. Detik-detik setelah bayi keluar dari perut, lalu ditaruh di atas dada dan ibu melihat bayinya pertama kali—rasanya nggak ada yang ngalahin, katanya. Aku melihatnya dengan berbeda, dan kurasa yang diceritakan itu belum apa-apa. Kebahagiaan itu bertahap; dari ketika bayi lahir, lalu ketika ibu menyaksikan bayinya bisa ngoceh untuk pertama kali, ketika bayi bisa terlungkup untuk pertama kali, merangkak, berdiri, ketika bayi mulai kenal ibu sebagai ibunya, sampai nanti ketika dia bisa ini itu yang lain. Kebahagiaan itu nggak akan ada habisnya.

Jadi ibu itu capek, semua orang tahu. Aku nggak akan mengeluh, karena bukannya ini sebuah kodrat atau tugas, aku melihat lelahnya itu sebagai sebuah kenikmatan. Selama 8 bulan ini aku hidup jauh sama suami, hanya ketemu 2 hari dalam seminggu, kadang 2 minggu sekali, dan lebih kenal dia dari layar kaca aja dari pada aslinya. Dan selama 8 bulan ini, jauhnya kami mengajariku banyak sekali hal dalam berhadapan sama Aisha.

Terbiasa ngurus segalanya sendiri bikin aku lebih mandiri. Mungkin karena aku anak pertama, dan terbiasa sejak sebelum menikah pun apa-apa kuurus sendiri, jadi nggak terlalu bergantung ketika nggak ada orang lain. Dan meski selama 8 bulan ini kami (aku dan Aisha) tinggal di rumah orangtuaku, sebisa mungkin aku selalu ngurus seluruh kebutuhan Aisha tanpa merepotkan mereka. Dari mandiin Aisha sejak dia lahir, nyuapin makan, gantiin pampers, sampai beres-beres, ibuku juga membiarkan aku melakukannya sendiri—kecuali kalau memang lagi repot banget.

Aku nggak bermaksud untuk pamer, atau berharap-harap pujian dari yang kutulis ini. Pengalaman yang kuceritakan ini semata-mata kubagikan karena aku yakin aku bukan satu-satunya ibu yang capek ngurusin bayinya. Ada yang jauh lebih repot dari aku tapi masih bisa ngurusin seluruh kebutuhan bayinya dari A sampai Z, dan masih lagi ngurusin kebutuhan rumah sebagai ibu rumah tangga. Dan apa yang kulakukan sejak Aisha kecil itu, pun juga karena ada triggernya.

Pasti sering sekali dengar orang berkomentar, “Wuah cucu pertama, eyangnya pasti bakal repot banget tuh nanti.” ketika ada ibu muda sedang hamil tua, menunggu detik-detik kelahiran. Iya, adaaaaa…. pasti. Ini sering banget terdengar kalau kami ketemu sama teman-teman ibu, atau lagi periksa ke dokter. Ditambah lagi, bersamaan dengan kehamilanku, adik perempuanku juga sama-sama hamil tua, yang berarti insya Allah akan ada 2 bayi di rumah dengan jarak umur yang nggak terlampau jauh. Macam anak kembar.

Komentar makin menjadi, “Lho ini cucunya langsung dua, ya kasian ibu nanti ngurusin bayi kembar.”

Seolah-olah ibu yang mengandung ini cuma numpang lewat.

Entah bagaimana stereotype ibu muda punya anak cuma bakal ngerepotin orang tua ini mulai mencuat, aku nggak ingin membahas tapi dari komentar ini aku bersumpah, bahwa anak-anakku akan tumbuh dengan tanganku dan dalam gendonganku.

Aku dulu manja, bangeeet, karena sejak kecil memang orangtuaku amat sangat memanjakan anak-anaknya. Nurutin semua apa yang kami ingin dan kami minta, sampai ke titik bahkan saat kuliah ayah masih suka jemput aku di kampus. Trigger itu juga pada akhirnya yang selalu ngingetin aku untuk harus selalu kuat, nggak bawa-bawa manja lagi yang ada sejak kecil. Punya anak sendiri bikin seorang ibu mau nggak mau belajar bertanggungjawab, karena sedikit aja salah asuh, rusaknya anak sampai dia mati. Dan yang paling penting, menahan mulut untuk nggak ngeluh.

Tahu kenapa?

Karena Allah menjanjikan surga dan seisinya bagi seorang ibu. Perjuangan itu nggak mudah sejak sejak awal, dan capeknya 24 jam 7 hari seminggu. Jangan sampai gunung-gunung pahala itu gugur hanya dengan sebuah kalimat, “Ibu capek nak ngurusin kamu”. Naudzubillah….

Dan aku tahu perjalananku masih panjang. Delapan bulan itu belum apa-apa buat ibu yang sudah besarin anaknya selama setahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Tapi biarkan tulisan ini menjadi saksi, dan perjanjian tertulisku dengan aku besok, lusa, dan seterusnya, bahwa ini adalah salah satu jalanku menuju apa yang Allah janjikan untuk kita para wanita di akhir dunia.

Perjanjianku dengan kamu, para ibunda, untuk nggak manja dan cengeng. Siti Hajar, ibunda nabi Ismail rela berlari hampir 3kilo jauhnya untuk cari air buat anaknya. Siti Maryam, ibunda nabi Isa nggak pernah mengeluh membesarkan bayinya di tengah pengasingan, seorang diri. Jangan sampai kita, ibu-ibu yang hidup di jaman serba mudah, mengeluh capek sedikit hanya karena anak nggak mau makan, atau gantiin popok 3 jam sekali karena poopnya lagi sering.

Ini anugerah kita, para ibu, untuk menikmati indahnya menerpa lelah, mengalahkan penat, dan menahan mulut dari kata-kata yang nggak bijak. Banyak beristighfar pada Sang Pemberi Kehidupan, semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dan menjadikan ibadah ini sebagai pemberat timbangan amal kita di hari kebangkitan. Aamiin.

.

.

.

16 November 2015,

Dista Wryn.