Dulu Aku Pun Begitu.

Bismillahirrahmanirrahim,

Dear guys,

Hari ini aku nulis untuk berbagi sebuah cerita pribadi yang pernah aku alami, semoga cerita ini bisa menjadi renungan, atau sesuatu yang kamu terima secara positif karena ini adalah tugas kita sebagai sesama muslimah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Aku berdoa, semoga Allah meluruskan niatku bahwa ini kubagikan hanya sebagai nilai ibadah, tidak ada unsur riya’, memamerkan diri atau bahkan merasa diri lebih baik dari yang lain. Semoga Allah memberi dan membukakan pintu hidayah bagi seluruh muslimah yang membaca cerita ini, juga di seluruh dunia, bagi mereka yang ingin berpegang teguh pada perintah-Nya, dan sunnah Rasul-Nya. Aamiin.

Tulisan ini dimulai dari kabar seorang teman baik yang beberapa waktu lalu memberitahu; bahwa dia ingin belajar pakai jilbab panjang, dan pakaian yang syar’i. Alhamdulillah sekali, saat itu nggak bisa kugambarkan senangnya. Kurasa terakhir kali aku senang semacam itu ketika akhirnya thesis kelar dan nggak perlu nunda wisuda sampai berbulan-bulan, hehehe… Iya, rasanya lega, entah karena apa. Yang jelas mendengar kabar itu seperti mendengar kabar yang luar biasa menggembirakan, because she’s one of few friends I value the most.

Berita ini akhirnya membawa aku kembali ke tahun-tahun yang lalu, di kala aku pernah menjadi orang yang ‘begitu’. Januari 2014, adalah pertama kalinya aku memutuskan untuk berhijrah. Bulan itu, aku memutuskan untuk membuang celana-celana panjang yang seringkali aku pakai keluar rumah, membakar beberapa celana jeans, dan menggantinya dengan rok panjang, baju gamis, dan jilbab yang panjang.

Di bulan yang sama, ketika seorang sahabat yang sangat baik meninggal dunia di saat yang nggak terduga. Semoga Allah memuliakan dia di sisi-Nya, gadis berhati mutiara, insya Allah sang bidadari surga—seseorang yang menjadi inspirasi aku untuk berubah. Benar-benar berubah.

Berjilbab panjang dan berpakaian syar’i bukanlah tentang panasnya hawa, keribetan pakaian atau manhaj apa yang kita ikuti dan yakini, tapi ini adalah tentang aqidah dan kewajiban yang kita jalani sebagai seorang muslimah.

Dulu aku begitu; berjilbab tapi berpakaian ketat. Berjilbab, tapi lekuk tubuhku tetap terlihat. Berjilbab tapi aku bermaksiat. Aku pernah berada di jaman itu. Yang tenggelam dalam kesenangan duniawi, memuja para kafir yang sebenarnya haram diminati, dan melakukan juga mengajarkan hal-hal yang nggak bermanfaat. Kesombongan manusia, yang diperalat iblis-iblis durhaka, aku terpesona dan lupa seolah hidup ini untuk selamanya. Semoga Allah mengampuni dosa aku dan semua orang yang kusesatkan karena ini.

Dan Januari 2014, aku ingat hari akhir. Ketika melihat seorang sahabat baik terbungkus kafan, disholati, dan ditangisi, aku yang bodoh dan sombong ini mulai berpikir bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua. Sahabat ini, berkali-kali kusebutkan, dia orang yang baik. Dia nggak pernah menyakiti orang lain, tutur katanya lembut, saaaaaangat lembut. Dan dia pergi dengan cepat, di usia yang masih sangat muda… lalu aku punya apa?

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mempercepatnya.”(Surah Al-A’raf ayat 34)

Aku nggak tahu kapan mati akan mendatangiku. Dan di tiap detik di hari pemakamannya, yang ada di kepalaku, akan jadi apa aku di akhirat kalau aku mati dalam keadaan masih bermaksiat?

Ketika umur ini sudah semakin dewasa, apalagi sih yang kita cari dan yang kita tuju selain mendekatkan diri pada yang Ilahi? Seseorang yang baik belum tentu punya waktu yang banyak untuk beribadah dan mencari surga, lalu aku punya apa?

Akhlak seseorang akan mengikuti ketika seseorang berjilbab; yang nantinya lebih sabar, yang nantinya lebih menahan bicara, juga yang lain. Perlahan tapi pasti. Seseorang yang ingin berubah nggak bisa jalannya langsung 180 derajat berbeda. Seseorang yang berhijrah itu seperti bayi yang sedang melalui fase dari yang tadinya Cuma bisa terlentang, dia belajar terlungkup, lalu merangkak, duduk, dan berdiri. Nggak ada proses instan dalam belajar, dan yang pastinya, nggak ada kata terlambat.

Hidayah bukan banjir bandang yang tiba-tiba datang. Aku selalu diberitahu bahwa hidayah hanya akan diberikan pada orang yang berusaha untuk mencarinya, menjemputnya, dan menerimanya dengan lapang. Aku ingin menerima syariat itu dengan apa adanya, menikmatinya, hingga mati dengannya. Aku Cuma takut jadi orang yang sombong. Aku Cuma takut jadi orang yang nggak ingat mati, padahal ajalku hanya seujung jari.

Sahabat baik yang sudah pergi, dan teman baik yang ingin lebih syar’i selalu mengingatkan aku untuk selalu bersyukur, bahwa nggak semua orang dimudahkan menjadi orang yang seperti ini. Perlu perjuangan berat pagi sebagian orang agar bisa diterima di lingkungannya, dicemooh bahkan diasingkan ketika dia memilih untuk berjalan di kehidupan syar’i. Tapi aku hidup di keluarga yang mendukungku penuh dalam belajar, nabung buat ngumpulin jilbab panjang dan gamis satu persatu, hingga akhirnya pakaian ini seolah bagian dari tubuh ini.

Dan yang terakhir, jadi ibu pun sepertinya mulai mengubah cara pikirku yang dulu sekuler. Semua ibu pasti ingin jadi panutan untuk anak-anaknya. Madrasah pertama, pencetak moral-moral generasi muda. Mau belajar apa anak-anakku kalau aku adalah yang dulu? Idealisme anak yang shalih dan berbakti hanya akan berhenti di ujung angan kalau aku tetap begitu. Prinsip dan filosofi hanya mendapatkan dunia aja ketika aku nggak mengajarkan apa yang akan terjadi di akhir kehidupan.

Dari sebuah kajian, aku pernah mendengar bahwa, “Dunia ini adalah pernjara bagi umat mukmin, dan surga bagi yang kafir.” (HR Muslim). Allah dalam Quran sama sekali nggak pernah memuji kehidupan dunia, dan ini yang mengingatkan aku untuk selalu mawas dan menjaga diri dari nafsu-nafsu yang berlebihan.

Ibu yang pintar, bukan ibu lulusan sarjana atau bahkan seorang profesor. Ibu yang pintar adalah beliau yang mengajarkan anaknya membaca dan menghafal Al-Quran, dan mengamalkan isinya. Dan aku ingin jadi ibu seperti itu.

Karena aku dulu pun begitu, kuharap hari ini kamu nggak seperti itu.

Dista Wryn.

November 2015.