Idealisme Calon Orangtua dalam Budaya Membaca

Setelah menikah, suami baru tahu bahwa aku hobi menulis.

Dia pernah bilang nggak terlalu tertarik untuk menggali kehidupan aku ketika kami belum menikah, katanya sih pengennya surprise. Dan surprise lah yang dia dapat ketika aku tunjukin apa aja yang sudah kulakukan dengan hobi ini, hehehehe. 

Hal lucu sempat terjadi saat kami ngobrol kemarin. Dia cerita ketika lagi ngobrol sama temennya tentang hobi istrinya ini, ternyata (sebut saja namanya kumbang) si kumbang ini dulu pernah punya pacar seorang penulis juga. Kumbang cerita, bahwa hubungan mereka nggak bertahan lama, dan hanya dalam beberapa minggu diputusin sama pacarnya. Alasannya?

Karena menurut pacar kumbang, pacaran sama kumbang ternyata nggak seindah seperti di dunia fiksi.

Terus dia tiba-tiba tanya, “Kamu gitu juga nggak, sih?” LOL.

Aku harus mengakui bahwa tipe orang semacam ini pun masih ada. Nggak sedikit penulis yang kerap kali tenggelam dalam dunia yang dia tulis, dan beranggapan bahwa ideal kehidupannya berada di dunia fiksi yang diciptakannya. Nggak menyalahkan juga sih, meskipun pikiran semacam itu perlu dibenahi. Kenyataannya, seperti yang seringkali aku sebut dalam bahasan seputar fiksi dalam diskusi bersama teman-teman, bahwa karya fiksi adalah refleksi dari fenomena kehidupan yang terjadi dalam masyarakat. Seaneh apapun kejadiannya, apapun itu pasti pernah kejadian di suatu tempat di satu sudut dunia ini.

Apa yang ditulis oleh para penulis dalam kisahnya, biasanya nggak jauh dari apa yang pernah mereka alami secara pribadi, apa yang pernah mereka lihat, dengar, atau pun pelajari dari sumber yang lain, dengan tambahan efek dramatisasi untuk bikin ceritanya lebih ‘berbumbu’. Nggak heran melihat banyaknya variasi ide yang dituangkan penulis bercampur dengan prinsip dan mimpi-mimpi kehidupan mereka sendiri, tapi kalau sampai idealismenya harus terealisasikan di kehidupan nyata ya repot juga, hehehehe… Karena bagaimana pun juga, mau nggak mau  kita perlu mengakui bahwa hidup itu keras. Kenyataan seringkali lebih pahit, dan tak seindah apa yang terjadi dalam dunia fiksi.

Nggak cuma penulis aja sih, semua penikmat karya fiksi kurasa perlu memahami konsep ini supaya nggak keteteran dalam menyikapi kejadian-kejadian di sekitarnya. Punya karakter perfeksionis memang nggak ada salahnya, tapi toleransi terhadap karakter orang lain pun perlu dibiasakan juga supaya bisa berbaur dengan selayaknya di lingkungan masing-masing, terutama ketika bertemu orang yang baru.

.

Eniwei, itu pembuka yang panjang. Tapi sebenarnya yang ingin aku bagi bukan ini, hehehe… Dalam obrolan kami kemarin, selain cerita tentang konsep dunia fiksi dan realita dengan suami, hal lain yang kami bicarakan adalah bagaimana menumbuhkan minat baca dan belajar buat anak-anak.

Kita tahu bahwa membaca adalah kebiasaan penting untuk anak-anak, karena dengan membaca mereka akan banyak belajar hal-hal baru yang mungkin nantinya nggak diajarkan di sekolah, atau dibicarakan dalam topik obrolan ringan saat berkumpul keluarga. Menumbuhkan minat membaca anak-anak memang gampang-gampang susah. Kadang orangtua pengennya yang muluk-muluk, pengen anaknya suka baca, tapi nggak didukung dengan media yang mumpuni.

Sebagai seorang penulis sendiri, aku menyadari benar pentingnya membaca untuk banyak aspek kreatifitasku. Aku percaya bahwa peran aktif orangtua sangat penting untuk mendorong semangat mereka membaca. Paling sederhana aja, kalau kita ingin anak-anak suka baca, maka kita pun juga harus suka baca. Anak-anak cenderung mengikuti gaya kehidupan orangtua mereka, jadi bila kita ingin anak-anak mengikuti satu aspek ideal kita, maka kita juga perlu mencontohkannya dalam bentuk yang konkret. Nggak perlu ribet juga, bila anak-anak terbiasa melihat kita membaca, maka secara otomatis mereka akan mengikuti kebiasaan kita. Selain karena unsur rasa ingin tahu, sifat dasar anak-anak memang begitu.

Kasus lain yang sering terjadi adalah bagaimana kadang beberapa orangtua sendiri tidak begitu memahami pentingnya menyimpan buku di rumah. Karena mungkin nggak berkenan melihat buku-buku berserakan atau bertumpuk di kamar, terus ngeliat kamarnya penuh, mereka nggak ragu nyuruh bukunya dikiloin aja, walah…

IMHO, investasi itu penting. Buku-buku yang kita baca sekarang akan jadi materi yang akan anak-anak baca nantinya, jadi jangan dibuang. Ini karena pada dasarnya karya sastra sifatnya everlasting, sampai kapan pun, sebuah cerita nggak akan terasa basi dan akan tetap segar saat dibaca. Percaya deh, satu atau dua dekade mendatang, Harry Potter akan tetap menarik dibaca. Nilai moral yang anak-anak pelajari akan tetap sama meskipun perkembangan jaman sudah meningkat pesat.

Akan lebih baik bila buku-buku koleksi kita tetap disimpan. Kita beli rak yang besar sekalian, kalau perlu ada kacanya, jadi buku yang kita simpan nggak akan terkotori debu dan tetap terawat. Bagus lagi kalau kita bikin satu ruangan khusus yang dipakai untuk menyimpan koleksi buku-buku ini, jadi kita bisa pakai ruangan itu saat ingin baca sekaligus berkumpul dengan anak-anak. Ideal kami sih, kalau nanti rumah sudah jadi pengennya ada satu ruangan serba guna untuk perpustakaan, ruang TV, komputer sekaligus tempat sholat. Ruangan di mana keluarga berkumpul saat semua orang di rumah, dan ini bisa jadi momen yang pas bila ingin ngobrol dan diskusi tentang hari yang sudah dilewati masing-masing. It sounds so fictional ya, tapi angan-angan itu perlu juga buat jadi semangat juang di masa depan, hihihihi.

Intinya sih, IMO, jangan sampai kita menyurutkan keinginan anak untuk membaca. Kalau anak ingin beli buku ini itu, ya biarkan aja. Biasakan untuk nggak meminjam buku buat mereka baca, tapi belikan, supaya mereka bisa membacanya kapan pun. Mau itu komik, buku cerita bergambar, novel, ensiklopedia, bahkan majalah sains, jangan sayang ngeluarin uang untuk beli buku. Di mana-mana yang namanya pendidikan itu mahal, tapi all-out untuk kepentingan penguasaan ilmu pengetahuan anak itu nggak akan jadi masalah kalau kita sudah berniat. Apalagi kalau nantinya itu bisa bikin anak cerdas dan kreatif, kita nggak akan nyesel deh nantinya.

Biasakan juga agar mereka merawat buku dengan baik sejak kecil: taruh kembali ke rak kalau sudah membaca, jangan melipat halaman buku supaya nggak rusak (kalau perlu kita sediakan pembatas buku untuk masing-masing koleksi), jangan makan ketika baca buku supaya nggak mengotori buku itu, sampuli buku dengan plastik sampul ketika baru beli supaya cover dan isinya terjaga. Kita perlu menanamkan pemahaman pada anak-anak bahwa buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Seperti layaknya guru yang telah mengajarkan dan mendidik kita untuk menjadi orang yang berilmu, buku pun memiliki kedudukan yang sama. Hormati mereka, rawatlah dengan baik agar ilmu yang terkandung di dalamnya tahan lama.

Hindari pemikiran ‘ah, anak masih kecil, ntar aja kalau sudah gede’ untuk mengajari mereka kebiasaan-kebiasan ini. Justru karena mereka masih kecil itu kita harus mulai mengajari dan memberi pengertian tentang pentingnya merawat dan membaca buku, dengan begitu PR kita berkurang banyak ketika mereka beranjak dewasa. Dan ini sebenarnya juga nggak hanya berkutat tentang membaca dan merawat buku aja sih, tapi hal-hal lain yang positif untuk kebiasaan mereka; seperti untuk nggak buang sampah sembarangan, kebiasaan mengantri, kebiasaan menutup aurat, dan hal lainnya. InsyaAllah anak-anak akan belajar baiknya kebiasaan hidup sebagai manusia beradab, Alhamdulillah lagi bila kita bisa mengajarkannya menurut syar’i.

Semoga dengan melakukan hal yang baik-baik bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita di masa depan. Aamiin…

.

Be back on my next post!

xoxo.

6 comments

  1. jadi inget nenek, paman ma ortuku yg slalu ngajarin buat baca buku sebanyak2nya…

    mereka pun gak pernah ragu2 kasih duit kalo alesannya mo buat beli buku, apapun itu judul bukunya…

    dan yang kamu bilang diatas bener dis… smua kebiasaan baik soal membaca buku dg cara baik, gak bisa meminjam tp membeli buku yg kita suka/mau/butuh. ngrawat buku bakalan ngasih dampak bagus buat kita kedepannya apalagi kalo diajarkan sejak kecil…

    apalagi dista seorang penulis… aku percaya dan insya Allah dista bisa mengajarkan smua kebiasaan baik itu ke anak2 dista kelak…

    oh, ya satu hal lagi… buku itu gak ada tanggal kadaluwarsa menurutku… mau diterbitin tahun 90an bahkan 80an dibaca di tahun 2014 tetep aja ada relevansinya dan mengandung suatu pelajaran…

  2. annyeonghaseyo chingu,.

    saya salah satu reader,dian imnida dengan ID chodee’an mau minta PW nya louboutin catalyst donk?

    gomawo…

  3. “Seperti layaknya guru yang telah mengajarkan dan mendidik kita untuk menjadi orang yang berilmu, buku pun memiliki kedudukan yang sama. Hormati mereka, rawatlah dengan baik agar ilmu yang terkandung di dalamnya tahan lama.”

    suka banget sama kalimat ituu..
    tidak hanya budaya membaca, adab dalam menuntut ilmu juga harus kita ajarkan sejak dini pada anak-anak kita kelak agar mereka bener2 totalitas dalam menghormati sumber ilmunya (guru dan buku).

    seperti halnya kata Ali sepupu Rasulullah “aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku, bahkan satu huruf yang diajarkan, tidak cukup bagiku membalasnya dengan seribu dirham”

    thanks, buat postingannya yaa kakak

    see you on your next post🙂

  4. Halo! Sudah lama ga mampir kesini banyak berita baru ternyata.
    Postingan ini kebetulan sekali, bulan ini aku sama suami setuju untuk mulai beliin buku anakku satu bulan satu buku. Aku pengen dia seneng baca ntarnya. Walau anakku baru 9 bulan tapi aku tetep beliin buku semacam ensiklopedia. Maksudnya sih di cicil biar ntr pas anaknya udah ngerti beliinnya ga berat breg sekaligus hahaha. Karna ya memang ga memungkiri harga buku anak-anak lumayan mahal juga sekarang. Jadi solusinya dicicil satu bulan satu buku. Tapi karena baru mulai beli baru-baru ini jadi bukunya belum ada 9. Jadi untuk beberapa bulan ke depan beli bukunya 2-3 untuk nyusul ketertinggalan. Satu buku buat ntr diatas dua taunan dan satu buku cerita hard cover buat umurnya sekarang. Bismillah supaya rezekinya ada terus, hehe amiin amiin😉
    Beli buku itu ga ada ruginya. Investasi buat anak malah. Aku punya buku-buku enyd blyton dari jaman ibuku masih remaja. Kesenengan baca bukuku nurun dari orang tuaku. Semoga nurun ke anakku juga.

  5. Hola kak dista. Aq setuju sm artikel di atas. Alhmdulilah aq dr kcil suka baca dan mnfaatnya kerasa bnr dlm prkmbanganq, apalagi jaman sekolah kmrn, walaupun motivasi bkan dr ortuq, tp diriku sndri. Msh keinget dlu jaman Sd aq suka pnjem mjlh Bobo tmenq lantaran gbs beli. Dan bbr novel yg ud q bca aq pnjem d prsewaan buku
    Alhmdulilah skrg ud krja, jd bs beli buku sndri, hahay.
    Aq sndri jg pnya proyek pribadi pngen bikin perpustakaan pribadi, doakn terealisasi kak.

    Kakak jg semangat y.
    Salam xoxo~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s