Reading and Reviewing a Fiction

Aku baru aja matiin laptop ketika ide ini muncul, terus kunyalain lagi hanya untuk kumatikan karena udah terlalu ngantuk buat ngetik. Ada beberapa hal yang ingin kubagikan pada para pembaca, sebagai seorang pembaca penikmat fiksi yang kadang lebih banyak menghabiskan waktu membaca online daripada buku sendiri.

I love reading. Kadang ketika menemukan sebuah fiksi yang menurutku benar-benar bagus, bisa menimbulkan sensasi yang fresh sampai aku excited sendiri saking sukanya sama sebuah bacaan. Ketika aku menemukannya, aku akan selalu membaginya dengan orang-orang, supaya orang lain juga bisa menikmati keindahan karya yang sudah kubaca. Karena aku ingin berbagi sensasi itu sama mereka. Dan aku paling suka berdiskusi tentang fiksi itu sama teman-teman dekat setelah kami membaca sama-sama. Dalam hal ini, kadang aku bagi ke Opat, kadang aku bagi ke saladbowl fellow, atau ke follower twitter. Atau yang dari dulu sampai sekarang selalu jadi teman diskusi favoritku, kalau anaknya lagi ada, kadang aku juga membaginya sama Uwiw (hanya nama samaran)—sahabat dan salah satu teman pintar dari Kost Puri Dewi.

Uwiw udah jadi penasihat dan beta reader favoritku sejak nulis LC, dan teman diskusi fiksi paling menarik. Dia nggak datang dari jurusan sastra, atau seseorang yang berkecipung dalam dunia tulis menulis seaktif kita, para author online. Dia hanya memiliki sense keindahan yang tinggi dalam memilih diksi dan istilah ketika mengutarakan pikirannya. Dia menulis diary dan puisi, and I’m a fan of her works. Ngobrol sama Uwiw tentang cerita-cerita yang kami baca membuat bedah fiksi terasa jauh lebih seru dibanding nonton konser Super Junior di Singapura, LOL, seriously. Karena hal-hal sederhana dan hal yang paling kecil dalam sebuah tulisan bisa menjadi isu sosial yang tiba-tiba aja jadi sangat penting. Hal yang kadang nggak disadari oleh para penulis itu sendiri.

Lalu kami bicara tentang moral of the story. Pesan dan misi apa yang terkandung dalam sebuah cerita pendek, yang menjadikan sebuah cerita sederhana, atau topik euforia romansa remaja jadi sebuah pelajaran besar yang bisa kita pahami sebagai seorang pembaca. Aku paling suka ketika membaca karya semacam itu dari penulis-penulis muda yang tidak hanya menulis untuk curhat aja, atau sekedar fangirling dengan mengharapkan komentar semacam, ‘ya ampuuun xxx ganteng bangeeet! xxyy lucky banget sih bisa sama diaaaa!!!’ dengan segudang emoticon yang nggak ada habisnya. Aku suka membaca sesuatu yang sederhana, tapi bermakna. Kalau ada kandungan informasi tentang pengetahuan umum, itu bonus, seolah aku baru aja menemukan harta karun di tengah lautan kode binari dan coding dunia maya.

Ini berlanjut pada hal yang kemudian, bisa dibilang, menjadi unek-unekku juga sebagai pembaca. Ketika aku mereview beberapa tulisan yang masuk ke emailku atau email saladbowl. Membaca dan me-review tulisan seseorang sungguh bukan perkara yang gampang. Ini sesulit menulis fiksi itu sendiri.

Banyak orang yang nggak tahu, dan meremehkan hal semacam ini, tapi bahkan untuk me-review tulisan seseorang dengan serius itu pun dibutuhkan ilmu, dan nggak sembarangan komentar. Karena komentar dan kritik yang membangun adalah tidak dengan mencari-cari kesalahan dan menjatuhkan penulis itu sendiri, tapi dengan menunjukkan secara konkret di mana letak kekurangan dan kesalahan mereka, lalu memperbaikinya, atau setidaknya meluruskan dan memberi saran untuk karya mereka yang lebih baik.

Menemukan tulisan yang bagus-bagus itu cukung gampang di email saladbowl, tapi sayangnya, menemukan tulisan yang bagus dengan cerita yang bermoral dan bermisi itu yang susah. Aku paham sekali dengan gregetnya kebesaran masa fangirling saat ini. Dengan adanya banyak idola Korea yang dielu-elukan remaja, fenomena ini melahirkan sekian banyak penulis baru yang ingin melampiaskan keliaran imajinasinya dalam bentuk tulisan untuk dinikmati para pembaca yang setipe dengan mereka (maksudnya sama-sama fangirl seleb tertentu). Tulisan itu jadi berbentuk semacam diary bernarasi dengan dialog, sebuah pengakuan, atau bahkan refleksi angan-angan. Tulisan yang kalo kubaca, aku bahkan bisa langsung membayangkan gimana komentar heboh para penggandrungnya seketika.

Aku menemukan cukup banyak potensi bakat penulis besar dari beberapa karya yang kubaca dari kiriman naskah yang masuk. Dan sebenarnya, aku berharap potensi-potensi ini bisa digunakan jauh lebih baik lagi untuk menghasilkan karya yang lebih bermakna, mendidik, bermisi, apapun istilahnya. Karena mereka masih muda, dan lebih mudah bagi mereka untuk mengarahkan para pembacanya yang sama muda pada nilai-nilai sosial, moral, religi, atau bahkan sains yang lebih baik pula.

Mungkin orang-orang merasa adanya proses seleksi untuk naskah kontributor di saladbowl itu cukup ribet dan nggak perlu, karena menghambat kreatifitas penulis dalam membagikan cerita dan karya dan sebagainya. But I tell you what, kenyataannya malah sebaliknya. Dengan proses seleksi itu, kami berniat untuk menantang para penulis untuk lebih kreatif mengembangkan bakat dan variasi ide sebagai topik tulisannya.

Ketika pertama kali saladbowl didirikan, kami lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas. Para authornya sengaja dibatasi nggak terlalu banyak, dan naskah kontribusi juga diseleksi untuk tidak asal diterima dan diterbitkan, karena kami sendiri juga punya misi sosial. Bahwa kami menulis nggak hanya untuk bersenang-senang aja, tapi juga mendidik para pembaca. Tema fiksi bervariasi, tapi tetap berbataskan norma-norma yang berlaku, pembagian password diperketat untuk membangun disiplin penulis dan kejujuran pembaca, lalu tulisan kontribusi dibatasi dalam konsep yang kami usung.

Saladbowl is my baby, I want my baby grows a great man of knowledge.

Hal lain yang kadang jadi kerepotan reviewer adalah masih banyak penulis yang tampaknya tidak mengacuhkan kaedah penulisan yang telah dibakukan EYD. Dengan alasan ‘tren’ atau ‘begitulah tipe tulisan yang ada di novel-novel yang dia baca’, beberapa penulis nggak menghiraukan fungsi imbuhan atau kata depan (ini kasus yang sering sekali ditemukan) yang membedakan kata pasif (ex. di- ditulis disambung) dan penunjuk keterangan (ex. di- ditulis terpisah). Imbuhan kepemilikan (-ku, -mu, -nya) ditulis terpisah, padahal harus disambung, atau peletakan tanda baca dalam dialog yang berantakan. Aku nggak tahu novel-novel macam apa yang mereka baca, tapi harus kuberitahu, bahwa novel yang baik pasti akan memperhatikan EYD dengan detil. Dan nggak semua tren, atau hal yang diikuti orang banyak itu hal yang benar.

Kadang ketika menemukan kasus seperti itu jadi bikin aku berpikir, apa yang mereka lakukan ketika di kelas bahasa Indonesia. I mean, pelajaran tanda baca dan menulis narasi juga dialog seharusnya jadi materi di SMP atau di SMA, kan?

Nggak tahu juga deh.

.

Kuakui bahwa tulisanku bukan sesuatu yang sangat sempurna. Aku bukan master ahlinya dalam menulis, dan aku yakin banyak di luar sana penulis yang jauh lebih bagus daripada aku. Tapi mungkin seperti kamu, atau nggak, aku pernah mengalami proses belajar panjang yang menghabiskan waktu berbulan-bulanku untuk membedah habis seluruh tulisanku. Aku pun pernah mengalami masa di mana seluruh tulisanku diacak-acak dengan garis merah dan diganti dengan kalimat-kalimat baru, lalu komentar pedas dalam sistem review di word.

Aku bertemu dengan seorang guru, mentor, pembimbing dan juga teman yang membantuku untuk menulis dengan jauh lebih baik. Segala kritik dan sarannya kujadikan cambuk, sebuah pelajaran besar tentang bagaimana caranya menulis dengan kalimat yang efektif, bagaimana menbuat narasi nggak bertele-tele, bagaimana memperdalam karakterisasi sebuah tokoh dengan membedah kehidupannya tanpa terkesan curhat. aku belajar apa itu resonansi metafor, penerapannya pada narasi, apa itu tone, voice dan passage. Dia, yang jauh lebih strict dibanding profesor pembimbing thesisku, tanpa dia aku nggak akan menjadi siapa aku sekarang. Dan karena fase turning point menulisku itu, aku ingin membagi ilmu yang sudah kupelajari dari dia pada orang-orang yang mengirimkan naskahnya untuk kureview.

It’s hard, aku tahu. Tapi aku berusaha untuk tetap netral dalam membaca, dan berkomentar sebaik mungkin—meski kadang mungkin masih tetap aja menyinggung beberapa pihak (ini tergantung yang dikritik bisa menerima atau nggak sih). Kuharap dengan tulisan ini, kamu mengerti bahwa sebagai seorang penulis, kita juga nggak bisa sembarangan dalam membagi imajinasi yang kita miliki. Kurasa aku sudah mengatakan ini berulang kali, bahwa kita memiliki tanggungjawab untuk memastikan bahwa orang-orang harus membaca cerita yang sesuai dengan umur mereka. Apa yang kita tulis akan menjadi pertanggungjawaban kita nggak hanya pada masyarakat, tapi juga sang Pencipta. Segala nilai kebaikan dan keburukan yang ada dalam tulisan kita dan pembaca yakini juga pelajari, itu adalah berkah dan dosa kita.

Karena itulah, mari kita berusaha untuk menulis, juga membaca yang baik-baik.🙂

.

.

Regards,

Dista Dee.

18 comments

  1. Terima kasih ka dista, ini sangat membuka mata saya, memang benar menulis yang kemudian tulisannya dibaca orang banyak itu tidak mudah, ada moral yang diemban, karena sadar atau tidak, bacaan yang kita baca berpengaruh pada kita dan para penulis mestinya menyadari hal ini bahwa masa depan bangsa juga ada pada mereka, tanpa mereka sadari mereka juga turut mencetak tingkahlaku generasi khususnya kaula muda..

    Ada banyak bacaan yang aku baca —khususnya fanfiction yang lebih pantas disebut porn story ketimbang fiction dan yang lebih mencengangkan penulisnya itu di bawah umur, saya sungguh kaget dan sedih.

    Sekarang ini era digital, orang lebih banyak dan lebih suka membaca online lewat HP atau tablet mereka ketimbang berat – berat membawa buku yang tebal, dan dunia maya itu dunia tanpa batas sehingga individunya sukar untuk dimintai pertanggung jawaban, jadi buat para penulis setidaknya berikan tulisan yang membangun pada para pembaca.

    NB : kata-kata don’t like don’t read itu sungguh tidak berpengaruh. Hahahahah

  2. Halo kak Dista, ini pertama kalinya aku berkunjung di blog kakak dan barusan baca tulisan ini. Dan setelah baca ini membuatku menjadi semakin paham gimana baiknya memilah dan memilih sebuah bacaan yang pantas maupun tidak pantas untuk dibaca sebelum waktunya.

    Jujur aja, sebelumnya aku cuma baca fanfiction untuk sekedar memuaskan hasratku semata pada idol X dan Y semata.
    Tapi dengan seiringnya bertambahnya umur aku juga mulai pilih-pilih gimana sih fanfiction yang patut aku baca dan pantas kuambil pesan moralnya. gak cuma sembarangan baca karena cast ff itu idol kesayanganku.

    mengenai fanfiction yang terkadang lebih menuju ke cerita nc kadang buat aku sedih karena pembacanya justru lebih banyak ketimbang fanfiction yang mempunyai nilai-nilai moral yang bisa diambil. Mereka mungkin gak kepikiran atau apa ya kalau baca sesuatu hal yang berbau porno dapat merusak sel-sel otak? terus yang lebih menyedihkan lagi, terkadang si pembuat cerita nc itu sendiri dirinya belum cukup umur T___T
    Kalaupun tulisan tersebut memang harus diberi adegan ‘dewasa’ mereka memang memproteksi tulisannya, tapi kadang pemberian password pada pembaca kurang ketat dan hanya mengandalkan jika ingin password harus komentar di part xxx dan xxx.

    dan untuk permasalahan ttg EYD di fanfiction. aku setuju banget sama kak Dista. Mereka mungkin lebih memperhatikan isi dan jalan ceritanya ketimbang bagaimana kepenulisan EYD yang baik dan benar. Padahal seapik apapun sebuah cerita kalau penulisannya acak-acakkan dan nggak sesuai kaidah kepenulisan itu buat mata sepet bacanya. Bayangin aja kalo lagi asik baca novel dan sebenernya ceritanya bagus eh ditulisannya malah ada emoticon nggak jelas kayak bahasa SMS.
    Dulu pun pas aku sekolah juga sama aja, temen-temen kalo lagi pelajaran Bahasa Indonesia pasti paling males, selalu ngeremehin. Padahal kalo ditilik lagi, mana ada murid yang nilai UN Bahasa Indonesianya 100. Kalau pun ada pasti cuma segelintir dari banyaknya orang.
    Walau tulisanku dan pengetahuanku tentang sastra belum bagus dan malah cenderung masih jelek setidaknya aku mau berusaha agar bisa meningkat nantinya. Maka dari itu aku perlu orang-orang macam kakak yang bisa jadi cambuk semangat.

  3. Menulis sesuatu yang ‘seolah-menjual-mimpi’ itu mungkin suatu tahap dalam masa menulis ff, Kak. Percaya atau tidak, tulisan-tulisan seperti itu yang bikin aku antipati dengan fanfiction pada awalnya, sampai akhirnya pikiranku terbuka karena membaca ff-ff lain mengandung misi yang baik. Mungkin karena aku dulunya tahu cerpen dari majalah Bobo, Annida, Ummi, dan majalah lain yang edukatif, aku jadi terbiasa untuk memilih cerita yang ‘bernas’.

    Saat baru-baru menulis ff, aku hampir nggak punya patokan belajar, kalaupun ada, sedikit sekali. FF yang kukenal rata-rata berisi interaksi antara sang idola dengan fans. Namun, aku tetap pegang prinsip untuk sebisa mungkin memasukkan nilai moral dalam ffku, walaupun gaya menulisku waktu itu masih nggak karuan. Barulah pelan-pelan mulai ada perbaikan, seiring semakin banyaknya fiksi yang kubaca dan semakin banyaknya umpan balik dari pembaca yang cerdas.

    Mungkin butuh waktu bagi para penulis untuk masuk ke fase ‘menulis secara bertanggung jawab’ itu, tapi tentu akan lebih baik bila perubahan itu nggak perlu menunggu waktu lama.

    (sebenarnya masih banyak yang pengen kutulis, tapi lagi mandek🙂 Yang jelas aku suka dengan tulisan ini dan sependapat dengan Kakak :))

  4. Ijin share tulisan ini, biar bermanfaat untuk temen-temen yang ingin jadi penulis baik. Karna aku tahu jadi penulis itu tidak mudah, selain karna bakat yang mudah untuk menyalurkan imajinasi di pikiran tetepi harus ada ilmu juga untuk menjadi seorang penulis yang benar-benar penulis.

  5. Yap, kak Dista aku setuju banget sama pemikiran kakak di tulisan ini. Aku juga setuju sekali tentang bagaimana kak Dista dkk mau berusaha untuk menjaga kualitas tulisan saladbowl (karena percaya atau nggak, menurutku saladbowl adalah satu-satunya tempat nongkrong favorit aku untuk nyari bacaan yang berkualitas dan menghibur) Dan aku (uhuk) bangga bisa jadi salah satu kontributor yang sempat mengirimkan tulisan aku ke saladbowl. Semua review yang kakak-kakak berikan membangun sekali, itulah sebabnya aku nggak merasa ribet atau gimana ketika aku mengirimkan tulisan ke saladbowl🙂

    dan, iya kak. sekarang agak jarang untuk menemukan sebuah tulisan (khususnya fanfic di dunia maya) yang masih menulis berdasarkan eyd. kadang malah cuma berbentuk percakapan-percakapan – yang kayaknya lebih bagus dibikin drama daripada fanfiction. moral yang diselipkan juga terkadang sedikit, walau mungkin tujuannya cuma menghibur.

    tulisan ini bener-bener meluapkan apa yang ada dipikiran aku juga selama ini. and thanks to kak Dista yang sudah menulisnya dengan bahasa kakak.🙂

  6. Halo kak Dista Dee, aku tahu artikel ini dari temanku. Panggil saja Dan, aku seneng dia share artikel kakak ke aku karena aku sependapat dengan apa yang kakak utarain di atas. Aku juga merasa kalau banyaknya fiksi yang ditulis seringkali kurang memperhatikan EYD padahal ide mereka sangat bagus. Padahal kalau saja mereka lebih memperhatikan EYD pastinya tulisan mereka akan jauh lebih menarik. Aku tahu aku juga belum terlalu pantas ngomong kayak gini karena aku sendiri masih seringkali dapat pengoreksian dalam EYD-ku. Tapi aku sebagai pembaca sangat berharap kalau mereka lebih memperhatikan EYD, karena menurutku EYD juga salah satu seni dalam kesusastraan. Ah, sudahlah aku makin melantur nanti. Aku harap di kemudian hari kakak bisa share sesuatu kayak ini lagi.

    Salam, wafer

  7. I agree..
    Kadang ni ya, aku pas abis selesai nulis, terus di edit dan di resapi dalem-dalem, coba di mengerti dari berbagai sudut pandang, mentoknya di… yang aku tulis ini bener-bener bener nggak ya? yang di tulis ini dampaknya gimana ya? entar gimana ya? entar apa ya yang mesti di pertanggung jawabkan…

    Dan untuk EYD, aku juga masih belajar, dan tentu aja masih banyak yang salah… tapi ya gitu siih, sambil jalan :p

    Dan yang Kak Dista bagi ini perlu di pahami sama para penulis…😀

  8. hai chingu

    aku setuju sama tulisan kamu

    apa lg sekarang banyak banget FF beranting 17 atau lebih tapi aneh nya malah banjir komentar sedang kan yang biasa tapi bagus malah sedikit banget komentar nya

    bagi aku sih FF adalah hiburan semata yang kadang memperbaiki mood ku

    tapi banyakan yang nulis FF yang berating 17 ke atas di bawah umur dan itu buat aku kaget karena koq dia nekat nulis gituan

    padahal umur nya belum cukup

    tapi kalau nemuin kasus kaya gitu emang engga awam karena mereka pasti nyontoh tulisan dari arthor lain

    apa lg tulisan kaya gitu engga di protect dan pas di kasih pass nya malah di kasih cuma2 entah lah

    tulisan kamu emang bener2 bermanfaat

  9. Udah lama banget nggak main ke blog ini. Biasanya aku suka cari rekomendasi buku, musik atau bahkan blog lain dari blog kakak.

    Baca post-an kakak yang ini aku setuju banget. Nggak hanya penulis, sebenernya pembaca juga harus dididik dengan baik. Aku masih nggak paham, ada anak SMP-SMA yang baca fiksi di luar umur mereka. Beberapa orang yang aku kenal dengan bijak menanggapi, “ini nggak bisa dibaca sama aku kak, ini novel dewasa” dan beberapa lain bilang “selama nggak ketahuan ya nggak apa-apa”, ini miris banget kak.

    Selain itu, kebanyakkan penulis sekarang emang lebih memperhatikan ‘isi’ atau ‘tema’ yang dipakai. Akusih sebnernya nggak mempermasalahkan, toh ya imajiinasi-imajinasi mereka gitu. Tapi aku mikir lagi, yang baca ‘kan bukan dia aja, nggak susah buat nyari cerita itu apalagi sekarang ada internet.

    Itu juga jadi alasan buat aku stop publish cerita tanpa lolos sensor dari teman-temanku. Kalau mereka biling ini bisa dibaca semua umur, aku akan publish itu. Kalau nggak, aku konsumsi sendiri aja.

    Orang-orang nggak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Beberapa kali aku kritik author yang kayaknya ngomporin readersnya buat benci sama author lain. Aku bilang “kak, salahnya kakak itu ngejelek-jelekkin author itu” dan yang lainnya sih. Aku fikir dia nggak bales pesan aku, taunya dia maki-maki aku karena aku dianggap sok tau. Aku jadi intropeksi diri, apa aku disini yang salah ?

    Kesimpulan dari cerita itu sih sederhana, terkadang nggak dari tulisan yang disampaikan author itu yang harus dikendalikan. Tapi sikapnya juga kak, jangan sampai karena kita (sebagai author) benci dan mengutarakan kebencian kita terhadap suatu khalayak, membuat readers kita membenci apa yang kita benci juga. Seperti yang udah aku sampaikan, aku nggak cuma dapet kalimat sinis dari si author itu, melainkan dari readersnya juga yang ngeliat percakapan kami di sebuah status blog.

    Aku harap, banyak readers juga pernulis yang sadar akan hal ini. Alangkah lebih baiknya jika kita menulis dengan baik dan menyampaikan kebaikkan melalui apa yang kita tulis🙂

  10. Kak Dee, akhirnya aku menemukan orang yg bener2 mumpuni dalam tulisan. Kenalin kak, aku Aileen Oka. Dari blog sebelah, akupun sama setiap ff yg kutulis aku masukin bnyak pengetahuan umum, mencerdaskan pembaca lwat tulisan. Maukah kau berkunjung ke blog ku? Simple, karna banyak yg mendesak aku bikin novel dlam artian bner2 novel, bukan novel fanfiction. Tapi aku masih butuh editor yg ahli. Stidaknya menilai dri satu karyaku utk meyakinkan aku bikin novel.
    Bersediakah kak?

  11. Halo kk,aku readers yang bisa dibilang nyasar ke wp ini.Awalnya aku sempat bertanya – tanya kenapa di wp ini sedikit fanficnya?aku kira ini hanya sebuah wp pribadi.Tapi setelah dilihat – lihat,inilah wp yang aku inginkan dari dulu…

    Nge-post fanfic yang enggak sekedar nge-post,kurasa aku akan bakal jadi reader setia disini🙂
    Kak,aku juga seorang author.Apa yang kakak tulis diatas memang mencerminkan keironisan di dunia maya tulis menulis apalagi di bidang fangirl.Ada yang menulis fanfic dan menuangkan semua imajinasinya.Tapi sayangnya,imajinasi itu bisa liar.Dan ironisnya bacaan itu bisa jadi tidak layak bila yang membaca masih dibawah umur…

    Melihat perjuangan kakak bisa membuatku mengerti bahwa menjadi seorang penulis juga butuh perjuangan tinggi.Koreksi orang – orang yang membaca karya kita kadang membuat nyali ciut,merasa tak pernah benar atau selalu gagal.Tapi melihat kegigihan kakak ataupun pengalaman kakak,tadi,ternyata itu hanya bagian dari sekian banyak tempahan untuk membuat kita menjadi lebih baik…

    Terima kasih atas pengalamannya…
    Aku harap aku bisa belajar banyak dari kakak🙂
    Salam kenal🙂

  12. Halo kak😀
    aku setuju banget sama tulisan kakak yg ini kalo kita hrs mencantumkan setidaknya sedikit pelajaran ttg hidup buat readers… i really work hard for it, tapi emang susah -_- iya kak susah seperti yg kakak bilang😦
    sebisa mungkin sih aku nyempilin tentang pelajaran hidup di ff yg aku tulis, mau itu tersurat atau tersirat, berharap bgt readers ada yg nyadar sama itu🙂 /semoga ada/

    dan aku suka pingin mereview karya2 author lain yang aku temuin. udah sering sih sekarang. ya ngasih tau tata letak kesalahan mereka dan berusaha memperbaikinya.. sbenernya aku lebih pingin industri penullisan di negara kita ini membaik. bukan sekedar tulisan biasa.
    kadang juga aku kalo baca ff yg tanda baca nya, duh maaf, kenapa berantakan banget /sebenrnya aku juga masih belum bagus =_=/
    sekarang sih aku ngerasa udah zamannya utk aku memperbaiki, bukan cuma baca tanpa mau membantu mereka …

    makasih kak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s