Rainbow Rowel “Fangirl” — buku untuk para Fangirl :D

9781447263227

Judul Buku : Fangirl

Penulis : Rainbow Rowell

Penerbit : Macmillan’s Children Books

Cetakan Pertama : 30 Januari 2014

Tebal Buku : 460 halaman + bonus content, paperback

Harga : USD 11.72

.

.

.

Dengan sebuah quote backcover, ” She would rather bury herself in the fanfiction she writes where there’s romance far more intense than anything she’s experienced in real life” aku memutuskan untuk beli buku ini ketika online shopping. Haha!

Cath berumur 18 tahun. Dia punya saudara kembar bernama Wren, dan mereka sedang bersiap memasuki kampus baru dengan kehidupan mereka yang serba baru.

Cath ingin tinggal sekamar dengan saudara kembarnya, tapi Wren ingin sebaliknya.

Wren ingin berpesta dan menghabiskan hari-harinya dengan kehidupan ‘selayaknya’ mahasiswa baru, tapi Cath sebaliknya.

Cath bukan gadis yang mudah bergaul. Dia—kalau kubilang—semi asosial, yang hobinya mendekam di kamar dan menulis fanfiction. Ha! Yeah, dia seorang fangirl fanatic sebuah karakter bernama Simon Snow (semacam Harry Potter plus plus) dan seorang author fanfic top hit cerita boy-love aka yaoi Simon vs Baz (karakter lawan di Siwon Snow, yang ternyata seorang vampir).

Diceritakan di sana bahwa serial fanfic yang sedang dia tulis, “Carry On, Simon” adalah fanfic top hit paling populer yang dibaca dan ditunggu ribuan pembaca dalam forum fanfic besar di Amerika. Di kala kesibukannya menjadi mahasiswa baru, dia masih berjuang keras untuk bisa menyelesaikan fanficnya ini karena menurutnya, ceritanya sudah harus selesai sebelum seri buku ke-8 Simon Snow, yang juga merupakan seri buku terakhirnya dipublish dalam beberapa bulan.

Yang menarik tentang Cath adalah gimana obsesinya dengan Simon Snow. Aku sempat bilang tadi dia fanatik, dan aku nggak main-main. I mean, kita sebut fangirl macam apa yang punya sekian banyak poster Simon Snow berbagai versi di dinding kamarnya, bahkan dia punya fanart Simon x Baz in love yang akhirnya dia bawa ke kampus dan dipasang di dinding asramanya. Hampir seluruh kaos yang dia punya dan setiap hari dia pakai bergambar Simon Snow, laptop wallpapernya Siimon Snow, sampai gaya bicaranya pun tertular aksen Inggris gara-gara Simon Snow (she’s American by the way). Ditambah lagi dia menulis fanfic tentang Simon, and she’s ruling it!

Aku melihat beberapa hal yang familiar di dalam cerita ini ketika aku baca novelnya. I mean, bagaimana kehidupan seorang fangirl bisa menyerap habis seluruh jiwa dan raganya hanya untuk mendukung dan menggilai satu tokoh tertentu, dan bagaimana kehidupan penulis fanfiction itu sendiri. Bahkan di beberapa adegan tertentu, aku seolah melihat aku sendiri dalam sosok Cath ini. LOL.

Aku suka bagaimana Rowell merefleksikan jiwa fangirl Cath dalam obesesinya yang menahun, dan nggak ada habisnya. She did a very good job in researching fangirling daily life. Konon katanya, ketika nulis novel ini dia banyak banget membaca karya-karya fanfiction dari seluruh dunia, dan begitulah dia bisa mengisahkan keseharian Cath yang selalu dikelilingi oleh Simon, dengan deskripsi yang tepat. Haha. Serius, pernyataan dia tentang beberapa hal yang berkaitan pada obsesi fangirl itu familiar banget, dan comical. Ini membuat—sebagai seorang fangirl dengan level jauh di bawahnya—aku kadang jadi geleng nggak habis pikir dan ber ‘Oh my God’ tiap kali koleksi Cath akan Simon terus bermunculan. Dan selalu aja ada yang baru.

Lepas dari kehidupan fangirlingnya, aku juga suka melihat konflik yang berkembang di dalam buku ini. Tidak hanya tentang Cath dan dunia imajinernya sendiri, tapi juga melibatkan dia dengan cinta pertamanya (cowok jangkung yang selalu tersenyum, yang Cath kira adalah pacar teman sekamar asramanya), konflik sama saudara kembarnya yang tengah mengalami krisis penemuan jati diri, dengan ayahnya yang menderita depresi akut, dan dengan ibunya yang sudah lama meninggalkan mereka. Tapi yang paling aku suka dari semua konfliknya, kurasa adalah saat seorang profesornya di kelas Menulis Fiksi (seriously, andai aja kampus-kampusku dulu punya mata kuliah ini. I’d be so rigorously joining the class! S**t!!) mencoba membimbing Cath untuk bisa keluar dari dunia fanfictionnya.

Terbiasa menulis fanfic, Cath terlalu percaya diri untuk submit naskah fanficnya buat tugas kelas Menulis Fiksi yang diharuskan untuk menulis naskah orisinil. Dia nggak pernah menyangkan bahwa keputusannya itu dinilai sebagai plagiarisme oleh sang profesor (yang sebelumnya sangat mengagumi dia karena tulisannya yang luar biasa, dan udah mengantisipasi besar buat naskah tugasnya saat itu). Cath gagal paham kenapa tulisan fanficnya disebt plagiat, karena dia merasa seluruh plot yang dia tulis adalah hasil imajinasinya sendiri. Ini yang akhirnya menjadi konflik yang cukup bikin dia down selama berbulan-bulan, karena di sana dia akhirnya diharuskan untuk membuat satu tulisan sebagai 10.000 kata dari tokoh dan plot orisinil, dan Cath merasa dia nggak bisa nulis cerita baru kalau bukan fanfiction.

Catatan tambahan, bahwa fanfiction sesungguhnya bukan karya yang legal bila dinilai dalam lingkup akademis dan praktis. Secara teknis (bila karya itu berasal dari buku, film atau game) kita mengambil hak cipta para author/pencipta akan tokoh, karakter, dan plot mereka dan menyuntingnya menjadi dunia rekaan yang telah kita manipulasi. Kalau hanya ditulis dan diterbitkan dalam blog pribadi, atau dalam forum di kalangan tertentu, ini menjadi sebuah hiburan untuk para fandom. Nilainya akan berubah bila seseorang berniat untuk menerbitkannya dalam ranah akademis, dan untuk komersil.

Aku juga suka bagaimana cerita ini diakhiri dengan cuplikan novel asli Simon Snow, dan juga tulisan fanfiction dari Cath. Dalam beberapa bagian, cuplikan-cuplikan novel asli dan fanctionnya kadang selalu dilampirkan dalam halaman tersendiri untuk pemisah bab. Ini seperti cerita dalam cerita, dan kita membaca dua sampai tiga dan lebih cerita dalam satu plot yang berkembang. Tulisan orisinil Cath menjadi penutup novel, sebuah cerita yang diterbitkan oleh jurnal sastra kampusnya yang beken dan bergengsi, di mana hanya tulisan-tulisan tertentu aja yang bisa muncul di sana.

Aku rekomendasiin buku ini untuk kalian yang suka cerita tentang para remaja yang tengah beranjak dewasa, cerita tentang teman dan keluarga, persaudaraan yang intim, ditambahi dengan bumbu-bumbu romance yang manis tapi juga menggelikan di saat yang sama, hehehehe. Novel ini sebenarnya direkomendasikan oleh para pembaca Eleanor & Park, novel karya author yang sama. Dan terus terang aja, karya Rowell ini bikin aku jadi penasaran sama karya pertamanya. Ha!

Selamat membaca!😀

11 comments

  1. emmm… Mau info aja kak dee. Times ganti nama jadi Books & Beyond. Dan di perpustakaan kampus aku ada toko buku itu yeay~ (yang terakhir agak gak penting. Maaf)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s