Fanfiction is NOT for SALE.

Fan fiction is what literature might look like if it were reinvented from scratch after a nuclear apocalypse by a band of brilliant pop-culture junkies trapped in a sealed bunker. They don’t do it for money. That’s not what it’s about. The writers write it and put it up online just for the satisfaction. They’re fans, but they’re not silent, couch-bound consumers of media. The culture talks to them, and they talk back to the culture in its own language. —Lev Grossman, TIME, July 07, 2011

================================

Kalau melihat dari kutipan di atas aja, kita sudah bisa melihat kepentingan dan tujuan awal ditulisnya sebuah fanfiction, atau dalam bahasa Indonesia kita sebut sebagai fiksi penggemar.

Fanfiction nggak punya perlindungan hukum karena karya para penulisnya memakai elemen yang hak ciptanya telah diklaim oleh para penulis/pemilik asli (bila karya tersebut adalah sebuah fanfic dari buku/film yang telah ada). Karena itulah dalam penulisan fanfiction, sudah menjadi sebuah kewajiban adanya ‘disclaimer’ untuk menyatakan bahwa tokoh-tokoh atau canon yang tertera di dalam cerita ini bukan milik sang penulis fanfiction.

Dan itu juga yang menjadi dasar bahwa fanfiction tidak diperbolehkan untuk dipublikasikan dalam media cetak dan diperjualbelikan untuk meraih keuntungan.

Tapi ada satu hal lain yang jadi kontroversi sekarang. Sejak KPOP menyerang negeri Indonesia, udah menjadi tangkapan mata yang biasa kalau kita pergi ke toko buku, buku-buku dengan label ‘fanfiction story’, ataupun ‘buku fanfiksi’ bertema Korea cover idola-idola KPOP. Idola-idola ini pun juga menjadi tokoh dalam tulisan di buku-buku itu.

Aku nggak pernah baca buku-buku ini sih. Makanya kadang aku menanyakan, apakah mereka juga menyertakan disclaimer di halaman pertama/terakhir buku ini. Dan yang paling bikin aku ingin tahu: bagaimana bunyinya?

Kalau di blog-blog online, kita akan selalu melihat disclaimer bahwa para penulis hanya memiliki hak cipta akan plot yang tertulis. Dan tidak ada keuntungan yang diambil untuk karya-karya yang telah dipublikasikan di sana. Seperti disclaimer yang ada di blog Saladbowl ini:disclaimer

Kalau kita bicara tentang karya yang punya hak paten, seperti novel yang sudah terbit, atau film yang pernah dirilis, akan kelihatan jelas pelanggaran hak akan karya seseorang di sana bila ternyata fanfiksinya dijual di pasaran. Tapi gimana sih kalau kasusnya sekarang adalah bila yang dipakai adalah orang beneran? Seperti para idola-idola—nggak cuma KPOP aja, tapi juga seluruh selebritis di dunia.

Aku termasuk seseorang yang berpikir bahwa tidak dibenarkan fanfiction atas karya apapun dan tokoh siapapun yang terkenal diterbitkan dan diperjualkan, mau itu oleh penerbit mainstream/non-mainstream atau self-publish, karena tujuan awal fanfiction ini ditulis hanyalah sebagai sebuah wujud pengekspresian ide.

Dengan menjual karya fanfiction, ini berarti kita telah mengambil untung dengan memanfaatkan nama seseorang. Kecuali orang yang kita pakai namanya itu dapat royalti dari hasil bagi keuntungan, okelah itu urusan beda. Tapi aku yakin para penerbit yang menerbitkan karya-karya semacam itu pasti nggak melakukannya.

Oke. Para penulis dan penerbit bisa berkilah bahwa novel itu tidak merefleksikan sang selebriti yang diceritakan. Lalu, bagaimana dengan wajah mereka yang dipakai menjadi cover di buku itu? Ada yang namanya endorsement, ketika seorang selebriti menjadi brand ambassador sebuah produk, dan produk ini memakai muka mereka, memasangnya di mana-mana dalam iklan. Dan selebritis itu dibayar selama mukanya masih dipakai.

Bagaimana pertanggungjawabannya akan hal ini?

Kalau memang cerita itu tidak merefleksikan selebritis dengan nama tertentu, maka seharusnya nggak perlu pakai kata embel-embel “fanfiction story” atau blablabla. Dan tidak perlu mereka memakai wajah sang selebritis tertentu ini untuk menjadi cover dalam novelnya hanya untuk menarik perhatian para remaja labil yang akan histeris saat melihat muka selebritis favorit mereka terpampang di sebuah buku.

Sayang banget karena efek sebuah invasi kultur ternyata dimaanfaatkan oleh penerbit-penerbit tertentu yang sembrono dalam mengembangkan sasaran pembaca mereka. Ketika dulu buku adalah sebuah media komunikasi akan refleksi kehidupan masyarakat, dan juga sebagai media pendidikan moral dan sosial, kini beberapa buku hanya diterbitkan untuk mencari keuntungan materi semata.

Tugas kita, para pembaca budiman, untuk lebih bijaksana dan pintar dalam memilih buku yang ingin dibeli. Apapun, yang penting nggak mendukung kepentingan beberapa golongan yang tidak bertanggungjawab. Masih banyak cara untuk mendukung karier penulis kesayangan kamu dengan cara yang jauh lebih baik lagi.🙂

.

xoxo.

43 comments

  1. iya… bener banget. aku memang pernah mikir sama kayak gini !
    ada satu blog fanfic, salah satu ceritanya itu yaa emang bagus bget… tpi pas endingnya kita diharuskn untuk beli bukunya klo mau baca.. ya sakit hati lah -________- udah komen pnjang lebar di setiap chapter eehh ujung-ujungnyaa harus beli dulu😐

  2. Konbanwa Neesan🙂
    siiiipppp setuju sama kakak , ini tuh postingan yg sgt pintar😀

    terkadang yg namanya hak selalu di jdikan pembenaran utk mlakukan hal” yg bkn pd tempatnya.
    tnp paham akan yg namanya tanggung jawab..

    dan benar sekali kata kakak, bahwa pembacapun hrs lebih bijak.

    thank u kakak…

  3. waaah, aku sama sekali nggak kepikiran tentang ini waktu lihat banyak fanfiction yang diterbitkan di toko buku. dan pas baca, iya juga ya. kalau misal majang muka artis, berarti kudu ngasih royalti karena itu kayak iklan kan? huaaa. tapi sebetulnya beli fanfiction yang udh dijadikan novel itu menurutku buang2 uang juga, jd lebih enak online internet dan cuuusss… baca ff gratis di blog xD

  4. Bener juga ya, fanfiction mestinya ga bisa mengambil keuntungan komersil karena si sumber inspirasi pasti dan mestinya mendapatkan keuntungan dari publikasi yang ada. Thx Dis.🙂

  5. Memang dari namanya sebenernya sudah ketahuan, sih. Namanya aja fanfiction, cuma menyalurkan perasaan suka terhadap idola dalam bentuk cerita aja, gitu. Setuju banget sama artikel ini.

    Pas terakhir kali aku ke toko buku, sepertinya buku-buku fanfiction sudah mulai banyak yang diterbitkan. Nggak tau juga, sih mulai kapan. Btw, aku dulu pernah beli buku fanfiction itu. Aku kira udah legal karena penerbitnya lumayan besar. Tapi akhir-akhir ini aku jadi tahu bahwa fanfiction itu tidak untuk dijual. Lagipula aku juga bisa baca tulisan serupa di internet, walaupun masih kepo sama yang ada di buku itu.😄

    Akan lebih baik kalau storyline nya tidak menyangkut para idola, dan berbentuk fiksi biasa gitu. Habis, lama-lama kan bosen juga ngeliat muka idola di sampul. Berasa liat poster fanfiction. Hehe..

    Boleh di reblog, kah kak?🙂

  6. Gak pernah kepikiran sejauh ini. Dan mengenai salah siapa? sebenarnya gak ada yg salah si, tp sebenarnya sebagai penulis yg ingin menerbitkan buku seperti “itu”, atau sebagai penerbit, seharusnya memang saling mengoreksi diri untuk membatalkan niat tindakan seperti ini, atau saling mengingatkan boleh juga tuh. Atau juga sebagai penerbit jgn asallah nerbitin bukunya, bila kejadiannya udah kaya gini kan yang repot juga penerbit apalagi penulisnya, tanggungjawabnya’kan pasti besar. Apalagi nih kalau penerbitnya itu penerbit ternama.

    Betul juga yang kakak bilang, kita sebagai pembaca juga harus lebih teliti dan hati-hati:’)

  7. Setuju pake bgt deh sama kaka’! Emang ak pertamanya juga bingung, sebenernya ff itu boleh di publish secara luas lwt buku atau ngga sih? Ternyata ngga boleh. Untungnya ak udh baca postingan kaka’, jadi lebih tau tentang hukum yg berlaku di Indonesia ini. Keep writing!

  8. Setuju banget Kak… Makanya aku kaget banget pas nemu banyak Novel dengan gambar Artis korea di Toko Buku (Toko buku besar lagi).

    Mereka untuk jadi cover majalah aja dibayar, sekarang masa untuk jadi cover novel apalagi jadi pemain utama di novel itu masa gak dapet apa”? Gimana kalo sewaktu” mereka nuntut?

    Izin Re-Blog ya Kak…😀

  9. Saya nyasar ke blog ini,dan langsung nemu tulisan cerdas dan berbobot ini. Saya setuju dengan pemikiran author, zaman sekarang yg dipikirin orang2 cuma keuntungan yg akan diperoleh aja, tanpa mau repot2 memikirkan tentang etika memakai muka artis sbg sampul bukunya. Aduh saya pengen bicara panjang lebar soal hal ini, tp bingung harus bicara yg mana dulu…hehehe..oh ya, salam kenal ^^

  10. setuju bgt …skrg makin byk aja ff yang dijual…diposting bbrp chap n kalo mau baca lanjutannya mesti beli….itu bukannya salah satu pemanfaatan nama artis untuk kepentingan dan keuntungan pribadi…

  11. assalamualaikum, Kak Dista..
    aku mau konsultasi dong, boleh?🙂

    gini kak.. jadi ceritanya kan aku bikin ff chaptered di salah satu blog.. blog bersama sih, cuma aku jadi author tetap di sana..
    nah, alhamdulillah di blog itu ceritaku lumayan ramai dikunjungi..
    selang beberapa waktu, tiba-tiba aku dapet laporan kalo ada cerita di blog lain yang “sama” dengan cerita aku..
    nah pas aku kroscek ke sana, aku lumayan kaget karena ternyata kutipan (summary) di ff tersebut nyaris mirip sama ff aku yg udah terbit lebih awal.. hanya sama si author itu rada dipendekin, sedangkan punya aku summary-nya lebih rinci..

    terakhir aku pantengin, dia udah sampe 3 chapter atau 4 gitu..
    nah, sebenernya dia ngga kopas-kopas banget sih.. hanya saja banyak point-point yang agaknya dibikin sama oleh dia..
    tokoh utama (si idol boy) yang dipake sama kayak ff aku, lawan mainnya pun sama-sama OC.. cuma buat tokoh sampingan yang lain dibikin beda gitu sama dia..
    sampe sekarang pun aku belum tahu persis itu pantas disebut plagiat atau bukan..

    pernah sekali aku dan beberapa orang teman yg mau membantu, mencoba nanya ke si author itu.. tapi dia jawab komentarnya pake bahasa klise, kak..
    kurang lebih dia bilang gini, “oh, aku minta maaf kalo ceritanya sama atau gimana. Tapi cerita ini murni dari hasil pemikiran aku.”
    dari jawaban seperti itu, aku merasa lelah buat ngejar-ngejar dia lagi -.-

    ngga cuma sekali, aku bahkan beberapa kali nemu laporan dari pembacaku kalo ada ff lain yang “sama”..
    terakhir aku dapet laporan, dia bilangnya “sama banget”, dan pas aku balik tanya ke dia judulnya apa, dia belum balas komentarku lagi sampai sekarang.. aku jadinya bingung mau stalk kemana..

    sampe timbul lah ide kalo aku pengen nerbitin karyaku aja.
    tapi tiba-tiba aku inget artikel Kak Dista yang ini, dan aku seketika jadi bingung apakah ideku buat menerbitkan fanfiksi itu jadi lanjut atau engga..
    bukannya aku ingin mendapatkan nilai komersial dari ff buatan aku, hanya saja aku kepengen dapet hak cipta.. supaya para plagiator itu ngga seenaknya asal comot cerita aku ataupun idenya..

    jujur sudah beberapa minggu ini aku kepikiran mulu.. posting cerita jadi terpaksa aku pending, karena aku memang lagi bingung dan jujur aku mulai kehilangan mood semenjak laporan plagiat atas karyaku semakin bermunculan..

    Kak Dista ada saran buat aku?

    1. Sebenernya untuk author online macam kita, gak ada yang namanya hak cipta. Karena sekali karya di-post di internet, karya itu bisa dibilang menjadi milik masyarakat.

      Aku pernah mengalami masalah seperti ini, dengan tersangka yg menjawab seenaknya seperti yg kamu sebut. Kalau dari cerita kamu, karya yang sama itu jelas plagiat, dan untuk membuktikannya kamu bisa menyandingkan dua karya ini dan dibandingkan bersamaan. Aku juga udah pernah bahas kasusnya di post setahun lalu, kamu bisa scroll down, kalau nggak salah judulnya semacam ‘antara plagiat dan terinspirasi’. Semoga bisa mendapat titik terang.🙂

      1. terimakasih atas bantuan Kak Dista, sekarang rasanya aku rada legaan😀

        nih kak, aku kasih contoh ya summary aku sama summary dia.. aku ngga bisa nyantumin screencaps di sini, jadi aku kasih kutipan aja.. menurut Kak Dista, ini summary-nya sama ngga :

        Punya plagiator : “Seorang yeoja 17 tahun terjebak dalam kesalahpahaman bersama seorang namja sedingin es”

        Punya aku : “Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.”

        Hm.. Gimana, Kak?

        terus juga buat point-point nya yg sama apa aja jujur aku udah banyak yang lupa kak..
        di cerita yang dia bikin, alurnya bisa aku bilang berantakan.. kecepetan gitu.. terus bahasa yang dipake dia juga banyak yang ngga baku..
        yang bikin aku cukup kaget lagi, ternyata ada beberapa ID komen di ff itu yang juga berstatus pembaca di ff aku..
        dilihat dari komentar mereka, banyak yg ngga peka kalo ada kesamaan cerita, bahkan hanya dilihat dari bentuk summary-nya..

        beberapa kali aku coba diskusi sama temen aku (dia yang pertama kali ngasih info aku soal ff plagiat itu), dimana aja kesamaan point antara ff aku sama ff si plagiat itu..
        pengembangan ceritanya nyaris sama, hanya aja ngga separah kasusnya Kak Dista yang dibahas di judul artikel waktu itu..

        awalnya aku rajin stalker ff itu, cuma semenjak masuk sekolah lagi selepas liburan, aku kehilangan jejak.. ngga tau deh author itu masih ngelanjut atau ngga😦

      2. sebenarnya kalau dilihat dari summary itu aja nggak bisa jadi takaran plagiarisme sih, soalnya yang sama hanya kata ‘kesalahpahaman’ dan ‘terjebak’. Kamu memang harus punya sample yang lebih detil lagi untuk dibandingkan, dengan begitu lebih mudah buat pembuktiannya.

        Sebenarnya akan lebih mudah kalau kamu punya massa yang besar untuk bantu kamu menyebarkan analisis kamu di media. Seperti yang post yang aku tulis sebelumnya, dengan satu artikel perbandingan itu aja sudah cukup bikin si tersangka menghapus seluruh fanfictionnya di dunia maya.

        Good luck!

      3. ah ya.. kayaknya aku perlu bikin screencaps perbandingannya ya, kayak postingan Kak Dista yang itu..

        oke kak, buat saran kakak nanti aku coba..
        terimakasih banyak atas sarannya ya, Kak Dista🙂

  12. aduuh makasih banyak deh kak buat postingan ini😀

    awalnya aku mau bikin novel emang dari tokoh idola aku, dan berakhir ngga jadi sih untungnya :p /file nya aja ilang -_-/ aku selama ini mikirnya emang kita boleh bikin novel dgn tokoh yg kita mau.. tapi pas mikir kalo ada iklan pake muka artis, si artis ini hrs dapet royalti yg sesuai

    pokoknya, makasih deh kak postingannya ^^

  13. bener banget sich say aku jujur aku juga punya beberapa novel fanfiction hanya covernya bukan facenya para idola aku ya tapi kalo mungkin nama yang dipake sich ada
    aku juga sempet mikir gimana ya royaltinya atau ini kemungkinan kalo para idol mereka tahu dan baca pastinyakan bakal ada something karna make wajah atau nama mereka
    ngeri aja kalo sampai urusan ama hak cipta (hukum)

  14. Adminn..
    Aku mau bikin buku tentang ff ‘-‘
    Castnya Eunhee sama Sungo 24k.
    Aku udah izin sama Sungo 24k lewat instagram dan udah dapet izin.
    Kalo udah kaya gitu, boleh di publish gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s