Insulted.

Aku tuh nggak pernah ya marah-marah sama pembaca. Dan kurasa toleransiku sama orang-orang yang nggak peka atau nggak tahu diri itu sudah tinggi, pake banget.

Selama ini aku juga nggak pernah banyak menuntut feedback apa yang aku inginkan dari banyaknya orang yang menikmati tulisanku, tapi mbok ya tolong, untuk sebagian orang yang merasa bisa melakukan apa aja di dunia internet, bahkan tata krama itu sangat perlu meski aku nggak ngeliat seperti apa bentuk rupa penampakanmu.

Sejak pertama kali aku mulai menulis di dunia online, mau itu fiksi ataupun dalam bentuk artikel blog, aku sama sekali nggak pernah yang namanya pencet icon ‘delete’ atau ‘trash’ untuk menghapus komentar seseorang. Selama ini aku sangat terbuka dengan berbagai komentar macam apapun, termasuk kritik yang disampaikan dengan baik dan nggak. Bahkan aku tetap membiarkan komentar orang yang memaki-maki tulisanku tetap bisa dinikmati pembaca lainnya, karena apa? Aku membiarkan orang yang menilai, bahwa karakter kamu bisa dilihat dari cara kamu meninggalkan pesan di tulisan seseorang.

Meski kadang beberapa komentar bikin aku berdecak dan nggak terima, tapi tiap komentar itu kujadikan pecut dan pengingat bahwa aku cuma manusia. Bahwa aku nggak sempurna, dan aku nggak mungkin mengharapkan semua orang menyukai apa yang kutulis atau ide yang kusampaikan (yang seharusnya untuk konsumsi komparatif dan nggak pernah bersifat persuasif). Hanya saja ada kalanya aku pun bisa bilang, enough is enough.

Pagi ini di blog fanfiction sebelah, tiba-tiba aja aku dapat komentar yang berisi seperti ini :

lapak

dan akhirnya setelah menimbang-nimbang sebentar, aku memutuskan untuk menghapus komen itu. I mean, hei, lo kira postingan gue lapak dagangan di pasar?

Bahkan orang dagang pun harusnya punya tata krama saat mau promosi barang yang dia jual. Ada instagram, ada twitter, ada facebook, kenapa harus nerobos ke rumah orang dan tanpa ada unggah-ungguh langsung nge-brukk-in barangnya gitu aja. Kalau memang niatnya mau nyari followers, kan bisa minta tolong promo onlineshop yang lebih populer di twitter? Atau masih banyak cara lain yang bisa dipakai daripada main lancang di postingan orang macam gini. Otaknya nggak dipake kali ya…o_O

Dan ternyata aku lihat dia juga meninggalkan pesan yang sama di sekitar dua post lain, yeah, nggak tau deh gimana komentar author yang dia tinggali pesan itu. Tapi anak ini memang… hih gregetan banget aku ngeliatnya!

Jadi mulai saat ini kurasa aku akan mulai membiasakan diri menekan tombol ‘trash’ ini saat menemukan komentar yang nggak penting macam itu. Komentar seperti: “Neeeexxxt”, “cepetan update ya thor, jangan lama-lama!”, atau “lanjottt!” …

iya, pake ‘o’ bukan pake ‘u’.

Dan kenapa aku delete? Karena, guys, this is an insult. Kalau kamu memang nggak tahu mau nulis apa, aku akan lebih menghargai kamu nggak nulis apa-apa daripada menulis sesuatu yang nggak relevan sama isi cerita yang aku tuliskan. Karena aku menulis fiksi secara online adalah untuk berbagi dan bercerita, bukan untuk jadi budak pemuas nafsumu.

Kamu nggak punya hak untuk mendikte apa yang harus aku lakukan dengan tulisan-tulisanku, atau menjadwal kapan aku bisa menulis dan nggak. Kecuali kamu ngebayar aku buat menulis semua itu, aku nggak akan masalah.

Kuharap, siapapun kalian yang selalu melakukan ini, dan bukan ke aku aja, tapi juga penulis yang lain, berhentilah. Nggak usah memancing-mancing hal yang nggak perlu dengan menyulut amarah karena kalian nggak bisa bersikap lebih dewasa dan nggak bisa menahan diri untuk tampak bodoh di dunia maya. Masih banyak cara yang bisa kalian lakukan cukup di dunia nyata aja, jadi nggak perlu ngerepotin banyak orang untuk menulis pemberitahuan semacam ini di berbagai media.

.

No apologies,

Dista Dee.

.

31 comments

  1. baru ini ngeliat kak dista bnr2 marah tentang komen. tp emang kebangetan. aku sering nemu tuh yg bknny komen malah promo. tp baru ini yg nemu jualan kaos.hehe
    dan sepertinya aku sudah banyak gak baca tulisan kak dista.
    sabar ya kak, tarik nafas panjang.🙂

  2. Ah setuju banget soal komen yang jualan gitu. Parah. Enak aja ngelihat blog sesorang rame trus tanpa permisi langsung aja pasang/buka lapak di situ. Kalo komen nyinyir terkait postingan sih masih tetep akan gw pejeng, tapi kalo jualan kek gini bakalan gw hapus juga kok.🙂

  3. lmao what were they thinking banget deh kak -_- baru tau komen spam yg biasa muncul di IG etc ada di blog fanfic ;_;
    tapi kalo ada komen promo gini berarti blog nya kak dista udah banyak dikunjungin~ /throws confetti

  4. hai Kak..
    mungkin ak juga salah satu orang yg suka nyepam dg cuman ngomen “next” , “lanjut” , atau apalah itu..
    jujur..
    mungkin sewaktu nulis kayak gitu, aku ngrasa terlalu terhanyut sama apa yg dituliskan terutama kalo pas fiksi dan mungkin juga aku terlalu bingung mau ngomen apa, jadinya cuman ngomen kayak gitu..
    tpi kalo jualan sih ya memang bukan “lokasi” yg tepat buat jualan..
    jadi sepertinya sikomentator tersebut gag bisa menempatkan diri.

  5. Sebagai seseorang yang sering berkunjung ke beberapa blog, spam semacam lapak dagangan kayak yang kak Dista alamin emang gak enak buat dilihat.

    “Karena aku menulis fiksi secara online adalah untuk berbagi dan bercerita, bukan untuk jadi budak pemuas nafsumu.” –> Like This So Much!
    Sebagai author kadang ‘diteror’ seperti itu juga bikin pusing.
    Semangat aja buat Kak Dista🙂

  6. saya pengunjung baru. salam kenal.

    kalau untuk comment yang hanya beberapa kata itu, mungkin saya pernah melakukannya. tapi jujur, bukan untuk meremehkan atau bermaksud tidak menghargai si penulis. hanya saja terkadang saya membaca secara terburu-buru dan dengan konsentrasi terbagi.

    tapi sekarang saya tidak pernah melakukan hal tersebut lagi. karena apa? karena saya sudah mengerti bagaimana perasaan para penulis saat tulisan yang mereka buat dengan susah payah tidak mendapatkan respon yang bagus.

    memang benar apa yang dikatakan teman saya (seorang penulis) bahwa menulis itu tidak semudah yang kita bayangkan. saya juga pernah mengalami kesulitan saat mencoba untuk menulis sebuah cerita. dan itu pun tidak terjadi sekali atau dua kali saja. hasilnya cerita yang saya buat tidak pernah bertemu dengan yang namanya ending.

    sekali lagi saya mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

  7. Hallo kak, aku pengunjung baru di sini dan langsung nyangkut sama postingan ini.
    selama ini aku emang belum pernah ngalamin ada yang komen kaya gitu di postingan aku, tapi aku juga akan melakukan hal yang sama kok seperti yang kakak lakukan. karena gak semua komen yang masuk bisa lolos gitu aja, pasti ada beberapa yang disaring dulukan?

    sebagai penulis aku juga kesel sebenernya sama reader yang komen next, update soon, dll. aku mikir gini, enak banget nih orang ngomong kaya gini. kok aku jadi ngerasa kaya budak gitu ya? aku kan nulis karena sebatas hobi dan kesenangan aku sendiri. bahkan gak jarang ada beberapa yang langsung hubungin aku lewat sosial media, cuma untuk menanyakan kapan lanjutan dari cerita aku. dan gak tau kenapa aku jadi marah sama mereka meskipun engga aku ungkapin secara terang-terangan, kok aku berasa di teror. oke maaf kak aku malah jadi curhat begini jadinya -_-

    dulu aku gak berani hapus komen yang masuk ke postingan aku, tapi lama-kelamaan berani juga kalo aku rasa ada komen yang gak penting. apalagi kalo ada yang tiba-tiba komen nyantumin alamat e-mail atau twitter mereka untuk meminta password, padahal mereka sama sekali gak ngasih komen di postingan aku sebelumnya. tanpa babibu lagi langsung aku hapus komentarnya. kesel gak sih digituin? mereka berani minta password ke aku, tapi istilahnya mereka gak pernah ngasih apresiasinya atas apa yang telah aku tulis. kan aku cuma bisa nyesek sendiri jadinya TT

    maaf lagi ya kak kalo komentar aku OOT hehe
    oh iya salam kenal ya kak, panggil aja Mila🙂

  8. Hai kak, gpp kan manggil kyk begini? .-.
    aku tau postingan ini pas kak diah nge-reblog di wpnya. Yah krn ngk ada kerjaan, iseng buka aja.
    aku setuju sama postingan kakak barusan. Terkadang suka kesel banget,apalagi sama siders.
    Terkadang jumlah koment sama view di wp pribadiku bisa berbeda jauh bangettt. Kok malah curhat ya?
    kalau ada koment promosi barang atau apa gitu, bakalan aku hapus juga kok😀.

  9. Hai kak, salam kenal ya sebelumnya. Namaku syadza (bagian ini boleh kakak skip kalo kakak rasa ga penting._.)

    Aku setuju sama semua isi postingan kakak di atas. Komen-komen yg isinya cuma ‘next’ atau ‘jangan lama-lama ya lanjutannya’ itu nonsense banget, mereka kyk ga menghargai apa yg udah si penulis tulis dan publikasikan. Si penulis ga menuntut banyak, dan daripada makan hati lihat komen nonsense kyk gitu, ya bener kata kakak, mending mereka ga nulis komen sama sekali

    Aku izin re-post ya kak, boleh kah?._.

      1. Iya kak, aku menghargai tulisan kakak kok. Aku pake fitur ‘blog ulang’ yg udah disediakan wordpress🙂

  10. Nah. Bener tuh kak, masa post dikira pasar-_-. Bukannya ngekomen tentang yang di post malah ijin lapak=_=. Tetap sabar dan semangat melanjuti hidup(abaikan) kak!
    xoxo

  11. Kaka yang sabar yaa🙂 emang terkadang orang seperti itu ngeselin bgt! Semoga mereka disadarkan oleh Tuhan YME Aamiin! Pokonya jangan biarkan mereka menghentikan langkahmu! Semangat kaka!🙂

  12. Itu yang buka lapak kok aku ngakak ya… ternyata ga cuma di instagram„ blog juga ada…. ckckck

    Ya ga papa sih silakan aja buka lapak… asal yg punya blognya dibayar. Ya iyalah… tu org ga bakal buka lapak kan kalo blognya ga rame? Yang bikin blog rame emang siapa? Bukan dia kan ._.

  13. annyeong chingu aku reader ffindo dan mungkin baru baca fanfic kamu yang “story of my love” maaf ye pas baca insulted kamu kaget juga next moga comment commentku yang baru gk bikin kamu ngrasa kesel juga ya lagian aku baru tau soal fic kamu maaf….

  14. Selalu saja ada reader yg tidak tahu diri seperti itu *kalau kasarnya* memang itu sangat tidak menghargai. Aku salut sama Kak Dista yg sampai saat ini masih sabar dan tidak menuntut apa-apa dari fanfiction yang kakak buat! Semangat terus kak! Aku setuju sama opini kakak yg ini dan aku sangat mendukung agar kakak klik tombol ‘trash’ bagi komentar seperti itu. Terima kasih, kak. Aku izin reblog juga ya. Sekali lagi terima kasih kak:))

  15. emang bener apa yg kamu tulis, tulisan seseorang mencerminkan kepribadian seseorang, makanya kadang kala aku selalu ngecek lg kata2 yang aku tulis dimedsos or blog atau apalah karena apa yang kita tulis itu kadang bisa membawa keburukan untuk diriku dan juga orang lain, aku sebenernya juga pengen deh bisa buat satu cerita aja tp pasti ujung2 aku mentok ditengah jalan, aku juga kadang klo diwall fb aku ada yg nyelip dagang berasa kyk dipasar sedangkan klo dipasar aja ditawar2 barang ja suka sebel, aku inget postingan slh satu entertainer yaitu no sell, sell= spam, spam=delete thats it, untuk itu saudara2 ku ayo saling menghargai,

  16. oh iya satu lagi aku baru kl ini buka blog kamu karena aku br pertama kali baca ff kamu yg judulx the dark rose tp aku minta maaf aku komentku pendek dan ada kata2 yg seperyi kamu bilang next atau lanjut im sorry, gomennasai dan salam kenal

  17. “karena aku menulis fiksi secara online adalah untuk berbagi dan bercerita, bukan untuk jadi budak pemuas nafsumu.”
    oh kakaak aku sepakat sama tulisanmu yang ini. T__T
    mereka harusnya tau kalau kita kita nulis untuk menyalurkan hobby, berbagi cerita, bukannya …. alah
    mereka harusnya tau diri….
    *sigh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s