Fanfiction : Part 1/2

mimiku

.

rheejin            : apa ini?
justegurl          : Park Chanyeol
justegurl          : dia muncul di kampus dengan rambut baru >,<
justegurl          : dia tidak memberitahumu?
rheejin            : lol
rheejin            : memangnya kenapa dia harus memberitahuku
justegurl          : yaa siapa tahu saja
justegurl          : satu lagi fanfic yang dulu kuberitahu
justegurl          : Chraya akhirnya update chapter terbaru setelah lama menghilang
justegurl          : baca yaaa
rheejin            : ah aku bahkan belum baca setelah chapter pertama dulu
rheejin            : agak aneh rasanya membaca cerita tentang dirimu sendiri
justegurl          : lol di situlah menariknya XD
justegurl          : kurasa PCY juga membaca beberapa fanfic tentang dirinya
justegurl          : kalian pasangan serasi
rheejin            : ha-ha
justegurl          : tuh kan kau mulai lagi
justegurl          : pokoknya baca saja.. kita bicarakan ini lagi besok
justegurl          : daahh!

Woof!

Harang menggonggong meminta perhatian, bersandar di kaki meja.

Saejin tertawa pelan dan menggaruk bawah rahangnya. Anjing kesayangannya itu lalu beranjak, memutari kakinya, kemudian naik ke atas pembaringan.

Setelah menutup jendela obrolannya dengan Jihee, teman kampusnya, dia segera membuka email yang dikirimkan gadis itu untuknya. Pesan elektronik itu berisi satu folder kompres dengan judul PCY diikuti enam digit deret angka yang menunjukkan tanggal hari ini. Saejin tidak perlu menebak-nebak lagi untuk tahu apa isinya folder itu. Selalu hal sama yang Jihee kirimkan padanya sejak beberapa minggu yang lalu. Foto-foto Park Chanyeol.

Sejak Chanyeol menyapanya lebih dulu di belakang panggung acara festival musim panas tempo hari, lalu mengajaknya makan siang bersama sementara menunggu giliran bandnya naik panggung, universitas mereka seolah dilanda gemuruh dadakan. Orang-orang tidak pernah melihat mereka berinteraksi sama sekali sebelumnya. Dua orang asing yang terpisahkan oleh jurusan dan jarak kampus dari ujung ke ujung lainnya universitas mereka, tidak saling mengenal, dan tiba-tiba saja tertangkap puluhan mata duduk berhadapan dalam satu meja di kafetaria. Mereka mengobrol seperti dua manusia yang telah lama saling mengenal.

Pemandangan itu tidak akan pernah menjadi sorotan bila saja Chanyeol hanyalah mahasiswa biasa seperti lainnya. Hanya saja lelaki itu bukan sosok pria biasa. Dia adalah Park Chanyeol, seorang idola kampus yang namanya terkenal di seluruh pelosok universitas Yonsei. Seorang mahasiswa di kampus musik yang belajar komposisi, tahun ketiga, juga pemimpin dari sebuah band Indie tingkat universitas bernama Juste Lagoo’s.

Park Chanyeol adalah seorang bintang, bersama empat anggota bandnya yang melegenda. Saejin sering mendengar nama lelaki itu, juga nama bandnya, atau anggota lainnya yang tergabung dalam band itu keluar masuk telinganya. Beberapa teman sekelasnya yang gemar menghadiri festival musik Indie sangat mengidolakan sang gitaris ini, bahkan lelaki itu memiliki klub penggemarnya sendiri di Yonsei, juga fancafe lain di Daum. Karena itulah namanya seketika menjadi pembicaraan forum penggemar dalam hitungan jam foto-foto candid-nya bersama Chanyeol beredar di jejaring sosial.

Saejin hanya bisa menahan senyum saat membuka folder yang Jihee kirimkan padanya. Setidaknya ada sekitar sepuluh foto yang diambil tanpa sepengetahuan Chanyeol, memperlihatkan lelaki itu tengah berjalan melintasi kampus dengan menenteng kotak gitarnya.

Dan seperti yang Jihee katakan, hari ini Chanyeol muncul dengan gaya baru. Lelaki itu memangkas habis rambutnya, yang menurut penilaian Saejin, membuat lelaki itu tampak seperti anak berumur lima tahun yang salah potong. Serius, tampak ada yang aneh dengan potongan bagian depan rambut Chanyeol, dan Saejin benar-benar menahan tawanya untuk beberapa saat.

Mungkin karena terbiasa dijejali dengan penampilan Chanyeol yang cenderung tampil dengan rambutnya yang panjang diikat di belakang kepalanya, dan segala gaya lainnya yang membuatnya tampak maskulin. Saejin penasaran bila Chanyeol tengah mencoba image baru kali ini untuk tampak idiot.

Dia lalu membuka file kedua. Sebuah format .pdf yang berjudul “Absolute Attention” dengan subjudul Chapter 7 di bawahnya. Saejin tidak pernah tahu ada hal semacam ini sebelumnya. Ketika dia menyadari fanfic biasanya dibuat oleh seseorang tentang idola yang digilainya, dia sama sekali tidak bisa percaya saat Jihee menyodorkan sebuah fanfic dengan namanya dan Chanyeol sebagai tokoh utama.

Dia bukan seorang selebritis, itulah masalahnya. Rasanya aneh sekali ketika membaca adegan-adegan hasil imajinasi yang dibuat seseorang tentang dirinya dan juga lelaki yang baru dia kenal tampak nyata, serupa buku diary. Hanya saja, bedanya, Saejin tidak pernah merasa pernah mengalami seluruh plot yang disajikan penulis online tak dikenal itu.

Saejin membaca chapter itu sekilas. Dia tidak punya banyak waktu untuk bermain-main di tengah keseriusannya belajar, jadi dia menyelesaikannya dengan cepat. Jihee sangat menyukai tulisan penulis bernama Chraya ini. Konon hampir seluruh tulisan orang itu menjadi legenda di kalangan para penggemar fanfic dan pembaca setianya. Hanya saja tidak ada yang tahu siapa orang itu, apakah dia perempuan atau laki-laki, karena sosok aslinya sangat susah ditebak meski dari tulisannya yang kadang bisa terkesan maskulin dan feminin di saat yang sama. Hanya satu hal yang orang-orang percaya, adalah bahwa Chraya merupakan mahasiswa Yonsei, karena itulah dia membuat fanfic dengan tokoh Chanyeol dan Saejin, OTP baru favorit para mahasiswa di universitas itu belakangan ini.

Sekali lagi Saejin tertawa membaca tulisan yang terpampang di layar ponselnya. Sebuah adegan yang terkesan sangat intim baru saja tertangkap matanya dan Saejin tidak bisa menahan diri untuk tidak membacanya.

Kenapa orang ini senang sekali mengekspos tubuhku pada dunia, Saejin berkomentar di dalam hati membaca adegan di mana yang penulis menggambarkan dirinya tengah berendam. Ya, hanya sebuah aktifitas merendam diri saja dan penulis itu menggambarkannya dengan sangat detil. Mendadak dia jadi penasaran melihat apa kata para pembaca yang berkomentar untuk chapter ini dan berniat untuk mencari file chapter itu di internet ketika ponselnya berdering di saat yang sama.

Tidak ada nama yang tertera di layar ponsel, hanya deret angka asing yang tidak pernah Saejin kenal. Gadis itu menatap ponselnya beberapa saat sebelum menerima panggilan itu,

Yeoboseyo?

Saejin? Ryu Saejin matjayo?

Saejin tidak lagi merasa penasaran dengan siapa yang menelponnya saat ini. Dia sangat mengenal suara khas yang terdengar di seberang sana, suara berat Park Chanyeol.

Oppa? Bagaimana kau tahu nomor ponselku?” Saejin bertanya saat menyadari keanehan ini, dia tidak merasa pernah memberikan nomornya pada lelaki itu.

“Ah, Saejin.. Haha! Kupikir aku salah sambung, suaramu terdengar berbeda. Ayahmu yang memberikan nomormu padaku, dia baru saja menelpon dan memintaku untuk menghubungimu.”

“Oh, ya? Ada apa memangnya?”

“Mereka sedang di Cheongdam sekarang, mereka ingin kita datang untuk melihat gaun pengantinnya, dan ayahmu ingin aku menjemputmu.”

Oppa di mana?”

“Aku baru saja selesai latihan bersama bandku, kau?”

“Aku di rumah..”

Saejin menggaruk kepalanya, berpikir cepat. Sebenarnya dia ingin sekali pergi, tapi dia tidak mungkin meninggalkan tugasnya yang pasti akan terbengkalai kalau saja dia pergi saat ini. Di dalam hatinya Saejin merasa bimbang, dia tidak bisa pergi, tapi di pihak lain dia juga tidak berani menolak permintaan orangtuanya. Apalagi ayahnya sampai menyuruh Chanyeol yang menghubunginya.

Woof!

Harang menggonggong lagi. Saejin menaruh jari telunjuknya di bibir, menyuruh si bola bulu itu diam.

“Ada apa? Kenapa?”

Saejin mendengar Chanyeol bertanya tidak sampai dua detik kemudian. Lelaki itu pasti bisa merasakan kebimbangannya saat pertanyaan itu terlontar begitu cepat. Apakah keraguannya begitu terdengar dengan jelas?

Eotteohkeyo? Aku harus mengerjakan satu paper untuk besok, agak sulit bagiku untuk menyelesaikannya tepat waktu bila aku pergi sekarang.” ujarnya merasa sangat bersalah dan tidak enak di saat yang sama. Dia takut bila Chanyeol tersinggung dan berpikir yang tidak-tidak bila dia menolak datang.

Setidaknya hening memberi jeda obrolan mereka selama dua detik lagi sebelum Saejin mendengar suara Chanyeol dari seberang telinganya, memberi masukan.

“Aku punya ide,” kata lelaki itu tiba-tiba saja. Saejin membuka telinganya lebar, dia menerima ide apapun asalkan dia tidak perlu keluar rumah malam ini.

“Ne?”

“Sebenarnya aku juga masih ada urusan dengan teman-temanku. Aku akan memberi tahu para orangtua kita tidak bisa datang, begitu saja bagaimana?”

“Memangnya tidak apa-apa?”

“Kurasa tidak akan masalah, lagipula urusanmu penting. Dan dengan kau tidak bisa datang, aku juga punya alasan untuk tidak perlu muncul di hadapan mereka. Mahasiswa Yonsei punya jadwal ketat yang tidak bisa diganggu gugat, mereka harus bisa menerimanya.”

Saejin menertawakan alasan itu. Chanyeol memiliki selera humor yang pas dengan sirkuit otot tawanya, Saejin tidak pernah tidak tertawa bila saja lelaki itu mengatakan sesuatu yang terdengar lucu di telinganya.

“Aku percaya padamu kalau begitu. Maaf ya, Oppa, aku sungguh tidak bermaksud untuk tidak datang. Kurasa kalau besok aku masih bisa pergi.” Saejin memberitahu.

“Tidak apa-apa, tentu saja aku mengerti. Baiklah, sampai ketemu besok kalau begitu.”

“Oke .. ah, Oppa, satu lagi.”

“Ya?”

“Aku tidak suka rambut barumu, kau terlihat seperti orang idiot.”

Chanyeol tertawa. Saejin sampai menarik ponselnya dari telinga saking terkejut mendengar suara gelak tawa lelaki itu begitu keras tiba-tiba, dia kemudian tertular akan tawanya. Park Chanyeol memiliki semacam virus yang mampu membuat orang tertawa di dekatnya.

“Ah, mianhaeyo. Aku tidak akan pergi ke salon payah itu lagi. Ini pertama kalinya aku pergi ke sana, dan mereka benar-benar merusak segalanya. Memangnya parah sekali ya?”

Saejin kembali tertawa. Dia tidak yakin apakah kali ini harus menjawab pertanyaan itu dengan jujur atau tidak, tapi kenyataannya nasi memang telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan seorang capster anonim itu setidaknya selama sebulan ke depan.

“Begitulah, semoga saja rambutmu tumbuh dengan cepat.” Ujarnya setengah menahan tawa.

“Ya, untungnya rambutku tumbuh dengan cepat, dahaengida. Aku tidak akan mengganggumu lagi kalau begitu, belajar yang rajin ya.”

Ne, ne, gomawoyo, Oppa.

Tawanya kembali tergelak begitu memutus sambungan teleponnya. Saejin menatap kembali foto-foto yang Jihee kirimkan untuknya beberapa saat, menertawakan rambut-salah-potong-yang-sudah-dia-duga dan menulis email balasan untuk Jihee, memberi tahu gadis itu tentang pembicaraannya bersama idola universitas ini.

Saejin sebenarnya tidak terlalu mengenal lelaki itu. Sebelumnya dia hanya tahu bahwa ada seseorang bernama Park Chanyeol yang tergabung dalam sebuah band indie beraliran soul jazz, sangat digandrungi oleh banyak wanita di seluruh pelosok Yonsei, bahkan juga di luar universitas. Saejin bukan penggemar musik jazz, jadi dia tidak pernah datang sama sekali ke pertunjukkan Juste Lagoo’s untuk melihat penampilan langsung lelaki ini bermain gitar dan bernyanyi di atas panggung. Hingga orangtua mereka memperkenalkan keduanya dalam sebuah makan malam keluarga.

Dan sebenarnya Saejin bukan gadis yang mudah dekat dengan seseorang yang baru saja dia kenal. Untungnya Chanyeol termasuk tipe sebaliknya, seseorang yang dengan mudah bergaul dan berinisiatif untuk memulai obrolan terlebih dulu sementara orangtua mereka asik dengan obrolan mereka sendiri.

Dia memang tidak begitu mengenal bagaimana karakter sosok seorang Park Chanyeol sebenarnya, maupun sebaliknya. Ketika orangtua mereka mulai membicarakan rencana penggabungan dua keluarga ini, ada sedikit rasa ragu yang mengganggunya. Rasanya kata perjodohan sudah sangat anti-mainstream saat ini, orang mana yang masih menggunakan modus semacam ini untuk memuaskan keinginan persahabatan di antara mereka.

Oh. Oh, baiklah. Orangtuanya begitu.

Saejin tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kampusnya bila berita ini tersebar. Dia hanya memberitahu Jihee tentang rencana orangtuanya—dan betapa antusias sahabatnya itu ketika mendengar berita ini—tanpa sebenarnya berniat untuk memberitahu yang lain.

Tapi dia tahu, rumor beredar sangat cepat di antara teman-temannya. Jihee mungkin tidak akan mengatakan apapun, tapi orangtuanya memiliki banyak sekali relasi lulusan Yonsei, maupun anak-anak yang berkuliah di sana.

Napasnya terhela cepat, dia mendesah pelan. Kehebohan mungkin tidak akan bisa dihindari, dan dia tidak mau tahu apa yang akan terjadi nanti.

Mengembalikan perhatiannya pada monitor komputer, Saejin berniat untuk menyelesaikan paper-nya. Dia baru mengetik beberapa kata ketika seluruh konsentrasinya buyar, kepalanya kosong.

Setidaknya selama hampir sepuluh menit dia hanya duduk diam menatap layar monitor tanpa melakukan apapun. Hingga tanpa dia sadari tangannya membuka kotak dokumen di folder simpanannya, dan membuka fanfiction kiriman Jihee.

Semakin dia membaca, Saejin semakin tenggelam dalam kisah yang disajikan di depan matanya. Seseorang bernama Chraya ini seperti seorang cenayang, karena—bahkan Saejin tidak bisa mempercayai ini—tulisan yang ditulisnya sedikit banyak mirip dengan kini terjadi dalam hidupnya.

Penulis itu bercerita tentang dirinya, keluarganya, tentang Park Chanyeol, dan juga kisah perjodohan mereka. Berulang kali Saejin mengerutkan dahi, dan mendengus hampir tidak percaya. Penulis ini menakutkan juga, dia berpikir.

Dan Saejin mulai bertanya-tanya bila dia memang mengenal orang itu. Kebetulan saja sepertinya tidak cukup untuk menjelaskan keakuratan dari kisah yang ditulisannya sebagai fanfiction ini.

Saejin baru saja hendak menuliskan pesan baru di jendela ‘chat’nya dengan Jihee dari komputernya ketika ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan baru saja datang.

“Lihat, Harang.” Dia memutar layar ponsel dan menunjukkannya pada Harang, yang masih duduk dengan manis di atas tempat tidurnya, seolah anjingnya itu akan mengerti apa yang tertulis di sana.

Tawa kecil terdengar kembali dari mulutnya saat membaca pesan itu sekali lagi.

* * *

.

large (12)

.

================================================================================

oke, aku tahu aku publish udah cukup banyak post hari ini. But I just can’t help myself for this!! my new theme got me keep wanting to publish more and more!!

Tulisan ini sebenernya udah lama, ditulis sebelum naskah Forsaken keluar, gara-gara abis liat Chanyeol main gitar, dan rambut barunya yang wagu itu jaman WOLF … >,<

Sengaja kupublish di sini karena Saladbowl lagi masa proyek, jadi semua postingan harus dipending sampai tanggal 21. Mungkin nanti aku akan reblog di sana, aku aku publish ulang hehehehe… So this is it.

Ditunggu LIKE dan komentarnya😀

xoxo.

11 comments

  1. Hai kak Distaaaa,

    senang tau kakak ngpost di sini setelah sekian lama, dan ajang kambek kakak2 salad semuaa..
    hahaha,

    sebenarnya ini alih2 istirahat ngerjain tugas anak sekolah kemudian buka twitter dan taraaa.
    Nemu tweet kakak tentang ini,

    emm, aku udah gak trlalu sering main ke salad krna tugas akhir yg numpuk, dan biasanya baca fic di salad itu di malam minggu. Maraton sampai pagi,xD dan alasan aku brkunjung ke sini di malam yg larut karena,
    aku kangen tulisan kakak. ^^ , trakhir aku baca enchanted Mine dan itu di hari Sabtu kmarin , subuh2 yg jadinya ketiduran dan gak ninggalin komen.
    >mungkin aku bkal cuap2 di note buat enchanted ya,kak🙂

    Waktu baca ini,
    aku kangen forsaken,
    si PCY dan Han Soojung juga si baby Luhan. Di bulan November tahun lalu forsaken mulai, dan skarang feb ’14, yg jelas aku masih setia nunggu sampai kak Dista kambek dgn forsaken.

    Emm, di awal aku pikir ini kisah PCY dgn gadisnya yg oke, dlm tahap pdkt atau pacaran. Tp, serius kaget wktu bgian gaun prnikahan. Dan lagi ternyata ini tntng perjodohan ^^. Buat chraya ini, aku agak curiga ini siapa tapi aku tunggu di next chapter..

    Buat kak Dista, semangatt !!

  2. Asyik – Asyik ada yang lagi rajin nulis😀
    Aku ketiduran semalem jadi baru nemu ini pagi2 pas ngecek notif email..

    dan PCY wohooo~ lol rambutnya pas jaman itu emang wagu😄
    Saejin ini awalnya tak pikir, dia cewek beruntung banget, yang dari ujung ke ujung trus ketemu Chanyeol gitu makan siang bareng.Ternyata mereka ini anak – anak yang di jodohin.. hahaha.. Agak kaget pas tau Chanyeol nelpon dan bilang mau lihat baju pengantin. Pasti bakalan heboh kek apa gitu kalo penduduk kampus tahu.😄

    soal Chraya aku kok curiga sama 2 orang ya, tapi ya ga tau juga sih, bisa aja prediksiku salah *dan seringnya begitu*😄
    Kamu kan emang suka bikin kejutan yang sama sekali di luar prediksiku Dis ^^
    Jadi ya aku tunggu part 2 nanti gimana kelanjutan cerita ini😉

  3. hai kak… ^^

    iya aku juga sempet mikir, iya nih saejin beruntung banged, sekali ketemu chanyeol, langsung di ajakin makan bareng, dn aneh pas chanyeol telpon dy tapi yang nyuruh ayahnya saejin…

    koq udh kenal ayahnya..??
    ohhhh ternyata dijodohin… hehehe

    wahhh prediksi ku, nunjuk satu orang, tapi disimpen aj dalam hati, ngeri salah… haha^^

    ditunggu kelanjutannya kak.. ^^

  4. pantes aku menemukan 2 persamaan di fic ini sama forsaken. chanyeol sama” anak band, berkisah ttg si cowo populer dg gadis biasa, dan juga terjadi penyatuan keluarga disini.. oke sipp, ditunggu part selanjutnya kak🙂

  5. Whoah… the new theme & concept mybe hohoho
    keren kak!
    Nggak nyangka ternyta back to prjodohan hahaha
    jd ini cm 2 chapter aja kak?
    Di tunggu update nya ya kak ^^
    Fighting buat ini & forsaken & yg sehun the sheep hahaha!!! PR kak dee buanyak ^^

  6. Hola kak! Wah kak dista sangat produktif (?)

    baca fanfic dg nama OC yg sma dg nama kita bikin agak merinding juga ya kayaknya. Tapi aku curiga author fanfic itu Chanyeol sendiri, wkwkwk jadi inget drama ‘He is beautiful’ yg lee hong ki nulis ff tentang kisah cinta Yaoi nya ANjell.
    Rambut chanyeol se’wagu’ apapun tetep keliatan cakep dan bersinar, jadi penasaran rambutnya chanyeol pernah diwarna gak sih? kok aku kayaknya gak pernah liat.
    ya ya ya perjodohan itu udah gak jaman sekarang tapi kalo di dunia per-ff-an banyak banget yang nulis begitu terus di selipin adegan smut (ketahuan sering baca begituan). Cuman disini berbeda sama ff perjodohan lainnya. Klo di ff yang paling mainstream, tokoh cowoknya itu sok keren, jaim, dan dingin tapi diem2 suka si cewek, terus ceweknya itu kalem dan lemah lembut, pasrah sama perjodohan, kemudian ada orang ketiga yang mengganggu pernikahan mereka, blablablalalala. Dan untungnya Kak Dista memberi warna baru~~~

    publish kebanyakan itu hal yang bagus kok, hehe
    semangat menulis~😉

  7. oh jadi yg mau nikah itu Chanyeol dan Saejin toh. ku kira org tua nya (keinget Forsaken).
    jadi itu potongan rambut model gagal gitu yaa? tak apa kamu tetep ganteng kok mas yeol wkwk
    penasaran sama penulis fanfict itu.. jangan2 Chanyeol lagi hahaha
    ditunggu next chapter🙂

  8. Awalnya ku kira ini side story forsaken loh ka. Salahkan mataku yg ga nangkep nama cast nya.
    Eh aduh kesannya chan kaya cowo keren dipuja sana sini, berkebalikan sama sifat ajaibnya dia hehe.
    Haseekkkk masih ada next chapt nya. Bakal makin sering ngecek kemari ;D

    Btw tau ngga ka foto itu pas kapan? Kok aku ga pernah liat ;;_______;; seingetku pas wolf rambutnya cepak, ga bs di jambulin😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s