Five for Fighting – Behind the Writing

I just can’t believe I write this. now. LOL.

Five for Fighting, satu serial fanfiction yang kutulis selama enam bulan sejak bulan Maret, dan akhirnya selesai di bulan Agustus tahun ini. Aku tahu, tiga bulan sudah berlalu, dan aku baru kepikiran untuk nulis notes dari aku sendiri. Hehehehe… Tiga bulan yang penuh perjuangan untuk move on dan menahan diri untuk nggak menuliskan after story dan segala macam side story–ya, aku tau cukup banyak yang menyuruh aku untuk menuliskan dua macam cerita itu, tapi ada hal yang kadang nggak perlu kita ikutin kan, aku nggak mau terlalu memanjakan para pembacaku dengan menulis kisah-kisah masa depan yang sudah kuselesaikan. Hahahahahahaha…. maaf.😀
Seperti beberapa fanfictionku sebelumnya, LC dan juga HW, aku menulis BTW ini untuk insights yang lebih mendalam mengenai Five for Fighting ini. Dan kenapa sekarang aku baru nulisnya? Karenaaaaa … sebenarnya aku baru baca lagi naskah FF itu dari awal sejak beberapa hari yang lalu, dan aku merasa sedikit kangen sama mereka, so here we go.

Nulis Five for Fighting itu sebenarnya butuh perjuangan, terutama di bagian tiga chapter terakhir. Selepas chapter 18, aku ingat sempat berhenti selama sekitar dua bulan, karena pada saat itu aku benar-benar diharuskan untuk serius menggarap thesis (dan juga naskah akhir TSV). Di tengah dua deadline yang harus selesai bersamaan, dan ketika aku sedang benar-benar penat, akhirnya aku tulis juga chapter” lanjutannya–yang tadinya direncanakan baru akan ditulis setelah bulan September. Chapter finale itu aku tulis disela waktuku menunggu sidang thesis, hahahahaha…

Tapi segalanya terbayarkan juga sih. Semuanya selesai dalam waktu yang sudah ditetapkan, happy ending buat keberhasilan kecil pribadiku sendiri. Personally, Five for Fighting adalah serial terbaik keduaku setelah Louboutin’s Catalyst.🙂

Balik lagi ke bulan Maret, ide cerita Five for Fighting muncul begitu aja ketika aku sedang keranjingan sebuah variety show Appa Eodiga (Dad Where are You Going?). Kalian pasti nggak asing lagi dengan acara ini. Sebelum Five for Fighting ini sebenarnya aku sudah menyiapkan satu naskah–yang mungkin kalian juga udah pernah baca–chapter pertama yang akhirnya aku bikin oneshot berjudul ‘Where do We Go’, posternya hampir mirip, dan ada juga beberapa kesamaan dialog atau adegan kalau kalian baca. Cuma saat itu memang ideku masih belum matang, dan aku kesulitan meriset tentang keadaan beberapa negara pecahan USSR yang harusnya menjadi setting di cerita ini, maka akhirnya aku cut ketika inspirasi dari Appa Eodiga ini muncul.

Ide awalnya sebenarnya diambil dari perjalanan lima anak, empat laki-laki dan satu perempuan yang melakukan perjalanan liburan ke Asia, lalu mereka diculik, dan dari sanalah semuanya berawal. Untukku sendiri, ini pertama kalinya aku menulis cerita panjang dengan setting Amerika, tapi segalanya tetap menarik karena negara yang satu itu bukan lagi ranah yang asing buat aku–I study it anyway😀–jadi bisa dibilang penulisannya adalah satu hal yang bikin aku sangat bersemangat.

Favoritku ada di beberapa chapter. Pertama di chapter empat, ketika mereka mulai kabur bareng-bareng tanpa rencana. Satu liburan gila memang, bepergian tanpa kamu tau mau ke mana, dan Kris ngambil keputusan buat berhenti di Ekuador itu hal paling jenius yang pernah dia lakukan. Aku sempat membayangkan mereka pergi ke suatu tempat di Brazil atau berhenti di kepulauan Karibia, bahkan ke Hawaii, tapi dipikir-pikir lagi kayaknya kurang seru aja kalau pemberhentiannya ke tempat yang sudah diduga. Hawaii is so lame (and part of US), while Brazil is so Breaking Dawn…😄

Yang kedua favoritku adalah chapter sembilan, di mana untuk pertama kalinya kita akan melihat sisi baru Lay yang belum pernah disebutkan sebelumnya di chapter-chapter awal. Aku menghabiskan lebih banyak waktu buat menggarap satu bagian buat Lay itu aja, bagaimana di saat yang sama aku juga seperti sedang berusaha untuk mengenal sosok Lay Zhang lebih intens. Dia dan rasa sayangnya, penyesalan pribadinya, semuanya mempengaruhi aku cukup dalam.

Yang ketiga di chapter ketika Kai muncul dan dibahas beberapa kali, bagaimana kehadiran dia mempengaruhi perubahan emosi Lana, lalu ketika anak itu ngajak Lana main ke studio rahasianya. Sebenarnya aku suka semua saat Kai ini muncul. hehehehe… Sejak awal dia muncul, aku sudah mempersiapkan plot yang besar buat dia, bahwa dia nggak hanya akan menjadi sang mantan yang berusaha ngerusak upcara pernikahan Lana, tapi juga seseorang yang akan banyak membantu semua orang di dalam cerita ini buat menyelesaikan misi mereka. Terbukti juga, gimana ketertarikan Kai sama kehidupan Lana membawa mereka sama banyak rencana yang nggak terduga. Kai dengan banyak kenalannya, he’s pretty genius himself.

Lalu di chapter enam belas, ketika Tao memprovokasi Lana tentang hak pilihnya. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku nggak kepikiran sampai ke sana sebelumnya. Seperti Lana, aku juga baru nyadar belakangan bahwa apa yang Tao bilang ternyata punya poin tersendiri, hahahaha… dan gitu aja, si Tao pun yang juga memberi aku ide tentang hak prerogatif-nya untuk masalah Jessica Gomes dan pengajuan kerjasama dengan Jubilee.

Yang terakhir adalah chapter finale. Jangan tanya kenapa. Finale ini adalah favoritku, dan aku harus memuji diri sendiri karena nggak terbawa nafsu untuk menggiring Kris maupun Lana ke jurang kehancuran mereka. (Kalian nggak mau tau alternatif ending macam apa yang tadinya aku siapkan buat mereka, hehehe). Aku hanya sedikit menyesal karena nggak banyak menceritakan Evelyn dan Alfred di chapter” sebelumnya, jadinya para pembaca nggak banyak yang menyangka dia dalang dibalik seluruh konspirasi ini. Sebenarnya aku tuh udah kepikiran untuk masukin beberapa scene kemunculan Evelyn, tapi lupa mulu … padahal fokusnya harus ke sana. Sorry, my bad. >,<

Dan Lana adalah tokoh favoritku, bisa dibilang, setelah Iris Lee di serial the Sober Twist. Mereka berdua adalah sosok perempuan dengan karakter yang kuat, cerdas, berambisi dan punya mimpi yang besar, karakter tokoh yang selalu jadi ideal perempuan favoritku.

Oh, mungkin beberapa dari kalian bertanya-tanya kenapa Lana terobsesi banget masuk medschool dan jadi dokter. Sepertinya aku belum pernah menyebutkan alasannya di plot utama Five for Fighting, ya? Aku kasih tahu kalian deh.

Kalau kamu ingat essay yang pernah Lana tuliskan tentang petualangan dia dan F4-M itu (ok, it’s lame), kamu pasti menyadari betapa Lana melihat gimana susahnya saat-saat itu. Ketika kamu berhadapan langsung dengan sebuah proses kematian, meski akhirnya Kris pun bisa selamat dari serangan malaria ini, kejadian ini bagaimanapun juga nggak akan dia lupakan untuk beberapa waktu, dan mungkin selamanya.

To make long story short, satu kejadian spesifik itu yang akhirnya membuat Lana ingin menjadi orang yang berbeda. Dia nggak mau jadi orang yang hanya bisa duduk dan nggak mampu berbuat apa-apa untuk membantu teman-temannya (secara khusus) atau orang lain ketika dibutuhkan. Lana ingin sekali melakukan sesuatu buat Kris, tapi dia nggak tau apa. Karena saat itu menurutnya dia masih terlalu kecil, dan dia nggak tau banyak tentang bagaimana menyelamatkan seseorang dalam keadaan darurat. Dan akhirnya, itulah yang memicu dia untuk menjadi seorang penyelamat. Keadaan Kris membuat dia ingin jadi orang yang mampu melakukan sesuatu untuk mereka yang sekarat, menyelamatkan mereka, suatu saat nanti. Dan karena itu juga akhirnya dia jadi gila belajar (kamu mungkin bisa baca aku kasih hint tentang ini di beberapa chapter) dan gimana dia selalu ingin jadi yang terbaik.

Dan itu juga yang nantinya bikin dia jadi drug addict. Di chapter 18 kamu bisa membaca efek Amphetamine yang bisa meningkatkan efek konsentrasi dan bikin orang lebih melek (bila digunakan sesuai kadar resep). Penyalahgunaan Amphetamine ini udah jadi kasus yang biasa, dan nggak cuma di Amerika aja sih, di Indonesia pun juga banyak (dengan motif yang bervariasi). Banyak remaja di Amerika macam Lana yang menggunakan obat ini untuk tetap bisa terjaga dan konsentrasi selama belajar, jadi doping di sela begitu banyak kesibukan belajar mereka, tapi akhirnya jadi ketagihan terus bila digunakan secara berkala dan dengan dosis yang lebih tinggi.

Ditambah lagi Lana punya semacam acute mood disorder sejak kejadian trumatis yang dia alami di Asia, dan itu berpengaruh besar terhadap perkembangan kejiwaan dia selama menjadi remaja puber. Ini pun juga yang memicu ketimpangan sikapnya sama penyalahgunaan obat-obatan itu tadi, sekaligus kebiasaan masokis dia yang suka nyilet-nyilet tangannya itu (Rated M). Beberapa scene ini terinspirasi dari sebuah film remaja yang judulnya Thirteen yang dimainkan oleh Evan Rachel Wood (my beloved most fave actress) sama Niki Reed, mungkin beberapa di antara kalian juga ada yang pernah nonton. Kalau nggak silakan nonton untuk digunakan sebagai pembelajaran, terutama bagi para remaja, supaya lebih berhati-hati dalam memilih teman dan melampiaskan amarah.🙂

Beberapa hal tentang insights Five for Fighting sampai chapter 8 bisa kalian baca di sini. Aku memberikan beberapa penjelasan tentang perkembangan karakter Lana, juga hal-hal yang berkaitan dengan materi penunjang plotnya.

Dan soal ending, aku sebenarnya menyerahkan semuanya pada “happy ending” favorit kalian masing-masing.

Terima kasih sekali lagi untuk para pembaca setia Five for Fighting yang sudah membaca sejak chapter pertama, apalagi yang sudah bersedia menunggu berbulan-bulan untuk ngeliat chapter-chapter terakhir di-publish. Tiap feedback kalian berarti banyak untuk perkembangan menulisku. Untuk typo, I cannot do more for that, mataku bukan tipe yang jeli meski udah kubaca bolak-balik naskahnya sebelum di-publish. Jadi, nggak tau deh, biarkan aja typo” itu, God bless my imperfectness, hehehehe….

Lalu, gimana dengan kalian sendiri? Apa yang kalian paling ingat dari Five for Fighting? dan lagi, versi ‘happy ending’mu.😀

~xoxo.

13 comments

  1. Menurut aku semuanya sesuatu, tapi yang paling berkesan itu perjuangan yang terjadi di antara mereka berlima dan seluk beluk tentang Amerika; pasti harus sering-sering baca dan cari banyak informasi. Serasa belajar di kelas XDD
    Dan aku selalu terkesan dengan gaya Kak Dista menulis hihi~

  2. Ini juga salah satu karya favorit aku walaupun semua karya kakak sebenarnya aku suka sih😀
    Aku suka jalan ceritanya + karakterny + feelnya pas baca ini fic, campur aduk kya nonton film hehe
    Part fav aku itu pas Lay kiss Lana, itu sedih sekali terbawa2 sambil dengarin ‘Kiss Me’ huhu
    Juga pas akhirnya Kris nangkap basah Alfred yah disana dag dig dug-nya berasa nyut *apasih
    Terus part paling ngeselin pas Kris selingkuh. Kumaki2 Kris waktu itu afdsassgsf ga tau lagi lah mau maki Kris gimana lagi abisnya kesal bgt sih grrr
    Dan itu ending versi kakak kyaaaa ~
    Sehun dekatin Lana itu ga bisa dibayangkan sekali. Si laki2 menyebalkan itu ternyata mengeluarkan taring yg tak diduga xD eh Tao muncul pula jd penulis, sisi melankolis dia tersalurkan banget kalo jd penulis xD Dan LUHAN! Apa2an ngadopsi bayi begitu, ngakak super HAHA
    Ugh Lana-Kai ♥
    Setelah dipikir2 alternatif endingnya emang lebih unyu ㅋㅋㅋ
    Ah pokoknya suka deh kak, semangat buat fic emejing selanjutnya ya ^^

  3. Banyak banget sih sebenarnya bagian-bagian yang keingat dr F3 ini, tp yang paling berkesan; saat lana menemukan karya tulisnya sendiri. Dia seperti membuka memori ingatan yang–mungkin– terlupakan atau sengaja di lupakan. Jadi lebih ngerti aja gmana karakter lana yang pengen kak dit gambarkan.

  4. menurut aku semua berkesan. yah semua plot banyak memberikan hal baru.
    entah kenapa bagian yang paling berkesan dan inget adalah saat penculikan mereka di waktu kecil. disitu terlihat mereka anak yang cerdas dan kuat. walaupun itu flashback aku sangat suka.
    saat tao pd akhirnya mendukung lana dan bilang klo dia sayang sama lana, bagian itu juga aku suka. yah lana dan tao kn bs dibilang gak akur.🙂
    sebenernya banyak bagian yg aku suka.
    dan ff ini emang yg paling aku suka dr ff yg pernah kakak tulis. walaupun ff lain tetep bagus, tapi aku punya kesan berbeda dg cerita ini.🙂

  5. Kalo part favorite sama dgn kak dista. Waktu mereka melarikan diri dan yah betapa tajirnya kris disitu.
    Suka bgt kalo lana dan kris lagi adu mulut
    dan ternyata kris itu perhatian dgn lana.
    Kesel waktu kris selingkuh. Dan ya ngedumel dihati knpa kris kyk gitu dll
    Ngakak pas tau kalo lana cuma akting doang pas nangis sebelum dia nikah gara gara kai ganggu.
    Shock ketika mamanya kris bunuh diri
    dan alfred dalang dari semuanya..
    Dan happy ending versi aku adalah kris kenalin pacar baru ke lana dan disitu kris ngasih undangan nikah dia. OMIGOD gak bisa ngebayangin reaksi lana gimana.
    Terima kasih kak kimchidee atau kak dista udah buat cerita yg bgs bgt… Dan membuat aku jd suka dgn kris🙂

  6. Part favorite aku waktu si Lana ngomong berdua sama Kris di toilet pesawat bilang kalau dia setuju utk menikah, menurutku disitu adalah dimulainya tantangan lain yang lebih menegangkan sama saat-saat Kai selalu ada buat Lana– dan lihat bagaimana reaksi Lana setiap dia liat Kai, udah jelas sekali kalo gadis itu masih sayang sama mantan pacarnya uhuhuhu:”’)) Tapi yang lebih favorite jelas waktu chapter finale. Rasanya kaya ‘ah akhirnya semua berakhir dengan sempurna dan semua rorang bahagia’

    Plus! What a lovely after story kak, sayang banget ya ga ditulis hehe
    sebenernya aku pengen tau banget gimana si Kai dan Lana bisa deket lagi sampe mereka nikah, i bet it will be a very very romantic story aaakk>< dan gimana nanti Kris ngenalin Jill ke Lana dan juga gimana reaksi Lana waktu tahu mereka akan menikah hehehe but anyway, dengan kak Dista nulis after story ini aku juga uda seneng banget karena rasa kangenku sama 54F terobati hehe terimakasih untuk ceritanya kak!

  7. baca post ini setelah lama dari chapter finale..
    seenggaknya berimbas baik.
    aku miir, kalo aku baca ini gak lama setelah chapter finale pasti aku masih emosi dengan Kris dan Lana. haha

    pada akhirnya aku bisa menerima dengan sangat ikhlas bahwa ada beberapa sisi kehidupan yang gak pernah bisa sejalan dengan pemikiran dan keinginan kita..
    part yang paling aku suka?
    yang pertama pasti waktu Kris gendong Lana di Ekuador. haha. i like it the most!!!
    selanjutnya? waktu Tao nasehatin Lana di chapter akhir-akhir..itu waw banget. aku ngeliatnya. waaah, dia beneran udah dewasa.. dia tau gimana cara ngehadepin masalah dan berbicara hal yang penting banget dengan cara baik ke kakak-kakaknya..

    dan buat alternatif ending?
    aku suka banget! apalagi part Lana menikah sama Kai. haha
    seenggaknya Kai gak akan bikin Lana kecanduan lagi, haha
    dan saat Tao dapet penghargaan dan bilang 4 kakaknya itu yang dia panut. waw..

    you are so awesome kak😀

  8. Hi kak dee, hahaha
    jujur ini ngetik masih sambil sesenggukan, ntah apa yang bikin aku nangis, padahal kalo di ingat jg kayaknya nggak ada tragedi yg menimbulkan air mata haha
    tapi sejujurnya, ntah kenapa setiap aku baca cerita/novel yg berbobot, imajinasi ku akan terus bermain selama aku membaca, jadi menurutku ini FF tergolong berat karena melibatkan konflik politik perusahaan dan mungkin karena umurku dibilang bisa tergolong sesuai dengan tokoh disini, aku pun merasakan semua yg tokoh ini rasakan. Salute utk kak dee soal ini..
    Mungkin aku tergolong telat pake banget baru baca ini.
    Kalau kak dee masih ingat, aku pernah cerita bahwa sebeumnya aku nggak suka sama FF, ntah kenapa.. semacam punya pikiran “nggak ada apa nama lain yg di pake buat bikin karya lo?” tapi karena bosan mengerjakan thesis ku di bidang IT nggak ada salahnya googling ngeliat sejauh/sekeren apa sih FF itu dan ternyata yang aku temuin bukan FF kacangan, tapi berbobot layaknya novel2 yg biasa aku temui&beli di toko buku. Dan akhirnya ketemu karya kak dee yang Enchanted hahaha. Dan sesuai janjiku pd diriku sendiri, pokoknya kalau thesis ku kelar, tinggal nunggu sidang aku harus baca FIVE FOR FIGHTING yg chapter ny bejibun hahaha. Karena membaca karya fiksi itu semacam tombol REFRESH utk otak ku.. hihihi

    Yang paling berkesan buat ku selama baca FFF ini *singkatan utk Five For Fighting* adalah gimana cara kak dee mengorek info ttg Borneo.. dan juga jasa travel kam dee di sekitar benua Amerika hihihi
    Trus karakter yg menurutku jauh dari kata cocok antara Lay disini dgn yg aslinya, ini menurutku ya~ tapi fine-fine aja toh ini fiksi, jd suka2 yg bikin🙂 ya kan?
    Awalnya kaget campur pengen ketawa pas Lana bilang kalau Sehun aka Jaden Oh itu gay, demi apapun cuma kepikiran “kak dee ada2 aja deh bikin Sehun jd gay, kasian amat si thehunie” hahaha tapi langsung ngakak ketika tau yg sebenarnya bahwa informan nya tidak akurat HAHAHA

    Ntah kenapa, atau hanya perasaanku saja, Luhan di Enchanted & di FFF semacam sama.. Kalau disini Luhan hanya sebagai tokoh sampingan namun segala kelebihan nya bikin dia benar2 perfect! dan aku jadi suka Luhan hahaha
    Oh ya, aku selalu merasa annoying ketika tiba2 kak dee memunculkan tokoh Kai (mungkin trauma Echanted – harusnya trauma ini dulu kan ini duluan publish hahaha). Padahal Kai bias utama selain D.O tapi beneran deh, Kai itu semcam kutu tengil yg tiba2 ada aja hahaha

    Hmm, aku merasa benar2 dipeluk Kris di RS hahaha :p
    Dan aku nangis di part terakhir ketika Kris bertemu ibunya, semacam semua beban pikiran yang selama ini terkontaminasi oleh seluk beluk tetek mbengek politik perusahaan dan terjawabnya teka teki selama ini tertuang sempurna dan waktu Kris bilang “pastikan dia memakai pakaian terbaiknya” semacam ada rasa sedih mendalam di karakter Kris, mulai dari situ aku mewek T_T dan berlanjut ke action penyelamatan Lana yg di bekep sama dedengkot Alfred -_-

    Dan HAPPY ENDING versiku adalah….
    as usual all readers wanna see the main of the story will be together again since… first night of both of them LOL
    Kenapa harus sama Kai sih kak dee? Kan Kai sama aku #plak wkwkwk
    Dan bukan nya sotoy, disini kak dee semacam belum rela jika Luhan dengan yg lain hahaha makanya si Luhan di bikin forever alone LMAO~ yah setidaknya sebagai anak IT emang pacar pertama itu adalah Laptop , jadi dimaklumin kok kalo Luhan nya stay forever alone disini hahaha

    Dan sebuah kutipan dari Kai buat Kris tentang
    “If you love someone, set her free. If she comes back, she’s yours. If she doesn’t, she never was.”
    memang benar adanya.. benar2 speechless..🙂

    Dan wish ku untuk FF kali ini, semoga bisa di angkat ke layar lebar hehehe😀

    Okelah kalau begitu, saatnya menyudahi komen panjang yang entah ditangkep apa enggak ini intinya😀
    Pokonya ditunggu kelanjutan The Forsaken dan Enchanted yg bonus terakhir deh kak😀

    Thanks ya kak ngasih refresh ke otak ku hihihi

    Kak dee fighting!!! ^^

  9. Hello kak Dee!

    Aku baru baca Five For Fighting sampe chapter8. Pas mau aku cari chapter9 (sama chapters lainnya) kok gaada? dihapus? apa aku aja yang salah cari?

  10. Salam kenal kak dista.. Aku reader baru kak di protec ya 54f nya? Klo mau baca bisa dapat pw nya gimana? Thanks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s