Classy Revenge.

Satu hal yang kupelajari dari kehidupan remaja ketika umurku 13 tahun dulu adalah bahwa kita cenderung melakukan segala hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, sebagai sebuah tantangan, yang dipicu oleh rasa ingin tahu yang tinggi.

13 tahun: aku masih SMP. Fangirling. Menulis fanfiction. Bermain piano. Berteman.

Kalau diingat-ingat, aku nggak begitu menikmati masa SMP-ku, dan sepertinya aku juga beberapa kali mengatakan hal ini di beberapa tulisanku sebelumnya. Rasanya seperti: oh ya, aku buenci banget masa SMP-ku sampai aku benar-benar nggak mau ingat lagi apa yang terjadi saat itu.

Bukan. Bukan karena banyak hal buruk yang terjadi dan menimpaku, atau semacamnya. Lebih tepatnya karena pada masa-masa itu terlalu banyak hal bodoh yang aku lakukan. Hal yang bikin aku sangat malu kalau diingat lagi sekarang, haha.

Tapi tentu aja, namanya juga remaja. Anak kecil yang baru saja beranjak dewasa, dalam masa adaptasi saat memasuki dunia baru yang lebih berat dan kompleks: dunia godaan.

Dunia anak remaja: dunia tawa, dunia drama, dunia permusuhan.

Aku ingat sepupuku pernah bilang sesuatu. Saat itu aku masih SD, mungkin umurku sekitar 10 atau 11 tahun. Kami terpaut jarak empat tahun, dan dia lebih tua. Meski begitu, dulu, dia adalah teman curhat favoritku.

Suatu saat dia pernah cerita tentang musuh besarnya di SMP, aku ingat dia menyebutkan dua nama yang sama selama dua tahun. Mereka musuhan karena satu cowok ini, yang kakak sepupuku taksir dengan gayung bersambut, tapi ternyata ada pihak ketiga dan bla bla bla yang bikin hubungan mereka bermasalah. Yah, typical drama remaja gitu lah.

Ada satu hal yang dia katakan dan kalimatnya itu teringat sampai sekarang, menancap kuat di dalam kepalaku. Permusuhan si sepupu dengan temannya itu ternyata berimbas sama hubungan dia dengan cowok ini, yang entah gimana akhirnya bikin dia putus ding dong deng lalu akhirnya musuhan juga. Saat itu aku cuma bilang, “Bales donk, jangan mau digituin sama si A.”, kemudian dia jawab, “Aku cuma bisa balas dia sama satu hal yang nggak akan bisa dia ambil dari hidupku. NEM (kalau nggak salah ini singkatan dari Nilai Ebtanas Murni)-ku lebih tinggi dari dia, dan dia nggak bisa ngalahin aku dalam hal itu.”

Dengan NEM yang lebih tinggi itu, sepupuku bisa masuk SMA favorit di Surabaya, sementara si musuhnya nggak.

.

.

Classy Revenge.

Ini adalah istilah yang aku pakai untuk melabeli cerita itu. Dia nggak membalas dengan mengonfrontasi balik, dengan merebut cowoknya balik, atau hal lain yang dramatis ala anak-anak di masa puber. Dia membalas anak perempuan dengan persaingan otak, dengan intelejensinya yang tinggi. Sebuah prinsip yang tanpa aku sadari terbawa dan menyublim di dalam otakku, lalu membangun sikapku saat beranjak dewasa.

Bahkan saat kamu marah, saat kamu ingin membalas perbuatan orang yang sudah menyakiti kamu, lakukan dengan berkelas.

Dan sayangnya, ternyata aku tipe orang yang pedendam. Aku menjadi seperti itu.

.

Dalam satu babak kisah dramaku, sebuah kejadian besar yang menimpa keluargaku menjadi titik balik perubahan besar akan kehidupanku. Satu kejadian itu, yang membuatku mulai banyak merenungkan apa aja yang dulu pernah terjadi, yang pernah kulakukan, segala kebodohan yang kemudian menumpuk jadi timbunan penyesalan yang nggak akan pernah aku lupakan. Aku marah, aku mulai menyalahkan orang-orang, dan semuanya. Aku yang dulu, dan mereka yang membuatku seperti itu.

Ini membawa aku pada sebuah cerita.

Aku memimpikan sesuatu. Banyak hal sebenarnya, tapi dengan pola yang sama. Mimpi-mimpi itu seperti semacam oneshot series dengan satu tema yang menjadi topik utama variasi tiap mimpiku. Aku selalu berada di tempat yang sama, atau menemukan hal yang sama. Hal itu. Orang-orang itu.

Dan mimpi-mimpi ini selalu muncul secara rutin selama beberapa tahun belakangan. Kadang bahkan terulang beberapa kali, seperti tayangan tunda di televisi.

Aku nggak pernah terlalu memikirkannya dulu walaupun mimpi-mimpi itu sangat menggangguku. Bahkan kadang ada saatnya aku takut tidur karena nggak ingin memimpikan hal itu-itu lagi. Kupikir karena itu hanya mimpi, meski seringkali terjadi dan hampir tiap hari. Aku membiarkannya berlalu. Sampai kuhitung tiga tahun berlalu, dan mimpi-mimpi itu terus bermunculan. Akhirnya aku mulai mencari tahu apa sebenarnya arti dibalik mimpi-mimpiku itu, sedikit lega bahwa ternyata kulihat ada yang mengalami hal yang sama seperti yang kulihat di mimpi… like, exactly the same thing. Aku mencari jawaban yang selama ini menjadi pertanyaan di dalam kepalaku: Kenapa aku memimpikannya? Kenapa selalu hal itu yang muncul?

Hasil pencarianku ternyata berakhir pada sebuah kesimpulan. Saat itu seperti aku sedang diingatkan, bahwa ini saatnya untuk memaafkan dan melupakan, untuk menjadikannya pelajaran. Mimpi-mimpi itu terus muncul karena timbunan dendam itu menggunung dan mengerak di satu sudut ruang sadarku, dan aku nggak pernah berusaha untuk mendaur ulang, maupun menguburnya dalam-dalam. 

.

Aku memaafkan mereka.

Aku memaafkan kamu, yang muncul dalam mimpiku dan selalu kunistakan.

Dulu balas dendam dengan berkelas versiku adalah dengan menunjukkan pada bahwa hidupku jauh lebih baik dibanding mereka. Aku mendapatkan segalanya, aku lebih dari segala lebih dibanding mereka. Tapi perlahan aku mulai menyadari bahwa aku nggak bisa mendapatkan segalanya dengan masih memiliki segalanya.

Jadi,

To forgive. This would be my new version of classy revenge.

I apologize, and I forgive you.

“…dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun, 64:14)

.

.

tiga minggu sudah berlalu. Aku nggak pernah memimpikannya lagi.🙂

7 comments

  1. memaafkan memang mudah,,
    kadang aku gitu juga sih; pendendam. tapi ak jarang banget bales. kalaupun bales ak pasti balesnya secara sedikit kasar, kalau tidak orang itu akan berakhir menjadi bahan “pisuhan” ku.
    dalamasalah memaafkan, selama yg aku bisa ak masih dalam tahap mencoba.
    bukannya menjadi lebih baik itu impian semua orang? dan memaafkan adalah salah satu yg menurutku cara menuju kesana. memaafkan itu proses hati.
    maaf kalau komenku geje sekali🙂

  2. menurutku ini intinya memaafkan bukan sih kak Dee?
    aku suka kalimat ini –> “Bahkan saat kamu marah, saat kamu ingin membalas perbuatan orang yang sudah menyakiti kamu, lakukan dengan berkelas.”
    curcolannya kak Dee ini jadi pelajaran banget buat aku. Thanks Kak ^^

  3. ahhhhhh.. Dan kemudian merenung, mungkin bener mb dee, kita memang harus bisa memaafkan supaya hidup jadi lebih tenang.🙂

    Ahhhhhh, kita belum kenalan, aku areta😀

  4. gak bisa bilang apa-apa. jujur, aku gak tau rasanya punya dendam itu kayak gimana, aku bukan tipe pendendam. palingan juga pasrah kalo ada seseorang yang menyakiti perasaan. semua diserahkan pada Allah S.W.T. hehehe… lagian buat apa jadi pendendam? gak ada guna, bikin tambah tua.

  5. Sayang sekali ketika aku membaca ini, semuanya sudah terlambat.
    Sudah terlanjur terlambat untuk memaafkan dan meminta maaf.

    Aku memang tidak tahu hal apa yang membuat kak Dista menjadi seorang pendendam.
    Apapun itu, sepertinya aku bisa sedikit mengerti, karena pernah ada satu masa dalam hidupku dimana aku juga menjadi seorang pendendam. Dan aku rasa itu wajar, apalagi pada saat itu aku dalam transisi remaja menuju dewasa, alias masih labil.
    Dendam itu membuatku menjadi sosok yang sangat tidak ramah, menyebalkan, pokoknya nggak asyik deh, hingga pada suatu hari ketika aku membaca sebuah buku psikologi aku belajar untuk ikhlas pada segala hal.
    Tapi masih ada satu hal yang tidak sudi aku ikhlaskan, bahkan aku bersumpah aku tidak mau mengikhlaskannya. Sampai kapanpun.

    Hingga akhirnya, semua terlambat. Tidak ada gunanya memaafkan, dan tidak akan ada kesempatan bagiku untuk minta maaf–minta maaf karena tidak bersedia untuk memaafkan.
    Semua hilang, secepat satu kali kedipan mata.

    Detik ini, aku begitu menyesal kenapa aku pada saat itu aku tidak mau mengikhlaskannya.

    Jadi mungkin aku hanya akan sedikit menambahkan saja:
    Maafkanlah, lupakan dendammu meski itu berat, sebelum semua terlambat hingga kamu tidak bisa memaafkan diri sendiri.

  6. Entah kenapa aku ketawa ngakak baca tulisan ini. Enggak- bukan karena ini jelek, tapi ini seolah bertolak belakang sama ideologi yang aku pegang sekarang.

    Dan cerita ini sama persis kayak yang aku alami sekarang (ketahuan masih anak kecil dan belum terlalu dewasa hahahahahahaha).

    Aku juga mau berterima kasih sama Kak Dista, berawal dari penasaran sama bukunya dan akhirnya masuk list buku yang harus dibeli di tahun 2013, sampai buku itu aku baca dua kali. Bahkan belum bosen dan masih ada penggalan cerita yang masih belum aku ngerti (lah? Kemana-mana jadinya XD)

    Back to topic

    Jadi orang pedendam dengan prinsip yang menunjukan kelebihan dalam kehidupan, buat aku cape sendiri, apalagi aku orangnya tipe pecemburu. Aku akui ngelakuin itu gak mudah dan gak enak. Banyak banget yang aku batasi. Gak boleh ini, gak boleh itu, dan masih lagi.

    Mungkin mulai detik ini, aku mencoba memaafkan mereka. Dan mungkin juga aku harus mengurangi sifat dendam aku.

    Kalau Tuhan aja bisa memaafkan hamba-Nya, kenapa hamba-Nya gak bisa maafin sesama hamba-Nya.

    Dan satu lagi, sepertinya aku udah telat komennya. Inikan udah lama. Hehehehehehehehehe..

    Makasih ya Kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s