DARKee’s Outing : Bangkok-Kuala Lumpur

new7

Aku sudah berpikir untuk menuliskan diary perjalananku sejak sebulan yang lalu, tapi nggak pernah sempat. Selain karena harus ngumpulin banyak foto dan scan beberapa tiket, ada video yang juga harus di-upload, dan itu membutuhkan waktu yang nggak sedikit, terutama dengan sinyal internet secerdas badak bercula satu di musim hujan. .. ya, aku juga nggak tau korelasinya apa, jadi lupakan aja.

Eniwei, aku pergi ke KL dan Bangkok selama seminggu sebulan yang lalu. Berangkat tanggal 16 dari Surabaya, mendarat di LCCT, lalu naik shuttle ke KLIA dan melanjutkan perjalanan ke Suvarnabhumi, Bangkok malamnya di hari yang sama.
Bersama dua teman cantik, fellow DARKee, secara teknis ini adalah perjalanan liburan kedua kami setelah tahun lalu menginvasi kota Medan, daerah jajahan si Rezkho.

Aku sama Ines berangkat berdua dari Surabaya, dan rencananya ketemu Rezkho di KLIA. Lucu banget kalau inget gimana dia udah berangkat dari Medan jam 6 pagi, sementara aku sendiri baru berangkat sekitar jam 12 dari Surabaya. LOL. Kami ketemu di KLIA sekitar jam 4 waktu KL, ngeliat Rezkho udah hampir busuk nunggu di terminal keberangkatan. Kami nunggu empat jam di McD sambil makan siang, karena kami ambil penerbangan terakhir ke Bangkok jam 10 malam.

Ini sebenarnya bukan perjalanan pertamaku ke Thailand, tapi pertama kalinya langsung ke Bangkok. Aku sebenarnya lupa-lupa ingat dengan perjalananku saat itu, karena sudah lama, dan karena ingatanku ini sama sekali nggak bisa diandalkan, tapi yang paling kuingat adalah kesan pertama ketika mendarat untuk pertama kali di Bangkok cukup ‘mengesankan’. It’s beautiful, Bangkok at night. Kurasa karena Survarnabhumi letaknya nggak jauh dari kota, jadi saat menuju bandara, lampu-lampu terang jadi pemandangan di bawah, jalan tol yang lengang, sampai terlihat bandara cantik itu. Saat mendarat, kalian pasti pernah dengar istilah ‘touch down‘ kan, selain bentuk gol dalam pertandingan American footbal, istilah ini biasa dipakai untuk menyebut bila seseorang baru saja mendarat di suatu tempat.
I tell you what, pernah liat atlet rugby lagi bikin gol, kan? alias touch down the ball? …. ya, itu tepatnya yang sang pilot lakukan pada pendaratan kami saat itu. Pesawatnya bukan mendarat, tapi dibanting, dan itu benar-benar touch down dalam arti harfiah. It’s quiet surprising, though. Kurasa pilotnya udah ngantuk jam segitu, waktu di sana sudah hampir tengah malam. LOL.

Aku nginep di deTalak Hostel. Ini adalah hostel ala backpacker yang super-duper murah. Semalam dalam rupiah cuma 88000 untuk satu bed di Female Dorm, dan meski tempatnya agak ‘mojok’, lokasinya di daerah Rama IV – Khlong Tei, nggak jauh dari stasiun MRT Queen Sirikit, jalan sekitar 50 meter nyampe. Selain itu segalanya juga serba murah di sana, laundry cuma 40 baht+pengering 30 baht untuk sekitar cucian 7kg, pengering rambut dan lampu duduk dipinjamkan free, termasuk free internet+wifi dan ice cream😄. Jadi malam itu, setelah naik taksi (dari bandara kami bayar 50 baht untuk charge pertama, plus biaya tol sekitar 40 baht dan feenya sekitar 170 baht) langsung diantar ke depan hostel.

notes:

(1) hati-hati untuk para turis, lebih baik kalian pakai taksi bandara, atau yang dari depot resmi di taxi point. Jangan pernah mau naik taksi kalau sopirnya minta lebih dari 1000 bath.
(2) kalau mau beli nomer dengan paket internet full service, kamu bisa beli di Bandara. Waktu itu aku pakai DTAC, mereka punya paket Blackberry dan Android seharga 290 Baht.

Hari Pertama
Aku bangun paling pagi. LOL. Sekitar jam 8 (waktu di Thailand sama seperti WIB) pagi kami udah keluar kamar, sarapan, terus cabut. Cari makan halal di Bangkok emang agak sulit, terutama untuk kami yang baru pertama kali ke sana tanpa kenalan lokal yang bisa dijadikan guide. Jadi untuk menanggulanginya, dari Indonesia kami udah bawa ‘lauk’, jadinya tinggal beli nasi aja untuk makan siang. Untungnya nggak jauh dari hostel ada semacam warung makan, dan kami bisa dapat nasi porsi 3 orang dengan bayar 20 baht.
Kunjungan pertama adalah ke Madame Tussauds. Kalian mungkin udah nggak asing lagi dengan tempat ini. Sebuah museum di mana kita bisa liat para bintang idola dalam bentuk wax atau lilin persis seperti aslinya.

bersama Mr. Mel Gibson ... ganteng ciamik!

bersama Mr. Mel Gibson … ganteng ciamik!

Dari artis Hollywood, bintang Cina, para seniman kelas dunia, atlet sepak bola, bahkan para mantan Presiden, ada di sana. Bahkan ada simulator untuk main sepak bola, kita semacam jadi pemain pas lagi tendangan pinalti, dan itu memakai sensor bayangan tubuh. Lalu ada juga dance practice di deket Justin Bieber, it’s kinda cool😀

Untuk ke Madame Tussauds, kalau dari MRT Queen Sirikit, turunnya di Sukhumvit. Setelah itu jalan keluar untuk pindah stasiun BTS (semacam monorail) ke arah National Stadium dan turun di Siam. Madame Tussauds ada di gedung …. apa ya, aku lupa, kalau nggak salah namanya Siam Discovery something LOL, pokoknya tempatnya di belakang Siam Paragon. Jadi jalan aja ke sana, hahahahaha…

Selesai dari museum, kami jalan ke MBK. Nggak jauh jaraknya, sekitar 100 meter, lalu terlihatlah penampakan shopping center terbesar di Bangkok ini. MBK persis di tengah-tengah stasiun BTS National Stadium dan Siam, jadi gampang banget ditemukan.
MBK Center, atau kepanjangannya Mahboonkrong, punya 8 lantai dengan ribuan kios yang menjual apaaa aja. Biar nggak tersesat, atau untuk menemukan tempatnya biar gampang, kamu bisa ambil petanya yang tersedia di tiap pintu masuk.
Kalau mau belanja souvenir juga bisa di sana, di lantai enam, mereka punya semacam fashion & souvenir area hampir setengah lantai sendiri selain food court. Baju-baju “I Love Thailand” dijual seharga 100 baht dengan berbagai souvenir dan baju-baju lain yang harganya beraneka ragam, bisa kamu tawar.

IMG_0002

map MBK

notes: setiap perjalanan pasti mengajari kita banyak hal tentang kehidupan dan watak para orang lokal. Di Bangkok ini, aku belajar bahwa para pedagang di sana cenderung nggak sabar. Tiap kali kita datang dan tanya harga, mereka langsung nodong kita mau beli berapa banyak dan langsung memproses transaksi jual beli. Hal semacam ini nggak masalah untuk orang macam aku yang kalau sudah suka mau langsung beli, tapi untuk kalian yang lebih suka liat-liat dulu, terus mikir agak lama untuk memutuskan mau beli atau nggak, lebih baik putuskan dulu mau ambil yang mana, mau beli atau nggak.
yang kedua, terutama ini saat kita lagi mau beli baju, mereka nggak suka kalau kita pegang-pegang baju yang udah di-display. Mereka nggak suka kalau kita pengen liat warna terus model gambarnya macam apa, dan maunya kita langsung sebut, warna apa-mereka ambilin-kita bayar-terus pergi.
sabar yaa😀

Hari Kedua – Chao Phraya!!

new22

Banyak yang bisa dikunjungi di area dekat sungai yang membelah kota Bangkok ini. Untuk ke sana, dari stasiun Queen Sirikit naik MRT ke arah Hua Lamphong dan turun di Silom. Dari sana terus kami naik BTS di Sala Daeng dan turun di Saphan Taksin., jalan ke pelabuhan. Kita bisa beli tiket terusan untuk sehari seharga 150 baht. Layanan kapal cepat ini dibuka dari jam 9an sampai jam 10 malam, di sana ada banyak kapal dengan berbagai bendera. Tapi untuk tiket terusan ini, kita hanya perlu nunggu kapal berwarna biru yang datang sekitar 10-20 menit sekali, berhenti di delapan pelabuhan sepanjang hari. Sepanjang jalan kita disuguhi pemandangan kota lama, dengan gedung-gedung bersejarah yang sudah ada lama kali, dijelaskan oleh seorang guide yang sudah standby di dalam kapal.

Kunjungan pertama ke Grand Palace. Turun di Maharaj Pier, kita akan ngelewati pasar sampai ke ujung jalan. Grand Palace nggak jauh dari sana.
Untuk masuk kita bayar tiket sebesar 500 baht itu sudah terusan sampai ke Vimanmek Mansion. Grand Palace ini konon adalah tempat tinggal raja di awal Dinasti Chakri. Di sana ada beberapa pagoda, museum senjata dan gedung-gedung bersejarah dengan aristektur gaya Eropa. Kamu bisa ngabisin seharian di sana kalau mau dikunjungi semua tempat dalam satu kompleks Grand Palace itu.

new16

aku pengen banget nyari celana motif ini, tapi nggak nemu lagi selain di Grand Palace >,<

new17

masih di Grand Palace

new15

relief garuda di salah satu pagoda

IMG_0004 IMG_0003

notes:

(1) Beberapa area turis di sekitar Chao Phraya ini menganjurkan kita untuk memakai pakaian tertutup. Jadi jangan pakai kaos tanpa lengan, celana/rok pendek, sandal jepit. Mereka memang menyediakan pakaian untuk dirental, tapi jaga-jaga boleh kan untuk hemat biaya🙂
(2) di dekat pasar, jangan sampai tertipu bila ada yang ngasih tau ‘Grand palace masih ditutup sampai jam ‘tertentu’ karena sedang dipakai untuk pertemuan negara. Oknum ini nipu, nanti ujung-ujungnya kamu akan ditawari naik tuk-tuk keliling daerah sana dengan biaya sampai 100 baht.

Wat Pho.

gambar di kaki Budha

gambar di kaki Budha


Tempatnya nggak jauh dari Grand Palace, katanya sih sebelahnya. Tapi emang kalau ke sana jalan kaki, harus memutar. Konon ini adalah kuil tertua dan juga terbesar di Bangkok, di mana di dalamnya ada patung Budha raksasa dalam posisi tertidur. Kemarin aku ke sana lewat Tha Tien Pier, dan jalan lewat pasar juga sampai ke Maharaj Road, dan belok kanan. Di sini pakaian juga harus sopan tanpa celana/rok pendek atau kaos tanpa lengan. Biaya masuknya 50 baht.

Wat Arun.
new18Bangunan tercantik yang aku lihat selama berada di Bangkok. Wat Arun adalah candi, yang menurutku gabungan Borobudur dan Prambanan, dengan tangga yang jauh lebih curam. Konon kalau kita naik ke tingkat yang paling atas, kita akan diperlihatkan pemandangan yang sangat spektakuler. Apalagi saat sore hari menjelang malam, karena itulah saat paling ramai dikunjungi di jam-jam ini. Tapi karena saat itu aku udah amat sangat capek jalan, jadinya nyerah sampai di plataran ke-2. hehehehe…

notes: Jadi di Wat Arun ini ada semacam papan yang bolong di bagian muka di mana kamu bisa foto di sana. Semua itu bayar ya, jadi hati-hati. Di dekat pintu masuk ada papan yang sengaja nggak dijaga dan nggak ditulisi harganya, ternyata setelah kita foto di sana, nanti seseorang tiba-tiba muncul dan nodong duit. Kita harus bayar foto yang hasilnya nggak seberapa, 1 orang 40 baht.

Khao San Road
Konon ini adalah area turis paling terkenal di Bangkok. Tempatnya biasa aja sih, hanya jalan yang dipenuhi pedagang di pinggir kanan kiri, dan ‘party hotel’ di sepanjang tempat di sana. Tadinya aku memang sempat mau nginep di sekitar sana, tapi karena reviewnya agak buruk (party hotel konon berisik banget) jadinya kami cari tempat lain.

new13

favoritku – mangga ketan itu uenak! *bisa dibikin sendiri*

new4

Padthai – bihun campur kecambah dan kubis pakai saos, enak😀

new3

ini dia si penjual Padthai~

untuk ke sana memang agak jauh, dari Pra Arthit Pier kita jalan sampai ketemu jalan besar, terus belok kiri.

new14

Kalo mau ngikutin jalan kita harus muter, tapi kemarin aku menemukan jalan tembus lewat Soi Rambuttri, yang berisi hotel-hotel, kafe, juga tempat pijat khas Thailand di pinggir” jalan penuh bule. Nanti keluar jalan besar belok kanan, Khao San Road di sebelah kanan.

notes: naik taksi di Bangkok murah banget bok. Hari itu karena sudah capek sangat, kami memutuskan untuk pulang naik taksi ke hostel dan hanya bayar 200 baht (harga dikasih driver), padahal perjalanannya hampir 2 jam karena macet.

Hari ketiga

Vimanmek Palace, atau Vimanmek Mansion ini konon bekas tempat tinggal raja jaman dulu. Tempatnya nggak jauh dari Dusit Zoo, tapi jalannya emang jauh banget. Kemarin itu, aku turun dari stasiun BTS (aku lupa apa BTSnya, sepertinya Victory Monument) dan naik taksi bayar 100 baht sampai ke depan gerbang masuk. Mansionnya besar, terbuat dari kayu jati–kalau nggak salah kayunya–dan dingin hawanya. Untuk masuk ke sini kita bisa pakai tiket terusan yang didapat dari Grand Palace, jadi jangan sampe ilang yaaa😀


new6
new5

Dari situ kami terus ke Ananta Samakhom throne hall. Mereka punya dress-code di sini, perempuan harus memakai rok. Kala itu aku sedang pakai celana, jadi kami diharuskan untuk membeli kain tenun seharga 15 baht. Nggak perlu sih, tapi lumayan, kainnya tebal dan bagus, harga murah!😄

Ananta Samakhom throne hall ini kurasa adalah kunjungan paling magnificent selama di Bangkok. Desain bagian dalamnya mengingatkan aku sama Katedral St. Peter Basilika di Vatikan, dengan kubah yang megah dan lukisan … aku lupa apa, tapi yang jelas luar biasa cantik. Aku baru tahu kalau Thailand ternyata sekaya itu, LOL, bahkan nggak berasa sedang di Bangkok saat berada di sana😄
Ini adalah museum yang memamerkan kekayaan kerajaan Siam dengan koleksi semacam singgasana tahta yang semuanya dibuat dari emas berukir plus baru berlian, kain tenun yang cantik, ukiran kayu bercerita, sampai hiasan dinding berbentuk kain bordir yang dijahit tangan sebesar belasan meter. Yang bikin aku sedikit kalap adalah koleksi kotak perhiasan mereka yang super cantik, secara aku suka yang bling-bling gitu, jadinya berasa di surga–dan juga iri setengah mati sampe ngiler–melihat koleksi simpanan keluarga raja. Sayangnya di sana kita nggak boleh ambil foto, dan kita juga dikasih semacam remote yang menjelaskan sejarah tiap koleksinya dalam bahasa Inggris.

Hari keempat

new12

Hei! aku menemukan wajah yang familiar~

Pratunam Market, area belanja yang cukup terkenal di kalangan para turis. Daerah di mana kedutaan Indonesia berada, tapi menurutku sih tempatnya biasa aja *nggak hobi shopping*. Aku hanya yakin ini pasti tempat tujuan para pedagang Indonesia yang mau ngambil baju buat butik-butik kecil mereka, beberapa gayanya terlihat familiar. Tapi harus kuakui, mereka punya style yang unik.. Aku sebenarnya agak ngiler kalau melihat baju dengan corak bendera Amerika atau Union Jack UK, tapi berhubung saat itu aku sedang hemat duit, jadinya cuma bisa liat-liat aja. Hari itu kami kembali ke MBK untuk hunting souvenir yang belum kebeli, pulang agak sore, supaya bisa istirahat. Padahal di hostel juga akhirnya tidur larut malam gara-gara striming ShimShimTaPa-nya EXO, hahahaha..

Sayang banget kami nggak sempat berkunjung ke Jatujak Market, padahal sebenarnya itu yang mau kulihat macam apa bentuknya. Kami datang hari Minggu malam, dan balik Jumat pagi. Sementara Jatujak ini weekend market yang buka pas hari Minggu >,< maybe next time ….

Hari Kelima

Kami balik ke KL.

Ah, mumpung aku inget. Siapapun yang hendak pergi keluar negeri, aku sarankan untuk tuker duit di Indonesia aja. Kemarin aku menukar duit sebagian di Bangkok, yang ternyata kursnya sangat tinggi, aku agak bete karena sebenarnya aku bisa dapet 2000 baht lebih banyak kalau nuker di Indonesia. Dan itu jumlah yang sangat signifikan!!!Lalu yang kedua, ketika sudah sampai di negara manapun, akan lebih baik kalau kalian ‘switch’ pemikiran bagai orang lokal. Dari cara berpikir, sikap, bahkan saat keluar duit. Sejak dulu aku membiasakan diri untuk nggak pernah itung-itungan duit yang kukeluarkan di luar negeri dan membandingkannya dengan rupiah, karena pertama (1) kita bisa bingung itung-itungannya (2) kita bisa stres, apalagi kalau nilai mata uangnya lebih tinggi dibanding rupiah, segalanya terasa mahal. Di bangkok, harga barang-barang dan makan relatif lebih murah sih, tapi kalau di negara lain? Ya, lebih baik memang lupakan saja, dan fokuslah untuk menghabiskan uang itu secara bijak dalam mata uang negara masing-masing.

Lalu satu hal lagi, jangan mengandalkan GPS saat di Bangkok. Kamu bakal 100% nyasar!!

IMG_0005

I found some cute postcard~!!

Di KL kami nginep di Agosto Inn di daerah Pasar Seni. Dari KLIA kita bisa naik bus sampai KL Sentral dengan biaya 10 RM. Agosto Inn ini letaknya di pinggir jalan deket jalan Sultan, seberangnya 7-11. Kalau dari stasiun Pasar Seni, kamu belok kanan sampai di interchange bus station, lalu jalan ke arah kanan, ada perempatan belok kiri, nggak jauh dari sana. Tadinya kami berniat untuk nginep di apartemen temen Rezkho yang konon sedang kosong karena ditinggal umroh, tapi ternyata tempatnya jauh bangeeet. Akhirnya kami booking room seharga 200 RM lewat booking.com (kalau lewat situs ini, kamu book kamar apapun di manapun nggak perlu bayar DP). Agosto Inn punya kamar untuk 3 orang, dengan 1 bunkbed dan bed kecil berjejeran. Kamarnya kecil, tapi cukup cozy. Keseluruhan tempat itu sangat cozy buat para traveler, ditambah lagi, dingin banget… semua fan dan AC nyala, dan itu bikin tenggorokanku kering.

Yang jadi masalah adalah karena saat balik ke KL, aku dalam keadaan flu, donk. Mana saat itu aku melupakan hal yang paling penting untuk dibawa saat traveling: masker. Jadinya selain nggak begitu menikmati sisa dua hari untuk jalan-jalan, keadaanku beresiko tinggi menulari dua temanku virus flu yang mengganggu itu, hehehehe…

Pasar Seni ini daerah yang lumayan oke juga untuk turis. Di sana terletak Central Market (shopping center), Kasturi Street, juga Petaling Sreet (another market macam Pratunam). Hari itu kami memutuskan untuk istirahat dulu, tidur sampe sore dan keluar menjelang malam, makan di restoran India–favoritku–di Kasturi Street dan jalan-jalan ke Petaling Street. Kalau nggak salah malam itu kami ke KLCC, atau besoknya ya? Lupa. Pokoknya satu dari dua malam itu kami ke KLCC. hehehehe…. dan ini untuk pertama kalinya aku ke KLCC saat malam, pemandangannya ternyata bagus juga, ada fountain show di belakang Suria Mall😀

new19

KLCC at night

Besoknya kami ke Batu Caves. Ini adalah semacam gua berisi kuil-kuil umat Hindhu, yang mana untuk naik ke gua itu kita harus manjat sebanyak 272 anak tangga. Dalamnya biasa aja… di Indonesia masih banyak pemandangan yang lebih eksotis lagi, tapi nggak masalah, pengalamannya tetap menakjubkan. Pengalaman yang melelahkan, tapi biasa saja.

new9

setelah sampai puncak, inilah goa yang dimaksud….

new10
Dari sana kami ke Bukit Bintang, area semacam Orchard yang isinya Mall di mana-mana. Kurasa karena aku terbiasa liat mall di Indonesia sini, jadi pemandangan itu juga biasa aja buat aku. Not very excited karena sedang sangat kelaparan, dan kebingungan cari foodcourt yang halal. Di blog manapun nggak dijelaskan di mana tepatnya food court itu berada, akhirnya kami makan di McD, di pojokan perempatan itu. LOL.

Balik ke Surabaya cukup lancar. Dari KL Sentral kami naik KLIA Transit ke LCCT seharga 13 RM (kalau ke

new8

KLIA bayarnya 35RM). Tadinya sempat bimbang apakah kami perlu naik bus aja seharga 10 RM, atau kereta cepat itu, tapi akhirnya memutuskan untuk naik kereta buat pengalaman, lagipula sisa Ringgit kami juga masih cukup buat ongkos hehehe… Aku pulang membawa flu, senang dan riang, kecuali di bagian satu pesawat dengan rombongan TKI yang sama sekali nggak tertib. Perjalanan liburan selalu memberikan sebuah kenangan dan pelajaran yang nggak terlupakan, apapun itu.

Untuk aku, tolak ukur untuk melihat apakah aku cocok dengan seseorang adalah dengan bepergian bersama mereka, karena di sana biasanya sisi asli seseorang bisa terlihat dengan jelas. Bagaimana cara pikir mereka, sikap mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, karakter yang belum pernah kita lihat sebelumnya, bahkan sampai ujung batas kesabaran. You are who you friend with.😀

Happy holiday everyone!!

~xoxo.

9 comments

  1. *nyatet saran2nya* habis sidang akhir, aku mau jalan2.. udah stress nih ngurusin skripsi
    TT________________TT
    btw, kak dista, itu nginep di hotel backpacker enakkah? sekamar berapa orang? err, orangnya nakutin ato gmn gtu gak? secara kan gak kenal .__.

    1. Enak aja sih, selain murah yang penting bisa tidur,, hehehe…
      kalau pake female dorm, rata” isinya sekamar 6-8 bed, dan itu juga enak aja sama yang lain soalnya kalo udah di kamar urusannya masing”. Aku jarang ngobrol sama penghuni lainnya kalo nggak perlu, dan nggak nakutin.

      1. ooo, gitu ya kak.. aku sih sempet mikir soal hotel yg backpacker gitu boleh juga.. tp temenku bilang kan sekamar rame2 terus orangnya gak kita kenal.. jadi serem2 sendiri..🙄 bersih gak kak yg ditempat kakak nginep itu?

      2. Tempatnya bersih.
        Sebenernya selera juga sih gitu ya, enaknya nginep di hostel backpacker itu karena kita nggak kenal, jadi bisa kenalan dan dapet banyak temen baru dari berbagai negara.
        Kamu kalau mau cari hostel misal di booking.com liat reviewnya aja deh,, biasanya dari situ kita bisa liat apa kata orang tentang hostel tempatnya.

  2. Waktu baca judulnya, Bangkok, yg pertama kali terlintas di pikiranku itu novel #STPC Bangkok.🙂 aku udah penasaran bgt sm kota Bangkok krn novel itu (pdhl blm baca), skrg makin penasaran stlh baca diary kamu ini.
    Postingan kamu bener2 bermanfaat bgt buatku Dee krn aku ada rencana sih mau ke sana (tp ga tau ntah kapan ^^;;)
    Thanks ya Dee udah mau sharing pengalamannya..🙂
    Untuk kalimat terakhir sedikit banyaknya aku setuju, thats why kalo lg jalan2 (ngitarin mall :p) kadang aku lebih milih jalan sendiri daripada ngajak teman, atau ngajak teman yg aku tau bgt sifatnya dia seperti apa.

    Oh ya Dee, btw, waktu kamu ke MBK Center ada nemu toko buku ga?

    1. wah maaf aku nggak tau, kemarin dari Bangkok kami terbang ke KL. coba google aja, setauku memang ada kereta api KL-Bangkok cuma kalau dari bangkok naiknya dari mana kurang paham🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s