Catatan Basi: antara Plagiat dan Terinspirasi

plagiat

Jadi, aku nggak akan bicara tentang apa itu plagiat, atau apakah itu terinspirasi. Bila kalian menuntut untuk membaca definisinya, google sudah menyediakan banyak sekali link yang akan membawa kamu lebih memahami apa itu plagiat, lalu apa itu terinspirasi, dan yang terakhir, beda istilah keduanya.

Plagiat, paling gampangnya dimengerti orang dengan pengertian meng-copy karya seseorang atau ‘meminjam’ ide orang lain dan mengakuinya sebagai milik kita sendiri. Ehem, kadang kita nggak benar-benar harus bilang keras-keras bahwa yang dipinjem itu “Hello, this is mine.” atau semacamnya. Tidak mencantumkan ‘credit’ atau asal quote itu sudah bisa masuk dalam kategori ini.

Aku sudah kenyang dalam masalah plagiat. Dulu, ketika hallyucafe masih wordpress.com, entah sudah berapa artikel yang kuterjemahkan dengan sengaja di-copy, lalu di-paste oleh orang-orang yang nggak bisa baca tulisan “DO NOT TAKE OUT THE ARTICLE” atau “TAKE OUT WITH FULL CREDIT” dan tanpa dosa mereka publish diblognya sendiri-sendiri (bahkan ada yang ditaruh diblog news portalnya yang terkenal itu) tanpa memberi credit sama sekali. Apa sih gunanya credit? dan kenapa kami sangat mempermasalahkan pengakuan akan artikel itu?

Jawabannya gampang. Karena menulis, apalagi menerjemahkan, itu nggak semudah makan kacang goreng sambil nonton Dahsyat sebelum mandi pagi. See what I mean, right? Nggak banyak anak-anak yang bisa memahami ini, yang mereka tahu hanyalah bagaimana caranya membuat blog mereka dikunjungi banyak orang dengan komen berjibun dan juga pujian yang berbanjiran. Busuk. Cerita lama.

Belakangan ini kasus plagiat kembali sering dibahas. Nggak cuma di kancah musik dan perfilman aja yang ramai. Sejak dunia fanfiction diramaikan oleh para penulis baru yang berjamuran, kasus plagiat pun makin banyak mengikuti. Yang lucu adalah bagaimana mereka berdalih, “ini bukan plagiat, cuma terinspirasi.” …. terinspirasi kok multi-paragraf. Pinter banget, kan?

Orang-orang bilang, beda plagiat dan terinspirasi itu sangat tipis, karena itu sangat sulit untuk membedakan kasusnya. Salah. Terinspirasi yang orang-orang bilang ‘beda tipis’ sekarang ini hanyalah pembenaran terhadap sikap defensif mereka yang nggak mau karyanya, atau karya idolanya dibilang plagiat. Terispirasi hanya terbatas pada ide, yang memotivasi seseorang untuk mengembangkan suatu event yang mereka baca, mereka lihat, dengan dan rasakan menjadi sebuah karya baru yang orisinil. Ide pasti bisa sama, itu bisa diterima. Tapi nggak mungkin sama sampai lebih dari 2 atau 3 sequence dalam satu adegan. Seperti halnya dalam sebuah fiksi.

Misalnya, kamu punya ide membuat cerita tentang persahabatan. Ya, ide itu memang sudah banyak. Berjamur di mana-mana, banyak sekali penulis yang menjunjung tinggi keagungannya. Bila kamu terinspirasi, maka kamu akan belajar dari satu event karya yang kamu baca, atau kamu lihat, dan kamu kembangkan dalam bentuk kisah lainnya yang lebih pada ciri khasmu, dengan kisahmu sendiri, plot ataupun sequence pilihanmu. Bila adegannya banyak yang sama, apalagi kata-katanya. Itu jelas sudah plagiat. Meskipun kamu ubah dikit-dikit di sana-sini kata-katanya biar nggak sama persis dengan aslinya.

Aku sebenarnya sudah lagi nggak peduli dengan isu-isu semacam ini. Orang-orang nggak tahu diri yang hanya ingin mengangkat derajat dirinya sendiri dengan mendompleng karya orang lain itu hanya perlu dirukyah. Otaknya rusak, mau diapain lagi?

Tapi aku benar-benar nggak tahan bila harus berdiam diri, terutama bila hal semacam ini terjadi di depan mataku sendiri. Beberapa hari yang lalu…. oh nggak, kemarin, ketika iseng ngecek komen dashboard Saladbowl, aku menemukan seorang pembaca yang memberikan link pada satu fanfiction milik Chocokailate. Reader pintar yang baik hati ini menginformasikan kalau salah satu ff di salah satu blog fanfiction besar di Indonesia ini punya tulisan dan plot yang mirip-mirip dengan In the Pouring Rain. Aku langsung klik link itu dan membaca cepat tulisannya. Awalnya aku nggak begitu tertarik dengan ceritanya, tapi saat itu, detik itu, ketika aku menemukan sesuatu yang sangat familiar. Literally, aku langsung loncat dari tidurku. LOL.

Aku akan membahas soal itu di sini. Dan aku tahu, kalian pasti akan berpikir aku menuduh atau menfitnah bila asal ketik dan mengatai tulisan itu plagiat. Tapi tau nggak sih? Aku itu nggak bego, tentu saja aku punya bukti bila memang berniat ngajak ribut seseorang. Hehehe .. oke, nggak seekstrim itu juga. Aku nggak mau nuduh deh, tapi untuk mempelajari lebih jauh mengenai plagiat itu, mari kita bandingkan dua karya yang konon disebut mirip itu dengan pintar. Sample pertama yang kuambil (di sebelah kiri) adalah fanfiction milik Chocokailate berjudul In the Pouring Rain dan juga Peter Pan dalam serial C for Clarity, sementara yang di sebelah kanan adalah naskah fanfiction tertuduh. Nama author dan judulnya aku samarkan demi kepentingan bersama. Nggak usah manja, jangan harap kalian dapat semua informasi dengan mudah di sini.o_O

tabe; 1tabel 2
tabel 3

tabel 4

tabel 5

tabel 6

Perhatikan, dan cermati. Gimana menurut kamu? Lalu yang lucu adalah bagaimana sang penulis dari fanfiction tersebut menyatakan pembelaan dirinya. >>>

pembelaan

Aku nggak tau harus nangis atau ketawa membaca ini. Ditulis untuk menjawab komentar seorang pembaca yang nasih dia link tentang kemiripan tulisannya dengan milik Chocokailate. Well, iyaaaa….. memang yang namanya plot itu bisa sama. Bisa diterima. Itu mungkin terjadi. Tapi apa ya mungkin plotnya sama sampai kalimat-kalimatnya juga? Oke, kalimatnya nggak sama persis, tapi diedit. Hanya saja siapapun yang jeli, Oh nggak perlu jeli, siapapun yang bisa membaca pasti bisa melihat kemiripan struktur kalimat yang sudah aku bandingkan di atas.

Menurut plagiarism.org, beberapa hal bisa mencakup bentuk plagiarisme. Kamu bisa liat pada gambar di bawah ini:

copying

“Mengganti kata-kata tapi meng-copy struktur kalimat sumber tanpa memberikan credit” itu pun termasuk plagiarisme, dan itu jelas kasus yang kita lihat di atas.

Jadi kemarin, karena aku salah satu author di blog fanfiction tersebut, aku sempat mampir ke dashboard commentbox mereka untuk lihat-lihat apa aja yang orang bilang mengenai tulisan ini. Di sana aku menemukan ada beberapa komentar yang masih menunggu moderasi, memberikan pemikiran mereka tentang kemiripan–yang nggak hanya plotnya aja, tapi juga struktur kalimatnya yang serupa tapi tak sama–dua fanfiction yang diperkarakan. Tapi hari ini ketika aku lihat lagi, ternyata komentar-komentar itu sudah nggak ada di sana. Hanya Tuhan dan tukang ojek yang tau apa nasib para komentar itu, mungkin sudah ada di tempat sampah sekarang. Ya, aku cukup tahu aja.

Sayang sekali kita sekarang tinggal di Indonesia. Hukum tentang plagiat ini masih belum jelas, hak cipta seseorang untuk karyanya masih belum terlindungi sepenuhnya, apalagi yang berkaitan dengan dunia maya. Nggak salah memang kalau mengatakan apa yang sudah tertuliskan di internet bukan lagi milik pribadi, karena mudahnya akses internet, banyak orang tidak bertanggungjawab yang nggak segan menggunakannya untuk kepentingan pribadi demi menaikkan pamor dirinya sendiri. Aku juga nggak tau apa motif penulis tertuduh di atas melakukan ini, dan nggak mau tahu juga. Dia boleh menyangkal dalam tulisan, tapi di dalam hatinya, cuma dia sendiri yang tahu kalau aku mengatakan hal yang tidak terbantahkan. Dia plagiat. Itu mutlak.

Kata-kata nggak akan pernah berbohong. Apalagi yang sudah tercetak jelas di sebuah media visual.

Pembaca nggak bodoh, jadi jangan pernah berpikir kamu bisa memintari mereka dengan segudang pembenaran yang hanya akan membuat kamu tampak idiot. Let it go.

Menulislah dari hati, dengan begitu kamu akan lebih diterima oleh para pembaca sebagai penulis yang memiliki ciri khas. Gitu aja, apa susahnya sih?

.

Sincerely,

just an ordinary author who solemnly hates on copy-paste action.

~xoxo.

.

p.s.

Commentbox tidak disediakan untuk menghindari ajang caci-maki pihak tertuduh. Bila nggak kuat pengen komentar, silakan melakukannya di tempat lain aja, hehehe…

[UPDATED]

Kalian tau nggak sih? Aku sebenernya sudah malas berurusan dengan si author fanfiction tertuduh itu, tapi setelah diberitahu bahwa dia update chapter terbaru fanfictionnya, aku entah kenapa jadi mulai ‘ditarik’ untuk ikut ngebaca juga apa yang dia tulis.

Ini menarik. Karena ‘quote’ pembuka chapter terbaru fanfiction tertuduh itu adalah satu line dari lagu Echo milik Jason Walker yang pernah aku rekomen, bahkan aku quote beberapa linenya di Five for Fighting chapter 17. Kebetulan? boleeehhh … meskipun itu kebetulan yang saaaangat menarik, karena lagu-lagu Jason Walker biasanya hanya diketahui oleh para penggemar Vampire Diaries. Oh, mungkin juga dia salah satu penggila Damon Salvatore dan kegalauannya, siapa tahu ya?

Tapi yang paling menarik lagi, adalah ketika aku menemukan. Salah satu adegan yang dia tulis mirip dengan satu adegan di Chapter 17 Five for Fighting. Oh, nggak cuma mirip. Nggak beda jauh dengan kasus yang dia lakukan ke dua fanfiction Chocokailate, mungkin ini juga hasil ‘terinspirasi’ yang dia dapat dari wangsitnya.

tabel 7 tabel 8

The thing is, aku adalah seorang penulis. Aku biasa berurusan dengan kata-kata dan proses pembentukannya. Dan aku mengenali sepenuhnya tulisanku juga para author Saladbowl dengan baik, mereka dengan segala keunikannya masing-masing. Jadi aku tahu ketika membaca sebuah tulisan itu orisinil atau nggak.

See what I mean right? Coba kita liat untuk chapter berikutnya dia akan ‘terinspirasi’ siapa lagi? Aku nggak perlu membongkar saladbowl untuk mencari kemiripan lainnya, semua itu akan terbongkar dengan sendirinya.

Dan dia masih berkilah bahwa tulisannya dibuat sudah lama? Lama kapan? Jaman pra-sejarah?

6 comments

  1. aku baca juga itu..😆 sebelomnya juga ada kok ff dy yg kopas cfc stories yg shoes..🙄 udah kopas, dia pake series2an juga kyk kak hilda, jadi bener2 berasa sama persis.. well, karena kasus plagiat di dunia ff udah kelewat banyak, palingan klo nemu gtuan, cuma bisa hela nafas doang..🙄 biasanya sih mereka yg masih bocah2, kak.. yang dipikirin cuma komentar dan pujian.. gak ada yang mikir kalau skill menulis yg dilatih lewat pengalaman itu yang penting..😕
    karena kak hilda-nya bilang gak kenapa2, yaudah, aku udah tenang deh..🙂 semoga kasus begini jauh2 dari karya2 lainnya..

      1. iya, kak.. soalnya aku juga ngalamin.. sekitar setaon lalu pas mulai nulis ff, gak tau apa2.. eyd amburadul, cerita maksa, plot gak jelas.. tapi untungnya aku gak tergiur sama hal2 macem ginian🙄 semoga mereka2 itu sadar, ya.. emang sih, aku sendiri aja suka ngiri kalau liat tulisan2 orang lain yang lebih bagus, tp kan pasti kalian bisa begitu karena ada prosesnya.. jadi semangat menempuh proses!! \(^o^)/

Comments are closed.