Kontemplasi.

Sejak aku masih sangat kecil, orangtuaku sudah menanamkan sebuah ajaran: bekerjakeraslah untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Namanya juga kerja, kata sifatnya keras lagi. Jadi nggak mudah. Orangtuaku memberi anak-anaknya pelajaran tentang bagaimana mengejar cita-cita, sejak kecil kami dibiasakan untuk memiliki tujuan, nggak cuma dalam hidup, tapi juga dalam tiap fase perjalanan pendewasaanku. Kami tahu ingin jadi apa saat dewasa sejak kecil, dan cita-cita itu menggantung di kepala hingga saat ini. Kami bertiga dalam perjuangan untuk mencapainya.

Berbeda dengan dua kasus adik, aku punya lebih banyak alternatif cita-cita dibanding mereka. Aku pernah ingin jadi dokter, lalu jadi pengacara, lalu jadi diplomat, yang terakhir jadi profesor. Satu-persatu pilihan itu berguguran semakin aku beranjak dewasa dan mengenal kerasnya hidup ini untuk seorang Dista, hehehehe, hingga akhirnya pilihanku jatuh pada alternatif yang terakhir. Aku ingin jadi seorang guru. Aku ingin mengajar mahasiswa.

Tapi dari semua alternatif yang sudah disebutkan di atas, aku sangat ingat, ada satu hal lagi yang belum disebutkan. Satu cita-cita yang selalu menjadi hobi dan juga tujuan akhirku sejak masih sangat kecil. Aku ingin menjadi seorang penulis.

Orang-orang bilang menulis fiksi itu gampang. Kamu hanya perlu menulis apa yang ada di dalam kepala, tambahi bumbu drama, intrik hiperbola, dan voila! kamu publish jadi satu cerita. Apakah seperti itu kenyataannya?

Aku menggeleng. Andaikan saja menulis bisa segampang itu, NH Dini atau Pramoedya Ananta Toer sudah jadi penerima nobel saat ini.

Aku ingin menjadi seorang penulis yang nggak hanya sekedar menulis. Aku ingin menjadi penulis yang nggak hanya menulis karya picisan. Aku ingin menjadi penulis yang karyanya diingat. Aku ingin bukuku nggak hanya menjadi onggokan di sudut rak buku begitu para pembaca membelinya. Aku ingin mereka membacanya berulang kali dan masih saja greget itu ada menguasai mereka tiap kali dibuka.

I’m working on it, by the way. 

Yang sedang kubicarakan ini adalah buku keduaku, tapi — tanpa bermaksud untuk menganaktirikan yang pertama — kuanggap dia adalah yang pertama. Prestasi perdanaku, kebanggaan utamaku saat ini.

Kamu tanya kenapa? Karena nggak seperti yang pertama, buku yang kedua ini kutulis dengan peluh, dengan air mata, dan encok. hehehehe…. buku itu adalah buah perjuanganku selama delapan tahun ini.

Aku hanya bisa bilang judul naskahku itu TSV. Sejak naskah awalnya diterima, novel ini sudah melalui tiga kali revisi. Aku sangat beruntung ditemukan oleh seorang editor yang jenius ini. Dia memperjuangkan naskahku di meja redaksi. Lucu banget deh kalau denger cerita dia dulu.

Sedikit flashback, naskah awal yang aku kirim ke penerbit itu adalah Louboutin’s Catalyst. Aku langsung jatuh cinta sama penerbit ini ketika dapat email balasannya. Pada intinya LC ditolak. dengan satu alasan mutlak: karena LC settingnya di Korea. Mereka ingin aku gubah novel itu jadi lebih Indonesia dan kami mungkin bisa bekerja sama garap bareng-bareng. Saat itu aku bilang, OKE! LC digubah ke Indonesia, no problem. Hanya masalahnya adalah berarti aku harus research lagi tentang banyak hal yang harus lebih aku lokalkan kondisinya sesuai dengan negara ini. Yes. Begitulah. Jadi untuk LC,  proyek kami dipending. Aku masih nggak bisa melupakan jasa dia yang memperjuangkan naskah itu di redaksi, sungguh, aku terharu.

Lalu beberapa bulan kemudian aku kirim lagi naskah baru, si TSV. Mereka terima. Kami mulai proses revisi dan segala halnya. Hei, aku mulai meragukan rasa cintaku sama penerbit itu. hahahahaha….

Bukan, bukan karena apa-apa. Kurasa aku punya semacam love-hate relationship sama mereka. Penerbit, editorku, sampai sang founder. Aku pikir karena selama ini aku biasa mengerjakan segalanya dengan mudah, riset sedikit, tulis apa ala kadarnya, publish, dan banjir komen berdatangan. Mereka memujiku. Mereka bilang aku bagus.

Lalu aku terlena.

Di penerbit itu. Aku bukan siapa-siapa.

Di penerbit itu. Tulisanku masih sangat biasa.

Dan editorku, dia si brengsek yang luar biasa jenius, yang sangat detil, yang sangat kritis, dan nggak segan untuk membongkar seluruh draft yang sudah aku selesaikan. Yeah. He’s rocking!!

Revisi terakhir, yang ketiga kemarin, datang secara tiba-tiba. Aku hanya diberi waktu empat hari untuk mengubah sekian banyak hal. Ah. Bukan mengubah, lebih tepatnya mendetilkan. Karakterisasi. Visual. Efisiensi. Resonansi Metafora. Semua hal itu.

Aku nggak tidur, seperti biasa. Everybody’s getting worry on me. yeah.

Tapi ini bukan keluhan. Aku senang melakukannya. Meski benci banget ngeliat highlight stabilo berwarna-warni dan segala komennya yang rasanya masih juga belum cukup. Is it they’re tooooooooooooo details, or is it me the idiot one? Heaven knows. Aku capek, tapi aku cinta.

Revisi kami berakhir. Jadinya sangat epik, di mataku sih ya. My editor and I. We made a perfect team.

Rencanya hari ini final draft akan masuk proofreading percetakan, sebelum dicetak dan diterbitkan bulan depan. Harusnya sih, kalau semua lancar, buku itu sudah akan ada di toko buku setelah Lebaran. Harusnya.

Tapi ternyata satu hal nggak lancar.

Siang ini tiba-tiba email itu datang.

“Dista,

Ini nih naskahnya dibalikin lagi😦 Sorry about that. Menurut Kak **** dia kurang bisa dapat serunya dalam halaman-halaman awal. Entah, ya, sepertinya dia mengharapkan yang lebih fast-paced dan thrilling gitu, berdasarkan referensi-referensi yang dia kasih. Dan dia selalu minta cerita yang visual dan logis. Menurut kamu gimana? Aku bisa lihat, sih, masukannya, dan aku tahu gimana kita bisa garap lebih lanjut kalau emang dikasih deadline yang tidak terlalu menyesakkan. Berarti nggak jadi terbit bulan depan, tapi. Sucks, I know, but it happens. What do you say?”

Yeah. What do I say? What can I say?

Aku pencet ‘reply‘, dan aku balas.

“Wut? o_O”

It happens. for sure. I know, aku hanya nggak membayangkan yang kayak gini juga bakal terjadi sama aku. Hasil kerja kerasku berbulan-bulan dibalikin dengan hanya satu alasan. Nggak seru.

But it happens. LOL.

But anyway, we made a deal. Sepertinya penerbitan akan ditunda sekitar satu bulan, soalnya aku masih fokus menyelesaikan thesisku, dan ya, untuk kali ini. Aku benar-benar fokus untuk selesai bulan ini. Petualangan para karakterku akan sedikit ditunda, tapi aku nggak sabar untuk tenggelam dalam dunia mereka  lebih lama.

Setidaknya dengan gini aku akan lebih santai. Aku bisa menulis plot yang jauh lebih bagus lagi, dan lebih matang.  Tanpa dikejar-kejar deadline yang hanya tinggal sehari dua hari. Aku punya waktu sebulan. Ya, tepat seperti yang aku inginkan.

Nggak ada jalan yang mudah untuk mencapai kesuksesan. Segalanya perlu proses, dan dalam proses ini saatnya aku belajar. Dan aku belajar banyak, dari si editor jenius brengsek yang baik hati itu. Aku benar-benar beruntung dia editorku, dia sangat mendukungku. Dia tahu apa yang aku inginkan, dan dia ikut berusaha untuk mewujudkan itu. Nggak banyak editor seperti dia. Dan aku cinta. Dia keren. hehehehe…

Kita harus sabar, iya kan?

Sabar. Ikhtiar. Begitulah ibuku selalu mengingatkan. Segala hal pasti berjalan pada waktunya, di kala tepat.

Jadi itu saja. Aku berjuang dulu untuk lulus kuliah sementara ini, baru setelah itu, TSV, aku akan memperjuangkan kamu.🙂

.

.

dan untuk yang menanyakan LC. Ya, dulu aku pernah bilang draft itu pernah masuk satu penerbit. Sebulan belakangan ini aku berpikir untuk menarik naskah itu dari sana. Memang yang namanya mencari penerbit itu seperti cari jodoh, kita harus cocok-cocokan, dan nggak bisa gegabah sebelum akadnya berlangsung. Dan LC, sepertinya nggak jodoh sama penerbit itu. Aku akan berusaha untuk mencarikan jodoh yang terbaik buat dia. Semoga saja jawabannya dalam waktu dekat.

Tapi bagi para pembaca setianya, aku akan berusaha untuk mewujudkan apa yang mereka minta. Insya Allah buku itu akan terbit, tapi kapan dan bagaimana prosesnya, hanya Tuhan yang tahu. Kalau sudah waktunya dia keluar, nanti dia juga pasti muncul😀

Aku sangat berterima kasih untuk semua orang yang menunggu-nunggu buku itu. Nggak cuma kalian, aku juga pengen buku itu terbit. My first masterpiece. 

.

Selamat berbuka semuanya!

~xoxo.

4 comments

  1. Hidup itu penuh perjuangan dee. Kalo kita mudah mendapatkan apa yang kita mau berasa hidup ini ga seru, ga ada tantangan, ga ada usaha untuk ngewujudinnya. Datar-datar aja gitu. So, ibaratnya sekarang kamu banyak rintangan buat ngewujudin cita” itu Insyaallah akan ada hasil nantinya. Jadi yang sabar ya, ga ada usaha yang sia-sia atau gagal hanya waktunya yang tepat saja belum datang. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian hehehe.

    Buku LC pasti aku tunggu apalagi kalo ada epilognya hehe, ah buku apapun yang kamu terbitin nantinya bakal aku tunggu coz beda dari yang laen apalagi endingnya suka jauh banget dari pikiran kita.

    Semoga sukses dengan thesisnya dan cepet lulus. Nikmatin masa jadi mahasiswa selagi bisa ^^. Eh iya, met buka puasa juga ya

  2. KAK DISTA…… setelah baca postingan disini… aku baru sadar kalo menulis itu tidak semudah bertepuk tangan… :”) mungkin iya sih editor kak dee itu kyknya tipe yang perfectionist gitu kali ya.. maksudnya sih ga cuman cetak asal terbit novel, booming sekali dan kemudian menghilang bak ditelan bumi, tapi ya pengennya cari novel yang beneran berbekas dihati pembaca, susah banget sekarang nemu novel kek gitu -__-
    dan ternyata pujian dan komen banyak tentang tulisan itu ga jamin ya tulisan kita bakal diterima editor… TT_TT
    ngerasa banget gmana sakit hatinya, coz aku juga pernah ngerasain gimana pahitnya ditolak(?) ya walaupun in another way~ hahaha😀
    semangat ya kak dee, semua akan indah pada waktunya :^)

  3. Menginspirasi. Episode hidup yang Dista jalani mirip dengan yang sedang saya alami (tapi saya ga plagiat suratan takdirmu lho). Tentang merevisi cita-cita, lalu menjadikan penulis sebagai naskah final. Tapi di dunia penulis, ternyata membutuhkan lebih banyakr evisi.

    Dan yang ring the bell adalah

    Bekerja keraslah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s