Daughter of Smoke and Bone – a Book Review

dari

Soooo, ini adalah pertama kalinya aku baca bukunya Laini Taylor.

Daughter of Smoke and Bone, konon oleh si biang rekomen dikatakan sebuah cerita campuran antara Harry Potter, Narnia dan juga Lord of the rings (did I miss the other fantasy stories?) .. tapi setelah membacanya dengan seksama, aku harus menambahkan satu cerita lagi, yaitu Twilight. Novel ini bercerita tentang permusuhan abadi antara malaikat dan iblis, lalu seorang anak manusia yang terjebak di antara perseteruan mereka.

Awalnya diceritakan tentang sosok seorang gadis muda bernama Karou, berumur 17 tahun, seorang siswa sekolah seni di kota Praha (Praha!!! what a great choice of city!!) yang menjalani dua kehidupan yang sangat berkebalikan. Menjadi manusia biasa, dan ‘pesuruh’ dari makhluk-makhluk badan manusia berkepala hewan, they call them chimaera? Karou seperti menyeberang ke dunia lain melalui semacam ‘pintu ajaib’ dari Praha ke toko milik Brimstone, dan bebas berkeliling dunia melalui satu pintu lain – Paris, Pittsburgh, hingga ke pedalaman hutan Amazon untuk menjalani misi yang yang si Chimaera berikan, membeli gigi (apapun) dan membawanya kembali ke toko. Belakangan diketahui bahwa gigi itu punya semacam kekuatan untuk mengabulkan permintaan, dengan level-level tertentu dari yang paling ringan hingga yang paling besar. Dan Karou akan pergi ke kota-kota di seluruh dunia ini setidaknya dua kali dalam seminggu, berpetualangan hingga hampir mengorbankan nyawanya karena sebuah pengejaran yang tidak sengaja di satu misinya.

Tanpa pernah tahu kehidupan apa yang tengah dia jalani, siapa dia sesungguhnya atau keluarga aslinya, Karou menjalani harinya yang ‘normal’ hingga suatu hari portal yang menghubungkannya ke dunia para Chimaera — toko Brimstone — tiba-tiba terbakar habis. Di saat itu juga muncul seorang malaikat yang sebelumnya hampir membunuh Karou, tapi belakangan si malaikat bernama Akiva ini malah buntutin dia nggak berhenti ke manapun dia pergi, sampai mereka semacam ‘make a scene’ di hadapan puluhan para turis, berkelahi di atas udara yang menjadikan keduanya buronan polisi Praha. Yang menarik adalah gimana tato mata di telapak tangan Karou ternyata memiliki kekuatan yang bisa melemahkan pertahanan Akiva dan menimbulkan sensasi penyiksaan diri tiap kali tangannya dicondongkan ke arah sang malaikat. Dalam beberapa chapter yang berganti antara Karou dan juga flashback pada karakter lain, akhirnya pokoknya Karou mendapati dirinya ternyata ‘reinkarnasi’ dari sosok seorang gadis Chimaera bernama Madrigal, supposedly adalah gadis yang sangat Akiva cintai dulu.

Oke, seperti yang aku bilang di atas, ada berbagai sensasi yang mengingatkan aku dengan beberapa kisah fantasi terkenal saat aku membaca ini, tapi memang nggak bisa disangkal bahwa Laini Taylor memiliki gayanya sendiri dalam menguraikan narasi dalam plot ceritanya. Pada awalnya aku memang agak bosan dengan alur yang disajikan, Karou dan kehidupan normalnya, berusaha menyembunyikan identitas aslinya dari sahabat karibnya sementara menjadi ‘kurir’ Chimaera berburu gigi yang ternyata digunakan untuk membangun pasukan Chimaera baru, membangkitkan yang telah mati — konsep dasarnya gitu sih, tapi prosesnya memang jauh lebih rumit, dan mending kalian baca sendiri bukunya. Konfliknya nggak biasa, itu yang paling penting. Laini Taylor menciptakan dunianya fantasinya sendiri, dalam pertarungan antara bangsa malaikat — yang nggak seperti hakikat malaikat biasanya, di sini bangsa malaikat itu digambarkan seperti halnya bangsa Romawi dengan sengala kuasa mereka, dan anak-anak mereka yang dilatih sejak kecil untuk menjadi prajurit perang — dan juga bangsa Chimaera, yang digambarkan memiliki perpaduan antara beberapa bagian tubuh manusia dan hewan. Dia menciptakan sejarah kedua bangsa itu, perseteruan abadi mereka yang apik.

Satu hal yang membuat aku skeptis di sini adalah bagaimana Laini Taylor menggambarkan sosok Akiva sebagai malaikat. Sepertinya stereotype heroes yang gak jauh dari lelaki sempurna dengan wajah tampan bak … umm, masa malaikat lagi, … pokoknya pria tertampan yang pernah kamu temui, tubuh tinggi menjulang, bla bla bla. .. You know what, I kinda sick of it actually. Terakhir kali sosok seorang tokoh tampan dan digambarkan begitu sempurna dalam sebuah buku adalah Edward Cullen di novel Twilight, dan yang kemudian dengan epiknya dirusak oleh kehadiran Robert Pattinson.o_O … well, I didn’t say that Robbie is ugly, but … dalam kasus ini aku hanya berharap nggak ada produser di luar sana yang berkeinginan untuk memfilmkan novel ini, karena sayang … Akiva is just too good to be true >,< *delusional reader*

Apa ya yang harus aku bilang lagi soal buku ini,  … pastinya, Primadonna Angela did an amazing job translating this book. Terjemahan dia cantik banget, bahasanya puitis tapi juga humoris di saat yang sama. Aku jadi pengen baca novel-novel tulisan dia, sepertinya aku belum pernah baca deh. Baiklah, kita bongkar Gramed akhir minggu besok, hehehe..

Kurasa nggak banyak juga yang bisa kukatakan untuk review kali ini, hanya bisa kukatakan .. para penggemar fantasy kurasa akan menyukai buku ini untuk membaca sebuah plot yang lebih segar. Nothing more to say, Just read!!

~xoxo.

6 comments

  1. jujur aku ga nyangka kamu bakal me-review novel ini karena yang aku tau ternyata buku2 kayak gini tuh ga kamu banget😄 aku baru menyadari setelah kamu bertanya kapan hari lalu ^^

    Dan sayang sekali keinginan kamu ga terwujud!!! karena novel ini akan di filimkan kalo ga akhir 2013 ini ya awal 2014 dimana hak ciptanya masih diperebutkan oleh Universal dan Paramount ><

    Kalau boleh sekedar info Laini Taylor bahkan sudah punya acc Youtube official untuk meng-upload kelima teaser ttg karakter utama di novel ini. Dan sungguh membuat aku menyesal karena aku melihat terlebih dahulu sosok akiva dari imajinasi sang penulis sendiri dalam salah satu teaser itu ==

    aku juga setuju denga yang kamu bilang bahwa buku ini membosankan di awal. dan soal mirip twilight, aku juga merasakan kemiripan saat membaca di awal yaitu bosan setengah mati hahahahahaha

    andai itu Twilight ga dibuat film, aku pasti tidak akan pernah membaca saga nya dan tetap tidak akan nge-fans dengan yang namanya Edward Cullen diluar RobPattz sendiri kkkk ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s