Tentang the Timekeeper by Mitch Albom – a Book Review

Mitch Albom sudah menjadi salah satu penulis favoritku sejak tahun 2009. Ketika seorang teman pertama kali kasih aku bukunya yang berjudul ‘the Five People You Meet in Heaven’ tahun 2007, aku tahu buku itu akan jadi objek skripsiku saat aku hendak menyelesaikan 4-tahun kuliah pertamaku. Dan ya, sepanjang aku mengoleksi buku-bukunya (FPYMH, Tuesdays with Morrie, For One More Days dan Have a Little Faith) nggak ada satupun bukunya yang nggak bikin aku semakin jatuh cinta dengan tiap tulisannya.

Albom ngeluarin buku terakhirnya Have a Little Faith sepertinya tahun 2009 lalu, if I’m not mistaken, makanya ketika aku melihat the Timekeeper ini ada di Gramedia, I was like .. “Whaaaattt??? another book published?? How can I not know that?” LOL. Untuk tulisan Albom sendiri, sebenarnya aku lebih prefer untuk membeli versi aslinya dalam bahasa Inggris, karena tulisan-tulisan dia itu semacam punya ciri khas dan premisnya sangat indah. Aku pernah beli dulu buku terjemahan Five People yang ternyata nggak begitu bagus alih bahasanya, karena itulah aku agak kapok kalau beli buku yang nggak begitu panjang dalam terjemahan. Kasus yang sama untuk the Timekeeper ini, terakhir ke Periplus aku berniat beli buku ini sekaligus buku “the Perks of Being a Wallflower” karya Stephen Chbosky, tapi nggak seperti dulu, kemaren” aku agak sedikit mikir belinya karena bukunya masih keluaran Hyperion. Ceritanya lagi nunggu versi sederhana punya Harper Collins karena biasanya harganya lebih murah dan lebih handy juga, hehehehe.. Dan berhubung kali ini aku dapat the Timekeeper for free, it’s fine baca terjemahannya deh, alih bahasanya Tanti Lesma oke juga. Lumayan.

Jadi, sekarang kembali ke Timekeeper. Seperti buku Albom yang lain, the Timekeeper ini tetap menunjukkan ciri khasnya seorang Albom. Seperti karya-karya dia sebelumnya, selalu saja ada sesuatu yang bisa kita pelajari. 

the Timekeeper bercerita tentang seorang laki-laki bernama Dor, hidup di jaman purba dulu keknya, sekitar 6000 BC. Dalam buku ini dia disebut sebagai manusia pertama yang berusaha untuk menghitung waktu, dengan tonggak panjang untuk mengukur pergerakan matahari dari bayang-bayangnya, batu-batu kecil yang disusunnya sedemikian rupa selaksana bulan dan semacamnya. Sampe kepikiran juga melubangi mangkuk kecil untuk jalan air, sebagai pengukur banyaknya tetesan air di dalam bejana dari malam hingga pagi. Sebuah tragedi, saat dia berusaha untuk menghentikan waktu agar bisa menyelamatkan istrinya, Dor kemudian dikurung oleh ‘pelayan Tuhan’ di dalam sebuah goa, dia nggak menua sama sekali, nggak lapar nggak haus dan hanya satu pekerjaannya di dalam pertapaan itu, mendengarkan suara-suara manusia tentang waktu, selama berabad-abad, hingga jaman semakin modern.

Ketika saatnya tiba, dia kemudian kembali ke bumi, konon untuk membantu kehidupan dua manusia dan mengajarkan mereka akan makna waktu. Sampai akhirnya kita diperkenalkan dengan dua tokoh baru. Seorang pengusaha kaya raya yang ingin mengalahkan kematian karena memiliki tumor ganas dalam dirinya, dan mengakibatkan gagal ginjal, bernama Victor Delamonte (pertama liat nama ini aku bacanya ‘Voldemort’ #truestory). Lalu yang kedua gadis SMA cerdas yang berniat membunuh dirinya sendiri karena patah hati ditolak dan dipermalukan seorang cowok yang dia taksir.

Bila buku the Five People mengajarkan kita tentang pentingnya memaafkan, Tuesday with Morrie mengajarkan tentang Kehidupan dan arti Kematian, maka the Timekeeper mengajarkan kita tentang bagaimana kita menghargai tiap detik yang kita jalani selama menjadi seorang manusia yang bernapas. Buku ini mengajarkan betapa penting sebuah keluarga di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan kita sebagai makhluk individu, dan juga menghargai rasa cinta yang mereka miliki untuk kita. Sebenarnya buuuuaaaanyak sekali quote-quote bagus di buku ini, cuma aku nggak pernah menyediakan pensil atau pena untuk menandainya, hanya saja ada satu quote yang paling aku ingat, bahwa “ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita. Supaya setiap hari itu berharga.” – (terjemahan; hal. 288)

Albom mengajarkannya dari sudut pandang seorang penjaga waktu, di sini adalah Dor, yang dia gambarkan sebagai sosok seorang pria yang tidak menua, yang diberi ‘berkah’ oleh Tuhan sebagai sebuah pembelajaran atas kesalahan yang dilakukannya sepanjang hidupnya dulu. Dor terlalu sibuk tenggelam dalam kegiatannya mengukur waktu, bermain dengan tonggak dan batu-batu sampai dia melupakan istri yang paling dicintainya. Dan dia hidup selama beribu-ribu tahun di dalam goa, menangisi keluarganya dengan menggambar simbol-simbol di tembok goa untuk selalu mengingatkannya pada orang-orang terdekatnya.

Yang menarik lainnya adalah gimana Mitch Albom membuat legendanya sendiri di sini. Kehidupan Dor dan Alli yang diceritakan pada pembuka buku, awalnya kupikir sebagai Adam dan Hawa, hingga kemudian muncul sosok Nim, seseorang yang haus akan kekuasaan dan yang nantinya adalah seorang raja berkuasa yang membangun menara Babel. Aku nggak terlalu mengikuti sejarah sebenarnya, dan kalau bukan karena Victor bilang ‘ini cuma mitos’ dari kisah di Bible, kurasa aku akan tetap berpikir bahwa memang dulu ada seseorang yang pernah membangun menara Babel tapi menara itu hancur sampai nggak ada jejaknya lagi sekarang.

Kehidupan Victor seperti semacam simbol bahwa kekayaan bukanlah hal terpenting di dunia, I mean, you can’t buy happiness with money is indeed happening. Victor seorang pebisnis yang memiliki segalanya, kehidupan mewah, mansion di berbagai negara, ini dan itu, dia juga punya satu istri yang sangat mencintai dia. Hanya saja, mereka nggak pernah punya anak, not that they can’t have one, tapi lebih sepertinya Victor nggak terlalu mempedulikan pentingnya seorang keturunan. Hingga akhirnya begitu dia hampir mati karena penyakitnya, dia nggak punya siapapun yang bisa dimandati untuk seluruh kekayaan yang dia tinggalkan. (kasih aja ke gue, Kek)

Kehidupan Sarah Lemon juga, tipikal kehidupan remaja brokenhome khas Amerika. Seorang anak hasil perceraian dengan dilema akan kerinduan pada sang ayah, dan proses pencarian jati diri akan sebuah proses pendewasaan yang membuat dia jadi semakin menjauh dari ibunya. Sarah merasa dia nggak cantik dan gemuk, dan nggak ada orang-orang di sekolahnya yang mau bicara sama dia karena itu, ditambah lagi karena dia pintar. (see, inilah yang aku bilang sebagai typical American, .. those idiots berpikir bahwa stupid douchebags sama cewek” cantik nggak berotak jauh lebih keren daripada seseorang who actually has a brain in their head, I really don’t get them ><) Suatu kali dia jatuh cinta dengan salah satu cowok beken di sekolahnya, si Ethan, mereka ketemu di sebuah voluntary act dan sempat dekat, sampai akhirnya  Ethan mematahkan hati Sarah du satu malam, dan mengumbar cerita mereka di facebook mengatakan ‘seorang Sarah Lemon coba” PDKT, sementara selama ini dia hanya mencoba untuk bersikap sopan’ .. iya, tipikal cowok brengsel, but what can we do?

Dor mempertemukan mereka berdua di saat keduanya di ambang kematian. Membawa mereka mengarungi waktu untuk melihat masa depan, apa yang akan terjadi setelah mereka meninggal dan menunjukkan apa yang awalnya sudah mereka siapkan dan niatkan ternyata sama sekali tidak terjadi. Dokumen-dokumen yang sudah Victor siapkan untuk menghidupkannya kembali ternyata nggak pernah diproses karena adanya hukum” baru yang lebih kuat, harta-hartanya dicuri dan dia menjadi tontonan orang-orang di masa depan, dijadikan objek sebagai contoh seseorang dari jaman yang lebih “sederhana”, untuk mengingatkan orang-orang itu kembali bagaimana caranya ‘merasakan’. Sementara pemikiran bahwa Ethan akan menyesal setelah kematian Sarah pun nggak terjadi, yang dilihatnya malah sebaliknya, ditambah lagi dengan kenyataan ibunya terlihat sangat depresi dan orang yang paling kehilangan adalah ternyata seorang tunawisma yang Sarah layani di tempat voluntarynya. Orang yang sama sekali nggak dia kenal.

“Tidak ada cinta yang layak mendapatkan pengorbanan begitu besar,” (terjemahan; hal. 276) – quote lain yang aku suka di buku ini. Cinta memang indah, memang layak akan sebuah pengorbanan, tapi tidak untuk memberikan seluruh apa yang kita miliki, karena nggak semua yang menurut kita itu benar, cukup benar dan baik di mata orang lain.

Membaca buku ini membuat aku sedikit banyak berpikir tentang hari-hari yang kubuang sia-sia melakukan hal yang nggak ‘worth it’, sebenarnya ini tema yang sangat sederhana. Bagaimana kita tahu bahwa hidup ini sangat singkat, kita nggak akan pernah tahu kapan kita mati, dan dengan begitu sebaiknya kita jalani hidup ini seefektif mungkin, melakukan hal yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, juga menghargai ap yang kita miliki selama kita hidup, sebagai bentuk terima kasih atas apa yang Tuhan berikan untuk kita.

Aku nggak tau bagaimana cara menutup bahasan ini, tapi sekali lagi, Mitch Albom, seorang penulis yang bukunya akan selalu kubaca tanpa pernah menanyakan apa isinya, I’m his biggest fan. Kuharap Dan buku-buku karyanya adalah artefak paling berharga dari seluruh koleksi di rak bukuku yang lain, dan kuharap lebih banyak buku cantik lagi yang akan dia tulis.

~xoxo.

10 comments

  1. oh i love your book review! :* sebelumnya saya udah pernah lihat buku mitch albom di gramedia, tapi saya ga pernah tertarik untuk beli. saya punya kebiasaan untuk melirik sedikt gaya bahasa sebelum membeli satu buku, terutama buku translate-an. dan jujur, buku mitch albom ini sekilas terbaca membosankan, sehingga saya tidak tertarik untuk membeli. but, from the way you review this book, it makes me feel like “kemanee aje gue gak pernah baca buku ini?” i need to buy this, no, i MUST buy this book. thank you for sharing your interesting book review with us ^^

  2. untuk novel terjemahan aku awam banget kak.. baru satu novel terjemahan yang aku punya, pieces of you karya tablo ‘Epik high’..sebenernya itu kumpulan cerpen yang di bukukan..

    toko buku didekat sini nggak begitu koplit kaya di kota.. maklum pedalaman.. bahkan untuk dapet karya penulis yang aku suka lebih sering dari toko buku online..

    tapi setelah baca review buatan kak dee aku jadi penasaran… jadi pengen berburu sampai dapat..

  3. wah mitch albom ya? pertama baca judul review ngehnya albom itu ya five people itu, kalo gk salah yg terjemahannya judulnya meniti bianglala. itu buku bagus walau terhitung tipis.
    oke besok kalo liat timekeeper di rak gramedia coba dibeli deh~ hehe

  4. kak, aku suka iri kalo liat kaka review buku2 bagus😦 Aku pecinta buku banget! tapi aku ga tau apa2 soal buku. Penulis yang bagus, penulis terkenal, buku2 bagus. Aku ga tau kak. Aku pengeeeeeen banget gitu tenggelam dalam buku2, semua buku pengen aku baca. Tapi apa daya? aku ga ada uang buat beli buku :p LOL. Temen2ku ga ada yang suka baca buku. Jadi ga bisa pinjem. Aku cinta banget bacaaaa. Makanya iri deh sama kakak, bisa baca buku, beli buku. Ah pinjem kak xD hehe. Oya kakak tau tempat bacaan yang lengkap dan bagus ga? Jadi kita tgl jadi membernya aja gitu. Seengaknya aku bisa sewa buku gitu kak, kalo beli belum mampu, hehe

  5. setuju banget sama kamu.
    aku juga suka banget sama karya-karya mitch albom, meski tetap fyodor dostoyevski no.1
    “ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita. Supaya setiap hari itu berharga.” quote yang dasyat.
    aku juga lagi baca yang “tuesdays whit morrie”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s