Tentang Dunia yang Berkebalikan

Selalu ada dua wajah dalam tiap sisi mata uang, seperti halnya ada dua versi dalam sebuah cerita dan konflik sosial antar individu, karena pada dasarnya kita hidup dalam dunia paradoksikal yang segala halnya selalu bertentangan. Selama hampir seperempat abad aku hidup sebagai seorang individu, aku dibesarkan sebagai seorang anak sadar akan keberadaan tata cara dan norma. Aku hidup untuk menaati aturan dan memahami dengan benar bahwa dalam kehidupan bermasyarakat terdapat sebuah sistem hukum yang mengatur tatanan kesusilaan untuk sebuah ketertiban. Idealnya.

Well, aku bukan seseorang yang benar-benar taat aturan sih sebenarnya, kadang aku bisa menjadi seorang pemberontak kecil, tapi idealismeku masih terus menyangkal apa yang sering orang bilang dengan, “Rules are made to be broken.” .. bagaimanapun juga, meski itu bukan hal yang begitu berarti, ada sebabnya kenapa sebuah peraturan itu dibuat dan harus dilaksanakan. Karena sekali lagi, pada dasarnya tiap orang ingin menjalani kehidupan yang ideal, yang nyaman dan tentram.

Oke, pembukaanku kali ini cukup panjang dan membingungkan ya, nggak biasanya aku ngomongin hal yang begitu abstrak dan kontroversial di kalangan masyarakat. >>> Peraturan. Saat dibuat apakah perlu terus dilaksanakan ataukah dilanggar?

I will not lie, I’m not purely naive person who’s so strictly obedient to regulation. Aku masih seseorang yang kadang terlambat membayar pajak kendaraan, nggak menghiraukan himbauan yang tertulis di dapur untuk segera mencuci peralatan dapur yang habis kupakai, atau peduli akan himbauan jam besuk di rumah sakit.

Tapi aku adalah seseorang yang masih selalu berusaha untuk mematuhi segala peraturan lalu lintas; berhenti saat lampu merah, nggak belok kalau ada tanda larangan, nggak buang sampang sembarangan, aku masih selalu bersedia untuk mengantri dengan rapi, karena aku menyukai segala hal yang tertib. Dan aku juga seseorang yang seringkali meruntuki mereka para pelanggar, atau orang-orang yang menjalani hidupnya tidak sesuai dengan ketetapan yang telah ditetapkan, mereka yang menjalani kehidupannya berbeda dengan caraku melakukannya.

Jadi adalah sebuah pertemuan dengan dua orang pedagang asongan yang memberikanku satu babak drama yang membawa aku pada satu sensasi yang berkebalikan dari duniaku. Dua hari yang lalu aku kembali ke Purwokerto dengan kereta ekonomi Logawa yang biasa aku naiki sebagai transportasi murah meriah *cough* pengantar setia bila harus mobile antar dua kota berjarak 3 jam ini. Dalam keadaan normal, biasanya tiap kali mau trip aku sudah menyiapkan perkakasku, charge full battery ipodku dan begitu naik kereta atau kendaraan apapun kupingku akan selalu disumpel earphone, dan volume sekeras-kerasnya menjadi pertanda bahwa aku tidak bersedia untuk diajak ngomong atau bersosialisasi selama perjalanan sampe tempat tujuan.

Yeah, I’m that kind of person.

Tapi kemarin berbeda, ipod nggak terlalu terpakai sejak awal naik kereta dan di sampingku duduk seorang ibu sudah sepuh. Seorang mantan guru Geografi yang sudah pensiun (dia pernah mengajar di SMP 26 Surabaya, yang mana adalah sekolah pakdeku bekerja, cuma karena lupa aku nggak ngomong apa-apa .. jadi kalau si ibu baca tulisan ini … *I know, it’s almost impossible, but who knows [rolling eyes]* saya cuma mau bilang sodara saya yang ngajar di SMP 26 itu bukan bude saya, Bu, tapi pakde .. beliau guru matematika dan namanya Pak Bambang Setiono hehehehe), dan sudah mulai ngajak aku ngobrol begitu aku tempelin pantat di bangku kereta. Obrolan kami banyak seputar pengajaran sih, beliau cerita tentang pekerjaannya dan aku cerita tentang pendidikanku, sampai ke cerita soal diet hepar karena anaknya sakit kuning sementara aku yang cukup berpengalaman dengan diet ini mulai kasih beberapa tips *sok tau* hahahaha..

Oke, balik ke topik, jadi kemudian ada seorang bapak penjual dompet batik duduk di hadapan kami dan mulai cerita soal kehidupannya sebagai pedagang asongan di atas kereta. Pada awalnya sih dia hanya bercerita tentang bagaimana dia bisa berakhir sebagai penjual dompet dan perjuangannya sejak masih muda dari Sumatra Barat hingga bisa terdampar di Jogja, hingga tiba-tiba ketika kami berhenti di stasiun Kebumen, seorang ‘mbak’ penyapu (tau kan, macam random person yang tiba-tiba aja bawa sapu dan menyapu lantai kereta habis itu mereka minta duit ke penumpang untuk ‘jasa’nya membersihkan lingkungan sekitar) melempar sapu dan masukin semua sampah hasil sapuannya ke bawah bangku tempat aku duduk (what de situation banget deh saat itu) setelah seorang mas berbadan tambun, sepertinya sih temannya, membisikkan sesuatu. Ternyata setelah aku lihat, kepala stasiun sedang menuju ke arah kami.

Dan sinilah kemudian obrolan itu dimulai.  Hal yang kubilang sebagai dunia yang berkebalikan, ketika kukatakan di awal tadi bagaimana  idealnya cara kepalaku berpikir tentang seorang warga negara yang taat aturan, dan kali itu aku mulai mendengarkan pemikiran yang berkontradiksi dengan kelayakan nalarku. Pada dasarnya si Bapak (sebut saja namanya) Kumbang, bercerita kalau pedagang asongan sebenarnya tidak diperbolehkan untuk naik ke atas kereta, dan bagaimana isu ini terus saja menjadi sengketa yang terus diributkan antara pihak petugas KA versus ikatan pedagang asongan di sekitar stasiun. Aturan ini sudah diberlakukan di kelas bisnis dan ekonomi AC, nggak ada pedagang yang boleh masuk ke dalam gerbong dan hanya bisa bertansaksi dari luar jendela saja. Konon per-tanggal 1 Oktober nanti telah diputuskan bahwa semua pedagang sudah nggak boleh lagi masuk ke gerbong ekonomi non-AC komersil.

Lalu yang menjadi highlight obrolan kami .. umm, atau lebih tepatnya cerita mereka adalah bagaimana bersikeras untuk tetap naik ke gerbong dan mulai kucing-kucingan dengan petugas kereta. Hal ini sudah lama berlangsung sebenarnya, ketika aturan ini diberlakukan berbulan-bulan yang lalu, sempat pedagang nggak diperbolehkan naik, tapi ketika satu pedagang mulai berontak dan tetap naik, petugas KA akhirnya semacam ‘ya sudahlah’ dan teman-temannya yang lain mulai ikutan naik, lalu dibiarkan saja mereka kembali berkeliaran di atas kereta merenggangkan kembali aturan yang mereka buat sendiri. Pembenaran dari para pedagang ini selalu sama, mereka hanya ingin mencari makan dan kemudian mulai mengutuk petugas karena melarang mereka untuk ‘mencari uang’.

Sebagai seorang penumpang yang mendambakan kenyamanan dalam perjalanannya, aku lebih suka kalau nggak ada orang yang berlalu lalang minta-minta duit (nggak peduli itu pengemis beneran atau berkedok penyapu lantai), they’re seriously annoying, tapi aku sama sekali nggak berkeberatan dengan para pedagang yang naik ke dalam gerbong. Untuk aku pribadi, keberadaan para pedagang ini sama sekali nggak berpengaruh dengan kepentinganku, toh aku juga nggak pernah beli apa-apa.

Jadi di sinilah aku mulai berpikir, di mana letak kesalahannya .. Ketika para petugas itu dipekerjakan dan dibayar untuk menegakkan peraturan yang seharusnya diberlakukan, di pihak lain lawan mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang untuk hidup dengan cara yang halal. Si mas bertubuh tambun bahkan berusaha untuk menarik simpatiku dengan cerita bahwa dia tetap bertahan di sana “karena yang dilakukannya adalah halal dan selama tidak mencuri” dengan nada yang begitu meyakinkan. See, aku sama sekali nggak bermaksud untuk bersikap so jerky atau nggak respek, atau apapun yang negatif. Hanya saja, seperti yang sudah aku bilang tadi, ini adalah masalah yang sangat esensial berkaitan dengan tujuan dan motif hidup seseorang juga modus pembenaran mereka.

Aku pernah belajar bahwa dalam sistem hukum, keberadaan sebuah peraturan ini sifatnya tegas dan memaksa. Untuk menciptakan sebuah hidup bermasyarakat yang tertib dan nyaman, peraturan sudah seHARUSnya diberlakukan dan ditegakkan dengan adanya hukuman atau denda bagi para pelanggarnya. Saat para pedagang ini mulai menyumpahi petugas KA yang berlalu lalang untuk inspeksi ketertiban para pedagang (salah satu dari mereka sempat bilang “mereka akan kualat sampai ke anak cucunya”), yang ada di dalam kepalaku adalah, “Mereka dikutuk karena hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang penegak aturan yang tegas,” … tapi di sisi lain, aku juga berusaha untuk mengerti posisi orang-orang ini. Keterbatasan yang membuat mereka sampai mengatakan hal-hal semacam itu, orang-orang ini hanya telah terlalu lama diombang-ambingkan dengan ketidak tegasan peraturan dan dipermainkan oleh sistem yang meng’karet’. Entah apakah bila saja peraturan sudah diperketat dan diberlakukan dengan keras sejak lama akan menimbulkan efek yang berbeda, I seriously have no idea.

Masalah seperti ini sudah salah dari awalnya, lagi-lagi kepentingan pribadi beberapa oknum pada akhirnya harus mengorbankan kepentingan banyak orang yang seharusnya tidak perlu terjadi. Mereka sudah seperti semacam Tom & Jerry, perang dingin dan permusuhan menahun yang entah kapan akan pernah berakhir, atau adanya kemungkinan “gencatan senjata” yang bisa memberikan solusi bagi kedua belah pihak.

Speaking about abiding rules, aku akan tetap bertahan bahwa dalam situasi apapun yang namanya aturan harus tetap diberlakukan dengan tegas. Peraturan baru pihak KA Indonesia sudah mulai memberlakukan banyak aturan yang menguntungkan penumpang, area bebas calo, area bebas merokok (berlaku hanya di dalam gerbong aja sih, kalo di bordes tetep aja asap ngebul di mana-mana o_O), ketatnya pintu masuk dengan pengecekan tiket bersama kartu ID, dan beberapa pelayanan lainnya bisa kubilang sudah mulai sebanding dengan harganya yang gila itu. But then again, aku menyesal nggak mampu menarik kesimpulan dan solusi untuk maslaah pedagang asongan ini, it doesn’t mean that I don’t care, aku hanya nggak tau bagaimana harus menyikapinya dengan bijak.

Hanya berharap ada yang memiliki keprihatinan yang sama denganku tentang masalah ini, dan melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan untuk kepentingan orang-orang itu.

Umm, .. well, that’s all.

———————–

image taken from: hrblunders.com

5 comments

  1. Umm..kalo ngomongin tentang peraturan/hukum memang banyak yang pada ujungnya berakhir ga efektif. Secara kaidah, hukum harusnya lahir melalui proses button-up, jadi melihat pada kebutuhan masyarakat baru dirumuskan ke atas, sehingga fokus akhirnya nanti untuk mewujudkan keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum bagi semua pihak yang terkait. Bisa jadi aturan pelarangan asongan itu menjadi sebuah peraturan yang terburu2 dimana titik fokusnya bukan kepada kebutuhan pedagang asongan yang jelas2 menjadi subyek peraturan ini. Hukum yang lahir dari proses top-down memang banyak yang gagal secara implementatif, ya ini salah satunya. Harusnya alternatif solusi lahir bersamaan dengan peraturan, bukan cuma larangannya aja. Hukum kan dibuat untuk memudahkan manusia, bukan sebaliknya.

  2. hhhmmmm,gmn ya???
    sebenarnya aku jg ga masalah dengan pedagang yang berkeliaran di dalam kereta, kadang juga merasa kasihan, darimana lagi mereka punya kerjaan selain disitu, takutnya kalo benar-benar ditegaskan dan hilang sudah penjual di dalam kereta, mereka akan membalas dendam dengan cara yang ga bener,yang bahkan bs merugikan penumpang… *mudah2anengga *komatkamitdoa
    kalo logawa yg brgkt dr pwt, pedagang sama sekali ga ada yg berkeliaran di awalnya,tapi nanti setelah kutowinangun, udah de pada mulai masuk, karena petugas yang jaga juga cuma aktif sampe stasiun kutowinangun aja,abis itu menghilang de petugasnya…
    tapi ak pernah perjalanan pulang ke pwt,ada pengamen yang taruh gitarnya di bwh kursi,dia ngajak ngobrol ak,ngomongnya yg engga penting, ngata2in org, dan menuduhku ga puasa #waktu itu bulan puasa, entah dia ngomong kaya gitu krn ak ga bales obrolannya ato karena dia pikir ak pake headset dan ga mendengar apa yg dia bicarain…dan pada saat itu juga iblis di dalam diriku bilang “tegasin aja deh peraturanya,biar makhluk2 kaya gini menghilang dari kereta” *ketawaiblis
    serius deh,ganggu banget dia… =P
    ya gitulah,kadang kasihan,kadang juga sebel..yang pasti sebelum petugas KA menegaskan peraturan terhadap pedagang asongan, petugas KA juga harus menegaskan peraturan pada petugasnya sendiri..kalo petugasnya aja ga beres,gimana mau jadi contoh buat pedagangnya,hehehehee….

  3. ini namanya kebodohan berjamaah… bikin peraturan tapi gak liat akar masalahya apa, jadi apa yang mau diatur..?? yang bikin aturan bodo, yang menegakkan aturan juga bodo,, hehehe.. masa rakyat disumpah2in gitu… judulnya rakyat vs pemerintah… wis ra bener kiye lah..

    Idealnya si ketika pemerintah bikin peraturan yang berkonsekuensi langsung terhadap masyarakat harus juga diupayakan solusi, maksudnya biar gak terjadi bentrok kepentingan yang gak ada ujungnya, pemerintah pengennya tertib, tapi kan rakyat pengen makan juga..jadi harus diambil solusi jalan tengah dong yang bener biar dua pihak juga terakomodasi.

    Mungkin kasusnya tidak sama persis ya, tapi bisa dijadikan contoh…kampus kedua kita yang tercinta, baru2 ini juga merelokasi (meski belum sepenuhnya) para pedagang asongan yang tadinya banyak disekitaran kampus. Pendekatannya pun lumayan pinter, istilah “Penertiban PKL” diganti jadi “Pemberdayaan PKL”. Nah konon kalo penertiban itu cuman relokasi, kalo pemberdayaan juga dibarengi dengan beberapa peningkatan standar mutu buat PKL (cailee…), jadi gak cuman pindah tempat ni, tapi mereka juga diberi surat ijin berjualan, udah gitu ditambah lagi fasilitas berjualan juga lebih baik (parkir lebih luas), untuk jaga kebersihan banyak dikasi tong sampah (kalo ini ane belum cek langsung keefektifannya gimana🙂 ) dan buat pengunjung pun dihormati haknya dengan diberlakukan juga standar kebersihan makanan, jadi emang gak semua PKL bisa ni berjualan disitu.. Tapi ini bisa juga jadi sarana edukasi buat pedagang kan,,, kalo mau jualan harus jualan yang bener.. Kalo upaya ini berhasil, kan bisa enak dua pihak, kampus juga tetap terlihat asri dan rapi, pedagang tetap bisa jualan.

    Kalo menurut ane, setelah relokasi dan pemberdayaan PKL selesai gak cukup sampe disitu juga, harus ada upaya berkelanjutan yang bisa maintain hubungan antara PKL dan stakeholder (misal pemerintah atau kampus). Jadi seiring waktu berjalan, bila ada kendala bisa dikomunikasikan dengan baik juga.. Jangan sampe ntar karena gak puas PKL nya balik lagi ke emper2..

    Buat para pedagang di gerbong KA, kasusnya aku pikir hampir sama ya, pertama: karena mereka gak ada tempat jualan, kedua: sebenarnya mereka liat peluang di KA gak ada yang jualan makanan (pinter ya mereka,,,hahaha). Jadi, kalo emang pemerintah mau serius nanganin pedagan asongan di KA, ya harus diupayakan kasi mereka tempat jualan, dari KA nya sendiri sediain noh makanan/snack yang murah2 jadi penumpang juga gak tergoda beli ke pedagang asongan. ya udah as simple as that,,masalahnya di negara kita tercinta ini, seringkali kepentingan elite lebih dominan daripada kepentingan rakyat..

    Tapi kita gak boleh hilang keyakinan, masih banyak juga kok elite yang pro rakyat, yang mendambakan Indonesia jadi lebih baik, yang sedih kalo Indonesia harus dihina2 sama rakyatnya sendiri, yang sering bersujud dan berdoa agar Allah mempersatukan dan mensejahterakan kembali bangsa ini… So, people.. #PrayforIndonesia #WeBelieveIndonesia #BetterIndonesia …….🙂 *semoga endingnya gak epic fail.. -__-

  4. Sebenernya aku si ga masalah dengan pedagang asongan di kereta ekonomi, justru dl itu yang bikin aku menyebut perjalanan dg kreta ekonomi itu perjalanan spiritual, karena dari situ kita bisa melihat realitas sosial secara langsung. Siapa yang butuh mario teguh buat mengingatkan kita untuk jangan menyerah kalo kita bisa ngeliat lgs bagaimana ibu2 hamil masih kuat nyusurin lorong2 kereta malam2 buat jualan aqua yang mungkin keuntungannya ga seberapa. Atau siapa butuh SNSD buat mengingatkan pentingnya menjaga kecantikan kalo kita bs ngeliat langsung gimana cantik dan mulusnya kulit bencong ewerr ewerr yang biasa ngamen d kereta?*true story bro..
    Sebenernya bisa loh mereka dijadikan ciri khas dari kereta ekonomi di indonesia, yang penting sebenernya tinggal gimana pengemasannya.

    1. jadi wisata rohani gak mesti harus selalu ke tempat ibadah,,, ke gerbong KA Ekonomi aja… secara tinjauan pemasaran..ini adalah hal yang revolusioner dan inovatif… belum ada kan ceritanya di negara lain seperti ini…ayo dong Indonesia, jangan cuman pinter “ngekor” tapi bikin juga rekor… kkkk…
      secara tinjauan sosial-psikologis, ini juga bisa mengangkat derajat kaum marginal, sehingga merasa tidak terpinggirkan, tapi dianggap keberadaanya, diakui dan dihargai.. *

      #PrayforIndonesia #WeBelieveIndonesia #BetterIndonesia

      *komen diatas ditulis saat kekenyangan gudeg, efek lambatnya neuron otak merespon karena energi perpusat pada perut yang mendorong terjadinya Gastro Oesophageal Reflux a.k.a mules) *kabur ke wc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s