Tentang Efektifitas Kampanye Kesehatan

Call me naive, call me blind, you name it.

Ini sesuatu yang belakangan terpikir begitu saja ketika obrolan random bersama seorang teman membahas tentang bagaimana seharusnya sebuah kampanye kesehatan itu bisa berjalan dengan efektif.

Kampanyeantirokok

Ini diawali ketika sang teman bercerita bahwa Dinas Kesehatan pemerintah Jogja memberi dia kerjaan untuk membuat drama (atau semacamnya) di radio tempat dia bekerja untuk mengkampanyekan hidup sehat. Yang pertama kali terpikir di kepalaku saat itu adalah merokok, dan betapa susahnya menghilangkan kebiasaan ini di kalangan masyarakat. 

Kita semua tau apa bahayanya merokok, yang tidak hanya berdampak buruk bagi dirinya sendiri tapi juga orang-orang di sekitarnya, .. yang sayangnya, selalu saja tidak pernah dihiraukan oleh para oknum perokok yang bersangkutan. Dengan dalih bahwa tidak semua perokok mati muda dan menderita kanker paru-paru, atau tidak semua perokok pasif menderita apapun itu efek buruk bahaya kandungan racun dalam rokok, mereka masih tetap bebas berkeliaran di luar sana, dengan batang rokok di bibir, menghisap dan menyebarkan asapnya ke mana-mana tanpa pernah peduli betapa terganggunya orang-orang di sekitar mereka. Seolah dunia milik mereka sendiri, … dan percayalah efek ini ternyata tidak hanya berlaku bagi mereka yang sedang jatuh cinta.

Eniwei balik ke topik pembicaraan, we had the same thought though, kampanye bahaya merokok ternyata adalah hal pertama yang coba dia bikin skrip dramanya. But you know what? Aku sanksi ini akan berlaku dan didengarkan dengan seksama oleh para pendengar yang kebanyakan adalah anak muda.

Sekali lagi, sasaran kita semua adalah anak muda. Biarkan para orang tua, mau merokok atau tidak toh umur mereka sudah nggak panjang lagi, I didnt say semua pemuda juga akan berumur panjang .. but at least, para pemuda ini masih memiliki harapan yang lebih panjang untuk memperbaiki efektifitas hidup mereka dengan cara yang lebih baik dan lebih sehat. Aku harus dipaksa untuk mengakui bahwa generasi muda saat ini begitu manja dan dibesarkan dengan sistem keuangan yang jauh lebih baik dibanding masa-masa sebelumnya, kelemahan mereka adalah kurangnya kesadaran dan tanggung jawab menyadari bagaimana susahnya orang tua mencari uang hanya untuk memuaskan segala kebutuhan jasmani dan rohani anak-anaknya. Oke, bagi yang sudah bekerja dan mendapatkan penghasilannya sendiri, kelemahan mereka adalah menentukan prioritas apa yang tubuh kita perlukan atau inginkan.

Aku nggak akan bicara panjang lebar tentang bahaya merokok, sudah terlalu banyak artikel di google yang menjelaskannya. Dan sebenarnya aku yakin, para perokok di luar sana tau benar bahwa rokok itu jelas nggak baik untuk tubuh, tapi karena sudah terlanjur ketagihan, yeah well … selalu ada saja alasan yang mereka lontarkan menyanggah larangan dengan pembenaran yang mereka buat sendiri, sekali lagi, untuk memuaskan hasrat rohani mereka.

FYI, Indonesia adalah satu-satunya negara berkembang yang masih memperbolehkan produksi dan peredaran rokok di kalangan masyarakat saat ini. Kalau kita melihat negara-negara tetangga lainnya, nggak ada satupun dari mereka yang memperbolehkannya, kalau ada pun, bea masuk rokok ke dalam negara mereka dikenakan dengan biaya yang begitu tinggi. Singapura menjual satu pak rokok dengan harga minimal 20 dolar, juga Malaysia, dan lainnya untuk menciptakan sebuah generasi yang sehat bebas rokok. Mereka bahkan punya peraturan yang sangat ketat bagi para perokok di areanya masing-masing.

Di post lain aku menyebut tentang dunia yang sangat paradoks. Sementara pemerintah mulai meramaikan aksi kampanye berhenti merokok, tidak ada aksi signifikan untuk menghentikan peredaran rokok ataupun produksinya di negara sendiri dengan dalih bahwa rokok adalah sumber pemasukan terbesar negara kita. Humm, well, I pity them actually. Jelas saja masih ada yang berpikiran seperti itu karena beberapa anggota dewan juga merokok, bagaimanapun juga ini nggak akan lepas dari banyaknya kepentingan pribadi yang diatas namakan kepentingan golongan, so lame, so yesterday.

So here’s the thing. Apa yang selama ini terpikir di dalam kepalaku tentang kampanye kesehatan ini? Aku belajar dari para idol Korea, oke, aku tau nggak semua dari mereka bebas rokok, tapi yang menjadi highlightku adalah bagaimana cara mereka untuk mengkampanyekan hidup sehat ini.

Ada satu hal yang kulihat begitu jenius, adalah dengan mereka menggunakan para idolnya untuk mengkampanyekan beberapa himbauan dari pemerintah ini. Dalam acara musik akhir minggu, selalu ada nyempil satu slot video para idol mengiklankan beberapa himbauan, seperti untuk tidak merokok, tidak menggunakan ponsel atau mabuk saat sedang menyetir atau yang dikenal dengan “save driving zone”, dan beberapa kampanye lainnya yang dikemas dengan menarik dan segar.

Mereka tau jelas bagaimana menarik perhatian anak muda, dan bagaimana para idol menjadi panutan di negaranya, lalu melalui mereka menyiarkan kampanye hidup sehat ini. So I was thinking, kenapa nggak dilakukan saja hal semacam ini di negara mereka. Yah, kasih lah itu SMASH atau Cherybelle dan grup lain kerjaan yang lebih berguna dengan membantu anak-anak muda di negara ini sadar pentingnya bahaya merokok daripada pamer belanjaan atau cerita hasil liburan mereka di luar negeri. Aku melihat sendiri bagaimana kekuatan ketenaran mereka begitu mempengaruhi perkembangan karakter para remaja di luar sana, I even have a niece who is soooooooo into Rafael and is dying to do anything for him. See, .. kuharap ada yang punya sedikit kesadaran untuk memberdayakan para idol yang saat ini sedang sangat tenar di Indonesia untuk kampanye ini, nggak cuma berhenti merokok aja, nantinya mereka bisa juga membantu anak-anak muda di luar sana untuk memperbaiki kualitas hidup sehatnya masing-masing. Kurasa nggak ada salahnya mencoba, ini bukan program yang muluk kan.

We just need faith and belief for a better future, for the sake of a better younger generation.

——————————

image taken from: jasminekurnia@blogspot

 

 

 

4 comments

  1. Hey, Dee.. Postingannya menarik. Beberapa waktu lalu aku diminta bikin issue summary tentang kampanye hidup sehat, terutama kampanye anti rokok di Australia. Baru-baru ini, AUS bikin peraturan baru tentang ‘plain cigarette package’, yang memastikan bahwa bungkus rokok dibuat seragam, termasuk tulisan brand-nya. Akan dipilih gambar paling ‘menjijikan’ untuk menggantikan ragam bungkus rokok saat ini. Seperti biasa, selalu aja ada kontroversi, terutama dari pihak perusahaan rokok yang menganggap bahwa ini hanya akan mematikan berbagai macam upaya mereka bertahun-tahun membangun ‘brand’ rokok mereka dan betapa hal ini akan violate paten mereka. Pemerintah sih agak gak peduli dan tetap menegakkan aturan ini. Salah satu alasannya, biaya ngobatin citizen yang mahal kalau udah kena kanker dan ragam penyakit akibat merokok. Di sini memang rokok juga mahal, bisa sampai A$16/bungkus. Kebayang mahal banget kan? Hampir Rp.160rb tuh. Harga rokok yang mahal membuat orang mikir kalau mau beli rokok :p Selain itu, rokok gak sembarang dijual, harus nunjukkin ID, counter rokok ditaruh di belakang kasir (upaya mempersulit akses) dan gak dipajang sembarang, aturan iklannya juga ketat. Last Thursday, I hang out with my friends and he said ‘cancer is cheap in Indonesia’. Dia komentar gitu karena tahu betapa murah dan mudahnya rokok didapat di Indonesia. Akibat dari ketatnya peredaran rokok di negara2 yang aware banget membuat produsen rokok ini ngincer negara seperti Indonesia yang penegakan aturannya gak jelas. It’s a shame!

  2. Aku setuju nih, sampai berbusa-busa pun para aktor iklan layanan kesehatan mengkampanyekan larangan merokok, mau ditambah dengan nasihatnya presiden sekalipun, percuma kalau peredaran rokok masih dilakukan secara bebas.

    Bukan saja peredaran rokok sebenarnya, promosi rokok pun harus diatur ketat. Di televisi, kita masih bisa lihat iklan rokok yang begitu diidentikkan dengan sikap jantan dan berani menerima tantangan. Acara konser musik (esp. band) disponsori rokok, bahkan yang nonton juga dapat rokok gratis. Plang toko, minimarket, warung, disponsori rokok. Yang paling ironisnya, kompetisi olahraga dan beasiswa disponsori perusahaan rokok.

    Selama ini iklan layanan masyarakat secara umum, khususnya kesehatan, masih jauh dari kata menarik dan fresh. Mungkin dengan mengajak tokoh-tokoh muda yg terkenal dan berprestasi, seperti musisi, penyanyi, aktris, aktor, atau penulis bisa mengubah citra iklan layanan masyarakat, seperti yg kak dee tulis di atas.

    btw, aku lupa nih udah pernah komen di sini atau belum. Kalau belum, salam kenal ya kak.

  3. mau komen dari kapan tau baru sempet (dan inget) sekarang.
    ada satu hal yang bikin aku nganga dan sampai tanya “kok bisa???”, adalah waktu aku ngobrol sama seorang Korea dan di mana dia adalah perokok. oke, aku gak tau ini valid atau nggak tapi katanya bahkan harga rokok impor korea yang dijual di Jakarta lebih murah ketimbang dibeli di negara asalnya itu.
    Oke, cuma bisa ketawa sambil facepalm guweh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s