About Inheritance (the Eragon Book Series) – Spoiler Alert!

Akhirnya, setelah umm … sekitar hampir 3 minggu membaca, pagi ini selesai juga aku menyelesaikan buku ke-empat yang juga terakhir dari serial Eragon-Eldest-Brisigr —> Inheritance.

Merupakan sebuah perjalanan yang sangat epik. Coba kuingat, pertama kali aku baca buku pertamanya, Eragon, adalah ketika  aku masih SMA. Tepatnya di tahun terakhirku saat sedang ujian akhir, hahaha.. Nggak tau setan apa yang merasukiku saat itu, ketika kebanyakan teman-temanku dipusingkan dengan materi-materi ujian, aku malah maen ke perpustakaan dan nekat meminjam buku ini karena tertarik dengan covernya yang bergambar naga berwarna biru sapphire. Sebelum beberapa tahun kemudian aku membaca buku Eldest, aku lupa tahun berapa .. antara 2006 atau 2007, sebagai sebuah hadiah ulang tahun dari seorang mantan sahabat dekat, lalu membeli Brisingr di awal tahun 2009 hingga secara nggak sengaja menemukan Inheritance di display buku ‘New Comer’ saat berkunjung ke Gramedia akhir bulan Juni kemaren (dan baru tau kalau ternyata buku ini aslinya sudah terbit sejak bulan Oktober atau November tahun lalu), di mana aku langsung kalap dan ngambil buku itu, dan langsung bayar. 

Sosok Eragon diciptakan oleh Christopher Paolini yang menghabiskan 8 tahun untuk menyelesaikan serial buku ini, bercerita tentang kisah seorang anak laki-laki remaja yang hidup di sebuah daerah kecil di benua Alagaesia, ketika pada suatu hari dia tidak sengaja menemukan sebuah batu berwarna biru yang ternyata adalah telur naga yang kemudian dia beri nama Sapphira. Dari sana dia kemudian mengetahui takdirnya sebagai Penunggang Naga, dan dibantu oleh Brom yang di desanya terkenal sebagai pendongeng terkenal, yang ternyata adalah seorang mantan Penunggang Naga dan belakangan diketahui adalah ayah kandung Eragon, mereka melakukan perjalanan melintasi benua untuk bergabung bersama kaum Varden dan membantu mereka menggulingkan rezim tahta Kaisar Galbatorix, seorang Penunggang Naga pengkhianat super kejam yang telah berkuasa selama hampir satu abad.

Membaca Inheritance, rasanya hampir sama kek soap opera, sempat dibikin capek dan pusing juga. Selain karena halamannya yang 3 kali lebih tebal dari Eragon, sekitar 900an halaman – oke, salah satu serial Harry Potter aku ingat ada yang setebal 1200an halaman, tapi bayangkan saja kalau kamu membaca buku yang lebih besar dari pada HP dengan intensitas tulisan yang lebih kecil dan rapat … >< – topik yang diangkat dalam buku ini agak lebih sulit untuk diimajinasikan meski penggambarannya sangat detail. Sejak awal, hingga setidaknya sampai 4/5 buku ini membicarakan tentang perang dan ketegangannya yang sama sekali tidak pernah turun, anti-klimaks baru aku rasakan begitu membuka halaman 890an di mana aku baru mulai bisa senyum-senyum sendiri dan mulai santai bacanya.

Seperti yang sudah kukatakan, Christopher Paolini menuliskan tiap plot dan setting ceritanya begitu detail, dia nggak pernah gagal membuat aku terperangah dengan banyak sekali informasi tambahan dan sejarah dari semua topik yang sedang dibicarakannya di sana, seolah orang ini sengaja menyajikannya secara lengkap untuk memastikan pembacanya benar-benar mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Kisah tentang dewa-dewa, sumber kekuatan alam, tentang Eldunari (jantung dari sumber jantung naga), tentang sejarah sebuah daerah, makhluk kuno, seeeemuanya dia tuliskan dengan lengkap, menjadikan novelnya sekaligus ensiklopedia informatif bagi semua pembaca setianya. Dibanding buku-buku sebelumnya, Inheritance jauh lebih rumit, dari topik peperangan dan kata-kata yang dia gunakan. Ini adalah buku kolosal pertama yang pernah aku baca, dan sebagai orang yang nggak pernah membaca buku tentang perang agak sedikit sulit buat aku bisa memahami dengan cepat, jadi yang kulakukan adalah membacanya sekali lagi agar bisa benar-benar ngerti sekaligus memikirkannya di dalam otak supaya bisa mendapatkan penggambaran yang lebih jelas tentang situasinya yang terjadi di sana.

The thing about Inheritance. adalah akhir dari seluruh kisah perjalanan Eragon sebagai penunggang naga yang ditakdirkan untuk menggulingkan kekaisaran yang bertahta, hingga akhirnya dia bisa mengakhiri hal yang telah ditakdirkan untuknya, menjatuhkan Galbatorix …. humm, sebenarnya aku agak kurang sreg dengan bagaimana dia melakukannya. I mean, sejak buku pertama Galbatorix sudah disebut-sebut sebagai sosok seorang kaisar yang begitu maha segalanya, begitu hebat, berbahaya, .. pokoknya segala yang terkuat di Alagaesia langsung merujuk sama nama yang satu ini. Ketegangannya sempat memuncak ketika pada akhirnya mereka berhadapan langsung, ternyata Galbatorx tau segalanya tentang Eragon dan semua sekutunya – bahkan yang paling rahasia sekalipun – entah darimana, sekaligus ketika dia mengenalkan Shruikan, naga legendaris milik sang kaisar yang diceritakan begitu menakutkan, aku sendiri sampai bisa merasakan kegugupan mereka … lalu, sayangnya, setelah ibaratnya diangkat tinggi-tinggi untuk mengharapkan sebuah pertarungan paling hebat sepanjang sejarah, sebenarnya aku mengharapkan duel yang lebih epik dibanding hanya perang benak antara Galbatorix versus Eragon yang dibantu oleh eldunari naga-naga tua. I mean, ketika kemudian duel itu berakhir dengan ledakan megabesar, lalu Galbatorix tewas .. selesai, dan kemudian antiklimaks, .. I was like, .. that’s all?

Untuk seorang yang telah dibesar-besarkan sejak buku pertama dan baru muncul sosok aslinya di buku terakhir, aku merasa Galbatorix bagaimanapun juga pantas mendapatkan kematian yang lebih layak daripada ini, .. >< I dont know, it’s just me though.

Hal lain aka SPOILER yang akan kukasih tau ke kalian adalah, betapa leganya mengetahui bahwa Nasuada, instead of Eragon, yang menggantikan Galbatorix sebagai kaisar baru Alagaesia. Lalu Arya .. (Arya!! how can I forget her!!!) dia menggantikan ibunya, Islanzadi, yang tewas dalam perang terakhir di Uruba’en menjadi ratu Elf , dan akhirnya dia juga jadi Penunggang Naga dari naga baru berwarna zamrud (yang ada di cover Inheritance) bernama Firnen – yang juga akhirnya jadi pasangan  Sapphira, lalu kepergian Eragon meninggalkan Alagaesia untuk membangun kembali klan Penunggang Naga seperti yang si tukang obat ajaib, Angela, pernah ramalkan dulu. Beberapa tidak berjalan seperti yang aku inginkan, but, hell, buku ini tetap super epik!!

Sebenarnya, dari semua buku, aku paling memfavoritkan Brisingr. Karena di dalam buku itu adalah satu rituan perayaan Sumpah Darah yang akhirnya mengubah Eragon menjadi setengah Elf, lalu kenyataan bahwa dia memiliki pedang baru, si Brisingr, yang namanya jauh lebih cocok buat dia dibanding pedang sebelumnya Za’roc, yang adalah milik Morzan (orang yang dia kira bapaknya, tapi sebenarnya adalah bapak saudara seibunya Murtagh), lalu karena setengah buku ini cerita Eragon juga dihabiskan di Du Weldenvardern, daratan tempat para Elf tinggal.

Tapi seperti yang Christopher Paolini bilang pada sambutan akhirnya, beberapa hal memang perlu untuk dibiarkan tetap misterius, masih ada beberapa hal yang belum terselesaikan, beberapa pertanyaan tidak terjawab, seperti bagaimana Angela bisa tau banyak tentang rahasia-rahasia Eragon, bagaimana kelanjutan kehidupan Murtagh, dan bagaimana akhirnya kelanjutan kisah Eragon dan Arya .. semuanya masih misteri. Dan kelanjutannya, hanya aku dan pembaca-pembaca saja yang bisa membayangkan bagaimana akhirnya .. hehehehe.. So then I have to say goodbye to Eragon, Arya, Sapphira and all the characters of the book .. hiks.

Inheritance mungkin akan sedikit menguras energi dibanding ketika kamu membaca buku-buku yang lain, tapi aku sangat merekomendasikan kami untuk membaca keempat bukunya dari awal. Serial Harry Potter dan trilogi Lord of the Ring mungkin sangat legendaris, tapi serial buku ini juga nggak kalah epik!

Selamat membaca!! ^^

2 comments

  1. belum pernah baca Eragon sama sekali, kecuali sinopsisnya.. itu pun bacanya pas lagi di toko buku ehehehe… sekarang aku baca dua buku, itu pun tiap hari cuma baca satu bab aja ga lebih, karena selain waktunya ga sebanyak dulu, mataku juga gampang cape akhir2 ini…

    anyway, ada rekomendasi buku fiksi fairy tale atau yang semacem Eragon gini ga, toy? tapi kalo bisa halamannya ga setebel itu, hehehe…

  2. wah, aku baru mau baca yang novel pertama🙂 maklum, aku kan masih muda😄 belum kepala 2 loh, dan gak tahu kalau buku Eragon dkk ini udah ada sejak zaman dahulu kala😥 tapi gak papa dong aku baca, aku kan masih pemula ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s