About Supernova: Partikel – by Dee Lestari

Sepertinya sudah lama sekali aku nggak membaca novel sejak, .. wait, buku apa yang terakhir kali kubaca?😄

Anyway, ketika otak ini rasanya sudah mulai kosong dengan perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia baru yang baik dan benar, akhirnya kembalilah aku membaca sebuah buku berjudul Supernova – Partikel. Aku harus berterima kasih pada si Upil kali ini, minggu lalu .. atau beberapa hari yang lalu dia memang sempat cerita kalau baru aja beli buku ini, hanya saja nggak begitu aku hiraukan saat itu karena aku memang sedang tidak begitu tertarik. Tetapi kemarin, ketika sedang ngobrol nggak jelas, aku menemukan buku itu di atas tempat tidurnya ketika aku membaca halaman pertamanya dan langsung tertarik untuk membacanya.

Partikel ini sendiri adalah buku keempat dari serial Supernova setelah “Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh,” “Akar,” dan “Petir” yang sudah dipublish sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku masih ingat pernah membaca buku pertama dan keduanya waktu masih SMA, melewatkan serial ketiga lalu membaca yang keempat ini.

Humm, gimana ya memulainya .. Pertama, aku adalah salah satu penggemar berat karya tulisan Dee Lestari yang humanis, pintar dan menguras emosi. Dia nggak pernah gagal bikin aku terperangah dalam tiap deretan kata yang tertulis di karya-karyanya yang begitu indah, puitis dan penuh makna yang dalam, terutama dalam buku Recto Verso, Madre atau Filosofi Kopi yang dulu juga pernah kubaca. Berbeda dengan tiga buku di atas, Partikel kali ini merupakan gabungan science fiction dan travel journal yang ditulis dengan begitu epik. Sejak awal membaca halaman-halaman pertamanya, kita disuguhi dengan gaya high comedy-nya yang pintar dan juga skeptis di saat bersamaan, yang kemudian semakin serius dan makin serius lagi hingga ke chapter terakhirnya.

Partikel bercerita tentang seorang gadis bernama Zarah yang tumbuh besar dalam ajaran humanis Firas, ayahnya seorang dosen ahli mikologi yang percaya bahwa pendidikan formal di sekolah cuma membuang-buang waktu dan tidak seefektif caranya mendidik putrinya dengan science. Aku dibikin melongo selama setidaknya 150 halaman pertama mengetahui bagaimana sejak kecil Zarah sudah dijejali dengan pengetahuan peta anatomi tubuh manusia dan segala jenis hewan hingga nama-nama latin mereka (belum termasuk banyak tumbuhan lainnya) yang Zarah ingat dengan mudah seperti barang mainan biasa. Karena terbiasa dengan ilmu pengetahuan eksak ini Zarah tumbuh jadi seseorang yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan, sangat ironis melihat dia lahir dari sebuah keluarga yang sangat Islami. Seluruh pelajarannya berasal dari pengetahuan ayahnya yang diturunkan secara verbal dengan berbagai pengamatan pada alam, terutama karena ayahnya juga sangat tergila-gila dengan fungi, .. hingga pada suatu hari ayahnya menghilang begitu saja dengan meninggalkan jurnal-jurnal tulisannya pada Zarah.

Jadi begitulah, sisa buku ini menceritakan perjalanan panjangnya untuk mencari keberadaan sang ayah, dari membabat hutan sebuah bukit yang konon dipercaya sangat angker oleh penduduk Batu Luhur tempat dia tinggal, bernama Bukit Jambul, lalu perjalanan ke Kalimantan hingga sebuah tim ekspedisi fotografer wildlife bernama the A-Team (ketika baca ini sontak bikin aku teringat sama the Avengers! XD) memboyong dia pindah ke London untuk menjadi seorang fotografer flora dan fauna yang bergengsi.

Buku ini sangat pintar, ditulis dengan riset yang dalam tentang dunia per-fungi-an, jamur, dll. Ketika Zarah pergi ke Tanjung Puting di kalimantan, tiap perjalanannya diceritakan dengan detail menuju penangkaran orangutan yang terkenal itu hingga rasanya kita benar-benar seperti sedang diajak berjalan-jalan masuk ke dalam hutan, out of nowhere, masuk ke dalam alam yang liar, atau dengan serangkaian perjalannya yang lain yang sarat dengan kisah/sejarah lengkap atas asal muasal sesuatu atau sebuah tempat. Yang menarik adalah, ketika awalnya kita disuguhi dengan hal-hal klenik berkaitan dengan mitos-mitos tentang bukit Jambul yang angker itu, siapa yang mengira perjalanan Zarah ternyata berhubungan dan bersentuhan langsung dengan teori konspirasi, hingga keesistansian alien, dan dimensi lain tempat makhluk-makhluk ini berasal.

Dee dengan apiknya menarasikan bagaimana alam seolah manusia yang punya rasa dan akal pikiran, juga betapa manusia tidak jauh berbeda dengan binatang. Yang membedakan kita dengan  mereka adalah suatu tempat di dalam otak kita yang bernama ‘area Broca’ (area dalam otak yang berfungsi untuk membangun kemampuan berbahasa) – and that’s true, science speaks. Banyak juga kata-kata yang aku ‘quote’ sebagai sebuah renungan, seperti ketika dia bilang bahwa ‘manusia adalah virus yang paling jahat di dunia ini, karena ketidaksadaran kita untuk menjaga alam. Manusia lupa telah bersepupu dengan orangutan, simpanse, gorila dan bersaudara jauh dengan pohon. Satu-satunya hal yang perlu disebuhkan dari manusia adalah amnesianya supaya kembali ingat bahwa kita diciptakan dengan bahan baku dasar yang sama dengan semua makhluk di atas bumi – (Partikel, 227).

Ketika membaca buku ini, keywordnya kurasa adalah “Enteogen”. Bila aku nggak salah memahami, ini adalah semacam zat yang terkandung di dalam jejamuran yang memiliki efek dapat menimbulkan halusinasi. Aku jadi inget beberapa waktu lalu seorang teman bercerita dia pernah mencoba semacam mushroom yang memberikan efek serupa, jadi ketika temannya makan dia mulai merasakan halusinasinya melihat benda yang tidak seharusnya bicara jadi hidup dan ngobrol sama dia dan semacamnya. Enteogen ini sering kali disebut di sejak awal buku ketika ayah Zarah beberapa kali terlihat mengkonsumsinya hingga ke bagian klimaksnya, saat Zarah menggunakannya untuk menyeberang ke ‘dimensi’ lain untuk mencari ayahnya dari jamur Iboga. Konon kandungan enteogen di dalam jamur ini dikenal paling kuat hingga bisa menimbulkan sensasi di mana konsumennya bisa “melihat” orang yang sudah mati dalam ‘halusinasi’nya dengan mantuan seorang Shaman keturunan Indian dari Amerika. Epic!

Banyak hal yang menarik kutemukan dalam buku ini, tiap-kata yang teralir dalam plotnya bikin aku ingin terus membalik tiap halamannya dan enggan beranjak meski hanya untuk makan atau mandi, hahaha .. Tapi, yah, memang ada juga beberapa hal yang nggak aku setujui di sana. Karena nggak jarang di sini Dee menuliskan beberapa hal yang bersinggungan dengan Islam dan segala ritualnya, I won’t talk about SARA, hanya saja bila orang yang membaca ini tidak benar-benar mengenal bagaimana Islam sesungguhnya, mereka pasti akan berpikir bahwa agama Islam sarat dengan hal-hal berbau klenik, Islam agama diktator yang keras dan tidak mengenal arti sebuah diskusi demokratis menjawab pertanyaan seputar kenapa dan kenapa. Hal semacam ini pasti jelas ada, dilakukan oleh beberapa oknum dengan pemahaman yang masih tercampur dengan adat-adat klenik yang sama sekali tidak mengeneralisasikan orang Islam kebanyakan. Aku hanya berpikir, bila para muslim yang membaca buku ini nggak kuat keimanannya, buku ini bisa menjadi seperti sebuah dogma yang mengarahkan kita pada sebuah kepercayaan lain yang hakiki, dan itu nggak sehat. >.< Oke, cukup sampai di sini.

Intinya adalah, aku seperti sedang membaca karya Dan Brown dan Paolo Coelho yang penuh dengan intrik misteri dan pengetahuan, saat membacanya aku begitu tenggelam hingga ke titik di mana aku nggak bisa membedakan apakah ini sebuah karya fiksi, atau non-fiksi karena garis pembedanya benar-benar tipis dan nyaris tidak terasa.

——————-* * *—————–

11 comments

  1. aduh, emang gak salah deh kalau buku ini patut dipuji-puji, soalnya Dee gitu! dia itu kuerennya minta ampun kalo udah nulis puisi/novel/cerpen. gak pernah aku kecewa sama novel/kumcer yang Dee tulis, pokoknya buku ini kueren sumpah! rasanya pengen aku makan aja buku ini biar terus terkenang sampai akhir hayat (?)😄

  2. Buku ini rasa-rasanya merupakan buku yg bikin aku geleng2 kepala karena 2 sebab: bagus banget, sekaligus mengerikan.
    Sama kayak yg kakak tulis, aku salut banget sama pemaparan berbau ilmiah yang ada di buku ini, tapi di sisi lain aku ngerasa buku ini bahaya banget kalo di baca sama orang yang tidak memahami Islam, atau yang merenungi Islamnya hanya berdasarkan logika–tanpa memahami Al-Qur’an itu sendiri.
    Meskipun begitu, aku ngerasa buku ini keren banget dari segala aspek, kecuali yg kutulis di atas.

  3. karna aku tuh agak sedikit pushover klo udah baca ripiu ato resensi soal buku ,pasti dah tuh buku besoknya udah jd target pencarian hehe..mama gk penah pelit klo dimintain beli buku^^ /maklum pelajar^-^V

    I won’ t talk about SARA…?
    sure..I agree with u sist.#highfive
    aku seorang cristian tp aku bersahabat baik buanget sm seorang ‘namja’of course yg jg seorang Muslim dan dia itu sosok yg baik dlm hal apapun termasuk taat pd agamanya..

    see…perbedaan itu kan saling melengkapi hehe/kayak orang tua lu*pissss!
    anyway, gk ada buku yg tdk bagus…kurasa
    krn kita bs tahu baik-buruk dan pertimbangan lain dr sebuah buku itu sendiri .

    terima kasih atas ripiu kakak tentang buku ini ..
    aku akan membacanya lebih lanjut..^^

  4. Baru update goodreads dan nyasar ke sini hahahaha

    Aku baru baca ini 2015 dan dari 5 buku supernova ini fave ku hahahaha

    Aku juga udh curiga sejak awal2 kalo bapaknya itu jangan2 makan jamur yg biasa di buat minuman buat berhalusinasi itu kkkk

    Dan agak kaget juga giman niy ceritanya dr awal klenik kok nyambungnya ke alien hahahaha

    Ah ga sabar untuk buku selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s