About My State of Paranoia

I get paranoid easily.

That would be the most exact lines to express me these days.

Aku orang yang mudah terpengaruh. Sejak duluuuu kala sampai sekarang, apa yang orang bilang selalu buat aku gampang percaya dan terobsesi. Waktu masih labil dulu, aku ingat pernah berantem sama seorang cewek dari sekolah tetangga karena “ikut-ikutan” teman-teman aku begitu mereka bilang cewek ini “nggak baik”.

Sebenernya kalau dipikir-pikir dan diingat-ingat lagi, aku nggak menemukan sisi buruk si cewek ini, panggil sama dia Bunga *bukan nama sebenarnya*. Si Bunga adalah cewek yang cukup terkenal di sekolahnya, karena dia model. Anaknya cantik, tinggi, kulitnya sawo matang *kalo nggak salah inget* dan Arabic. Pokoknya cowok-cowok bakal suka deh kalo ngeliat dia, .. nggak tau masalahnya apa, dan aku juga lupa apa yang temen-temen aku bilang waktu itu, kurasa mungkin karena mereka iri sama ‘kesuksesan’ dia .. yang jelas tiba-tiba aja aku nggak suka sama dia, padahal aku nggak tau apa-apa. Yeah, singkat ceritanya kami berantem karena hal yang sangat trivial, .. dan yang bikin awkward adalah, kami teman sekelas di kelas 10 ketika SMA.

Kasus-kasus seperti ini sering sekali terjadi. gara-gara terpengaruh teman-teman, aku jadi sering sekali ber-prejudice sama orang-orang tertentu dan menganggap mereka nggak worth it as human beings. Tapi kasusnya memang nggak selalu parah juga sih, banyak hal-hal bodoh terjadi karena aku mudah percaya apa yang orang bilang, saat kupikir yang mereka katakan itu serius, and apparently it was just a scam.

Lain kali aku memang harus menjunjung tinggi tagline: NO PIC, IT’S HOAX!

Kebodohan ini masih melekat sampai sekarang, dan wujud yang berbeda, tapi makin memusingkan. Aku masih tetap mudah percaya apa kata orang, bahkan sampai terpengaruh hingga kata-kata dan cerita mereka seolah terpatri dengan solid di dalam kepalaku dan ini membuat otakku membentuk sebuah ruang baru bernama : PARANOIA.

Yes, sudah beberapa saat ini aku jadi orang yang gampang paranoid. Let me tell you some stories that cause this mental disorder:

(1). Beberapa waktu yang lalu Ines, my sister, cerita tentang sebuah operasi yang dia ikuti. Kasus pasien matanya kegores, irisnya kegeser *aku memutuskan untuk tidak menceritakan akhir nasib dari si pasien karena ini bisa menyebabkan kamu akan kehilangan nafsu makan berminggu-minggu* yang penyebabnya adalah >> kelempar batu waktu naik kereta.

Aku paranoid untuk duduk terlalu dekat dengan jendela waktu naik kereta, even though it’s always been my fave spot. Beberapa cerita lain dia juga bikin aku jadi sangat berhati-hati dengan benda tajam, paranoid sama orang yang bawa-bawa parang, bambu atau benda tajam lainnya. Aku bahkan sering bayangin tragedi-tragedi tragis pembunuhan dan semacamnya *dramatis kek di sinetron*. It’s not normal.

(2). Beberapa minggu yang lalu sepulang dari Jogja *keluargaku datang “menjenguk” di kost*, kami semua dalam keadaan flu pulang sama-sama naek mobil, Appa was driving in his unwell condition. Kurasa karena mungkin kami sudah begitu dekat dengan rumah dan Appa terburu-buru karena ada janji sama temannya juga, … dia nabrak orang di sebuah desa di dekat Banyumas *udah tau jalannya kecil tapi masih ngebut juga, that’s my dad*.

It left me a very traumatic scene, dan bisa ditebak akibatnya, .. aku selalu paranoid tiap kali Appa yang nyetir ketika kami pergi bersama, terutama sama motor yang nyupirnya udah kek orang barbar berasa jalan punya neneknya sendiri. I became histerical and cursed a lot to them, hanya untuk mengkritik cara nyupir mereka seperti orang nyoba jimat, maen-maen sama nyawa. I don’t even know what hell they’re thinking, .. benci deh kalo ada orang naek motor nggak pake helm, terus kebut-kebutan di jalan, bawaannya pengen nyumpahin aja .. *oke, tadi ini kita ngomongin apa kok sampe kek gini*

*tinggal ngajar*

— oke lanjut.

(3). Situasi yang serba random dan nggak aman saat ini juga bikin aku jadi penuh dengan curiga sama orang, terutama ketika sedang mobile. Karena banyaknya kasus orang dihipnotis terus dirampok, atau dibius dan semacamnya bikin aku punya tindakan preventif yang cenderung bikin aku jadi anti-sosial. I always have my iPod everywhere I go, dengan sepasang headphone besar yang sekali dipasang, .. I live my own world.

I tend not to socialize when I’m mobile. Di kereta, atau di bus saat dalam perjalanan Purwokerto-Jogja, saat nunggu dijemput, saat sendirian, meskipun Ipod nggak nyala headphone tetap di telinga. I never behave to people around me, hanya menyapa ala kadarnya *kalau lagi mood dan dirasa perlu* dan sisanya, live it with my world. Kasus terakhir yang terjadi adalah, salah satu temen Umma cerita soal keponakannya yang dihipnotis orang dan masuk ke rumah buat ngambil barang-barang, untungnya si teman ini tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan cepat nangkap basah si maling.

Lalu besok malamnya, aku berada dalam situasi ‘Home Alone’ ketika tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang. Tadinya mau nggak aku buka, tapi nggak mungkin juga karena Appa meninggalkan rumah dalam keadaan TV masih nyala. Yang ada jantungku deg”an, antara berani dan nggak buka pintu, .. makin deg”an lagi ketika yang kulihat tamunya tampang preman .. belakangan baru bilang dia pengen konsultasi dan akan balik besoknya buat nemuin Appa yang saat itu nggak ada di rumah.

That day’s lesson: Don’t judge the book from its cover, BUT JUST DO THAT TO WHOEVER KNOCKS YOUR DOOR AT NIGHT, ESPECIALLY WHEN THEY LOOK LIKE PREMAN TERMINAL.

Kadang capek juga nggak pernah bisa berhenti curiga dan histeris dengan kejadian-kejadian di atas. I just want to live a ‘normal’ life like any other healthy people. But I think it doesn’t worth sometimes, karena seringkali ketika mencoba untuk percaya pada seseorang, they end up stabbing my back and leave me behind. The last time I trust someone as a good friend, he lied to me over and over and robbed me smoothly like I was a puppet doll of his some kind of jokes.

I stop believing, I start prejuciding.

I stop not to buy, and start not to take something for granted.

I think I’m scared to be hurt, I think I’m done with stupid games.

I’m opened to any advises and therapies if anyone can just tell what’s wrong with me.

Awright, that’s all for now.

xoxo.

4 comments

  1. berhati-hati emang perlu sih, tapi capek juga kalo terus-terusan paranoid sama keadaan sekitar. mianhae ga bisa ngasi saran apapun, karena sedang berada dalam kondisi yang sama *pukpuk bahu kimchi.dee*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s