About Bubbling on Ambition and Obsession

Aku nggak akan bisa tidur seenggaknya selama 4 hari mendatang.

Hari ini aku bersama the other 2 halves (baca: DARKee members) akhirnya menemui Sekretaris Eksekutif UGM yang tidak lain merupakan dosen kami sendiri (aku selalu suka kalo ketemu si bapak’e yang jenius ini) dan ngobrol soal rencana kami yang ‘itu’ *kalo belum pasti haram diomongin*. Pembicaraan kami berlansung seru lah, termasuk soal kursi yang aku duduki *dalam arti sebenarnya* konon diduduki juga oleh orang” yang ‘hebat’ .. mendadak aku jadi semangat duduk di kursi itu, hehe .. opo to iki.

Okeh, intinya, di sore yang sama akhirnya kami duduk di sebuah sudut American Corner, sambil maen scrabble *NEWSFLASH* kami bikin draft email yang isinya proposal buat trip kami ke GSIAS HUFS.

Setelah mengucapkan beribu-ribu nama Allah SWT, membaca basmalah dan berdoa sekhusyuk mungkin, kami tekan itu tanda ‘SEND’. Nasib kami dipertaruhkan dalam sekali klik, .. Nah, oke, inilah yang bikin aku jelas nggak akan bisa tidur kalo itu email belum dibales. Aku berharap sih tembus, secara itu email sudah dibikin se-berlebihan mungkin, penuh dengan luapan emosi dan sorot kegembiraan.

Tapi bukan itu yang bakal aku omongin di sini kali ini.

Beberapa hari ini aku sering kali denger orang bicara soal ambisi dan obsesi, dua kata yang aku pikir punya arti yang sama, tapi dalam konteks yang berbeda. Sejak dulu aku selalu berpikir bahwa hubungan kata ‘ambisi’ dan ‘obsesi’ sama seperti layaknya hubungan kata ‘anything’ dan ‘everything’, yang mana salah satunya berarti positif dan lainnya negatif.

Everything, just in case kalau kalian belum paham =D, itu berarti ‘semuanya’ atau ‘segalanya’ dalam arti positif, ibarat kalo di dalam sebuah lagu, kata everything itu maksutnya, “Akan kuberikan ‘segalanya’ selama aku mampu.”. Sementara kalau anything, itu berarti ‘segalanya’ dalam arti sebenarnya, yang mana itu termasuk ke konteks yang dapat melanggar nilai” sosial hingga artinya negatif juga.

“I’ll do anything for you, .. (termasuk kalo lo pengen gue jual diri juga, it’s OK)” yak begitulah, gampangannya.

Pendefinisian yang sama sempat aku gunakan dalam mengartikan kata ambisi dan obsesi. Dulu aku berpikir bahwa ambisi itu sifatnya jauh lebih luas seperti arti kata anything dalam bahasa Inggris. Kalau orang punya ambisi, atau bila seseorang dikatakan ambisius, orang itu akan melakukan ‘segalanya’ agar ambisinya terpenuhi, termasuk nyepak atau menjatuhkan lawannya kalau dianggap menghalangi jalannya untuk bisa sukses.

Karena itu dulu aku nggak pernah terima kalau orang katain aku “ambisius”. Nggak mau donk, karena aku nggak pernah jatuhin orang untuk menjadi seorang presiden SEC, atau wooing on the juries buat bisa lolos program beasiswa Unggulan. Aku lebih suka dibilang terobsesi, karena menurutku, being obsessive is a good thing. It shows that I am such a strong-willed person and great enough to pursue my dream, .. having a dream is good, right? Itulah yang aku pikir.

Lalu hari ini aku baca sebuah artikel dari kompas yang judulnya “Berambisi tanpa Terobsesi” tentang definisi sesungguhnya dari ambisi dan obsesi. Jadi kalo menurut si penulis ini,

Definisi ambisi menurut The Webster’s Dictionary adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan. Sementara definisi obsesi adalah ide, pikiran, bayangan, atau emosi yang tidak terkendali, sering datang tanpa dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas.

Jika Anda punya rencana, lalu memfokuskan energi dan pikiran untuk merealisasikannya, berarti Anda memiliki ambisi. Dan, jika keinginan itu sudah mendominasi pikiran tanpa terkendali sampai membuat emosi meluap, bahkan kadang dengan pengejaran membabi buta, berarti Anda sudah terobsesi.

Ternyata selama ini aku termasuk yang salah kaprah ya? Aku baru tau bahwa yang selama ini kumiliki adalah ambisi, dalam hal yang positif tentunya. Aku berambisi untuk jadi seorang penulis, aku juga selalu haus akan ambisi dengan yang namanya program pembuktian diri, karena aku menyadari ketidakterbatasan sifat kekanak-kanakan aku selalu membuat orang-orang memandang sayah sebelah mata. They always think I’m such of a capitalist spoiled girl who lives to waste her parents money, a bloody useless hedonist dan segala macamnya, without knowing I’m working like crazy to earn my own money. Jadi apa salahnya ngabisin duit yang aku cari pake keringet sendiri??

*kok jadi curcol*

Aku akhirnya ngerti gimana konteks penggunaan dua kata ini, bahwa obsesi itu bisa nggak sehat juga akhirnya karena kadang akan bikin kita mengorbankan hal yang sebenernya nggak perlu kita lakukan. Hanya karena terobsesi sama Choi Minho, kadang aku juga bisa nggak tidur semalaman mikirin “kapan ya dia sama temen”nya ngeluarin album baru. …”

errrr, oke balik lagi.

Karena aku sudah paham sekarang, pertanyaan aku sekarang adalah, apakah salah bila seseorang punya ambisi?

Aku nggak ngerti kenapa pada pemikiran kebanyakan orang, kata ambisi selalu dianalogikan dengan hal negatif *seperti aku dulu* .. Ketika dulu aku dibilang ambisius sama seseorang, orang itu ngeliat aku seolah aku ini virus menular, bahwa seolah” ambisiku yang saat itu berusaha keras supaya bisa lolos PPAN (yang mana ternyata aku gagal juga) adalah hal yang nggak pantas dilakukan, hal yang haram.

Kalau ambisi merupakan sebuah perwujudan dari semangat dalam meraih sebuah mimpi, aku pikir itu hal yang sangat bagus. Orang yang berusaha mewujudkan mimpinya adalah orang yang appreciate dengan hidup yang Tuhan berikan pada mereka. Ketika ada orang yang bilang, “go with the flow” atau “Kita jalani aja dulu deh,” mulut aku selalu gatel pengen bilang, “Grow up, hey, kalo nggak tau mau ngapain, buat apa hidup?” Aku nggak pernah setuju dengan orang-orang yang menggantungkan hidupnya dengan serangkaian excuse semacam itu, because it means that they don’t appreciate the short time they have in this world while they can live happily.

but yeah, that’s me, the cynical me.

So live your life your best, chase your dreams and make them true!

Bismillah, semangat!!

xoxo.

p.s.

nggak afdol rasanya kalo satu postingan sepi nggak ada gambar.

one of many ambitions I’m working on right now..

I’ll see you soon, Mr. Snowman!^^

3 comments

  1. err.. I told u kalo contoh kalimat yg benar tentang obsesi adalah “I was so obsessed with mr.Z” yg bermakna negatif. kalos krg “I love choi siwon and I’m ambitious for him” yg bermakna sangat positif!

  2. kalo ada orang yang kelewat obsesif .. nama gangguan kepribadian nya –> anankastik.

    penyakitnya .. namanya obsesif kompulsif.

    aku suka kok kakak ku yang ambisius ini, soalnya … hasil dari ambisinya, saya ikut nikmatin juga … *senyum licik … *balik baca PPDGJ lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s