Fenomena Curhat Online

Jadi ceritanya gara-gara status teman facebook ngomongin soal sesegrup yang isinya adalah curhatan para emak, aku yang kepo akut ini ikut gabung donk ke dalam grup itu. Yang berawal dari hanya sekedar ingin tahu, jadinya memunculkan berbagai macam emosi dalam diri ini ketika baca postingan mereka.

Cerita mereka variatif, diunggah oleh orang-orang dari berbagai kalangan dari emak yang anaknya udah kerja, emak yang anak-anaknya masih bayi sampai bahkan ada juga yang belum nikah ikut berbagi. Kisahnya pun beragam, ada yang sekedar upload foto hari ini mereka masak apa, selfie habis pakai produk kecantikan apa, masalah keluarga bahkan sampai ke masalah ranjang.

Ceritanya ada yang bikin ketawa, ada yang bikin simpati, sampai ada juga yang bikin gregetan. Ini yang aku pikir, kok bisa ya cerita macam gitu diunggah ke media sosial 😅.

Sebenarnya mengunggah apapun di ranah online itu nggak haram ya. Sejak dunia kita dikenalkan oleh teknologi bernama internet, orang bebas membagi apapun di sosial media mereka. Meski gitu, ini udah jadi semacam perjanjian tak tertulis bahwa ketika kamu berani posting sesuatu, berarti kamu juga berani menanggung resiko dari apa yang kamu tulis di situ. Itu termasuk bully-an orang dari orang-orang yang nggak cocok sama materi unggahannya.

Ini yang pengen aku bahas hari ini. Berada di grup curhatan itu nggak serta merta bikin aku berpikir harus berkomentar sesuatu di postingan orang. Aku pribadi nggak merasa punya hak apapun untuk berbicara; pertama, karena aku nggak kenal siapa mereka, yang kedua karena belum tentu komentarku bisa diterima dengan baik, sebagaimana niatku ketika menuliskannya. Mengomentari curhatan temen sendiri aja nggak berani apalagi orang yang nggak dikenal.

Tapi walau begitu aku masih pengen tetap membahas kasus-kasus yang ada sih. Tanpa langsung berbicara pada yang bersangkutan, aku tulis aja di sini kali aja di luar sana ada yang merasa senasib, hehehe…

Jadi tadi pagi sambil scroll down bacain postingan di grup itu, ada satu curhatan sesembak yang lagi bermasalah sama suami dan keluarganya. Konon ceritanya, dia upload status di whatsapp dan dikomentari sama suaminya. Selama ini dia upload status apapun nggak pernah dikomen, tapi sekalinya dia nyebut soal saudara si suami, ybs langsung komentar. Sama si mbaknya ini komentaran suaminya itu belum dibalas, karena dia tahu sekalinya balas mereka pasti bakal ribut. Dia sampai menyebut ‘sensitif banget suamiku kalau soal saudaranya’. Penasaran sama status apa yang dia unggah?

Apa yang ada di kepalamu kalau baca status di atas? 😅

Aku nggak habis pikir ya, tapi menurutku pribadi ya nggak heran juga kalau suaminya sampai komentar, lha wong yang disenggol adik kandungnya 😂. Dan sepertinya ini juga yang jadi alasan kenapa postingan itu dihapus (entah sama si TS atau admin), kurasa di kolom komentar lumayan ricuh orang membully sesembak yang tampak sedang mencari pembenaran ini.

Kadang aku berpikir, ketika seseorang membuka permasalahan hidupnya untuk dikomentari orang yang mereka nggak kenal, apa sebenarnya yang mereka cari? Di mana orang-orang terdekat mereka; kakak, adik, orangtua, pasangan hidup atau sahabat dekat yang setidaknya bersedia untuk duduk bersama dan mendengarkan keluh kesah hingga mereka mencari perhatian dan kenyamanan di dunia maya?

Terus yang jadi pertanyaan selanjutnya, ketika orang-orang sudah komentar, gimana cara dia menyelesaikan masalahnya melihat masukan orang-orang yang beragam? Apa komentar-komentar dan masukan-masukan itu relevan dengan permasalahannya ataukah mereka cukup puas hanya dengan mempublikasikannya dan membiarkan dunia tahu bahwa hidupnya bermasalah? Ini yang aku benar-benar ingin tahu.

Aku pribadi bukan orang yang suka cerita. Kalau mau berbagi, aku lebih suka cerita ke orang hal-hal yang baik dan menyembunyikan yang jelek untuk diri sendiri. Hidupku nggak sempurna, aku pun juga punya banyak masalah, tapi dengan membukanya ke orang lain itu nggak semudah itu. Ini bukan masalah pencitraan, aku cuma nggak suka cerita masalah pribadi karena itu adalah masalah yang harus kuselesaikan sendiri. Apapun keputusanku, itu adalah konsekuensi yang resikonya harus kutanggung sendiri. Jadi kalau nantinya buntutnya jelek, nggak ada orang yang disalahkan selain diri sendiri yang harus berintrospeksi.

Aku juga nggak suka ribut, jadi sebelum konflik terjadi aku cenderung untuk menjauhi pemicu konflik itu sendiri. Contoh konkret?

Misalnya sama suami, aku tahu dia pengen lemarinya selalu rapi dan baju selalu tersedia. Kadang namanya orang juga, aku suka mager masukin baju setrikaan ke dalam lemari dan itu bisa jadi ribut kalau tumpukkan sampai tinggi. Daripada ribut, kalau mager pokoknya baju dia dulu deh yang masuk lemari dan dirapiin, punyaku kapan-kapan kalau lagi rajin. Btw lemariku dan lemari dia terpisah, jadi gampang kalau mau masukin baju tinggal dipisah. Punya dia dirapiin sesuai denhan tempatnya, punyaku masuk seadanya aja yang penting kamar keliatan rapi. Padahal di balik pintu lemari itu ada tumpukkan baju yang belum rapi.😂

Bicara tentang konflik bersama keluarga suami, untuk beberapa orang memang nggak bisa dihindari. Alhamdulillah aku dapat keluarga baru dari suami itu baik banget. Saudara-saudaranya ramah dan pengertian, sampai kadang suka nggak enak sendiri karena aku nggak bisa kasih sebaik apa yang mereka kasih. Mereka yang tadinya orang asing, tapi bisa begitu dekat seperti saudara kandung saat ketemu dan ngobrol bareng.

Dan ini juga yang bikin aku berpikir bahwa inilah pentingnya ilmu beragama saat kita bermuamalah dengan keluarga suami.

Nggak perlu kejauhan deh ngebahas fiqih perempuan. Kembali ke dasar aja, adalah pemahaman yang menyeluruh tentang Rukun Iman.

Cukup satu Iman. Yang pertama. Saat kita memahami bahwa kita percaya penuh ada Allah, semuanya akan tetasa mudah. Saat kita percaya Allah akan memecahkan masalah kita, maka aku jauh dari rasa galau. Ketika aku mengimani bahwa Allah menjanjikan kehadiran-Nya di setiap waktu, aku nggak pernah marah terlalu lama ketika seseorang menyakiti aku.

Ini nggak hanya bicara tentang keluarga aja, tapi juga hubungannya sama orang-orang di luar rumah. Berbuat baik sama orang itu bukan hanya sekedar supaya disukai baik, tapi karena kalau aku baik, insyaa Allah keluargaku juga akan diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Ketika ada orang yang jahat mulut atau perilakunya, aku ‘yaudah’ aja. Ada Allah yang Maha Tahu, ada Allah yang Maha Memberi Pertolongan juga. Kalau pun perbuatan itu nggak terbalaskan di dunia, pasti bakal dibalas di akhirat.

Sesimpel itu sih, hingga kita mengimani hari Akhir dan percaya bahwa yang baik akan berakhir baik, dan yang jelek pun akan berakhir jelek juga. Apa yang kita tanam, kita juga yang akan memanennya. Pilihan kita aja mau jadi orang yang baik atau enggak. Pilihan kita juga apakah mau ngejaga mulut dan perilaku atau enggak.

Kesimpulannya, mengunggah apapun ke sosial media itu sah-sah aja sih, toh itu juga akun kita sendiri. Cuma untuk kemaslahatan diri sendiri, sebenarnya akan lebih bijaksana untuk nggak mengumbar aib sendiri di khalayak ramai. I mean, buat apa sih membuka kejelekan suami atau adik ipar atau ibu mertua atau anggota keluarga lainnya? Masalah nggak akan selesai, malah yang ada tambah gede dan panjang buntutnya. Belum lagi itungan dosa yang kita pikul karenanya.

Bismillah, kalau ada yang merasa disakiti, percaya bahwa doa orang yang terdzalimi itu makbul. Jangan ragu untuk berdoa dan meminta. Jangan ragu untuk bercerita pada keluarga terdekat dan meminta solusi dari orang yang netral dan nggak bias, biar nggak termakan hasut dan hasad.

Btw, tulisan ini nggak dibuat untuk memojokkan siapapun ya. It’s all fully from a penny of my thoughts. Feel free untuk berkomentar, dengan bahasa yang baik, kalau ada yang ingin kamu sampaikan. Healthy discussion will be very much appreciated.

See you on my next post.

Be happy, Everyone!

Regards,

Dee Wryn, yang lagi nulis sambil nungguin Aisha main Plants vs Zombies ❤️

Me Is Back!

Halo semuanya,

Nggak terasa entah udah berapa tahun ya, sejak terakhir kali blog ini terisi oleh postingan yang berfaedah. Hehehe… Entah kenapa, pagi ini tiba-tiba saja teringat punya kimchidee wordpress. Membuka lagi laman-laman lama, kemudian teringat masa-masa dulu saat lagi rajinnya menulis. Dan teringat yang dulu-dulu, tiba-tiba aja ingin menulis lagi dan berbagi sama yang mau baca apapun yang ditulis di sini.

Sebenarnya ide ini bukan sesuatu yang mak cebluk gitu munculnya. Aku sudah pengen banget nulis sesuatu sejak lama, tapi karena waktunya nggak belum bisa teralokasi dengan baik (baca : mager) jadinya semua itu hanya berhenti dalam sekedar niat aja.

Lama nggak nulis blog bikin diri ini jadi kagok juga. I mean, bahkan untuk menulis begini aja mikirnya lama banget. Ketik, hapus, ketik, hapus, lalu diulangi lagi sampai mules. Ya, seperti mesin yang ngga luwes kalau nggak dioliin, begitu juga dengan skill ini. Jadi mohon maklum, aku perlu sedikit waktu untuk bisa terbiasa lagi mengeluarkan unek-unek dan mengekspresikan ide menjadi tulisan tangan (komputer, iya, tau).

Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih niat untuk mengembalikan kebiasaan ini lagi seperti dulu. Blog ini bisa hidup lagi dengan cerita keseharianku sekarang, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Nggak sabar banget nih, banyak banget sebenarnya yang pengen dibagi. Mari berdoa niat akan berbanding lurus dengan realisasinya, haha.

Kalau kamu adalah salah satu follower blog ini dan masih aktif, ayo kita sambung lagi persahabatan yang pernah kita punya dulu.

Dan yaa, seperti mas Lay yang setelah sekian purnama akhirnya kombek bareng EXO, I am now also back here. *smiley face*

Sampai ketemu di post selanjutnya yaaa…

Love,

Dee.

060821

Dear Neverdancedbefore.

Hi, guys.

Assalamualaykum…

Malam ini aku ingin menulis surat terbuka untuk para penulis blog neverdancedbefore, karena sepertinya surat semacam ini lagi tren ya, let’s say following one won’t hurt, hehehe…

Jadi, dimulai dengan kata, halo. *melambai cantik*

Aku Dista, dari saladbowldetrois.

Malam ini nggak sengaja terlantar di blog kalian, lalu membaca beberapa tulisan kalian, then I was… wowed. Kalian sangat berbakat. Tulisan kalian begitu menginspirasi, dan sejujurnya, kalian adalah generasi muda yang meyakinkan aku bahwa fiksi Indonesia masih punya harapan cerah. Yeah, seriously.

Aku sebenarnya pengen komen, atau meninggalkan jejak barang satu atau dua di blog kalian. Tapi kok tiba-tiba awkward gitu kalau aku komen banyak, padahal kenal juga enggak, hehehe… jadi untuk saat ini, post ini mungkin adalah apresiasi terbesarku untuk kalian. Insyaa Allah nantinya akan sering berkunjung ke blog kalian, karena yakin nantinya bakal ketagihan juga kalau perlu bacaan yang bagus dan berisi.

Kuharap kalian akan terus menulis yang bagus-bagus, yang baik-baik, jadi agen penyelamat moral bangsa dari tulisan kalian yang bermakna. Terus rendah hati, dan terus menginspirasi.

Aku tunggu terus fiksi terbaru kalian di saladbowl. ^^

.

Much love,

Dista Dee.

.

bagi yang ingin berkunjung dan menikmati fiksi-fiksi cantik dari 8 author muda berbakat,

klik

neverdancedbefore

they’re awesome.

[ONESHOT] Sabers War

iseng iseng baper ;p

saladbowldetrois

sekai

– distadee & Chocokailate –

.

.

.

“Kalau aku mati, apa kau akan menangisiku?”

Jongin hanya tersenyum ketika pertanyaan itu terdengar. Matanya berkejap, sekali dua kali, rasanya agak pahit setelah semalaman gagal melelapkan diri. Dia tidak salah dengar, dan meski Sehun kadang bisa jadi sedikit absurd, pertanyaan itu tetap terasa asing.

“Kau tidak akan mati.” Jongin menjawab singkat, ala kadarnya.

View original post 1,347 more words

Nikmatnya Sang Ibunda.

Aisha lagi jalan 8 bulan, dan alhamdulillah sekarang lagi senang berguling-guling dan merayap nyari tempat dingin (baca: lantai). Kata orang kalau bayi sudah di atas 6 bulan kerjaan ibu lebih santai, atau nggak terlalu capek karena nggak perlu bangun malam-malam nyusuin bayi. Tapi yang kurasakan sama aja sih, dulu sama sekarang kerjaan tetap banyak meski beda tipenya, hehehehe….

Beberapa ibu juga bilang, bahwa masa terindah seorang wanita yang menjadi ibu itu ketika melahirkan anaknya. Detik-detik setelah bayi keluar dari perut, lalu ditaruh di atas dada dan ibu melihat bayinya pertama kali—rasanya nggak ada yang ngalahin, katanya. Aku melihatnya dengan berbeda, dan kurasa yang diceritakan itu belum apa-apa. Kebahagiaan itu bertahap; dari ketika bayi lahir, lalu ketika ibu menyaksikan bayinya bisa ngoceh untuk pertama kali, ketika bayi bisa terlungkup untuk pertama kali, merangkak, berdiri, ketika bayi mulai kenal ibu sebagai ibunya, sampai nanti ketika dia bisa ini itu yang lain. Kebahagiaan itu nggak akan ada habisnya.

Jadi ibu itu capek, semua orang tahu. Aku nggak akan mengeluh, karena bukannya ini sebuah kodrat atau tugas, aku melihat lelahnya itu sebagai sebuah kenikmatan. Selama 8 bulan ini aku hidup jauh sama suami, hanya ketemu 2 hari dalam seminggu, kadang 2 minggu sekali, dan lebih kenal dia dari layar kaca aja dari pada aslinya. Dan selama 8 bulan ini, jauhnya kami mengajariku banyak sekali hal dalam berhadapan sama Aisha.

Terbiasa ngurus segalanya sendiri bikin aku lebih mandiri. Mungkin karena aku anak pertama, dan terbiasa sejak sebelum menikah pun apa-apa kuurus sendiri, jadi nggak terlalu bergantung ketika nggak ada orang lain. Dan meski selama 8 bulan ini kami (aku dan Aisha) tinggal di rumah orangtuaku, sebisa mungkin aku selalu ngurus seluruh kebutuhan Aisha tanpa merepotkan mereka. Dari mandiin Aisha sejak dia lahir, nyuapin makan, gantiin pampers, sampai beres-beres, ibuku juga membiarkan aku melakukannya sendiri—kecuali kalau memang lagi repot banget.

Aku nggak bermaksud untuk pamer, atau berharap-harap pujian dari yang kutulis ini. Pengalaman yang kuceritakan ini semata-mata kubagikan karena aku yakin aku bukan satu-satunya ibu yang capek ngurusin bayinya. Ada yang jauh lebih repot dari aku tapi masih bisa ngurusin seluruh kebutuhan bayinya dari A sampai Z, dan masih lagi ngurusin kebutuhan rumah sebagai ibu rumah tangga. Dan apa yang kulakukan sejak Aisha kecil itu, pun juga karena ada triggernya.

Pasti sering sekali dengar orang berkomentar, “Wuah cucu pertama, eyangnya pasti bakal repot banget tuh nanti.” ketika ada ibu muda sedang hamil tua, menunggu detik-detik kelahiran. Iya, adaaaaa…. pasti. Ini sering banget terdengar kalau kami ketemu sama teman-teman ibu, atau lagi periksa ke dokter. Ditambah lagi, bersamaan dengan kehamilanku, adik perempuanku juga sama-sama hamil tua, yang berarti insya Allah akan ada 2 bayi di rumah dengan jarak umur yang nggak terlampau jauh. Macam anak kembar.

Komentar makin menjadi, “Lho ini cucunya langsung dua, ya kasian ibu nanti ngurusin bayi kembar.”

Seolah-olah ibu yang mengandung ini cuma numpang lewat.

Entah bagaimana stereotype ibu muda punya anak cuma bakal ngerepotin orang tua ini mulai mencuat, aku nggak ingin membahas tapi dari komentar ini aku bersumpah, bahwa anak-anakku akan tumbuh dengan tanganku dan dalam gendonganku.

Aku dulu manja, bangeeet, karena sejak kecil memang orangtuaku amat sangat memanjakan anak-anaknya. Nurutin semua apa yang kami ingin dan kami minta, sampai ke titik bahkan saat kuliah ayah masih suka jemput aku di kampus. Trigger itu juga pada akhirnya yang selalu ngingetin aku untuk harus selalu kuat, nggak bawa-bawa manja lagi yang ada sejak kecil. Punya anak sendiri bikin seorang ibu mau nggak mau belajar bertanggungjawab, karena sedikit aja salah asuh, rusaknya anak sampai dia mati. Dan yang paling penting, menahan mulut untuk nggak ngeluh.

Tahu kenapa?

Karena Allah menjanjikan surga dan seisinya bagi seorang ibu. Perjuangan itu nggak mudah sejak sejak awal, dan capeknya 24 jam 7 hari seminggu. Jangan sampai gunung-gunung pahala itu gugur hanya dengan sebuah kalimat, “Ibu capek nak ngurusin kamu”. Naudzubillah….

Dan aku tahu perjalananku masih panjang. Delapan bulan itu belum apa-apa buat ibu yang sudah besarin anaknya selama setahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Tapi biarkan tulisan ini menjadi saksi, dan perjanjian tertulisku dengan aku besok, lusa, dan seterusnya, bahwa ini adalah salah satu jalanku menuju apa yang Allah janjikan untuk kita para wanita di akhir dunia.

Perjanjianku dengan kamu, para ibunda, untuk nggak manja dan cengeng. Siti Hajar, ibunda nabi Ismail rela berlari hampir 3kilo jauhnya untuk cari air buat anaknya. Siti Maryam, ibunda nabi Isa nggak pernah mengeluh membesarkan bayinya di tengah pengasingan, seorang diri. Jangan sampai kita, ibu-ibu yang hidup di jaman serba mudah, mengeluh capek sedikit hanya karena anak nggak mau makan, atau gantiin popok 3 jam sekali karena poopnya lagi sering.

Ini anugerah kita, para ibu, untuk menikmati indahnya menerpa lelah, mengalahkan penat, dan menahan mulut dari kata-kata yang nggak bijak. Banyak beristighfar pada Sang Pemberi Kehidupan, semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dan menjadikan ibadah ini sebagai pemberat timbangan amal kita di hari kebangkitan. Aamiin.

.

.

.

16 November 2015,

Dista Wryn.