Dear Neverdancedbefore.

Hi, guys.

Assalamualaykum…

Malam ini aku ingin menulis surat terbuka untuk para penulis blog neverdancedbefore, karena sepertinya surat semacam ini lagi tren ya, let’s say following one won’t hurt, hehehe…

Jadi, dimulai dengan kata, halo. *melambai cantik*

Aku Dista, dari saladbowldetrois.

Malam ini nggak sengaja terlantar di blog kalian, lalu membaca beberapa tulisan kalian, then I was… wowed. Kalian sangat berbakat. Tulisan kalian begitu menginspirasi, dan sejujurnya, kalian adalah generasi muda yang meyakinkan aku bahwa fiksi Indonesia masih punya harapan cerah. Yeah, seriously.

Aku sebenarnya pengen komen, atau meninggalkan jejak barang satu atau dua di blog kalian. Tapi kok tiba-tiba awkward gitu kalau aku komen banyak, padahal kenal juga enggak, hehehe… jadi untuk saat ini, post ini mungkin adalah apresiasi terbesarku untuk kalian. Insyaa Allah nantinya akan sering berkunjung ke blog kalian, karena yakin nantinya bakal ketagihan juga kalau perlu bacaan yang bagus dan berisi.

Kuharap kalian akan terus menulis yang bagus-bagus, yang baik-baik, jadi agen penyelamat moral bangsa dari tulisan kalian yang bermakna. Terus rendah hati, dan terus menginspirasi.

Aku tunggu terus fiksi terbaru kalian di saladbowl. ^^

.

Much love,

Dista Dee.

.

bagi yang ingin berkunjung dan menikmati fiksi-fiksi cantik dari 8 author muda berbakat,

klik

neverdancedbefore

they’re awesome.

[ONESHOT] Sabers War

iseng iseng baper ;p

saladbowldetrois

sekai

– distadee & Chocokailate –

.

.

.

“Kalau aku mati, apa kau akan menangisiku?”

Jongin hanya tersenyum ketika pertanyaan itu terdengar. Matanya berkejap, sekali dua kali, rasanya agak pahit setelah semalaman gagal melelapkan diri. Dia tidak salah dengar, dan meski Sehun kadang bisa jadi sedikit absurd, pertanyaan itu tetap terasa asing.

“Kau tidak akan mati.” Jongin menjawab singkat, ala kadarnya.

View original post 1,347 more words

Nikmatnya Sang Ibunda.

Aisha lagi jalan 8 bulan, dan alhamdulillah sekarang lagi senang berguling-guling dan merayap nyari tempat dingin (baca: lantai). Kata orang kalau bayi sudah di atas 6 bulan kerjaan ibu lebih santai, atau nggak terlalu capek karena nggak perlu bangun malam-malam nyusuin bayi. Tapi yang kurasakan sama aja sih, dulu sama sekarang kerjaan tetap banyak meski beda tipenya, hehehehe….

Beberapa ibu juga bilang, bahwa masa terindah seorang wanita yang menjadi ibu itu ketika melahirkan anaknya. Detik-detik setelah bayi keluar dari perut, lalu ditaruh di atas dada dan ibu melihat bayinya pertama kali—rasanya nggak ada yang ngalahin, katanya. Aku melihatnya dengan berbeda, dan kurasa yang diceritakan itu belum apa-apa. Kebahagiaan itu bertahap; dari ketika bayi lahir, lalu ketika ibu menyaksikan bayinya bisa ngoceh untuk pertama kali, ketika bayi bisa terlungkup untuk pertama kali, merangkak, berdiri, ketika bayi mulai kenal ibu sebagai ibunya, sampai nanti ketika dia bisa ini itu yang lain. Kebahagiaan itu nggak akan ada habisnya.

Jadi ibu itu capek, semua orang tahu. Aku nggak akan mengeluh, karena bukannya ini sebuah kodrat atau tugas, aku melihat lelahnya itu sebagai sebuah kenikmatan. Selama 8 bulan ini aku hidup jauh sama suami, hanya ketemu 2 hari dalam seminggu, kadang 2 minggu sekali, dan lebih kenal dia dari layar kaca aja dari pada aslinya. Dan selama 8 bulan ini, jauhnya kami mengajariku banyak sekali hal dalam berhadapan sama Aisha.

Terbiasa ngurus segalanya sendiri bikin aku lebih mandiri. Mungkin karena aku anak pertama, dan terbiasa sejak sebelum menikah pun apa-apa kuurus sendiri, jadi nggak terlalu bergantung ketika nggak ada orang lain. Dan meski selama 8 bulan ini kami (aku dan Aisha) tinggal di rumah orangtuaku, sebisa mungkin aku selalu ngurus seluruh kebutuhan Aisha tanpa merepotkan mereka. Dari mandiin Aisha sejak dia lahir, nyuapin makan, gantiin pampers, sampai beres-beres, ibuku juga membiarkan aku melakukannya sendiri—kecuali kalau memang lagi repot banget.

Aku nggak bermaksud untuk pamer, atau berharap-harap pujian dari yang kutulis ini. Pengalaman yang kuceritakan ini semata-mata kubagikan karena aku yakin aku bukan satu-satunya ibu yang capek ngurusin bayinya. Ada yang jauh lebih repot dari aku tapi masih bisa ngurusin seluruh kebutuhan bayinya dari A sampai Z, dan masih lagi ngurusin kebutuhan rumah sebagai ibu rumah tangga. Dan apa yang kulakukan sejak Aisha kecil itu, pun juga karena ada triggernya.

Pasti sering sekali dengar orang berkomentar, “Wuah cucu pertama, eyangnya pasti bakal repot banget tuh nanti.” ketika ada ibu muda sedang hamil tua, menunggu detik-detik kelahiran. Iya, adaaaaa…. pasti. Ini sering banget terdengar kalau kami ketemu sama teman-teman ibu, atau lagi periksa ke dokter. Ditambah lagi, bersamaan dengan kehamilanku, adik perempuanku juga sama-sama hamil tua, yang berarti insya Allah akan ada 2 bayi di rumah dengan jarak umur yang nggak terlampau jauh. Macam anak kembar.

Komentar makin menjadi, “Lho ini cucunya langsung dua, ya kasian ibu nanti ngurusin bayi kembar.”

Seolah-olah ibu yang mengandung ini cuma numpang lewat.

Entah bagaimana stereotype ibu muda punya anak cuma bakal ngerepotin orang tua ini mulai mencuat, aku nggak ingin membahas tapi dari komentar ini aku bersumpah, bahwa anak-anakku akan tumbuh dengan tanganku dan dalam gendonganku.

Aku dulu manja, bangeeet, karena sejak kecil memang orangtuaku amat sangat memanjakan anak-anaknya. Nurutin semua apa yang kami ingin dan kami minta, sampai ke titik bahkan saat kuliah ayah masih suka jemput aku di kampus. Trigger itu juga pada akhirnya yang selalu ngingetin aku untuk harus selalu kuat, nggak bawa-bawa manja lagi yang ada sejak kecil. Punya anak sendiri bikin seorang ibu mau nggak mau belajar bertanggungjawab, karena sedikit aja salah asuh, rusaknya anak sampai dia mati. Dan yang paling penting, menahan mulut untuk nggak ngeluh.

Tahu kenapa?

Karena Allah menjanjikan surga dan seisinya bagi seorang ibu. Perjuangan itu nggak mudah sejak sejak awal, dan capeknya 24 jam 7 hari seminggu. Jangan sampai gunung-gunung pahala itu gugur hanya dengan sebuah kalimat, “Ibu capek nak ngurusin kamu”. Naudzubillah….

Dan aku tahu perjalananku masih panjang. Delapan bulan itu belum apa-apa buat ibu yang sudah besarin anaknya selama setahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Tapi biarkan tulisan ini menjadi saksi, dan perjanjian tertulisku dengan aku besok, lusa, dan seterusnya, bahwa ini adalah salah satu jalanku menuju apa yang Allah janjikan untuk kita para wanita di akhir dunia.

Perjanjianku dengan kamu, para ibunda, untuk nggak manja dan cengeng. Siti Hajar, ibunda nabi Ismail rela berlari hampir 3kilo jauhnya untuk cari air buat anaknya. Siti Maryam, ibunda nabi Isa nggak pernah mengeluh membesarkan bayinya di tengah pengasingan, seorang diri. Jangan sampai kita, ibu-ibu yang hidup di jaman serba mudah, mengeluh capek sedikit hanya karena anak nggak mau makan, atau gantiin popok 3 jam sekali karena poopnya lagi sering.

Ini anugerah kita, para ibu, untuk menikmati indahnya menerpa lelah, mengalahkan penat, dan menahan mulut dari kata-kata yang nggak bijak. Banyak beristighfar pada Sang Pemberi Kehidupan, semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dan menjadikan ibadah ini sebagai pemberat timbangan amal kita di hari kebangkitan. Aamiin.

.

.

.

16 November 2015,

Dista Wryn.

Dulu Aku Pun Begitu.

Bismillahirrahmanirrahim,

Dear guys,

Hari ini aku nulis untuk berbagi sebuah cerita pribadi yang pernah aku alami, semoga cerita ini bisa menjadi renungan, atau sesuatu yang kamu terima secara positif karena ini adalah tugas kita sebagai sesama muslimah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Aku berdoa, semoga Allah meluruskan niatku bahwa ini kubagikan hanya sebagai nilai ibadah, tidak ada unsur riya’, memamerkan diri atau bahkan merasa diri lebih baik dari yang lain. Semoga Allah memberi dan membukakan pintu hidayah bagi seluruh muslimah yang membaca cerita ini, juga di seluruh dunia, bagi mereka yang ingin berpegang teguh pada perintah-Nya, dan sunnah Rasul-Nya. Aamiin.

Tulisan ini dimulai dari kabar seorang teman baik yang beberapa waktu lalu memberitahu; bahwa dia ingin belajar pakai jilbab panjang, dan pakaian yang syar’i. Alhamdulillah sekali, saat itu nggak bisa kugambarkan senangnya. Kurasa terakhir kali aku senang semacam itu ketika akhirnya thesis kelar dan nggak perlu nunda wisuda sampai berbulan-bulan, hehehe… Iya, rasanya lega, entah karena apa. Yang jelas mendengar kabar itu seperti mendengar kabar yang luar biasa menggembirakan, because she’s one of few friends I value the most.

Berita ini akhirnya membawa aku kembali ke tahun-tahun yang lalu, di kala aku pernah menjadi orang yang ‘begitu’. Januari 2014, adalah pertama kalinya aku memutuskan untuk berhijrah. Bulan itu, aku memutuskan untuk membuang celana-celana panjang yang seringkali aku pakai keluar rumah, membakar beberapa celana jeans, dan menggantinya dengan rok panjang, baju gamis, dan jilbab yang panjang.

Di bulan yang sama, ketika seorang sahabat yang sangat baik meninggal dunia di saat yang nggak terduga. Semoga Allah memuliakan dia di sisi-Nya, gadis berhati mutiara, insya Allah sang bidadari surga—seseorang yang menjadi inspirasi aku untuk berubah. Benar-benar berubah.

Berjilbab panjang dan berpakaian syar’i bukanlah tentang panasnya hawa, keribetan pakaian atau manhaj apa yang kita ikuti dan yakini, tapi ini adalah tentang aqidah dan kewajiban yang kita jalani sebagai seorang muslimah.

Dulu aku begitu; berjilbab tapi berpakaian ketat. Berjilbab, tapi lekuk tubuhku tetap terlihat. Berjilbab tapi aku bermaksiat. Aku pernah berada di jaman itu. Yang tenggelam dalam kesenangan duniawi, memuja para kafir yang sebenarnya haram diminati, dan melakukan juga mengajarkan hal-hal yang nggak bermanfaat. Kesombongan manusia, yang diperalat iblis-iblis durhaka, aku terpesona dan lupa seolah hidup ini untuk selamanya. Semoga Allah mengampuni dosa aku dan semua orang yang kusesatkan karena ini.

Dan Januari 2014, aku ingat hari akhir. Ketika melihat seorang sahabat baik terbungkus kafan, disholati, dan ditangisi, aku yang bodoh dan sombong ini mulai berpikir bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua. Sahabat ini, berkali-kali kusebutkan, dia orang yang baik. Dia nggak pernah menyakiti orang lain, tutur katanya lembut, saaaaaangat lembut. Dan dia pergi dengan cepat, di usia yang masih sangat muda… lalu aku punya apa?

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mempercepatnya.”(Surah Al-A’raf ayat 34)

Aku nggak tahu kapan mati akan mendatangiku. Dan di tiap detik di hari pemakamannya, yang ada di kepalaku, akan jadi apa aku di akhirat kalau aku mati dalam keadaan masih bermaksiat?

Ketika umur ini sudah semakin dewasa, apalagi sih yang kita cari dan yang kita tuju selain mendekatkan diri pada yang Ilahi? Seseorang yang baik belum tentu punya waktu yang banyak untuk beribadah dan mencari surga, lalu aku punya apa?

Akhlak seseorang akan mengikuti ketika seseorang berjilbab; yang nantinya lebih sabar, yang nantinya lebih menahan bicara, juga yang lain. Perlahan tapi pasti. Seseorang yang ingin berubah nggak bisa jalannya langsung 180 derajat berbeda. Seseorang yang berhijrah itu seperti bayi yang sedang melalui fase dari yang tadinya Cuma bisa terlentang, dia belajar terlungkup, lalu merangkak, duduk, dan berdiri. Nggak ada proses instan dalam belajar, dan yang pastinya, nggak ada kata terlambat.

Hidayah bukan banjir bandang yang tiba-tiba datang. Aku selalu diberitahu bahwa hidayah hanya akan diberikan pada orang yang berusaha untuk mencarinya, menjemputnya, dan menerimanya dengan lapang. Aku ingin menerima syariat itu dengan apa adanya, menikmatinya, hingga mati dengannya. Aku Cuma takut jadi orang yang sombong. Aku Cuma takut jadi orang yang nggak ingat mati, padahal ajalku hanya seujung jari.

Sahabat baik yang sudah pergi, dan teman baik yang ingin lebih syar’i selalu mengingatkan aku untuk selalu bersyukur, bahwa nggak semua orang dimudahkan menjadi orang yang seperti ini. Perlu perjuangan berat pagi sebagian orang agar bisa diterima di lingkungannya, dicemooh bahkan diasingkan ketika dia memilih untuk berjalan di kehidupan syar’i. Tapi aku hidup di keluarga yang mendukungku penuh dalam belajar, nabung buat ngumpulin jilbab panjang dan gamis satu persatu, hingga akhirnya pakaian ini seolah bagian dari tubuh ini.

Dan yang terakhir, jadi ibu pun sepertinya mulai mengubah cara pikirku yang dulu sekuler. Semua ibu pasti ingin jadi panutan untuk anak-anaknya. Madrasah pertama, pencetak moral-moral generasi muda. Mau belajar apa anak-anakku kalau aku adalah yang dulu? Idealisme anak yang shalih dan berbakti hanya akan berhenti di ujung angan kalau aku tetap begitu. Prinsip dan filosofi hanya mendapatkan dunia aja ketika aku nggak mengajarkan apa yang akan terjadi di akhir kehidupan.

Dari sebuah kajian, aku pernah mendengar bahwa, “Dunia ini adalah pernjara bagi umat mukmin, dan surga bagi yang kafir.” (HR Muslim). Allah dalam Quran sama sekali nggak pernah memuji kehidupan dunia, dan ini yang mengingatkan aku untuk selalu mawas dan menjaga diri dari nafsu-nafsu yang berlebihan.

Ibu yang pintar, bukan ibu lulusan sarjana atau bahkan seorang profesor. Ibu yang pintar adalah beliau yang mengajarkan anaknya membaca dan menghafal Al-Quran, dan mengamalkan isinya. Dan aku ingin jadi ibu seperti itu.

Karena aku dulu pun begitu, kuharap hari ini kamu nggak seperti itu.

Dista Wryn.

November 2015.